Aku?Jadi Pemeran Figuran!!

Aku?Jadi Pemeran Figuran!!
CHAPTER 28


__ADS_3

Sampai didalam kamar Arin pun segera menuju kamar mandi, ia mulai melepaskan bajunya dan masuk kedalam bath up sambil menikmati lilin aroma terapi rasa mint yang menjadi kesukaannya. Ia juga berpikir tentang kamar dan foto anak kecil yang ada dikamar rahasia tepatnya berada dibalik rak diperpustakaan.


"Sebenarnya siapa anak kecil itu, apa ada hubungannya dengan keluarga Abraham"gumam Arin.


"Shit, nanti aku akan mencari tentang biodata dan rahasia keluarga ini"gumamku.


15 menit kemudian Arin pun segera menuntaskan ritual mandinya. Setelah selesai mandi Arin segera menggunakan baju yang sudah dipilihnya yaitu kaos warna hijau dan celana training bewarna putih. Tak lupa ia juga mengikat rambut panjangnya. Setelah selesai bersiap Arin pun segera duduk di meja belajarnya, ia membuka laptopnya dan mulai mencari asal usul keluarga Abraham dan informasi lainnya.


"Sial, kenapa datanya nggak ketemu ketemu"ucapku kesal.


"Ayolah Arin,kamu pasti bisa"ucapku menyemangati diri.


Arin pun kembali menekan kode kode dan angka angka rumit. Sampai ia menemukan sebuah informasi yang mengejutkan.


"APA"teriakku saat membaca informasi dari laptop.


"Kenapa ada 'dia' aku tak pernah mengingatnya, seenggaknya saat itu umurku 4 tahun. Artinya aku masih bisa mengingat hal hal yang terjadi waktu itu. Ayolah Arin ingat "gumamku sambil memegang kepala yang terasa pusing.


"Apa aku tanya langsung sama kakak, atau ayah bunda ya"gumamku.


"Sepertinya mereka merahasiakan ini dari Arin. Tapi apa untungnya coba"lanjutku berpikir sambil menggoyangkan kursi duduknya.(kursi duduknya Arin itu kursi roda gitu lho, paham kan. Pahami ajalah)


"Semakin dipikirkan kok kepalaku semakin sakit ya"ucapku meringis sambil memegang kepala yang serasa berdenyut.


"Coba nanti aku tanyakan saja pada ayah bunda atau kakak"gumamku.


"Oh iya kok aku lupa ya, Michel kan masih dirumah sakit"ucapku sambil menepuk jidat.


"Kalau begitu aku kesana dulu ajalah, tapi sepertinya aku harus buat bubur dulu"ucapku sambil berdiri dari tempat duduk dan melangkah pergi menuju dapur.


"Hem saatnya memasak"ucap Arin sambil mengikat celemeknya.


Arin kemudian berkutat dengan lihai. Ia mulai memasak nasinya dan menambahkan santan. Ia juga sedikit menambahkan garam dan bumbu lainnya agar rasanya tidak monoton. Ia juga menambahkan sayuran, irisan daging, dan telur rebus. Tak lupa Arin juga memasak untuk kakaknya, ia memasak sup matahari. Entah kenapa Arin sangat ingin memakannya bersama kakaknya. Dengan lihai Arin memasak dari satu bahan ke bahan yang lain. Satu jam kemudian Arin pun selesai dengan masakannya. Ia sudah memasak bubur ayam untuk Michel, sup matahari, tempe dan tahu goreng serta ayam goreng, tak lupa ia juga membuat sambal untuk pelengkapnya.


Arin pun segera mengambil sebuah rantang dan memasukan bubur kedalamnya. Setelah selesai menyiapkannya, Arin pun mengambil 2 buah mangkok untuknya dan kak arion ia mulai mengisinya dengan sup matahari ditambah tempe dan tahu goreng sebagai pelengkap kemudian ditaburi bawang goreng. Karena Arin suka pedas ia juga menambahkan 2 sendok sambal kedalam mangkoknya. Setelah selesai Arin pun membawa mangkok tersebut ke meja makan.


