
"Kamu kemana aja sih?" tanya ibu Rahma yang sudah bersungut-sungut melihat Dewa memasuki rumah.
Dewa terlonjak karena saking kagetnya. "Mo-mobil Dewa mogok ma. Lalu Dewa bawa ke bengkel."
Ibu Rahma memajukan sepasang matanya mengintimidasi Dewa. "Benar begitu?"
"I-iya ma," jawab Dewa tergagap.
"Tapi seperti nya kamu bohong deh. Mobil kamu itu mobil baru. Datangnya juga pas kamu mau pulang ke Indonesia. Hitung berapa bulan!" desak ibu Rahma mencerca putranya.
Dewa garuk-garuk kepala dengan tertunduk lesu. Dustanya jelas-jelas keliru.
"Dari mana?" sentak ibu Rahma. "Kamu habis ketemu sama Arumi? Iya kan?"
"Sssst! Nanti kalau dengar Mega ma."
"Kamu takut kalau di dengar Mega. Tapi kamu masih aja ketemu sama Arumi," kesal ibu Rahma.
"Ma, pelan-pelan ma. Aku harus perlahan-perlahan melepaskan Arumi. Mama juga harus tahu dong perasaan dia. Kalau mama ada di posisi dia bagaimana? Jangan Mega terus yang dipikirin perasaan nya."
"Astaghfirullah... Padahal Mega jelas banyak lho hancurnya."
"Kan aku udah nikahin."
"Nikahin aja tanpa kamu menjalankan kewajiban kamu sebagai suami. Gitu maksud kamu!"
"Lalu aku harus apa ma?"
Ibu Rahma kesal dan pusing dengan Dewa. "Dewa, mama pikir dengan kamu membawa Mega ke rumah ini adalah terselesaikannya hubungan kamu dan Arumi."
"Awalnya juga gitu ma. Tapi Arumi nangis-nangis dan aku juga tidak tega."
"Kenapa kamu nggak nikahin dua-dua nya aja? Ketimbang begini? Dosa tahu!"
"Boleh?"
"Ergh..." gemas ibu Rahma yang kemudian pergi mencubit kesal lengan putranya.
"Aw...aw...aw...sakit..." ringis Dewa yang kesakitan lengannya dicubit betulan sama mama nya.
Dewa masih berdiri dan mengacak kasar rambutnya. Semenjak kedatangan nya ke Indonesia. Semenjak itu pula hidupnya rumit serumit-rumitnya.
Dewa kemudian pergi ke kamarnya. Memeluk istrinya dari belakang karena melihat Mega selesai mandi. "Hem...bumil cantik banget, harum lagi," rayu nya supaya tidak ditanya macam-macam.
Mega bersikap dingin, berusaha melepaskan dua tangan Dewa yang melingkar di perutnya. "Mandi."
Dewa bisa merasakan jika Mega sepertinya sudah mengerti hubungan nya dengan Arumi yang belum bubar. Tapi dari mananya dia tidak tahu. Entahlah, Dewa tidak ingin menerka-nerka. Yang pasti, sepasang mata Mega tidak nyata-nyata menyaksikan kemesraannya dengan Arumi.
"Okay, aku mandi dulu," dengan mengelus kecil satu pipi kiri Mega dengan ibu jarinya. Tentu dengan tatapan yang belum dia lepas dan Mega menyadarinya.
__ADS_1
Sampai Dewa selesai mandi. Mega ternyata sudah lebih dulu tidur. Itu sengaja Mega lakukan, guna tidak terlibat percakapan dengan suaminya.
Keduanya seperti orang asing, meskipun tidur satu ranjang dan setiap malam memberi dekapan, namun semuanya terasa dingin. Mega banyak menghindarinya, meskipun Dewa tidak kalah memprioritaskan Mega diatas segalanya.
.
.
Tgl 4 bulan selanjutnya.
"Aku antar kamu cek kandungan ya sayang," ucap Dewa yang tidak lupa dengan jadwal kontrol kandungan Mega.
"Nggak usah kak. Kak Akhyar yang mau ngantar, itu sekalian dia lakukan, karena besok dia harus berangkat ke Jerman. Nggak apa-apa ya? Aku mau habiskan waktu seharian untuk dia."
"Kalau berdua bagaimana? Kakak kamu sama aku."
Mega pasrah karena Dewa memaksa. Alhasil Mega janjian sama Akhyar dan kakaknya menunggu di tempat praktek dokter kandungan.
Dewa dan Mega pun akhirnya sampai. Akhyar menyambut baik salaman dengan adik iparnya tanpa dendam untuk pertama kalinya. Hingga nama Mega Aristia di panggil untuk masuk ke ruangan dokter dan di periksa. Kedua laki-laki itu begitu sangat gembira melihat perkembangan calon buah hati Mega yang semakin tumbuh besar di dalam perutnya.
Dewa berulang kali bersikap manis, dari melingkarkan tangan ke pinggang istrinya dan beberapa kali terpantau Akhyar memberi kecupan pada kening adiknya. Sengaja, Mega tidak menampakkan sikap dinginnya pada suami, karena takut kakaknya curiga dan akan malah panjang urusannya.
"Maafkan kakak ya, kalau nanti pas kamu lahiran... Kakak tidak bisa ikut serta menemani kamu."
Mega mengangguk.
"Jangan lupa, kalau ada apa-apa kamu cerita sama Zahrin. Aku juga udah bicara banyak sama dia," pesan Akhyar kepada adiknya.
Jantung Dewa berhenti sesaat. Mampus gue, kalau sama istri sepupu. Jangan sampai ketahuan sama mereka deh. Bisa panjang urusan nya kayak rel kereta. batin Dewa bertutur kata.
