
"Kalian sudah pulang?" tanya ibu Rahma.
"Iya ma."
Dewa dan Mega terlihat lesu. Terlebih Dewa yang pusing dengan sikap Arumi yang akhir-akhir ini tidak terkendali.
"Tunggu-tunggu, kok seperti tidak ada perubahan wajah dan kulit kamu."
Mega dan Dewa panik dalam hati.
Dewa merutuki kebodohannya. Lupa apa yang diperintahkan oleh mama nya. "Salon langganan Mega tutup ma. Ya kan Mega?"
Mega mengangguk dengan berat. Karena merasa bersalah telah berdusta kepada ibu mertua yang dianggapnya baik.
"Oh, gitu. Ya udah mama tinggal dulu ya. Mama ada arisan soalnya."
"Iya ma, hati-hati."
Dewa langsung menuju kamarnya. Menghempas tubuh pada ranjang yang semalam tidak ditiduri nya.
Sementara Mega, tidak ingin menganggu suaminya. Karena Mega tahu betul, semalam Dewa tidur di bawah dan pasti tidak nyaman. Mega kembali turun, memberi makan ikan-ikan koi di kolam belakang. Menyibukkan diri dengan bantu-bantu bibi di dapur.
Sementara ibu Rahma. Kedatangan nya di restoran dan akan mengadakan arisan bersama teman-teman nya sedikit terlambat. Namun saat baru datang. Mamanya Arumi, ibu Clarisa malah pergi. Sengaja menghindar dari ibu Rahma.
"Clarisa... Clarisa." panggil ibu Rahma kepada mama nya Arumi.
"Aku ada urusan, jadi aku harus pergi."
"Clarisa, mungkin memang Dewa belum berjodoh dengan Arumi..."
"Cukup! Cukup Rahma! Aku sudah tidak mau mendengar apapun alasan dari kamu."
"Apa menurutmu aku juga menginginkan nya? Aku juga maunya Arumi yang jadi menantu ku. Tapi takdir berkata lain."
"Halah, itu alasan kamu aja. Kamu bisa kasih uang banyak sama perempuan yang hamil anak Dewa itu. Tapi kamu tidak melakukan nya dan malah menikah kan mereka."
"Clarisa..."
"Kamu tidak tahu perasaan Arumi. Hampir setiap hari dia menangis dan aku kasihan pada nya. Aku sudah keluar dari grup arisan. Aku ada urusan." Ibu Clarisa yang kemudian pergi meninggalkan ibu Rahma.
Ya, semenjak pembatalan pernikahan Dewa dan Arumi. Hubungan pertemanan mereka yang sejak lama harus berakhir juga. Mama nya Arumi tidak terima dan terlihat masih marah dengan hal tersebut. Dan yang lebih parah nya. Ikatan bisnis para suami juga ikut putus dan sekarang berdiri masing-masing.
Ibu Rahma kemudian kembali berkumpul dengan teman-teman nya. Melakukan arisan seperti biasa.
Beralih ke Mega yang sedang membantu bibi menyiapkan makan malam. Mega mengiris kubis dan tidak tahu kenapa terkena jari nya.
"Aw," ringis nya memandang jari telunjuknya sudah mengeluarkan darah segar.
"Ya ampun non Mega, sudah biar bibi aja."
Dewa yang baru keluar kamar mendengar dan bergegas langsung turun. " Kamu kenapa?" paniknya dan melihat jari Mega keluar darah. Reflek, Dewa langsung memasukkan jari Mega ke mulut nya.
__ADS_1
Sontak Mega terkejut dengan apa yang dilakukan Dewa ke diri nya.
"Lain kali hati-hati." Dengan lembut mengatakan nya. Dan malah mengambilkan hansaplast dan menutup jari Mega yang terluka.
Mega tercengang. Masih belum pulih dari rasa terkejutnya. Mendapati sikap Dewa baik terhadapnya.
Jangan ge-er Mega.
Dia melakukan itu kan karena ada bibi.
ucap Mega yang tentunya dalam hati.
"Terimakasih."
"Sudah, sekarang kamu istirahat. Biar itu bibi yang mengerjakan," imbuh Dewa dengan masih nada halus.
Mega mengangguk, lalu pergi ke kamar nya.
.
.
Keesokan hari.
Mega dikejutkan oleh penampilan suaminya. Dewa sudah terlihat rapi dengan kemeja berikut celana melipis nya.
"Anak mama ganteng banget sih pagi ini," ucap ibu Rahma yang mencium pipi putra nya.