"Kakak sudah bangun belum ya. Aku panggil aja dulu"ucapku sambil menaiki tangga menuju kamar Kak Arion.


Sampai dikamar kak Arion, Arin pun segera membuka pintu kamar dengan hati hati. Ia pun melihat Arion yang sedang tidur dengan keadaan terlentang.


"Kak bangun yuk, aku sudah masak"ucapku lembut sambil mengusap rambut kak Arion.


"Eunghh"bukannya terbangun Arion malah tambah nyaman dengan elusan dari Arin. Arin yang melihatnya hanya terkekeh karena tingkah laku kakaknya.


"Kak kalau begitu, makanannya arin aja yang habisin ya"ucapku ditelinga kak Arion.


Sedangkan Arion yang mendengar ucapan Arin pun sontak duduk di ranjangnya.


"Jangan dek, tunggu kaka dulu ya. Kakak mau cuci muka"ucapnya sambil beranjak dari kasur menuju kamar mandi.


"Ok"ucapku sambil duduk di tepi ranjang menunggu kak Arion.


"Yuk dek"ucap kak Arion setelah mencuci muka.


"Ayo"ucapku sambil menggandeng tangan kak Arion.


2A pun segera menuruni tangga dan menuju ke meja makan.


"Wah sup matahari"ucap kak Arion berbinar karena sup tersebut salah satu makanan kesukaannya. 2A pun segera duduk di kursi dan mulai makan dengan tenang.


"Enak banget dek, seger. Rasanya pas"ucap Arion saat merasakan sensasi renyah,segar, gurih, dan enak dari mulutnya saat makan.


"Hehehe tentu enak dong, siapa lagi yang buat. Chef Arin"ucap Arin sambil membusungkan dadanya.

__ADS_1


"Hehehe, gitu aja bangga"ucap Arion.


"Oho tentu saja dong, kak Arion nanak nasi aja gosong apalagi masak"ucap Arin sambil makan, Arion yang mendengarnya hanya mendengus kesal. Tapi apa yang dikatakan Arin juga bener jadi Arion hanya menahan kekesalannya dan makan.


Sebenarnya aturan untuk makan dengan tenang tanpa mengobrol itu dari keluarga ya. Jadi kalau Arin sama Arion yang makan cuma berdua, mereka selingi dengan ngobrol sama candaan ya biar nggak diem diem bae. Setelah makan Arin pun mengambil mangkok yang kotor dan mencucinya. Setelah selesai ia mengambil jaket dan membawa rantang yang sudah disiapkannya untuk pergi ke rumah sakit.


"Kak aku mau jenguk temanku dulu ya"ucapku sambil melihat kearah kak Arion.


"Yang sakit emang siapa sih dek"sahut Arion penasaran.


"Itu lho kak si Michel"ucapku tenang.


"Oh, si michel"ucapnya belum ngeh.


"APA MICHEL"lanjut Arion sedikit teriak membuat Arin kaget karena sedang melamun.


"Astaga, iya yang sakit Michel. Kayanya lukanya karena tembakan deh kak. Kok bisa ketembak ya kak"ucapku polos.


"Oh itu paling musuh keluarganya dek"ucapan Arion beralasan karena tidak ingin memberitahukan bahwa Michel terlibat dalam dunia bawah.


"Yaudah yuk dek kakak juga ikut"ucapnya sambil berdiri dan mengambil jaket.


"Ok kak, go"ucapku tersenyum sambil melangkah keluar.


S


K


I


P


Sesampainya dirumah sakit 2A pun segera menuju ruang inap Michel. Karena Arin sudah tahu, ia langsung menuju ruangan tanpa bertanya kepada resepsionis. Sedangkan Arion ia hanya mengikuti adiknya. Sebenarnya ia ikut karena ingin menjaga Arin dari Michel dan melihat keadaan temannya. Tapi tetap saja yang ia prioritaskan Arin.


"Chel"ucapku pelan.


"Oh iya, Arin aku sudah menunggu lama"ucapnya sedikit manja.


