Aku?Jadi Pemeran Figuran!!

Aku?Jadi Pemeran Figuran!!
CHAPTER 32


__ADS_3

Saat ini Arin masih berada di roftoop. Ia sedang memejamkan mata sambil menyenderkan tubuhnya ditembok. Ia menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Sampai ia menyadari seseorang yang sedang mendekat kearahnya dengan pandangan kebencian yang pekat. Arin hanya membiarkan orang tersebut mengarah kepadanya, sampai orang tersebut ingin menusuk jantung Arin dengan pisau. Dengan gerakan kilat Arin memegang pergelangan tangan tersebut dan segera membalikkan tangannya kebelakang untuk mengunci pergerakan lawan.


Ia berbisik ke telinga orang tersebut.


"Kau tahu, baru kali ini ada orang yang ingin membunuhku kubiarkan selamat. Biasanya aku akan membuat orang orang tersebut mengalami kematian yang baik dalam artian kasar. Tapi karena kamu lebih spesial dari pada mereka, aku akan memberikan kematian yang paling berkesan untukmu. "bisikku ditelinganya dengan seringai dibibirku.


"Kau sudah mengibarkan bendera perang sebelum waktunya evelyn, aku tidak akan main main dengan ucapanku ingat kata kata ini, 'aku tidak akan membiarkan musuhku lepas begitu saja dengan selamat seperti tikus yang lari dari kucing. Aku akan memberikan hadiah yang luar biasa setiap kalian melakukan tindakan yang membahayakan keluargaku' camkan itu baik baik"lanjutku dengan suara berat dan dingin dan melepaskan tangan evelyn kemudian berbalik badan untuk pergi dari roftoop.


Langkah Arin terhenti kemudian berbalik menatap Evelyn dengan mata tajamnya.


"Evelyn, ingatkan ini dengan tua Bangka itu. 'jangan bermacam macam dengan keluarga Abraham, karena aku tak akan membiarkan mereka menyakiti keluarga Abraham untuk Kedua kalinya"ucapku sambil menatap tajam kearah Evelyn kemudian berbalik dan melangkah pergi.


Sedangkan Evelyn ia dari tadi hanya menggertakan gigi sambil menahan amarah dengan ucapan Arin. Ia juga terkejut karena Arin mengenal 'tuannya'. Ia pun meninggalkan roftoop sambil memasukan pisau kedalam kantung khusus yang berada dikaos kaki.


Saat ini Arin berjalan menuju kelasnya karena bel sudah berbunyi. Ia segera masuk kedalam kelas sebelum guru masuk. Sampai dikelas ia pun mendudukan tubuhnya ke kebangkunya. Ia melihat siswa siswa yang masih mengobrol dengan siswa lain atau makan camilan. Ia hanya mengerutkan alisnya dan mengambil sebuah novel di tasnya. Sampai pengumuman dari sekolah membuat semua siswa bersorak dan berhamburan keluar.


' Pengumuman kepada para siswa di persilahkan pulang karena para guru akan mengadakan rapat, sekian terima kasih'


Para siswa segera mengambil tas mereka dan berhamburan keluar untuk pulang tak terkecuali Arin. Ia juga mengambil tasnya dan menyampirkan tasnya ke pundak kanannya. Ia mulai celingukan untuk mencari keberadaan kakaknya sampai netra matanya menangkap seorang lelaki yang sedang menuju taman sekolah dengan pandangan kosong.


Karena penasaran Arin pun melangkahkan kakinya untuk mengikuti pemuda tersebut, sampai ia melihat orang tersebut sedang duduk dan mendudukan tubuhnya dikursi dekat taman. Ia dapat melihat pemuda tersebut mengalami tekanan batin. Karena ia juga pernah merasakan. Arin pun pergi ke kantin dan membeli 2 buah air mineral. Dan segera menghampiri pemuda tersebut lalu duduk disampingnya.


"Ini minumlah"ucapku sambil menyodorkan air mineral kearahnya.


Pemuda tersebut pun mengambil botol tersebut lalu meminumnya.


"Terima kasih"ucapnya pelan sambil memegang botol tersebut


"Ada pada zam"ucapku sambil melihat kearahnya. Ya pemuda tersebut adalah Azzam, Arin jelas tahu apa yang ada dipikiran Azzam. Menurut novel keluarganya sangat menentang karirnya di bidang model, keluarganya menuntut Azzam untuk menjalankan bisnis ditambah mereka dari kecil tidak memberikan kasih sayang pada Azzam membuatnya mengalami tekanan batin dan bimbang atas keputusan orang tuanya atau pilihannya. Hal itulah yang membuat keluarga mereka selalu mengalami pertengkaran.


"Zam kamu tahu?"ucapku ku potong. Kulihat ia menoleh kearahku.


