
"Kamu minum dulu ya." Dewa yang kemudian mengambil air putih dalam gelas diatas meja nakas nya.
"Aduh... sakit..." keluh Mega yang perutnya mulas tidak karuan.
Situasi bertambah panik, Dewa mengusuk-ngusuk perut istrinya dengan wajah cemas takut jika Mega dan bayinya ada apa-apa.
"Kita ke dokter aja ya sayang." Dewa yang sudah tidak tega melihat Mega yang mengerang kesakitan namun dia tahan untuk tidak bersuara.
Mega menggeleng dengan keringat yang sejak tadi tidak pernah berhenti.
"Trus gimana kalau kenapa-napa?" Dewa sangat panik dan tidak tahu harus berbuat apa selain memeluk istri dan berulang mengelus-elus perut istrinya. Berbicara kepada baby nya untuk tidak rewel di dalam sana malam itu.
Mega menyuruh suaminya untuk menghubungi Zahrin.
"Oh, itu mungkin kontraksi palsu. Kasih minum Mega air putih yang banyak dan pijit pelan-pelan. Trus jangan stres ya pikirannya dia. Atau buat jalan-jalan, pelan-pelan aja di area kamar," jawab Zahrin lewat sambungan telepon setelah Dewa menanyakan hal yang terjadi pada Mega.
"Begitu ya kak, ya udah terimakasih ya kak." Dewa yang kemudian menutup ponselnya dan menjalan kan perintah Zahrin.
Sekitar setengah jam kemudian, Mega bahkan terlelap tidur tanpa merasakan sakit lagi karena saking enaknya dipijit oleh suami.
"Huh... syukurlah." Dewa menghamburkan nafas lega, dimana istrinya sudah tidak merasakan sakit lagi pada bagian perutnya. Setelah satu jam lebih situasi genting terjadi, barulah dia beranjak tidur menyusul Mega.
.
.
Esok harinya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya ibu Rahma yang sudah duduk di meja makan. Melihat wajah Satrio tertekuk dengan sangat murung.
Namun bukannya menjawab, Satrio malah duduk dan mengambil sarapan.
Berbanding terbalik dengan yang sedang ada di kamar.
"Aku berangkat dulu ya sayang," ucap Dewa manis dengan senyumnya dan mengecup istrinya yang kemudian perut Mega. "Anak papa jangan rewel lagi ya, kayak semalam. Kasihan mama sama papa," ujarnya bicara kepada buah hatinya dengan nada gemas.
Mega tersenyum melihat suaminya berbicara pada putrinya yang masih dalam perut.
__ADS_1
"Untuk panggilan anak kita nanti, mama papa aja, ya. Jangan ayah bunda," pinta Dewa pada istrinya.
"Kenapa?"
"Ya aku nggak biasa aja. Turun temurun mama papa soalnya kalau manggil orang tua."
Mega tersenyum. "Iya, iya."
"Apa kamu akan memilih Satrio? misal dia meminta mu untuk kembali padanya." Tanpa aba-aba Dewa langsung ke pokok pembahasan perasaan.
"Kenapa kakak menanyakan hal itu?"
Dewa meraih jari istrinya. "Aku takut aja. Karena aku bisa merasakan jika Satrio tak akan pernah rela," dengan tatapan Dewa yang sendu menatap dalam bola mata Mega yang ragu.
"Bukankah kita sudah janji, akan membesarkan anak kita sama-sama. Dan hanya dengan bersama, kita bisa menjalankan nya," jawab Mega yang sudah pada pokok kesimpulannya, meski tidak menyinggung perihal Satrio.
"Kamu belum dihadapkan aja, saat dia marah, kecewa menangis bahkan lebih sakit dari yang Arumi rasakan," papar Dewa yang mencoba menggambarkan kelak yang akan terjadi.
Mega bernafas sesak. Seketika semua syarafnya melemah detik itu juga. "Aku tidak siap untuk itu," lirihnya berjalan melepas genggaman suaminya. "Aku tidak ingin memikirkan nya sekarang." Mega yang menyentuh kelambu kamar dan menghirup udara segar.
"Tapi kita harus hadapi sayang, Apa yang akan dia lakukan kepada kamu, aku, setelah dia tahu semuanya? Selain menangis dan marah." Dewa mencoba menerka isi hati Satrio nanti.