"Lah ni anak kenapa"batin Arion sambil menaikkan alisnya.


"Maaf aku lupa, aku sudah buatkan bubur untukmu. Dimakan ya"ucapku sambil menunjukkan rantang yang kubawa dan kuletakkan di meja samping tempat tidur pasien.


"Sekarang aja makannya, tapi supain ya"ucapnya sambil tersenyum lebar membuat Arin mendengus. Sedangkan Arion menaikkan alisnya.


"Manja"ucap Arion datar dan dingin karena tidak suka tingkah laku Michel yang manja kepada Arin.


"Untung saja aku tadi ikut, jika tidak bocah ini pasti mengambil kesempatan dari Arin"batin Arion menahan kesal.


"Kamu ngapain disini"ucap Michel datar.


"Ya nemenin Arin lah, aku kan kakaknya"ucap Arion santai.


"Ganggu aja momenku sama Arin"arti tatapan yang diberikan kepada Michel.


Saat mengerti arti tatapan tersebut Arion pun juga membalas tatapan Michel, "biarin aja".


Sedangkan Arin yang berada ditengah tengah mereka hanya menghela nafas panjang. Ia sebenarnya masih pusing karena memikirkan anak kecil yang masuk dalam mimpinya ditambah dengan tingkah laku mereka membuat kepala Arin terasa pusing.


"Aduh"rintihan Arin pelan tapi masih didengar oleh Michel dan Arion.


"Kamu kenapa Arin, mana yang sakit. Kepalanya ya. Ayo ke dokter mumpung dirumah sakit"ucap Arion panik dan mendapat anggukan dari Michel.


"Nggak usah kak, Michel aku pulang dulu ya. Aku sudah hubungi teman kamu, agar kamu punya temen ngobrol. Aku nggak bisa lama lama"ucapku pelan sambil memijit kepalanya yang terasa pusing.

__ADS_1


"Yaudah nggak apa apa, kamu istirahat aja"ucap Michel sambil tersenyum.


"Yaudah aku duluan ya"ucapku mendapat anggukan dari Michel.


Arin pun segera keluar dari kamar dengan dipapah oleh Arion.


"Beneran nggak apa apa dek, kita ke dokter aja ya. Kaka takut kamu kenapa kenapa"ucap Arion khawatir.


"Its okey kak, aku tidak apa apa. Tenang saja"ucapku berusaha tersenyum.


"Yaudah Kaka Gending aja ya"ucapnya sambil berjongkok.


Arin tak menyia-nyiakan kesempatan langsung memeluk Arion dari belakang. Arion pun segera berdiri saat Arin sudah memeluknya. Ia pun segera melangkah pergi dari rumah sakit menuju parkiran. Sedangkan Arin ia terlelap karena menahan pusing.


___________****___________


Sesampainya dirumah Arion pun segera membaringkan tubuh Arin ke kamar Arin. Sebelum beranjak pergi seperti biasanya ia mengecup kening arin dan mengelus lembut rambut Arin.


"Sweet dream dek"ucapnya sambil tersenyum lebar kemudian melangkah pergi.


2 jam kemudian Arin pun menggeliat dan bangun dari tidur. Ia pun meregangkan ototnya sebentar dan segera beranjak dari tempat tidur untuk cuci muka. Ia pun segera mandi karena hari sudah sore. Tak lama ia pun selesai dengan mengenakan hoddie warna kuning dan celana training warna hitam. Tak lupa ia juga mengikat rambut peraknya yang panjang. Setelah selesai bersiap Arin pun segera turun ke ruang keluarga. Karena ia tahu saat ini pasti keluarganya sedang berkumpul, ia juga akan bertanya tentang 'dia' kepada mereka.


Sesampainya diruang keluarga Arin pun menyapa mereka dan duduk di sebelah Arion.


"Yah, bunda. Arin aku tanya boleh"ucap arin.


"Boleh sayang mau nanya apa"ucap bunda lembut.


"(Unknown) Siapa itu bunda"ucapku serius.


