Aku?Jadi Pemeran Figuran!!

Aku?Jadi Pemeran Figuran!!
CHAPTER 26


__ADS_3

Sebelum Arin tidur, ia pun membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah mandi Arin langsung merebahkan tubuhnya karena lelah, tanpa menunggu waktu lama Arin pun terlelap dalam mimpi.


***Alam mimpi***


"Dimana ini"ucap Arin panik kala ia berada disebuah tempat yang sangat gelap.


"Kak, bunda, ayah kalian dimana"ucap Arin kebingungan.


"Sini"ucap seseorang anak kecil dari arah berlawanan.


"Sini, main sama kakak"ucap anak kecil tersebut sambil melambaikan tangan.


"Apa, siapa kamu"ucapku terkejut.


"Ayo sini dek"ucap anak kecil tersebut sambil menuntun tangan Arin.


Arin pun hanya pasrah kala tangannya digenggam oleh anak kecil tersebut. Dapat ia rasakan tangan kecil tersebut sangat dingin untuk suhu normal manusia.Anak kecil tersebut pun berhenti didepan sebuah rak buku, membuat Arin kebingungan. Anak kecil tersebut pun hilang seperti tak pernah ada membuat Arin sedikit ketakutan (oke sedikit ya guys bukan berarti takut hantu๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜…).


"Ayo sini, main sama kakak hahaha"bunyi suara anak kecil tersebut tanpa ada tubuhnya.(jadi cuma ada bunyi gitu lho,, paham nggk. Dipahamin ajalah ๐Ÿ˜‹).


"Aaa, berhenti cukup"teriak Arin sambil menutup telinganya menggunakan tangannya.


"Ayo sini main sama kakak"bunyi tersebut berulang.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_


"Tidak"teriak Arin sambil duduk dari ranjang.


"Hah hah apa apaan tadi"gumamku sambil mengelap keringat didahinya.


"Perpustakaan itu, sepertinya aku pernah lihat dimana ya"pikir Arin sambil mengingat-ingat.


"Bukannya itu ada di perpustakaan mansion ini"ucapku teringat.


Arin pun beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya agar kembali segar, karena sekarang wajahnya terdapat keringat saat Arin bermimpi buruk tadi.


"Huh sepertinya aku harus periksa, apa ada rahasia diperpustakaan itu"gumamku sambil melihat kearah cermin.


Arin pun segera pergi menuju perpustakaan yang terletak di ujung kiri lantai dua tepat berada di samping kamar kak Arion. Sampai didepan kamar Arion, Arin berhenti kala seseorang memanggil namanya.


"Arin"ucap seseorang yang tak lain adalah kak Arion.


"Iya kak, ada apa"ucapku sambil menoleh kearahnya


"Mau kemana"ucapnya.


"Aku mau ke perpustakaan sebentar mau cari buku"alasan Arin.

__ADS_1


"Oh ya, yaudah"ucap arion sambil melangkah pergi menuju kamarnya.


Arin pun melanjutkan langkahnya sampai ia berhenti di pintu masuk ruang perpustakaan. Ia pun membuka pintunya secara perlahan. Sampai di sana Arin dapat mencium aroma khas kayu dan buku buku lama. Arin menoleh kesana kemari guna mencari petunjuk yang ada. Sampai matanya melihat kerah sebuah buku dirakit bagian kanan dengan judul yang sedikit unik yaitu "rahasia saudaraku". Karena penasaran Arin pun ingin mengambilnya, sayangnya buku tersebut berada dirak paling tinggi membuat Arin kesusahan. Ia pun memanjat rak tersebut sampai tangannya tak sengaja menekan sebuah tombol diantara celah celah buku di rak tersebut. Rak tersebut pun terbuka menampilkan sebuah kamar dengan desain yang masih unik dan elegan.


"Sepertinya ini sudah lama tidak ditempati, walau begitu kenapa tidak ada debu. Apakah kamar ini selalu dibersihkan"batin Arin sambil memandang kamar tersebut sesekali mengecek barang barang yang ada di sana.