"Buat kamu juga, ingat! Sampai aku dengar kamu tidak menepati janji mu. Kamu akan selesai," ancam Akhyar pelan namun sangat keras makna nya.
"Iya kak," jawab Dewa takut setengah menunduk.
Akhyar kemudian memeluk adiknya. Mengusap punggung adik perempuan yang baru pertama kali akan dia tinggal jauh dalam waktu yang cukup lama.
"Kakak disana hati-hati ya. Kakak harus persiapkan semua obat-obatan. Dan Kakak harus jaga kesehatan." pesan manis Mega kepada Akhyar yang kemudian mereka melepaskan pelukan.
Akhyar tertawa kecil. "Harusnya kakak yang bilang begitu. Kamu yang hati-hati dari manusia ini," tuding Akhyar yang mengarah pada Dewa, yang ketiganya tertawa kecil sebentar. "Kamu akan antar kakak ke bandara kan?"
Mega mengangguk. Dan setelahnya mereka berpelukan kembali. Melepasnya dan Akhyar merangkul adiknya, berjalan bersama melangkah menuju parkiran mobil. Dimana Mega dan Dewa naik mobil. Akhyar naik sepeda motornya dan mereka janjian dadakan untuk makan di sebuah restoran sederhana di dekat telaga biru.
Sengaja Mega yang memilihkan tempatnya. Ingin menikmati pohon-pohon hijau yang mengitari pinggir telaga. Merasakan angin membawa dingin yang menusuk kulitnya. Dan terakhir hari itu akan dia habiskan bersama kakaknya yang akan pergi ke Jerman.
"Aku nggak tahu tempat nya," ujar Dewa yang memang belum hafal jalan ke telaga biru.
"Ini lurus aja, nanti ada perempatan kita belok kiri. Sekitar tiga ratus meter kita belok kanan dan naik tanjakan setelahnya. Udah habis itu kita sampai."
Dewa menoleh ke istrinya. "Tempat kamu suka berkencan sama Satrio ya?"
__ADS_1
Mega menggeleng kecil dan cepat.
"Trus? Ngapain kalau cuma mau makan aja, sampai jauh kesana? Kan bisa makan di restoran dekat-dekat sini. Masuk Mall juga banyak resto."
"Bukankah kakak sendiri yang menawarkan ingin mengantar? Aku kan udah bilang, kalau hari ini aku akan menghabiskan waktu sampai petang bersama kak Akhyar. Karena besok pagi dia harus berangkat ke Jerman."
Dewa terdiam. Sadar, dia yang salah. "Maaf aku lupa."
Sesampainya di telaga biru. Angin membuat rambut Mega berkibar-kibar. Dewa membenahi rambut istrinya dan itu terlihat oleh Akhyar yang baru sampai.
Mega beralih merangkul kakaknya dan berjalan bersama menuju restoran tidak jauh dari telaga. Yang otomatis mengacuhkan Dewa yang berjalan di belakang mereka.
"Kamu pinter banget sih milih tempat nya."
"Bagus ya kak?"
Akhyar mengangguk dengan senyum. Melihat pemandangan telaga biru yang tidak terlalu padat pengunjung hari itu. Sepasang matanya beredar, pori-pori kulitnya tertusuk hawa dingin yang sejak tadi menghampirinya setelah jaketnya dia lepas untuk dipakai oleh Mega.
Dewa yang bosan, akhirnya memilih berkirim pesan dengan Arumi dimana Mega tengah asyik ngobrol bersama kakaknya. Melihat istrinya dimanjakan oleh kakaknya rasanya cukup jealous juga. Mengingat Mega akhir-akhir ini, bersikap dingin karena hormonnya tidak stabil dan moodnya tidak menentu.
Menghabiskan waktu sebelum Akhyar berangkat ke Jerman selesai. Entah sudah berapa kali, Akhyar memeluk adiknya dan seakan berat meninggalkan Mega pergi jauh sendirian. Meski tahu adiknya sudah bersuami, namun sangat tahu kondisi rumah tangga mereka sangat rapuh dan rawan karam sewaktu-waktu.
Sesampainya di rumah. Ibu Rahma sangat antusias sekali melihat hasil kontrol kandungan menantunya hari itu. "Kalian malam sekali."
"Iya ma, tadi Mega bertemu kakak nya dulu. Besok kakaknya mau terbang ke Jerman dalam waktu cukup lama."
"Oh ya?"
"Iya ma."
"Katanya tadi pagi periksa?"
"Oh, ini ma." Mega yang tahu jika mamanya ingin melihat hasil cek kandungan hari itu.
"Haduh, mama jadi gak sabar nih. Ingin cepet-cepet tahu jenis kelaminnya apa?" ujar ibu Rahma saat melihat buku kecil hasil periksa Mega.
"Kalau papa harapan nya cowok apa cewek?"
"Papa sih terserah Allah aja. Yang penting sehat. Mau itu cucu papa cowok, cewek. Ya diterima aja," jawab pak Hendarto.
"Ya kan pasti ada pa, inginnya tuh cewek apa cowok. Kalau mama sih, ingin nya cewek. Karena kan kalau cowok. Mama udah merasakan punya Dewa dan Satrio. Dan pinginnya sih, cucu-cucu mama nanti cewek-cewek," jawabnya diikuti tawa kecil.
"Ya mudah-mudahan aja ma, terkabul. Kamu punya cucu cewek nanti."
"Amiin..." timpal Dewa.
"Berapa bulan lagi sih Mega, kata dokter bisa dilihat jenis kelaminnya?"
"Insya allah dua bulan lagi sih sudah bisa terlihat ma, jenis kelaminnya."
__ADS_1
"Hem... Mama jadi gak sabar. Pingin tahu dia cowok apa cewek," gemas ibu Rahma melirik perut Mega yang sudah sedikit membesar.
BERSAMBUNG