
Sambil membawa kotak P3K Arin menyusuri hutan tersebut sampai ia menemukan sebuah air terjun dengan air yang sangat jernih ditambah dengan cahaya yang berasal dari kunang kunang tampak membuat tempat tersebut menjadi lebih indah. Arin pun segera mendudukkan tubuhnya kesalahsatu bebatuan sambil mengobati lukanya. Ia sedikit mengiris pundaknya dan mencongkel peluru tersebut agar keluar. Tak tampak ekspresi sakit diwajah Arin, ia hanya tampak datar seolah tidak terjadi apa apa. Ia mulai membalut luka tersebut menggunakan perban. Selesai mengobati lukanya, Arin hanya duduk diam melamun sambil memandangi pemandangan air terjun yang berada didepannya.
Sampai lamunannya terhenti kala mendengar suara langkah kaki yang mendekat kearahnya.
"Siapa"ucap Arin was was tanpa jejak ekspresi diwajahnya.
Setelah Arin bertanya tampak seorang lelaki yang mengenakan topeng bewarna hitam yang muncul dari arah kanan Arin.
"Maaf menganggu"
Arin pun segera mengalihkan pandangannya sambil menatap kearah orang tersebut.
Deg
"Itu bukannya Mr. M, mafia no 1 yang paling ditakuti karena kekejamannya. Sepertinya aku pernah lihat"batinku terkejut tapi tidak menunjukkan rasa terkejut.
"Oh Mr. M, tidak apa apa. Anda tidak menganggu saya hanya menikmati pemandangan saja"ucapku tanpa ekspresi.
"Sepertinya saya pernah lihat anda, apakah saya pernah bertemu dengan anda Ms. AX"ucap Mr.M
"Dilihat lihat dari posturnya aku juga pernah melihatnya. Astaga bego banget sih aku. Dia kan Michel, memang mafia adalah pekerjaannya bego"batinku merutuki kebodohanku tapi tak ada ekspresi diwajahnya.
"Sepertinya itu hanya khayalan anda atau sepertinya anda sedang merindukan seseorang membuat saya terlihat mirip dengan orang yang dirindukan Mr. M"ucapku membuat alasan yang logis.
"Sepertinya memang benar. Saya sedang merindukan orang yang saya cintai"ucapnya sambil membayangkan wajah Arin.
"Apakah Michel sudah suka dengan Evelyn"batinku saat melihat Michel yang tampak tersenyum sambil melamun.
"Apakah itu pacar anda"tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku.
"Tidak kami masih berteman aku belum mengungkapkannya"ucapnya kemudian menghembuskan nafas panjang.
"Oh semoga berjodoh"ucapku polos tanpa tahu apa yang dipikirkan Michel.
"Ya semoga saja"ucap Michel dengan sorot mata penuh harap.
Didalam gelapnya malam mereka berdua menikmati pemandangan yang ada didepan mata. Suara air terjun yang membuat hati mereka damai dan kian menghangat.
#########
Matahari mulai menyingsing membuka lembaran yang baru. Suara burung bersahutan menambah kesan damai dan hangat didalam hutan yang dingin itu.
Arin saat ini bersiap untuk pulang kerumah. Sebelumnya ia berpikir untuk pulang setelah menyelesaikan tugas. Tapi ketika ia mengingat bahwa ia sudah mengatakan untuk menginap pada kakaknya ia pun memutuskan untuk pulang pada pagi hari untuk beristirahat sejenak.
Ia mulai menghidupkan motornya dan melaju melewati hutan tersebut menggunakan kecepatan diatasi rata rata. Walaupun begitu ia tetap menikamati perjalanannya. Saat ini ia masih mengenakan topengnya dan baju warna hitam.
Sesampainya didepan mansion Arin tak langsung masuk kedalam ia harus menghapus jejak agar tidak ada yang tahu keberadaanya yang akan mengancam keselamatan keluarganya. Ia pun mengeluarkan hpnya dan segera meretas Cctv disetiap jalan yang ia lalui, ia pun mengganti Cctv tersebut dan segera menghapus jejaknya. Setelah selesai meretas Cctv ia segera memasukkan hpnya kedalam saku dan segera masuk kedalam garasi. Tiba di garasi ia segera melepas topengnya dan menyimpan dibalik bajunya.
Saat masuk kedalam rumah, Arin melihat keadaan yang masih sepi. Sepertinya kakaknya itu belum bangun pikir Arin. Ia pun segera menaiki tangga dan segera membersihkan diri untuk berangkat sekolah. Hari ini ia mengenakan seragam dengan almamater bewarna merah maroon. Tak lupa ia juga menyiapkan buku pelajaran dan memasukkannya kedalam tas. Selesai bersiap Arin segera pergi kedapur untuk membuat sarapan.
