
"Kamu mau kemana Mega?" Ibu Rahma yang bertanya kepada Mega karena sedari tadi, menantunya itu sibuk di dapur.
"Aku mau ke tempat kerja nya kak Dewa ma. Boleh ya ma, mau anter makan siang yang sengaja aku masak."
"Wah... Romantis sekali kalian ini. Mama jadi ngiri deh."
Mega tersenyum malu.
"Pulang-pulang dari Bali, kayak ada perubahan signifikan ya, terkait urusan hati kalian," goda ibu Rahma.
"Mama bisa aja."
"Ya udah kamu berangkat sana, nanti keburu Dewa makan siang lho."
"Iya ma.
"Oh ya, kamu nggak telepon dulu? Biar dia tungguin kamu dan nggak makan siang di luar."
"Em, nggak usah deh ma. Mega langsung aja berangkat, sengaja sekalian buat kejutan untuk kak Dewa."
"Ya udah kamu hati-hati ya."
"Iya ma, Assalamualaikum."
"Wa alaikum salam."
Berbeda dengan Dewa yang digelandang paksa oleh Arumi, masuk di salah satu kamar hotel yang tidak jauh dari ruang kerja nya.
"Apa-apa an ini? Kamu gila Arumi. Apa yang kamu mau lakukan?" tanya Dewa yang tidak bertindak seperti biasanya.
"Kenapa? Bukan kah aku dan Mega sama? Begini bukan? Cara kamu sekarang memperlakukan Mega." Arumi yang berjalan mendekat mengarah pada kekasih nya.
"Arumi," lirih Dewa dengan nafas tidak stabilnya.
Tubuh mereka sudah terkikis jarak, kedua tangan nya berusaha melepas kancing pria berdada bidang itu. Mendongak, menatap dalam bola mata pria yang dicintainya dengan sangat.
"Aku mohon hentikan Arumi," harap Dewa sembari menghentikan kedua tangan Arumi.
"Kenapa? Kamu sendiri yang bilang, akan memperlakukan aku dan Mega sama. Lagi pula aku yakin, dengan kamu yang berubah seperti ini, kamu pasti di Bali sudah..."
"Hentikan! Aku tidak bisa melakukan nya."
"Kenapa?" tatap Arumi dalam dan makin tersakiti nya.
__ADS_1
"Pikiran kamu penuh dengan wajah perempuan itu?"
"Cukup Arumi!" tegas Dewa yang dia sendiri juga sangat bingung dengan hidupnya kini. "Andai aku bisa memilih, tidak ada Mega dan bayinya diantara kita. Harus dengan apa aku meyakinkan kamu berulang kali? Kalau cinta aku amatlah besar terhadapmu. Tapi kamu seolah tidak percaya. Dan terus mendesak ku. Semua mendesak ku. Terutama kakaknya Mega. Kamu tahu bukan?" Dewa juga tidak kalah sedihnya saat mengungkapkan hal demikian.
Arumi memeluk kekasihnya. Mencoba mengerti keadaan Dewa yang tertekan.
"Maafkan aku sayang. Aku hanya takut kehilangan kamu. Aku janji akan berusaha tidak menuntut mu lagi. Tapi aku mohon, kamu tidak ingkar janji untuk menceraikan dia setelah anak Mega lahir."
Dewa mengangguk kecil saat mereka berpelukan.
Bersamaan dengan tangis deras dari Mega yang memergoki mereka berdua. Menangkap lengkap percakapan mereka dari awal. Mega dapat menyimpulkan, jika semua yang dikatakan Dewa adalah bulshit semata. Semuanya omong kosong. Mega pergi menjauh dari keduanya yang masih meng eratkan dekapan. Masih membawa rantang makan siang untuk suaminya menaiki taksi online yang dipesan nya.
Didalam taksi online Mega menangis hebat. Mengingat segalanya yang baru saja mereka ucapkan dan lakukan selama beberapa hari kemarin. Permohonan Dewa untuk dia tetap tinggal dan tidak pergi. Rasanya sulit dipercaya, jika suaminya ternyata pandai bermain kata-kata. Dan sekarang bilang hal yang serupa kepada kekasihnya. Seakan tertimbun tanah secara tiba-tiba. Memaksanya bernafas, padahal paru-parunya zero tanpa o dua.
Supir taksi online yang sedari tadi tersiksa telinga nya. Mendengar tangis Mega yang memilukan dan dia tidak kuat melihatnya. "Kita mau kemana ya mbak?"
"Kita ke telaga biru aja pak."
"Iya mbak."
Ingatan Mega perihal liburan honey moon di Bali menggeliat ke permukaan kepalanya. Mengajaknya mengingat semua hal tentang suami nya. Yang sulit dia duga, dengan begitu cepat Dewa bisa berubah kata-kata.
Saking gemasnya Mega dengan suaminya. Dalam tangisnya dia tidak sadar *******-***** baju yang dikenakan nya. Hingga sudah sampai di telaga biru. Mega masih menunduk dengan tangisnya.
"Oh, terimakasih pak." Mega membayar nya dan langsung pergi.
Namun supir sadar jika ada yang tertinggal di kursi penumpang. "Mbak, rantangnya.."
"Buat bapak aja," teriak Mega yang lanjut mencari kursi kayu panjang di dekat telaga, dibawah pohon trembesi.