"Ini foto siapa"gumamku sambil memegang dan melihat kearah foto Yanga dan ditangannya.


"Bukankah, ini foto anak kecil tadi"gumamku sedikit merinding.


"Tapi kenapa bisa ada disini, apa hubungannya anak kecil ini dengan keluarga Alexander"gumamku.


"Arin apa kamu ada didalam"ucap seseorang dari balik pintu membuat Arin terkejut.


Arin pun segera keluar dari kamar tersebut dan menutup kembali rak buku yang terbuka. Setelah itu ia mengambil buku secara acak dan membukanya agar seolah olah ia lagi membaca.


"Iya kak ada apa"ucapku sambil membuka pintu dengan buku yang masih ada ditangannya.


Arion yang melihat tingkah Arin pun mengerutkan keningnya.


"Arin, kamu baca buku apa. Apa kamu bisa baca buku dengan kondisi terbalik"ucap Arion penasaran.


"Shit sial, ceroboh banget sih kamu Arin. Ayo pikir alasannya"batin Arin gugup tapi dengan masih menampilkan raut wajah yang tenang.


"Oh ini tadi pas kakak panggil aku jadi kaget karena lagi fokus baca, yaudah bukunya jadi jatuh terus baru aku ambil dan buka pintunya"alasan Arin.


"Oh gitu, eh iya ayo makan dulu sudah malam lho. Besok dilanjutin bacanya"ucap Arion sambil melangkah pergi.


Arin pun meletakkan buku yang dipegangnya ke salah satu rak diperpustakaan kemudian melangkah pergi menuju tempat makan.


"Good night Bun,yah, kak"ucapku sambil duduk.


"Good night to Arin"ucap mereka.


Mereka pun makan dengan tenang dan tanpa berbicara sesuai aturan, karena hal tersebut teasuk salah satu adat kesopanan. Selesai makan Arin langsung berjalan menuju kamarnya. Ia sedang berfikir kamar siapa yang ada di perpustakaan, terus kenapa harus disembunyikan. Pasti ada rahasia dibalik kamar tersebut pikir Arin.


Kemudian Arin membuka ponselnya dapat ia lihat banyak sekalian chat dan DM yang masuk ke nomornya yang menanyakan kabarnya lah atau cuma sekedar basa basi saja. Arin pun hanya melihatnya tanpa membaca, karena terlalu banyak membuatnya malas. Karena bosan Arin pun memainkan game yang ada di handphonenya, yaitu sebuah game tentang bercocok tanam. Tak terasa jam menunjukkan pukul 21.00, Arin pun segera mencuci wajah, tangan dan kakinya sebelum tidur. Setelah mencuci muka Arin pun merebahkan tubuhnya di ranjang sambil memeluk boneka Pikachunya dan mulai tidur.


#####


Sinar mentari mulai bersinar menerangi bumi. Tampak seorang gadis yang mulai menggeliat kala wajahnya terkena sinar matahari yang berhasil masuk melalui celah celah atap. Arin pun bangun dengan kondisi yang masih acak acakan. Ia pun mulai melirik kearah jam yang menunjukkan pukul 06.00, arin pun segera beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah mandi Arin segera memakai seragam sekolahnya karena hari ini ia akan sekolah setelah kecelakaan yang menimpanya. Ia memakai seragamnya yang bewarna merah dan rok merah selutut dan memakai almamater bewarna merah maroon. Tak lupa ia juga mengikat rambutnya dan sedikit menyemprot parfum dipergelangan tangan, dileher dan tulang selangka. Ia juga mengenakan sepatu sneakers bewarna putih.


Setelah selesai bersiap Arin pun meletakkan buku pelajaran hari ini dan meletakkannya ditas. Setelah semuanya selesai ia pun segera menggendong tasnya dipunggung dan berjalan menuju tempat makan untuk sarapan.


