
Arin pun segera menghidupkan motornya dan melesat di jalanan. Tak lupa dengan kecepatan motornya yang diatas rata membuat pengendara lain kesal dengan tingkah Arin. Sedangkan Arin enjoy saja sampai ia berada di desa terpencil dan lumayan kumuh, karena tempatnya itu didalam hutan terpencil gitu. Ia pun menyadari sesuatu yang membuatnya senang.
"Hehehe baru jam segini udah ada tikus tikus yang keluar ya"lirihku kemudian menyeringai.
Tak lama 20 orang muncul tiba tiba di depan Arin menggunakan baju hitam dan topeng kelinci mulai mengelilingi Arin membentuk formasi lingkaran. Arin yang melihat mereka hanya terdiam. Baginya musuh didepannya bukanlah apa apa disaat dia menjalankan tugas yang hampir melawan 50 orang setiap menitnya.
"Heh kalian terlalu cepat bung"ucap Arin terkekeh tapi menampakkan senyum yang mengerikan.
Sedangkan pihak lain terdiam mendengar suara Arin yang mengerikan. Walau begitu mereka sudah tidak bisa lari, mereka pikir Arin tidak akan mampu melawan mereka yang jumlahnya lebih banyak darinya yang hanya sendirian.
"Bung kuberi saran, besok besok jangan memandang remeh lawan"ucapku kemudian turun dari motor dan melepaskan jaket yang ia pakai. Helmnya tetap ia pakai karena ia belum memakai topeng ya. Bisa gawat kalau identitasnya terbongkar.
"Banyak omong kamu, serang"teriak salah satu dari mereka.
Mereka pun mulai menyerang Arin dari depan secara bersamaan, ada yang menyerang menggunakan pisau, cambuk, pedang, tongkat bisbol, dan lain lain. Sedangkan Arin ia menghindari serangan tersebut dengan santainya. Tak lupa ia mengambil 2 belati disakunya. Ia pun segera membunuh mereka dengan menyayat titik vital mereka di bagian leher.
"5"hitung Arin saat selesai membunuh 5 orang dari mereka.
"Sialan kamu, matilah jala**"teriak seseorang yang bersenjata pedang sambil mengayunkan pedangnya kearah Arin, membuat Arin melompat dan menendang kepala lawan kemudian bersalto kebelakang dan membunuh orang yang ada dibelakangnya.
"Heh"seringai Arin saat melihat lawannya yang nampak mulai gusar, marah, tidak fokus.
"Karena aku selalu menjaga waktu, maaf kalian harus ke neraka sekarang. Ucapkan salam dariku kepada para penghuninya ya"ucapku kemudian melakukan aksi zig zag/ atau membunuh orang dengan berlari seperti zig zag.
"19, kurang satu dimana dia"ucapku sambil mengelus belati yang sudah berlumuran darah.
"Hahahaha, memangnya aku memberimu kesempatan lari. Kalau begitu larilah dan bersembunyi. Aku akan menemukanmu hahahaha "tawaku kemudian menyeringai dan mendekati sebuah pohon disamping kanannya.
"Heh, mati kau"ucap Arin kemudian menikam jantung lawannya dari belakang pohon membuat lawannya seketika ambruk di tanah.
"Hm"gumam Arin kemudian berbalik dan melihat mayat mayat kawannya yang sudah mati karena Arin menusuknya tepat berada dititik vital mereka, ada yang dileher, jantung, kepala.
Arin pun segera menghampiri motornya dan segera pergi menuju lokasi yang sudah ditentukan. Sesampainya disana ia dapat melihat orang orang dengan baju khusus dan senjata yang ada ditangan mereka sedang berjalan jalan. Ia pun segera menghampiri gerbang masuk tempat tersebut.
"STOP, ada urusan apa anda datang kemari"ucap seseorang dengan pistol ditangannya.
Arin pun segera merogoh kartu anggotanya sebagai agen, yang sudah ia ambil beberapa waktu lalu. Segera ia menunjukkan kartu tersebut.
"Maaf kapten telah menggangu perjalanan anda. Silahkan masuk kapten anda sudah ditunggu di ruang pusat"ucap orang tersebut sambil menunduk.
"Baik, pertahankan keamanan gerbang"ucapku tegas dan dingin ketahanan mereka dan menjalankan motornya kembali ketempat parkiran.