"Hidup adalah pilihan. Masa depan diri kita tergantung apa yang kita usahakan dan pilih. Kamu harus bersungguh-sungguh sungguh saat kamu memilih sesuatu. Jadikan dia mimpi untuk meraih masa depan yang indah. Jangan sampai kamu salah memilih membuatmu menyesal di masa depan. Jika tak ada jalan keluar dari masalahmu ambilah yang paling tidak memicu masalah lain atau ambil keputusan ditengah tengah. Aku yakin kamu paham dengan ucapanku zam"ucapku panjang lebar sambil tersenyum tulus kearahnya.


"Soal kasih sayang?"lanjutku kemudian memegang tangan Azzam.


"Walau kau tidak mendapat kasih sayang dari orang tuamu, kamu masih bisa mendapatkannya dari temanmu. Aku yakin jika kau mau terbuka dan bercerita kau tidak akan mengalami hal semacam ini. Kau tidak akan mengalami frustasi yang berlebihan, dan ya itu akan membuatmu cepat tua tahu"lanjutku sambil bercanda.


Kulihat bahunya yang sedang bergetar seperti menahan tangis aku pun segera menarik tangannya dan memeluknya.


"Tak apa menangis lah, saat ini aku memberikan pundakku sebagai sandaranmu teman"ucapku sambil mengelus pelan punggung azzam.


Azzam yang mendengar ucapan Arin membuat tangisnya pecah. Di keluarganya dari kecil ia tidak mendapat kasih sayang, ia selalu dipaksa untuk terus belajar dan belajar, ia juga selalu dikekang dan dibatasi pergaulannya. Ia tak tahan, sudah cukup baginya untuk melewati semuanya. Ia selalu iri dengan keluarga yang harmonis, keluarga yang dimana anak anak selalu diprioritaskan. Sekarang ia akan tegas dalam memilih segala tindakan yang ia ambil.


Sedangkan Arin hanya tersenyum tipis tapi menyiratkan ketulusan. Ia pernah diposisi tersebut, terlebih dari kecil ia sudah mengalami yang namanya penyiksaan saat umurnya masih 5 tahun, setelah kepergian ibunya.


"Apakah sudah tenang"ucapku lembut saat merasakan tubuh Azzam yang sudah tidak bergetar seperti tadi saat menangis.

__ADS_1


Azzam pun melepaskan pelukannya perlahan dan memandang wajah Arin.


"Tenanglah zam, hidup itu seperti roda yang berputar. Adakalanya kita berada dititik terendah dan adakalanya saat kita berada diposisi tertinggi, tergantung kita yang menyikapinya"nasehatku kemudian mengelus kepalanya.


"Kamu sudah baikan bukan?"tanyaku direspon anggukan oleh Azzam.


"Kalau begitu aku pergi dulu, tetap semangat"ucapku sambil mengepalkan tangan keatas sebatas bahu.


"Daa"ucapku sambil melambai kearahnya dan beranjak pergi.


"Terima kasih Arin"ucap pelan Azzam sambil tersenyum manis.(manis banget loh๐Ÿ˜).


Sedangkan disisi lain tampak seorang pemuda dengan rambut berwarna abu abu sedang celingukan mencari sesuatu. Orang tersebut tak lain adalah Arion yang sedang mencari adik manisnya itu,dari tadi ia mencari adiknya tapi ia tidak melihatnya. Sampai matanya melihat kearah seorang gadis yang berjalan santai kearahnya membuat ia bernafas lega.


"Astaga sudah ditungguin juga bukannya cepet cepet kesini, malah jalannya lelet banget"gumam Arion kesal.


Tak lama Arin pun sampai di depan kakaknya dan berkata


"Udah lama kak nunggu"ucap arin dengan tampang watadosnya membuat Arion geram melihatnya.


"Enggak, tapi saking lamanya kakak jadi lumutan"ucap arion kesal kemudian mengacak rambut Arin.


"Ya maaf atuh kak, tadi Arin ada hal penting yang harus diurus"mohonku sambil menyatukan tanganku kearahnya.


"Yaudah deh nggak apa apa, lain kali hubungi kakak dulu ya biar nggak khawatir"titahnya sambil mengelus pelan kepala Arin dan diangguki oleh Arin.


Tak lama mobil sport tersebut sampai didepan mansion keluarga Abraham. 2A pun segera turun dari mobil dan melangkah menuju kamar masing masing.


Di dalam kamar, Arin saat ini sedang menyiapkan dirinya untuk bersiap malam ini, ia juga mencari data data mafia black yang mempunyai kemungkinan untuk mencuri berlian tersebut. Informasi yang ia dapat ada sekitar 10 mafia black yang akan berusaha untuk mencuri berlian itu. Ia sedang berpikir strategi apa yang ia gunakan. Sepertinya ia harus berangkat lebih awal untuk melihat lokasinya. Ia tidak ingin mengalami kecerobohan lagi saat bertugas yang menyebabkan ia harus kehilangan nyawanya.


"Apa yang harus kukatakan agar nanti bisa keluar ya"gumamku berpikir.