"Makasih ma."
"Pasti pa."
Kemudian mereka makan pagi. Dimana selesai makan Dewa berpamitan kepada semuanya. "Dewa berangkat dulu ya ma, pa."
Ibu Rahma menatap heran. Karena putranya main pergi aja, seolah menganggap Mega tidak ada. "Dewa, kamu nggak pamit sama istri kamu?"
"Kayak papa dong, ma... papa berangkat dulu ya," pamit pak Hendarto yang mengecup kening ibu Rahma.
Dewa masih mematung.
"Pamit sama Mega."
"Iya ma." Dewa kembali langkah. "Aku berangkat kerja dulu ya," diucapnya dengan canggung.
"Iya kak," jawab Mega yang kemudian mencium punggung tangan Dewa.
"Sudah gitu aja?" tanya ibu Rahma.
Cup
Dikecupnya kening Mega meskipun dengan terpaksa. "Aku berangkat ya," imbuhnya dengan dielus pipi kanan Mega supaya mamanya puas dan lega.
__ADS_1
Ibu Rahma malah tertawa kecil dan geleng-geleng kepala.
"Assalamualaikum."
"Wa alaikum salam."
.
.
Di proyek pembangunan.
Dewa tengah berkeliling memeriksa semua hal tentang pembangunan hotel milik ayahnya. Tidak berapa lama, sebuah pesan masuk yang ternyata dari Arumi.
Inti dari semua pesan Arumi adalah dia ingin membawakan makan siang untuk Dewa. Makanya Arumi meminta alamat, supaya Dewa dan dirinya, bisa menikmati makan siang bersama.
Dewa melanjutkan pekerjaan nya. Memantau proyek satu persatu sembari menunggu Arumi datang.
Tepat pukul 12.00 WIB. Jam dimana seluruh pekerja juga tengah istirahat untuk makan siang. Arumi pun datang membawa rantang makanan di tangan kanan nya.
Keduanya memanggil dengan sebutan sayang dan setelahnya berpelukan. Dimana Akhyar, kakak Mega mengetahui itu. Niatnya adalah terkait pembahasan berbagai model fasilitas hotel yang akan dibahas oleh pemiliknya yang tentu pak Hendarto. Awalnya, pak Hanung sendiri yang akan berbicara kepada pak Hendarto. Namun mendadak Akhyar yang disuruh pergi menemui pak Hendarto.
Darah Akhyar seketika mendidih. Melihat suami adik perempuan nya bermesraan dengan perempuan lain. Tampak sekali jika Dewa dan perempuan itu tengah asyik menikmati kebersamaan mereka.
Akhyar mendekat memantau keduanya. Dimana Arumi tengah menyuapi Dewa dengan makanan yang dibawakan nya.
"Enak?"
Dewa mengangguk dan mengecup kekasihnya.
"Jadi begini kelakuan kamu?" Akhyar berkacak pinggang dengan keratan seluruh gigi dan tulang rahang yang mengeras. Menatap Dewa dengan kemarahan yang sudah tidak bisa dia tahan.
Bugh
Akhyar melayangkan bogem mentah ke pipi Dewa.
Arumi ketakutan.
"Aku bisa jelaskan kak," ucap Dewa yang semuanya bisa dibicarakan baik-baik dan tidak memakai kekerasan.
"Kamu mau jelaskan apa? Jelas-jelas kamu sudah menodai adikku dan sekarang akan kamu sakiti hatinya dengan kamu selingkuh dengan wanita ini."
"Jadi kamu kakak nya Mega?" sahut Arumi.
"Diam! Dan kamu, jauhi dia karena dia adalah suami adikku. Dia sudah memiliki istri."
Arumi tidak terima. Dan membela dirinya. "Anda yang diam! Mega yang merusak hubungan kami. Harusnya aku yang sekarang jadi istri Dewa dan bukan malah Mega."
Dengan ucapan Arumi, Akhyar terang mengerti. Jika keduanya ternyata sepasang kekasih dan wanita yang akan dinikahi Dewa.
Bugh
__ADS_1
Kembali Akhyar memukul pipi mulus Dewa. "Salahkan laki-laki ini! Jangan salah kan adikku! Awas kamu menyakiti adikku! Membuatnya menangis dan sampai aku tahu," ancam Akhyar yang kemudian menarik kemeja bagian dada Dewa dan menghempaskan nya. "Jangan main-main kamu!"
BERSAMBUNG