Setelah Sampai diparkiran, ia pun segera turun dari motornya dan mengambil jaketnya. Kemudian ia letakkan jaketnya menutupi wajahnya dan segera melepas helmnya dan mengenakan topeng yang sudah diambilnya dari jok motor. Setelah selesai mengenakan topengnya, ia pun melipat jaketnya dan memasukannya kedalam jok. Ia pun berjalan menuju ruang pusat.
Sampai di pintu masuk, jalannya dihentikan menggunakan pistol oleh dua penjaga pintu.
"Tunjukkan kartu identitas"ucap salah satu penjaga.
Arin segera merogoh sakunya dan mengambil sebuah kartu yang tertulis Agent AX/ Elite.
"Maaf kapten, silahkan anda masuk. Anda sudah ditunggu oleh pimpinan mafia no 1 dan jendral lainnya"ucap salah satu penjaga ditanggapi deheman Arin dan segera masuk kedalam.
Arin yang sampai di dalam mendapat tatapan tajam dari orang yang ada didalam.
__ADS_1
"Kode AX bertugas"ucapku tegas dan dingin kearah mereka.
"Selamat datang"ucap mereka sambil menundukkan sedikit kepala mereka tanda menghormati.
"Apakah sudah ada strategi"ucapku dingin sambil mendekati mereka dan melihat sebuah kertas yang terpampang diatas meja.
"Sudah kapten"jawab tegas salah satu jendral muda yang bernama Lee.
(Nb:kenapa Arin dihormati oleh mereka. Jadi walau mereka pangkat jendral tak membuat pangkat Arin yang hanya kapten lebih rendah dari pada mereka karena Arin adalah seorang agen khusus negara ya. Jadi tentunya mereka menghormati Arin)
"Hemm, kenapa banyak celah begini"tukasku dingin setelah melihat sebuah peta dengan berbagai jebakan dan tempat yang sudah di tandai, tapi masih memiliki beberapa celah besar.
"Berapa anggota keseluruhan yang datang"tanyaku sambil menghadap mereka dengan tangan menyanggah meja didepannya.
"Ada sekitar 10.000 anggota, 1000 anggota bayangan,15 jendral, kapten dan bantuan dari ketua mafia 1 dunia"jawab tegas jendral Jung.
"Apa kalian sudah tahu, kemungkinan ada berapa mafia yang akan merebut berlian tersebut"tanyaku untuk mengetes kemampuan mereka.
"Sudah kapten, menurut laporan ada sekitar 6 organisasi mafia black yang akan merebut berlian tersebut"jawab jendral Min.
"Siapa yang memberi kalian informasi itu hah"ucapku dingin kepada mereka karena terlau ceroboh.
"Maaf kapten, kami dapat dari kantor pusat"ucap jendral lee sedikit takut karena aura dingin menguar dari kaptennya.
"Jadi kalian mendapat informasi dari kantor pusat melalui media pesan, tanpa memeriksa terlebih dahulu apakah pesan itu benar atau salah"tanyaku dingin.
"Iya kapten"jawab tegas jendral lee, walau didalam hatinya ia ingin sekali menjerit karena melihat tatapan tajam dari Arin.
"Ambil laptop"titahku kepada salah satu anggota yang berada di pojok untuk menjaga sekitar.
"Baik kapten"ucapnya sambil hormat kemudian menjalankan tugasnya.
Tak lama orang tersebut datang kemudian memberikan sebuah laptop khusus pasukan negara yang berwana hitam dengan lambang X ditengahnya.
"Sebelum menunjukkan kecerobohan kalian, sepertinya kita kedatangan tikus disini"ucapku dingin sambil memandangi kearah seluruh ruangan, membuat mereka yang ada diruangan menelan saliva mereka dengan susah payah. Sementara salah satu orang yang ada disana nampak panik dengan keringat bercucuran dikeningnya.
Tap
Tap
Tap
Suara langkah kaki itu menggema karena suasana yang hening di ruangan tersebut membuat suasana menjadi merinding.
Langkah kaki tersebut berhenti didepan dua anggota yang berada disisi kanan ruangan tersebut.
"Heh"seringai muncul dibibir mungil Arin membuat suasana tambah menyeramkan.
"Tap tip tup, siapa diantara kalian yang menjadi tikus hem"ucapku halus sambil menunjuk nunjuk kearah mereka, tapi bagi mereka yang mendengarnya membuat tenggorokan mereka terasa kering seketika. Apalagi dua orang yang ada didepan arin yang sedang tubunya bergetar hebat.