Karena Arin masih lelah, ia hanya memasak nasi goreng ditambah telur dadar yang diiris tipis-tipis dengan cumi goreng. Setelah selesai memasak Arin segera menuju kamar kakaknya.
Tok
Tok
Tok
"Kak kamu sudah bangun belum"ucapku sambil mengetuk pintu.
"Ya dek sudah, kakak turun bentar lagi"ucap Arion sambil menyuapkan buku pelajarannya.
__ADS_1
"Aku tunggu dimeja makan ya kak"ucapku kemudian melangkah pergi menuju meja makan.
"Iya"jawab Arion.
Arin pun segera mendudukan tubuhnya dikursi setelah sampai dimeja makan. Ia segera mengambil nasi goreng kedalam piringnya dengan irisan telur dan cumi goreng diatasnya, tak lupa ia juga mengambilkan makanan untuk kakaknya.
"Wuih enak nih"ucap Arion saat sudah duduk di kursi sambil memandangi makanan yang ada dimeja.
"Yaudah dimakan atuh"ucapku tersenyum kemudian makan dengan tenang.
"Kamu pulang jam berapa tadi dek"tanya Arion disela sela makannya.
"Jam 4 lebih kayaknya"ucapku sambil melanjutkan makan.
"Nanti naik mobil aja ya dek, ini masih pagi nanti kedinginan"ucap Arion dibalas anggukan oleh Arin.
Setelah mereka sarapan, 2A pun segera berangkat ke sekolah menggunakan mobil sport warna hitam.
Tak butuh waktu lama mereka pun sampai disekolah. Tak seperti biasanya setiap mereka datang pasti ada saja orang yang berteriak memanggil mereka. Tapi saat ini 2A bisa tenang karena belum ada yang berangkat, jadi mereka tenang tenang saja.
"Kak apa ini masih terlalu pagi ya, kok belum ada yang berangkat"tanyaku sambil mendongak menatap wajah kak Arion.
"Sepertinya iya, soalnya ini masih jam enam"ucapnya sambil memandang jam yang ada ditangannya.
"Kak aku masuk ke kelas Kakak ya, kalau sendiri itu rasanya nggak enak"ucapku sambil cemberut.
"Baiklah ayo"ucap Arion kemudian menggandeng tangan Arin.
Sesampainya dikelas 2 A, Arion segera duduk di kursinya sedangkan Arin ia mengikuti kakaknya dan duduk disamping Arion. Karena lelah Arin tak sadar kepalanya sudah bersandar dipundak Arion. Sedangkan Arion tersenyum sambil mengelus kepala Arin dengan lembut membuat Arin memejamkan matanya dan tidur terlelap.
"Lucu banget sih"ucap Arion pelan sambil terkekeh melihat Arin yang tampak pulas dipundaknya dengan mulut sedikit terbuka.
Tapi tidak ileran lho si Arin..
"Selamat pagi teman teman"teriak salah satu siswa membuat Arin menggeliat. Sedangkan Arion ia menatap tajam kearah siswa tersebut membuatnya menunduk takut.
"Emh, kak apakah sudah bel"ucapku sambil mengerjapkan mata.
"Nggak masih ada waktu sebentar lagi"ucap Arion lembut sambil mengelus rambut Arin.
"Yaudah aku mau masuk kelas dulu ya kak"ucapku kemudian beranjak dari kursi.
Sebelum melangkah pergi ternyata Arion memegang pergelangan tangan Arin membuatnya terhenti.
"Ada apa kak"tanyaku sambil menatap Arion dengan tanda tanya.
Arion pun segera menarik tangan Arin pelan membuat Arin menunduk dan mencium kening Arin sekilas.
"Hati hati"ucap Arion sambil memandangi wajah Arin dengan penuh kasih sayang.
"Ok" senyum Arin sambil mengangguk anggukan kepalanya.
Setelah itu Arin pun segera berlari menuju kelasnya yang tepat berada disamping kelas kakaknya.
"Selamat pagi teman teman"ucapku bersemangat sambil melambaikan tangan saat sudah berada didepan pintu.
"Pagi Arin"ucap mereka tersenyum.
Arin pun segera mendekati tempat duduknya dan meletakkan tasnya.
"Arin ya ampun aku kangen banget sama kamu" heboh Vika sambil memeluk Arin erat dari samping membuat Arin meringis menahan sakit karena bahu yang terkena peluru tertekan.
