
Jam menunjukkan pukul 07.00, dimana jam sekolah di mulai. Para siswa segera memasuki kelas.
"Huh, mana nih tokoh utamanya kok pada belum masuk sih"gerutuku pelan sambil menopang wajahku dengan kedua tanganku.
Karena menunggu lama aku pun mendengarkan lagu dengan salah satu earphone ditelinga ku sedangkan satunya ku biarkan menggantung. Aku pun tak sadar jika semua murid sedang memandangku yang sedang memejamkan mata sambil bernyanyi pelan.
Karena tak mendengarkan suara aku pun membuka mataku, betapa terkejutnya aku melihat tokoh utama dan murid lainnya memandangku dengan tatapan err sangat aneh.
"Eh hehehe ada apa ini"ucapku terkekeh sambil mencabut earphone yang ada di telingaku.
Mereka yang memandangku pun segera mengalihkan pandangannya kearah lain, aku yang melihatnya hanya cuek saja.
"Oh hai, namaku Vika"ucap seseorang yang duduk di sampingku dengan mengulurkan tangan kanannya.
"hai juga, namaku Arin"ucapku sambil menerima jabatannya.
"Kamu tadi nyanyinya bagus banget lho. Mangkanya tadi pada lihatin kamu"ucapnya antusias dengan mata berbinar.
"Benarkah, terimakasih"ucapku tersenyum hangat, kulihat ia yang menutup hidungnya.
"Eh kenapa"ucapku polos.
"Ya ampun, kamu imut banget tau nggak. Uhh jangan tersenyum lagi bisa bisa aku pingsan"ucapnya sambil mengelap hidungnya dengan sapu tangan.
"Loh kok bisa"ucapku bingung sambil memiringkan kepalaku yang terlihat errr sangat imut.
"Ih pipimu chubby banget"ucapnya sambil mencubit pipi Arin.
"Jangan dicubit, nanti pipiku merah"ucapku sambil melotot sambil menjauhkan wajahku.
"Hahah, ok ok"ucapnya sambil tertawa padaku.
"Perhatian, perhatian"ucap seorang yang berada didepan kelas.
Semua murid pun segera menghentikan aktivitasnya dan segera menoleh kedepan.
"Halo teman teman perkenalkan nama saya Dinda dan disamping saya bernama Amelia. Disini saya sebagai ketua OSIS mengucapkan selamat datang di sekolah kita ini"ucap kak Dinda sambil tersenyum.
"Pertama tama kita akan berkenalan terlebih dahulu agar kita saling mengenal sesuai pepatah 'tak kenal maka tak sayang', maka dari itu kita berkenalan dulu sebelum sayang sayangan"ucap kak Dinda ditambahi lelucon.
Sontak hal tersebut mendapat respon gelak tawa dari siswa yang ada dikelas.
"Ayo kita mulai dulu dari pojok kanan depan"ucapnya sambil menunjuk kearah bangku yang berada di ujung kanan.
"Perkenalkan nama saya andin, semoga bisa berteman baik"ucap seorang siswa bernama Andin, dilanjutkan siswa lainnya persatu satu.
"Hai semua namaku Sherly Mahendra, aku anak orang terkaya di kota ini"ucapnya sombong, semua yang mendengarnya pun hanya mengumpat didalam hatinya.
"Lanjut"ucap kak Dinda.
"Halo semua perkenalkan namaku Evelyn, semoga kita bisa berteman dengan baik"ucapnya polos sambil tersenyum lebar.
'wah cantik ya'
'iya cantik banget'
'bening oy'
'baik lagi'
"Shutt diam"ucap kak Dinda.
Semua siswa pun diam, sampai barisan terakhir adalah barisanku yang dimulai dari depan.
"Namaku Sean Alexander"ucap Sean dingin dan datar.
__ADS_1
"Selanjutnya"ucap kak Amelia.
"Namaku Aditya Aciel Anggara"ucap Aciel dingin dan singkat.
"Namaku Michel Sanjaya"ucap Michel dingin.
"Namaku Azzam Nur Adinata"ucap Azzam dingin.
'kyaa tampannya'
'kyaa mereka ganteng banget sih'
'pacarin aku dong mas'
'Ganteng banget
"Halo perkenalkan namaku Vika"ucap Vika yang berada di sampingku.
Sedangkan aku, jangan ditanya aku sedang bingung kenapa tokoh utama prianya duduk didepannya. Vika yang melihat Arin bengong pun menyenggol lengannya.
"Arin giliranmu"bisiknya ditelinga ku.
Aku pun yang tersadar segera berdehem dan berdiri ditempat.