"Kau kah.. "ucapku sambil menunjuk orang yang ada di samping kanannya.
"Atau kau.."lanjutku sambil menunjuk orang yang ada disamping kirinya.
__ADS_1
"Aku tidak suka membuang waktu maka.."ucapku tanpa melanjutkan kata katanya, Arin langsung mengambil pistol dari saku pinggangnya dan
Dor
Ia menembak tepat berada dikepala orang yang ada disamping kirinya. Sedangkan orang yang ada disamping kanan hanya meneguk salivanya dengan kasar sambil memejamkan matanya.
"Haish, kalian terlalu ceroboh membiarkan lawan kita mempersilahkan masuk tikus kedalam ruang pusat"ucapku sedikit kecewa dengan kelalaian anggotanya.
"Maaf kapten"ucap mereka menyesal.
"Baiklah sekarang lihat kearah layar proyektor"titahku kemudian duduk didepan laptop yang sudah disiapkan.
"Berdasarkan analisis ku ada sekitar 10 mafia yang akan menyerang"ucapku kemudian menunjukkan informasi mafia black yang punya peluang untuk menyerang.
"Walau 4 diantara mereka adalah mafia kecil, jangan lupakan pusat mereka tak jauh dari lokasi hutan sini.1 diantara mereka hanya menyebarangi 2 hutan kearah barat menuju kesini, satunya dari arah timur dengan jarak kurang lebih 100 Km, dibelakangnya juga terdapat satu mafia yang tempatnya berada di bawah tanah membuat mereka tak terdeteksi dan terakhir dari arah barat mafia yang terkenal kekejamannya berjarak 200 KM dari sini"jelasku sambil memandang mereka yang tampak serius memerhatikan layar proyektor.
"Aku yakin mereka sudah mempersiapkan pasukan mereka dengan mengepung kita"lanjutku.
"Lalu apa yang harus kita lakukan kapten"tanya jendral Min hati hati agar tidak menyinggung.
"Hem, sepertinya kita harus membuat kelompok. Kelompok A.1 berjumlah 1000 orang berada dititik a bagian barat, kelompok A.2 jumlah 500 berada di titik barat laut, sedangkan kelompok B.1 jumlah 2000 berada dititik b bagian selatan untung mengepung wilayah bagian timur dan barat untuk mencegah terjadinya pengepungan lawan dan membantu kelompok A"jelasku tegas.
" Kelompok C.1 jumlah 3400 orang berada di titik c bagian utara melindungi pasukan A dan B apabila mendesak. Sisanya berjaga jaga di daerah pusat dengan formasi bintang, Apa kalian paham"tanyaku tegas.
"Paham kapten"ucap mereka serempak
"Baiklah jendral Min dan jendral lee pimpin bagian barat, jendral Jung dan jendral kang pimpin bagian Utara, jendral tang pimpin bagian timur, jendral Hani pimpin bagian selatan bersama jendral sing. Yang lainnya berjaga di sini sambil mengawal berlian tersebut"titahku kepada mereka.
"Siap laksanakan kapten"ucap mereka tegas.
"Dimana berliannya"ucapku kepada mereka.
"Ada didalam berangkas kapten"ucap jendral Hana.
Arin pun segera berdiri membuat mereka sontak langsung berdiri.
"Antar aku kesana"titahku kepada jendral Hana.
"Baik kapten"
Mereka berdua pun segera menuju tempat berlian tersebut disimpan, dikoridor tampak beberapa kamera yang menangkap identitas Arin dan Hana yang sebagai agen dan jendral membuat kamera tersebut tidak menghidupkan laser pertahanan. Sampai ia didepan sebuah pintu besar dengan sebuah teknologi canggih yang ada disamping pintu.
"Maaf kapten, hanya kapten dan ketua pusat yang dapat akses masuk"ucap jendral Hana yang dibalas deheman Arin.
Arin pun segera mengeluarkan kartu aksesnya dan menempelkan disamping dinding tersebut.
"Selamat datang kapten AX, silahkan letakan sidik jari anda"suara dari alat tersebut.
Arin pun segera menempelkan jarinya membuat suara klik dan pintu perlahan lahan pintu besar tersebut terbuka.
~bersambung~
Jangan lupa like and komen😊😉😉
__ADS_1