"Aha aku akan bilang kalau aku menginap dirumah teman saja"ucapku berbinar.


Arin pun menengok kearah jam dinding yang ada didepannya.


"Ini baru jam 1 siang setidaknya aku masih punya waktu 5 jam untuk dirumah dan sisanya untuk meninjau lokasi dan membuat strategi bersama anggota lain"gumamku sambil mengangguk anggukan kepala.


Krucuk krucuk...


"Ugh lapar, aku masak dulu ajalah"ucapku sambil mengelus perut.


Arin pun segera bangkit dari kursi dan menuju dapur. Di dapur ia tidak melihat makanan hanya tersisa pasta dan sayuran. Tanpa berfikir panjang Arin pun segera memasak pasta tersebut. Setelah selesai di rebus pasta tersebut ia tiris kemudian sisihkan. Ia pun mengambil wajan dan menuangkan sedikit minyak, kemudian memasukan telur yang sudah ia aduk terlebih dahulu. Arin mengorak arik telur tersebut bersama sayuran dan bumbu lainnya, karena Arin suka pedas ia juga menambahkan saos dan sambal, setelah semuanya tercampur ia pun memasukkan mie yang sisihkan tadi. Kemudian ia mengaduk aduk kembali sampai matang.


"Sudah siap"ucap Arin sambil meletakkan makanan tersebut kedalam piring.


Arin pun segera membaginya menjadi dua, karena ia tahu kakaknya pasti belum makan juga.

__ADS_1


"KAK MAU MAKAN NGGAK"teriakku sambil meletakkan makanan tersebut di meja makan.


"IYA DEK MAU BENTAR"sahut Arion sambil keluar dari kamarnya.


"Masak apa dek"tanya Arion sambil memundurkan kursi kemudian duduk.


"Masak ini, nggak tahu apa namanya yang penting bisa dimakan"ucapku sambil duduk dan mulai makan.


"Emh walau nggak tahu apa namanya tetep aja ini mienya enak banget"batin Arion saat merasakan kenikmatan dari makanan yang ia makan.


"Coba deh dek buka warung makan, pasti laku"canda Arion sambil menyuapkan sendok kemulutnya.


"Maaf ya kak, makanan yang aku masak itu limited edition ngerti"sahut Arin kemudian tertawa. Sedangkan Arion hanya terkekeh mendengar gurauan adiknya.


"Kak bunda sama ayah kemana sih lama nggak lihat"tanyaku penasaran.


"Oh itu katanya mereka lagi acara bisnis, pulangnya seminggu laki keknya"jawab Arion sambil meneruskan makan.


"Hah"helaan nafas keluar dari bibir Arin yang nampak kecewa saat mengetahui kedua orangtuanya yang selalu berpergian.


"Yang sabar ya dek, ada kakak disini temenin adek kok"ucap Arion sambil mengelus lembut kepala Arin.


"Iya kak"ucapku sambil tersenyum manis.


"Oh iya kak, aku mau nginep dirumah temen ya, soalnya aku mau belajar disana. Tenang aja temenku cewek kok"ucapku berbohong.


"Boleh asalkan sampai rumah jangan ada yang lecet ya, awas sampai lecet. Kakak nggak bakal biarin kamu pergi lagi"ancam Arion kemudian menyendok kan makanan kemulutnya.


"Iya kak"ucap Arin.


"Tapi nggak janji"batin Arin.


Setelah selesai makan 2A pun segera memasuki kamar masing masing.


"Jam berapa ini"gumamku kemudian melirik kearah jam dinding.


"Oh baru jam 4, kayaknya aku harus berangkat sekarang"ucapku kemudian segera mengganti bajunya menggunakan baju warna hitam dan celana jeans yang lentur yang memudahkannya untuk bergerak. Ia pun segera menutupi tubuhnya menggunakan jaket yang sampai kebawah. Tak lupa juga topengnya yang ia simpan di jok motornya.


"KAK AKU PERGI DULU YA"ucapku sambil menaiki motor.


Arin pun segera menghidupkan motornya dan melesat di jalanan. Tak lupa dengan kecepatan motornya yang diatas rata membuat pengendara lain kesal dengan tingkah Arin. Sedangkan Arin enjoy saja sampai ia berada di desa terpencil dan lumayan kumuh, karena tempatnya itu didalam hutan terpencil gitu. Ia pun menyadari sesuatu yang membuatnya senang.


"Hehehe baru jam segini udah ada tikus tikus yang keluar ya"lirihku kemudian menyeringai.


~bersambung~


Jangan lupa like, komen, dan vote ya๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

__ADS_1


Maaf ya author lama up karena bingung mau mulai dari mana, apalagi author lagi terserang penyakit mager. Aduh๐Ÿ˜‹๐Ÿ˜‹. Alhamdulillah sekarang author dah tahu ceritanya mau dikemanain.


__ADS_2