
Mobil tersebut pun melesat membelah ramainya jalanan. Hiruk pikuk mulai terdengar saat mereka melewati sebuah bazar ditaman kota. Sebenarnya Arin ingin turun tapi karena ia masih lelah nanti sajalah toh bazarnya sampai malam. Saat mendekati sebuah gang mobil 2A diberhentikan oleh sekelompok preman. Dapat dilihat dengan mereka yang membawa senjata tajam, tapi hal tersebut tak membuat Arin dan Arion takut.
"Dek kamu disini aja biar kakak yang urus oke"ucap Arion khawatir bila adiknya itu takut.
"Iya kak"Arin hanya mengiyakan permintaan kakaknya, lagipula ia juga ingin melihat seberala jauh kemampuan beladiri kakaknya.
"Heh keluar kalian"sarkas salah satu preman sambil menggedor-gedor kaca mobil.
"Sialan"umpat Arion pelan sambil membuka pintu mobil.
"Mau apa lo hah"bentak Arion kepada para preman.
"Hahaha serahkan harta kalian
dan.... juga cewek cantik yang ada di mobil itu. Sepertinya dia bisa memuaskan kita ya nggak teman teman"ucap para preman disambung gelak tawa oleh lainnya.
Sontak hal tersebut membuat Arion marah karena mereka menginginkan adiknya.
"Sampai kalian menyentuh adikku seujung rambut pun aku akan mematahkan tangan kalian bedeba* sialan"sarkas Arion.
Baku hantam pun tak terelakkan. Bagi Arion lima orang preman ini bukanlah lawan yang sulit untuk Arion, ini seperti ia sedang latihan dasar beladiri. Karena mereka sudah menghina adiknya tentu saja Arion tidak akan segan menyiksa mereka terlebih dahulu. Tak butuh waktu lama Arion menang dengan telak tak ada ekspresi kelelahan hanya terdapat raut wajah yang marah dengan sorot mata yang tajam.
"Mata mana yang kalian gunakan untuk merendahkan adikku hah"bentak Arion.
"Yang ini"ucap Arion sambil menginjak wajah salah satu preman kemudian menekan bagian matanya hingga berdarah.
"Atau yang satunya"ucap Arion kembali melakukan hal yang sama kepada setiap preman.
"Hah kakakku itu, sudahlah aku akan membantu sedikit" pasrah Arin kemudian mengambil handphonenya dan segera menghapus cctv yang berada di lokasi kejadian.
"Sudahlah kak kita lanjut pulang saja, hari sudah mau gelap"pintaku.
"Iya dek kakak kesana"ucap Arion kemudian masuk kedalam mobil.
"Nggak usah takut ya dek"ucap Arion khawatir kalau adiknya akan takut padanya saat ia menyiksa para preman tadi.
Ucapan Arion tentu saja membuat Arin bingung. Ia pun mulai berpikir dan akhirnya mengerti, kakaknya ternyata takut kalau dirinya akan membencinya karena telah berbuat kasar. Karena Arin terdiam Arion pun semakin takut ia mengguncangkan badan Arin.
"Kamu nggak benci sama kakak kan dek" tanya Arion memelas.
__ADS_1
"Enggak kok kak"jawabku tenang, padahal cuma nyiksa kayak gitu ngapain harus takut sama kakak. Lalu kalau aku yang nyiksa gimana ya ekspresinya batinku kemudian terkekeh.
"Dek jangan ketawa gitu, serem ah"ucap Arion merinding.
"Ayo kak jalan dari tadi nggak jalan jalan malah ngobrol"dengusku kesal.
Arion pun segera menuruti permintaan adiknya, sebelumnya ia sudah menyuruh anak buahnya untuk mengurus mayat preman tersebut agar tidak ada yang tahu. Padahal tanpa disadari Arion ia sudah dibantu oleh Arin dengan menghapus buktinya.
Sesampainya didepan gerbang keluarga Abraham Arin melihat mobil orang tuanya. Dapat dipastikan bahwa mereka sudah pulang dari perjalanan bisinis.
"Sepertinya ayah sama bunda udah pulang kak"ucapku saat melihat mobil ayah bunda, sedangkan Arion ia hanya menganggukkan kepala tanda mengiyakan ucapan Arin.
"Akhirnya nggak kesepian lagi"lirihku sambil tersenyum, Arion yang masih mendengar pun ikut tersenyum.
"Sudah kamu turun dulu sana"titah Arion kepada Arin.
Dengan anggukan kecil Arin segera turun dari mobil, dengan riangnya ia berlari kecil masuk kedalam rumah, ia sungguh merindukan orang tuanya. Arion yang melihat tingkah Arin hanya menggelengkan kepala kemudian terkekeh.