"Satu hal, tolong jangan pernah ragukan cinta ku. Kita sudah pernah bahas ini. Apapun yang terjadi kita harus sama-sama. Dan aku tidak ingin kamu kembali padanya. Aku sudah memilih kamu dan anak kita." Dewa yang kemudian meraih kepala istrinya untuk dia letakkan di dadanya.
Mega dapat merasakan jika suaminya tengah diliputi cemas dan ketakutan jika dia kembali kepada Satrio. Atau Satrio berusaha merebut paksa darinya.
.
.
"Hei... Kamu baru turun sayang?" sapa ibu Rahma kepada Dewa.
"Iya ma." Dewa yang melihat jika Satrio tidak bersemangat hari itu. Makanan di piring hanya di bolak-balik dan tidak di makannya. "Kenapa?" tanya Dewa sembari memasukkan sandwich ke mulutnya. "Ini apa?" Dewa melihat tiket pesawat tujuan Bali yang sudah dipesan adiknya jauh-jauh hari.
"Mega hilang," sahut ibu Rahma yang membuat tertawa Dewa dan pak Hendarto berikut bibi yang mendengarnya. Namun tawanya ditahan dan mereka semua berpura-pura.
"Ehm, maksud mama hilang bagaimana?" tanya Dewa melanjutkan sandiwara nya.
__ADS_1
"Ya katanya susah dihubungi. Nomornya tidak aktif. Ya kan itu berarti Mega sibuk."
"Mending tetap berangkat aja ke Bali. Ketimbang di rumah bersedih-sedih ria. Ya kan pa, ma?" balas Dewa mencarikan jalan keluar untuk adiknya, padahal aslinya untuk dirinya sendiri, supaya Mega bisa bernafas lega dengan kepergian Satrio liburan ke Bali selama satu minggu ini.
Satrio masih belum menjawab. Tampak sekali jika raut wajahnya sedih dan matanya sembab. "Apa mama nggak kuat, ikut Satrio liburan ke Bali ma?" rengek Satrio ingin mama nya ikut serta.
"Nggak usah bawa mama, nanti kalau mama sudah sembuh betul, baru kita rencanakan liburan sama-sama. Sekarang masalahnya kamu, kamu kan lagi sedih, jadi pergi have fun bareng teman-teman kampus kamu adalah hal tepat, mengingat kamu tengah patah hati."
"Siapa yang patah hati kak?"
"Lha itu apa namanya? Itu tandanya Mega lebih prioritaskan entah itu pekerjaan nya atau jika ada orang lain ketimbang kamu," timpal Dewa untuk adiknya jangan terlalu bucin ke Mega, supaya nanti tidak terlalu sakit saat semuanya terpampang nyata.
Satrio menoleh tajam ke kakaknya. "Kakak ada benar nya."
"Lagian perempuan juga bukan hanya Mega kali."
"Tapi aku cinta nya sama Mega kak."
"Kalau dia udah nggak cinta bagaimana?"
Dua pria dewasa ini seperti bergelut dengan kata-kata. Yang satunya takut teramat jika istrinya berpaling dan direbut paksa adiknya. Yang satu lagi, bersikukuh dengan hatinya yang tertuju untuk satu wanita yang lama bertahta di hatinya.
"Dari mana kakak tahu dia nggak cinta?"
"Sudah, sudah. Ayo makan paginya diselesaikan. Jangan buat kegaduhan pagi-pagi."
"Kita nggak gaduh ma..." papar Dewa.
"Berdebat? Sama aja. Masih pagi. Kakak kamu benar Satrio, ada yang lebih diutamakan Mega. Ya, nggak ada salahnya kan pergi liburan nya dengan teman-teman kamu tanpa Mega."
"Tapi ma.."
"Nggak usah ada tapi-tapi. Sayang lho, dengan tiket pesawat dan booking penginapan sekaligus rentetan tripnya ke Bali," timpal ibu Rahma.
"Udah pergi aja. Jangan pakai acara bimbang segala," sahut pak Hendarto. Dimana semuanya yang duduk satu meja serentak menyuruhnya pergi liburan ke Bali.
Satrio tidak menimpali, dia kemudian pergi naik tangga dan masuk ke kamarnya. Sebal dengan semua hal yang tidak sesuai rencana. Mega bahkan cenderung menghindar darinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG