
"Mama pulang jam berapa semalam?" tanya Satrio saat turun dari kamarnya.
"Iya, mama pulang kamu sudah tidur," jawab santai ibu Rahma yang kemudian di kecup pipinya oleh Satrio. Ada perasaan bersalah karena dia bahagia akan cucu pertama yang sudah terlahir ke dunia. Karena mengingat, Rania terlahir dari rahim wanita yang sangat dicintai oleh putra nomor dua nya.
Ibu Rahma mendengus halus, tersenyum ragu menoleh ke wajah putra nya yang jelas sekali tidak ada binar bahagia.
"Lusa, Satrio balik ke Inggris ma," ucapnya yang membuat ibu Rahma antara harus lega atau sedih. Lega, karena Mega dan Dewa berikut Rania bisa pulang kembali ke rumah ini. Dan dia juga rindu sekali dengan cucu nya itu dan ingin selalu menimangnya.
Sedih, karena putra nomor duanya harus berkorban hati untuk kebahagiaan mereka bertiga yang belum diketahuinya. Sesak saja rasanya, jika satu tahun ke depan Satrio paham semuanya. Jika seluruh keluarga membuka restu untuk Dewa dan Mega yang jelas-jelas akan melukai perasaan nya.
"Iya. Nanti kamu biar bisa istirahat setelah kembalinya dari sini." Ibu Rahma yang kemudian duduk menatap baik-baik wajah Satrio. Matanya masih merah karena usia menangis. Guratan sedih dari matanya itu tidak bisa disembunyikan. "Bagaimana dengan Mega? Apa kamu sudah dihubungi dia?"
Satrio menggeleng.
"Jadi itu alasan kamu kembali ke Inggris lebih awal?"
Satrio mengangguk sedih. Yang kemudian bernafas dalam meresapi kesesakan dalam dada.
"Kalau saran mama sih, misal nanti kamu bertemu dengan wanita yang menawarkan cinta dan kamu suka, why not?" Ibu Rahma yang memasukkan potongan buah naga ke dalam mulutnya.
Satrio tergemap mendengar apa yang dikatakan mama nya baru saja. "Kenapa mama berkata seperti itu?"
"Katanya Mega nggak ada kabar semenjak kepulangan kamu. Ya nggak apa-apa dong, misal ada perempuan yang dia suka dan kamu suka, ya nggak ada yang salah dong. Mana tahu juga Mega demikian?" ibu Rahma menyuarakan hatinya supaya Satrio tidak akan terus terpaku pada sosok Mega.
"Dia lagi sibuk aja ma."
Sibuk sama Rania dan Dewa, Sat.
balas ibu Rahma tentu dalam hati.
"Mama nggak mau tahu, kuliah kamu harus beres. Jangan cuma perkara Mega, kuliah kamu berantakan," pesan ibu Rahma kepada Satrio.
"Iya ma."
.
.
Berbeda dengan Arumi yang menghentikan mobilnya tepat di depan toko perlengkapan bayi.
__ADS_1
"Mau apa kita kesini?" tanya ibu Clarisa kepada putrinya.
"Aku memang belum rela ma, melihat Dewa bahagia bersama perempuan itu. Aku juga terbesit penyesalan, kenapa nggak aku coba waktu itu untuk membuat wanita itu keguguran kandungannya. Dengan begitu, Dewa tidak harus terikat dengan wanita itu demi anak mereka."
Ibu Clarisa terkejut mendengar itu. "Memangnya kamu memiliki rencana apa?"
"Sudah berlalu ma, terlambat. Tadinya apa saja mau aku lakukan, supaya kandungan perempuan itu gugur. Namun aku pikir, cinta Dewa yang begitu besar untukku tidak akan berkurang begitu saja dengan hadirnya wanita itu. Ternyata aku salah, Dewa takluk juga dengan Mega dan buah hati mereka. Dewa memilih mempertahankan pernikahan nya, ketimbang kembali dengan janji yang dia buat sendiri. Dan sepertinya, aku harus berusaha ma, mengikhlaskan Dewa dengan wanita itu." Arumi yang tidak kuat untuk menahan air mata nya.
"Syukurlah, anak mama bisa menerima meskipun itu sulit. Jodoh tidak akan tertukar sayang. Jodoh akan mencari jalan nya untuk sampai pada hati yang dituju. Jadi kamu tidak usah khawatir, awalnya mama juga tidak terima dengan keluarga mereka. Tapi setelah mama pikir panjang, lebih baik kita ikhlaskan supaya hati kamu tenang."
Arumi kemudian memeluk mama nya dengan erat.
Keduanya masuk ke dalam toko perlengkapan bayi tersebut. Mencari kado untuk buah hati mantan kekasihnya. Namun karena tidak tahu gender dari baby nya Mega dan Dewa, ibu Clarisa menghubungi ibu Rahma lewat sambungan ponselnya.
Dert dert
Suara ponsel ibu Rahma yang tertinggal di meja makan terlihat tidak sengaja oleh Satrio. Sampai-sampai Satrio menanyakan kepada bibi keberadaan mama nya, yang katanya berada di bathroom.
"Ibu Clarisa, bukannya mama nya Arumi," gumam Dewa melirik ke layar ponsel mama nya.
Satrio cukup lama membiarkan ponsel itu berdering di hadapannya. Tangannya tergerak untuk mengambil benda pipih persegi panjang itu, yang mungkin dia akan sampaikan jika mamanya tengah berada di bathroom dan biar mama nya Arumi menghubungi nanti saja.
Berbeda dengan Satrio yang memutuskan untuk mengangkat saja panggilan dari ibu Clarisa, karena seperti nya penting dan akan disampaikan ke mama nya untuk menghubungi balik mama Arumi.
"Hallo... Rahma..." sapa ibu Clarisa dari seberang sana lewat sambungan seluler nya.
"Em, tante. Ini dengan Satrio tante. Mama sedang ada di bathroom. Ada apa ya tante?" tanya Satrio santai.
"Ini tante mau tanya masalah..."
"Siapa Sat?" sahut ibu Rahma yang keluar dari kamarnya dan langsung menghampiri Satrio. Terdengar sampai pada telinga ibu Clarisa dari balik sambungan seluler.
"Mama nya Arumi ma," jawab Satrio yang memberikan ponsel ke mama nya.
"Oh, iya Clarisa. Maaf aku tadi masih di bathroom."
"Ini, aku sama Arumi sedang ada di toko perlengkapan bayi. Arumi tidak sengaja melihat Dewa dan katanya istrinya sudah melahirkan. Selamat ya Rahma, akhirnya kamu menimang cucu."
"I-iya Clarisa." Ibu Rahma tergagap dan melirik ke arah Satrio kemudian pergi menjauh ke taman belakang. "Terimakasih," imbuhnya.
__ADS_1
"Begini, kita tidak tahu gendernya perempuan atau laki-laki. Jadi makanya, aku telepon kamu terkait jenis kelamin dari baby nya Dewa dan istrinya."
"Oh..." Sepasang mata ibu Rahma yang menatap putranya Satrio yang tengah menatap nya pula di ruang makan. "Perempuan Clarisa, putri mereka bernama Rania," imbuhnya berbisik.
"Oh, okay... pasti kamu sangat bahagia mendapat cucu perempuan. Karena kamu sangat menginginkan itu bukan? Mengingat semua anak-anak kamu semua laki-laki."
"Iya, kamu benar Clarisa."
"Ya udah, see you soon."
"Iya Clarisa. Thanks." Ibu Rahma yang menutup ponselnya dan kemudian masuk ke dalam rumah.
"Ada apa ma?" tanya Satrio kepada ibu Rahma.
"Nggak ada apa-apa."
Aman, sepertinya mereka tadi belum bicara banyak.
gumam ibu Rahma dalam hati.
.
.
Sedangkan di toko perlengkapan bayi.
"Sudah ma?" tanya Arumi kepada mama nya.
"Iya, sudah. Anak nya perempuan, namanya Rania," jawab ibu Clarisa yang membuat Arumi terpaku dan memutar ingatan pada pesta peresmian hotel milik Dewa. Dimana dia menjelaskan jika nama hotel tersebut di ambil dari penggalan-penggalan nama mereka. Dan Dewa menepatinya.
"Kamu kok melamun?"
"Eh, mama." Arumi terkaget saat mama nya menyadarkan nya.
Mereka kemudian memilih barang apa saja yang akan dihadiahkan kepada putri dari mantan kekasihnya itu. Dan tentunya semua berwarna merah muda atau minimal ada warna tersebut di dalam nya.
Namun disela-sela mereka sedang berbelanja. Ibu Clarisa bercelatuk terkait jika Satrio yang angkat telepon dari mama nya tadi.
"Tunggu, tunggu, tunggu ma. Satrio?" tanya Arumi terkaget. Karena setahu dia, Satrio studi di Inggris melanjutkan S2 nya.
__ADS_1
"Iya, tadi yang mengangkat Satrio," ulang ibu Clarisa kepada putri nya yang kemudian Arumi terdiam.