"Selamat pagi kak, yah Bun"ucapku sambil duduk.

__ADS_1


"Selamat pagi juga Arin"ucap mereka.


"Ayo makan"ucap ayah saat makanannya sudah disajikan oleh bunda.


Arin dan arion pun mengangguk dan mulai mengisi piringnya masing masing. Mereka pun makan tanpa berbicara.


"Dek tunggu kakak, kamu bareng sama kakak. Kakak mau ambil mobil dulu"ucap Kaka Rion sambil melangkah menuju garasi.


"Tapi kak"ucapku terhenti saat melihat Kaka Rion yang menatap tajam kearahnya, membuat Arin menghembuskan nafas kasar.


Tak berapa lama Arion pun datang dengan mengendarai mobil sport warna biru dengan atapnya yang terbuka.


"Ayo dek berangkat"ucap kak Arion membuat Arin melangkah menuju kearah Arion dan menaiki mobilnya.


Tak membutuhkan waktu lama mobil 2A pun sampai di parkiran sekolah. 2A segera turun dari mobil, seperti biasanya Arion menampilkan wajah datar dan dinginnya sedangkan Arin ia menampilkan wajah cueknya. Disepanjang perjalanan banyak siswa yang berbisik bisik kearah mereka.


'eh itu kan Arin, wah apa dia sudah sembuh'


'ah Arin walau sakit tetap aja masih imut'


'lihat deh makin hari pipinya Arin tambah tembem'


'iya jadi pengen gigit'


Arin yang mendengarnya hanya cuek sedangkan Arion ia menatap tajam kearah siswa yang menggoda Arin. Sampai dikelas Arin pun segera masuk kedalam kelas, seketika ruangan yang tadinya berisik menjadi tenang dan hening membuat Arin mengerutkan dahinya sampai ketenangan tersebut terganggu oleh teriakan teman Arin siapa lagi kalau bukan Vika.


"Aaaa, Arin. Aku kangen banget sama kamu, apakah kamu baik baik saja, apakah ada yang luka. Apakah kepalanya sakit, kamu tidak amnesia kan, apa kakakmu sakit,ayo jawab Arin"ucap Vika panjang lebar membuat Arin memegang kepalanya yang terasa sakit karena teriakan temannya itu.


"Bentar kalau kamu cerocos terus kapan aku ngejawab"ucap Arin sambil memijit keningnya.


"Oke oke aku akan diam. Sekarang jawab pertanyaan tadi"ucap Vika sambil menatap arin.


"Oke aku tidak apa apa dan aku tidak amnesia. Cukupkan sudah aku mau duduk"ucapku tegas membuat Vika berdiri ditempatnya seperti patung. Sampai akhirnya Vika tersadar dan langsung berjalan menuju tempatnya.


"Oke aku tidak akan bicara"ucap Vika saat melihat Arin yang memegang kepanya seperti menahan pusingnya. Arin pun hanya menggantikan kepala lega.


Saat belajar mengajar, Arin hanya melamun sambil memandang kearah depan dengan tatapan kosong. Sebenarnya Arin saat ini sedang berpikir tentang anak celingukan yang mendatangi mimpinya dan kamar rahasia yang ada diperpustakaan. Ia mulai merangkai sedikit demi sedikit kejadian tersebut membuat Arin mulai pusing karena terllau berpikir. Lamunan Arin terhenti kala terdengar suara teriakan dari arah samping.


"Arin"teriak Vika.


"Ish ada apa"ucap Arin sambil mengusap telinganya yang berada disamping Vika.


"Ayo istirahat dari tadi dipanggil nggk nyadar. Ngelamunin apa sih"ucap Vika penasaran.


"Bukan apa apa"ucapku bohong sambil melangkah pergi menuju kantin.


~bersambung~

__ADS_1


Jangan lupa like and komen๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜Š๐Ÿค—๐Ÿ˜


keep strong untuk yang berpuasa ya


__ADS_2