__ADS_1
"Astaga, kemarin kita juga baru ketemu tau"ucapku sambil mendengus kemudian terkekeh melihat wajah Vika yang mulai cemberut.
"Eh Arin ada gosip baru lho"ucap Vika antusias dengan mata berbinar.
"Apa apa"ucapku mulai kepo sambil menghadap kearahnya.
"Tadi ditaman sekolah, Evelyn jatuh didepan Sean. Coba tebak apa yang dilakukan Sean waktu itu"ucap Vika.
"Emh, apakah digendong terus dianter ke UKS"jawabku asal.
"Salah"jawab Vika sambil menyilang kan 2 jari telunjuknya menyilang.
"Emh diobati disana dengan ditiup terus diberi plester"jawabku.
"Salah"
"Lah terus apa dong"karena Arin salah terus membuatnya menyerah untuk menerka.
"Jawabannya cuma dilirik langsung ditinggal dong"jawab Vika dengan mata penuh Kekaguman.
"Hah masa sih"ucapku tak percaya,bukannya mereka harusnya sudah mulai cinta pikir Arin.
"Iya loh, makanya beritanya langsung trending topik"ucap Vika.
"Oh, yaudah deh ngapain ngurus orang lain, kalau diri kita aja belum diurusin"ucapku sok bijak.
"Alah tadi aja kepo"ketus Vika membuat Arin terkekeh.
Kegiatan mereka terhenti saat guru sudah masuk kelas. Pelajaran dimulai, tampak semua siswa mulai mengantuk karena cara mengajar guru yang tidak efisien yaitu duduk sambil mengajar dengan membacakan materi dengan nada datar seperti orang yang sedang mendongeng. Siapa yang enggak bakal ngantuk coba kalau begitu. Kalau ada itu pasti orang yang gengsi dilihat siswa lain, atau enggak emang dasarnya aja orang itu rajin pake banget. Tak lama bel pun berbunyi nampak semua wajah siswa yang tadinya lesu langsung sumringah mereka berhamburan keluar kelas.
"Gila gila, itu guru ngajar apa ngedongeng sih. Datar amat nadanya kan jadi ngantuk"heboh Vika sambil melihat kearah Arin yang sedang meletakkan buku dilacinya.
"Gurunya balas dendam mungkin karena dulu pas jadi siswa digituin sama gurunya"ucapku asal membuat Vika kesal.
"Yaudah ayo istirahat dah laper aku"lanjutku sambil memegang perutku.
"Ok, lest go"semangat Vika sambil menarik tangan Arin membuatnya pasrah.
#################
Jam menunjukkan pukul 15.00, bel sekolah berbunyi menandakan berakhirnya kegiatan belajar mengajar. Para siswa mulai berhamburan keluar kelas untuk pulang kerumah masing masing.
Seseorang dengan surai peraknya sedang menunggu mobil kakaknya didepan gerbang sambil melirik kearah kanan. Tak lama nampak sebuah mobil sport warna hitam melesat menuju kearahnya membuat ia memanyunkan bibirnya.
"Kak ion lama amat sih, ditungguin juga"ucap orang tersebut yang tak lain adalah Arin dengan wajah kusutnya.
Didalam mobil tersebut Arion pun menurunkan kaca mobil.
"Maaf dek tadi kakak ngobrol dulu sama temen temen, maaf ya"ucapnya memelas membuat Arin tak tega dan segera masuk kedalam mobil.
"Yaudah dimaafin tapi jangan diulang hampir setengah jam adik tunggu lho. Besok besok kalau gitu lagi harus dihukum"ucapnya cemberut.
"Ok ok, nggak bakal lagi kok"pasrah Arion sambil mengelus lembut kepala Arin kemudian menjalankan mobilnya.
Mobil tersebut pun melesat membelah ramainya jalanan. Hiruk pikuk mulai terdengar saat mereka melewati sebuah bazar ditaman kota. Sebenarnya Arin ingin turun tapi karena ia masih lelah nanti sajalah toh bazarnya sampai malam. Saat mendekati sebuah gang mobil 2A diberhentikan oleh sekelompok preman. Dapat dilihat dengan mereka yang membawa senjata tajam, tapi hal tersebut tak membuat Arin dan Arion takut.
"Dek kamu disini aja biar kakak yang urus oke"ucap Arion sedikit khawatir bila adiknya itu takut.
"Iya kak"Arin hanya mengiyakan permintaan kakaknya, lagipula ia juga ingin melihat kemampuan beladiri kakaknya sejauh mana.
~bersambung~
__ADS_1
Jangan lupa like,komen,vote dan+fav
๐๐๐ค