"Perkenalkan nama saya Arindra Queen Abraham, biasa dipanggil Arin. Semoga bisa berteman baik kedepannya"ucapku sambil tersenyum hangat menampilkan lesung pipiku.
Semua siswa yang melihatku pun segera menutupi hidungnya dengan tangannya kecuali Evelyn dan Sherly.
"Imutnya"batin semua siswa kecuali Evelyn dan Sherly.
"Loh kok pada tutup hidung, apa aku bau"ucapku polos sambil mencium tubuhku.
"Eh enggak kok kamu duduk aja ya, sini. Jangan senyum terus nanti pada pingsan"ucap Vika cepat sambil menarik tanganku untuk duduk.
"Ih imut banget"ucap semua siswa kecuali Sherly dan Evelyn yang masih belum mengalihkan pandangannya kearah Arin.
"Oh ehem ayo dilanjut"ucap kak Dinda seketika membuat siswa mengalihkan pandangannya kedepan.
Setalah semua siswa memperkenalkan diri, kami pun segera di beritahu untuk pergi menuju aula. Sesampainya di aula, para siswa pun segera duduk di kursi yang sudah disiapkan.
"Halo teman teman, pasti sudah kenal saya kan. Nah disini saya akan menyampaikan kegiatan untuk hari esok adalah menampilkan bakat kalian sendiri sendiri. Boleh bawa alat musik kak?. Boleh kalau memang punya, tapi kalau nggak punya jangan nyuri ya"ucap kak Dinda dengan lelucon membuat para siswa tertawa kecuali Sean, Michel,Azzam, Aciel dan kak Arion yang menampilkan muka datarnya. Sedangkan Arin, jangan ditanya ia malah memejamkan matanya sambil bersandar di dinding yang ada dibelakangnya, tapi masih bisa tahu ya infonya.
"Kalau begitu, untuk hari ini kita sudahi terlebih dahulu. Jangan lupa besok dan jangan kangen kak dinda ya, karena besok kita ketemu lagi. Selamat tinggal dan hati hati dijalan"ucap kak Dinda sambil mengedipkan matanya.
Semua siswa pun berhamburan keluar sedangkan Arin ia masih setia memejamkan matanya sampai ada yang menyentuh pundaknya.
"Dek ayo pulang"ucap kak Arion di depanku.
"Oke kak"ucapku sambil berdiri.
Setalah itu kami pun pergi menuju tempat parkir dan mengambil motor masing masing. Mereka pun mulai menghidupkan motor dan menjalankannya dengan kecepatan di atas rata rata.
Sesampainya di mansion Arion dan Arin segera menuju kamarnya untuk membersihkan badannya.
"Uhh besok tampil apa ya"gumamku dengan tangan menyanggah daguku.
"Aha, Arin kan punya gitar. Nyanyi aja pake gitar"ucapku sambil beranjak pergi mengambil gitar.
"Woah gitarnya bagus banget"ucapku sambil memandangi gitar bewarna coklat tua dengan gradasi coklat muda yang berada ditanganku.
"Ok kita coba dulu"ucap arin sambil memposisikan badannya.
Jreng
Jreng jreng
__ADS_1
Ku buka album biru
Penuh debu dan usang
Ku pandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Kata mereka diriku slalu di manja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Nada nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya
Tangan halus dan suci
Tlah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Oh oh bunda ada tiada dirimu kan selalu ada didalam hatiku
Tak terasa buliran cairan bening mengalir di pipi Arin.
"Uh jadi rindu bunda"ucapku sambil mengelap air mata yang ada dimatanya.
Arin pun meletakkan gitarnya dan segera beranjak pergi.
"BUNDA"ucapku sambil berteriak.
"Arin jangan teriak, bunda ada didapur"ucap bunda sambil mengiris wortel.
"Bunda, I love you"ucapku sambil memeluk bunda dari belakang.
"Love you to sayang"ucap bunda sambil mencium pipiku dari samping.
"Bunda, Arin bantuin ya"ucapku sambil melepas pelukannya.
"Boleh nih potong potong dadu ya"ucap bunda.
"Siap bunda"ucapku sambil mengambil pisau dan mulai memotong.
Kami pun memasak dengan senang dan bahagia, ditambah lelucon yang selalu dilontarkan oleh bunda membuat hati Arin tersentuh.
"Tuhan terimakasih telah mengabulkan doaku, membuatku merasakan hangatnya sebuah kasih sayang dari keluarga yang belum pernah kurasakan"batinku sambil tersenyum tulus.
~bersambung~
Jangan lupa like and komen ๐๐๐ค
__ADS_1