Tenang sekali rasanya menghirup udara dingin di dekat telaga. Meskipun siang, tetap saja hawa dingin terasa karena tempatnya yang tidak jauh dari gunung. Angin yang silih berganti menyapa dan tidak berhenti menjatuhkan ranting-ranting rapuh dari atas pohon. Tentu saja dengan daun-daun ringan yang berterbangan. Mendamaikan hati yang sedang keruh dengan berbagai masalah tentang sebuah perasaan.
Mega duduk dan meratapi penyesalannya. "Harusnya aku tidak percaya begitu saja. Harusnya aku sadar kak, jika hati kamu memang milik Arumi dan bukan milikku," diikuti lelehan air mata yang sudah basah di kedua pipinya. Mega yang masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan suaminya.
Mega yang baru saja hatinya di buat melambung tinggi ke angkasa oleh seorang Dewa. Hari ini, serasa diasingkan jauh di kutub utara. Dingin dan menyiksa. Perlahan membeku dan tidak dapat merasakan apapun layaknya makhluk hidup lainnya.
Liburan di Bali, seolah enggan berhenti menyiksa nya. Menyeruak satu persatu untuk dibahas oleh logika. Makan bersama dengan mesra untuk pertama kalinya, bobok bareng tanpa rasa canggung Dewa siapa Mega siapa. Oh... Semua terlalu menyakitkan hingga berakhir pada sebuah penyatuan tanpa paksaan diantara keduanya yang meminta dibahas oleh kepalanya.
"Maafkan bunda ya nak, jika bunda terus menyiksa mu dengan tangisan-tangisan bunda. Okay... Bunda akan kuat demi kamu sayang. Dan bunda janji akan baik-baik saja. Bunda akan jadi bunda yang kuat dan tidak rapuh untuk anak bunda. "Mega yang mengelus perutnya. Mengajak bayinya bicara dan akan tegar menjalani kehidupan rumah tangganya."
Sampai matahari hampir tenggelam Mega berada di telaga biru. Menata hati yang berantakan sejak tadi. Mencari alasan-alasan masuk akal atas ketidakjadi bertemunya dia dengan sang suami tadi siang.
Sementara di rumah. Ibu Rahma dikagetkan dengan Dewa yang pulang ke rumah sendiri. "Lho, Mega mana?"
__ADS_1
"Lho, kok mama tanya Dewa? Dewa kan baru pulang ma. Bukannya Mega di rumah," dengan mencium punggung tangan mamanya dan mencium pipi ibu Rahma.
Ibu Rahma tampak bingung. "Katanya, tadi istri kamu itu mau ke kantor anter makan siang."
Dewa terbengong. Dimana dijam-jam tersebut dirinya dan Arumi tengah bersama. Membahas hubungan mereka yang sudah baik-baik saja seperti sedia kala.
"Assalamualaikum."
"Wa alaikum salam. Mega, dari mana kamu?" tanya ibu Rahma yang sedang dicium punggung tangan nya oleh menantunya.
"Oh, maaf ya kak. Tadi rencananya aku mau bawa makan siang ke tempat kerja kakak. Tapi tiba-tiba teman aku ada yang sakit ma, jadi aku jenguk dia dan lupa deh. Karena lama tidak bertemu kita ngobrol sampai sore. Maaf ya kak, ma," bohong Mega pada keduanya.
Dewa lega. Ternyata prasangkanya salah. Dan Mega tahu, jika Dewa merasakan kelegaan jika dirinya tidak melihat dia dan Arumi. Padahal yang terjadi sebaliknya.
"Ya Allah... Mama udah khawatir aja, kamu kemana?"
"Iya ma, lain kali Mega kasih tahu kok.
"Iya udah kalian pada mandi, trus turun. Kita makan malam sama-sama. Karena papa lagi keluar kota."
"Iya ma."
Setelahnya mereka usai makan malam. Dewa masih perhatian dengan membuatkan segelas susu ibu hamil vanila kesukaan Mega. "Ibu hamil minum susu dulu ya," dengan memberikan satu gelas susu vanila untuk Mega dan membantu Mega meminumkan ke mulut nya.
"Aku bisa sendiri kak," kata Mega tidak mau hanyut terlalu dalam dengan buaian kata manis dari suaminya.
Mega beralih ke meja rias dan menghindari tatapan Dewa yang kapan saja bisa menenggelamkan nya.
"Kamu kenapa sih?" tanya Dewa mendekati istrinya yang aneh.
"Kenapa apa nya?"
"Ya, aneh aja."
Mega beralih tempat lagi naik ke atas ranjang. "Nggak ada apa-apa kak, hanya perasaan kakak aja." Mega menarik selimutnya. Mematikan lampu dekat tempat tidurnya dan membaringkan tubuhnya.
Dewa berpikir ada apa dengan istrinya. Beranjak di ranjang yang sama. Mendekap tubuh istrinya dari belakang dan berusaha diubah posisinya oleh Dewa untuk saling berhadapan.
Mega mengiyakan, tanpa ada penolakan. Takut Dewa curiga meskipun buliran jernih menetes satu persatu menggingat peristiwa tadi siang.
BERSAMBUNG
BERSAMBUNG
__ADS_1