Mereka yang mendengar nama(unknown) pun terkejut dan terdiam.


"Kak Arion siapa itu, apakah ia bagian dari keluarga Abraham. Tapi siapa"ucapku memelas.


"Huftt, Arin kamu ke kamar aja deh"ucap Arion sedikit menahan amarah.


"Tapi kak, aku mau tanya dulu.


Siapa itu(unknown)"ucap Arin kekeh.


"ARIN, DENGERIN KAKAK. JANGAN BANDEL, SEKARANG SANA KEKAMARMU. NGAUSAH TANYA TANYA TENATANG ITU"bentak Arion kepada Arin.


Arin yang mendapat bentakan dari Arion pun matanya mulai berkaca-kaca. Ia pun langsung lari menuju kamarnya. Tak lupa ia juga mengunci akses pintu maksudnya. Karena pintunya itu tidak menggunakan kunci tapi sudah diganti Arin menjadi modern. Jadi sebelum Arin memencet tombol dari dalam atau menggunakan sidik jari Arin, pintu tersebut tidak akan terbuka. Dan pintu tersebut tidak bisa didobrak karena bahan bahan pembuatan pintu yang langka dan kuat.


"Hiks hiks Arin kan cuma nanya, kenapa harus dibentak sih. Walaupun dulu Arin sering diginiin tapi sudah lama Arin tidak dibentak. Hiks hiks mama, angel kangen mama"ucap Arin menangis sesenggukan sambil memeluk boneka Pikachunya. Arin pun menenangkan dirinya dikamar sambil menangis diatas kasurnya.


Sedangkan Arion ia sadar bahwa ia sudah membentak Arin dan membuat Arin menangis. Padahal ia sudah berjanji dalam dirinya tidak akan membiarkan Arin menangis, kini ia sudah melanggar janjinya. Arion pun segera menuju ke kamar Arin.


"Arin sayang maafin kakak, kakak tidak bermaksud membentak Arin. Kamu tahu sendiri kan kalau kamu yang kakak paling sayang. Buka Arin"ucap Arion lembut sambil mengetuk pintu kamar Arin. Sedangkan didalam kamar Arin tidak menggubris kata kata kak Arion, ia hanya menangis dalam diamnya.


"Hiks maafin kakak sayang hiks ini semua demi kebaikanmu hiks kakak nggak mau semuanya terulang Kembali hiks hiks, sayang maafin kakak"ucap Arion terduduk dilantai sambil memandangi pintu kamar Arin berharap Arin akan membukanya.


Sudah lama Arion terduduk dilantai sambil memandangi pintu kamar Arin, berbagai bujukan dan rayuan ia katakan agar Arin membukakan pintu untuknya dan memaafkannya, tapi arin tak kunjung datang. Ia pun hanya pasrah dan berdiam diri di perpustakaan. Ia pun segera masuk ke kamar rahasia milik anak kecil tersebut.


"Hiks aku harus bagaimana, padahal aku sudah berjanji padamu untuk menjaga Arin. Hiks (unknown)Apa kamu tenang disana, aku sangat merindukanmu. Hiks apa yang harus aku lakukan hiks agar Arin memafkanku"ucpa Arion sambil memandangi foto anak kecil perempuan.


Arion tak sadar jika ada sepasang mata yang mendengar ungkapan tersebut yang tak lain adalah Arin. Ia sedang mematung mendengar ucapan dari kakaknya. Apa yang ia dengar tadi (unknown). Arin tak bisa berkata kata lagi ia mematung mendengar semua curahan hati yang dilontarkan Arion sambil memandangi foto tersebut.


"Jadi selama ini aku punya~


~bersambung~


Eits gantung dulu🤣. Wah wah rahasia apa yang akan terbongkar ya🤔. Tunggu kelanjutannya nanti karena author bakal ungkap salah satu rahasia dari keluarga Abraham pada jam malam. Jadi terus support dan dukung author ya dengan like and komen. Kalau mau vote juga Alhamdulillah.🤗

__ADS_1


__ADS_2