"AYAH BUNDA, KALIAN DIMANA" teriakan Arin menggelegar dikediaman Abraham membuat penghuninya terpaksa turun.
"Ya ampun Arin anak bunda, kenapa teriak teriak sih"kata bunda sambil menuruni tangga dan melihat kearah anaknya yang sedang tersenyum.
"Bunda juga kangen sama Arin, eh iya bunda bawa oleh oleh lho. Mau nggak Arin"ucap bunda kemudian melepaskan pelukannya.
"Wah apa bunda"ucap Arin berbinar.
Kemudian bunda pun segera menuju dapur dan membuka kulkas. Terdapat beberapa jenis coklat dan kue dari luar negeri yang ia beli khusus untuk putrinya itu. Ia tahu bahwa putrinya sangat suka dengan coklat.
Bunda kemudian berjalan menuju Arin dengan tangannya yang penuh dengan paper bag berisi coklat.
"Tara, coba dibuka deh dek"suruh bunda sambil menyerahkan paper bag tersebut.
"Woah coklatnya banyak banget bun"ucap Arin dengan mata berbinar kemudian ia memeluk bunda dan mencium pipi kanan dan kirinya.
"Terima kasih bunda, sayang deh"ucap Arin.
"Yasudah sana mandi, udah bau acem"goda bunda sambil menutupi hidungnya.
"Ih bunda Arin masih wangi lho"ucap Arin merajuk sambil mencium badannya, kemudian pergi menuju kamarnya sambil menghentakkan kakinya, membuat bunda yang melihatnya terkekeh geli.
__ADS_1
Saat sampai di kamar Arin melepaskan tas dan sepatunya. Ia menghempaskan tubuhnya ke kasur dengan posisi terlentang sambil memandangi langit langit.
"Ini aneh, seharusnya bukan begini ceritanya. Kenapa semua mendadak jadi berubah"ucap Arin pelan kemudian menghela nafas panjang.
"Banyak hal yang makin kesini makin terungkap, satu per satu muncul masalah dikeluarga ini, seperti ada yang menargetkan"gumamku.
"Aku takut pekerjaanku akan berimbas kepada keluargaku. Aku takut mereka terkena masalah, sepertinya aku harus menyelidiki dahulu musuh kakek"ucapku kemudian bangkit dari tidur menuju meja belajar.
Kemudian ia segera mengambil laptopnya dan mencari informasi tentang keluarganya, kakeknya, dan musuh kakeknya. Ia juga menyelidiki masalah perusahaan yang akan jatuh setahun lagi sesuai jalan ceritanya. Arin mengerjakannya sampai tak sadar waktu sudah beranjak sore.
"Astaga sudah sore aku belum mandi lagi"ucapku kaget saat melihat jam.
Arin pun segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak butuh waktu lama Arin selesai bersiap. Ia mengenakan celana training warna hitam dan hoddie warna biru muda, tak lupa ia juga menguncir rambut peraknya dengan menyisakan bagian poni membuatnya kelihatan begitu imut.
"Perfect"ucap Arin saat selesai menyemprotkan parfum aroma vanila dileher, ketiak dan pergelangan tangan.
Saat menuruni tangga ia melihat orang tuanya dan kak Arion yang sudah memakai pakaian rapi membuatnya bingung.
"Loh kalian mau kemana"ucapku bingung saat melihat mereka yang sudah rapi.
"Sayang kita kan jarang jarang nih makan diluar bersama sama, jadi hari ini kita akan makan diluar"ucap bunda sambil mengelus lembut kepala Arin.
"Yaudah kalau begitu ayo berangkat Bun"ucapku bersemangat.
"Eh eh no no no, kamu belum siap Arin sana ganti baju dulu"cegat Arion.
"Loh aku sudah mandi kok kak aku juga sudah siap"bingungku dengan perkataan kakakku.
"Siap apanya, penampilanmu itu lho kok kayak cowok. Sana ganti dengan dress biar kelihatan cewek"jelas Arion dengan cengiran.
"Apaan sih kak, bun kakak tuh ganggu adek. Adek nggak apa apa kan bun pake ginian, kalo pake dress nggak nyaman bun, ya ya ya"pinta Arin dengan mata memelas membuat bunda tak tega dan akhirnya mengiyakan saja.
Mereka pun pergi menggunakan satu mobil. Di dalam perjalanan Arin sangat antusias kali ini ia banyak sekali bercerita tentang ia sekolah, saat ia sedang bersama temannya dan saat ia sedang berantem dengan kakaknya, sedangkan Arion dan kedua orangtuanya hanya mendengarkan dan sekali kali tertawa melihat raut wajah Arin yang nampak berubah ubah saat bercerita.
~bersambung~
jangan lupa like, komen, favπππππ
Dan untuk semua umat muslim selamat hari raya idul Adhaπππ.
__ADS_1