
"Apa benar? Kamu sudah putus dengan kekasih mu?" tanya Akhyar dengan wajah serius.
Sementara Dewa tertunduk gugup. Jantung nya berdetak cepat dan bingung harus menjawab apa. Jika dia menjawab sudah. Dewa yakin Akhyar tidak bodoh dan akan memastikan Mega akan baik-baik saja sebelum dia berangkat ke Jerman. Jika dia menjawab belum, satu pukulan bahkan lebih sepertinya akan memerihkan kedua pipi nya. Lalu apa yang akan dia katakan? "Aku memang belum putus dari Arumi kak. Tapi aku janji, perlahan aku akan melepasnya dan aku tidak akan menyakiti Mega."
Akhyar yang sudah menoleh dengan mata penuh bencinya kepada Dewa perlahan memudar. Seiring kata janji Dewa tidak akan menyakiti Mega. Meskipun Akhyar sendiri tidak yakin untuk itu. Karena nama Dewa tidak akan pernah terlihat baik dimata nya. "Aku harap kamu bisa pegang janji kamu."
"Aku janji kak," sambung Dewa mantap mengatakan nya.
Yang tentu kata demi kata mereka sampai pada telinga Mega yang sedang berkemas pakaian di kamar nya.
Akhyar kemudian memeluk adiknya meskipun berat. Namun apa mau dikata, Mega sendiri yang menginginkan dirinya kembali ke rumah suami yang sudah banyak memberi luka padanya. "Ingat! Kamu laporkan pada kakak, jika suami kamu itu masih menemui kekasihnya dan terlebih berani bermesraan lagi dengan nya," pesan Akhyar pada Mega yang tetap disuarakannya supaya Dewa mendengar meskipun Akhyar yakin, adiknya tidak mungkin mengadu kepada nya.
Wajah Dewa tegang.
Sementara Mega santai menanggapinya dan mencium punggung tangan kakak nya.
Keduanya berpamitan dan Dewa meletakkan tas berisikan pakaian Mega ke dalam bagasi mobilnya. Membukakan pintu mobil untuk istrinya dan membantu pula memakaikan seatbelt untuk Mega. Setelahnya, tersisa keheningan di dalam mobil sampai keduanya sampai.
Namun saat Mega hendak keluar mobil. Dewa meraih lengan istrinya dan memeluknya di dalam mobil. "Jangan pernah pergi lagi ya. Aku mohon apapun yang terjadi, tolong jangan tinggalkan aku," ucap Dewa yang sampai pada hati Mega merasakan haru yang luar biasa.
Mega mengangguk bersamaan rasa haru yang belum terpulihkan.
Sesaat kemudian mereka keluar dari mobil dan masuk rumah.
"Assalamualaikum."
"Wa alaikum salam. Mega..." Ibu Rahma tersenyum bahagia dan memeluk menantu nya. "Syukurlah anak mama sudah sadar." Mengelus punggung putranya karena keberanian nya menghadapi Akhyar yang tidak mudah. Ibu Rahma kemudian menyuruh mereka berdua istirahat di kamarnya.
__ADS_1
Dan apa yang terjadi setelah Mega tahu jika Dewa memasang bingkai foto besar pernikahan nya di dinding kamar? Mega tertegun memandangi pelan-pelan semuanya dan tidak ada yang berubah dari kamarnya dengan Dewa kecuali bingkai foto Arumi yang sudah tidak berada di atas meja nakas dan berganti dengan foto pernikahan nya.
"Kamu suka?"
Mega mengangguk tersenyum.
Dewa merangkul istrinya dan keduanya memandangi foto pernikahan mereka berdua.
Dan untuk setelahnya, pertama kalinya mereka bisa bobok bareng berdua dan tentunya layaknya suami istri pada umum nya. Bersentuhan, pasti. Saling mendekap, iya dong masa enggak.
Dan entahlah, hati Dewa merasakan damai yang tidak bisa dia gambarkan. Namun yang jelas, kembalinya Mega pulang dan berada satu kamar dengan suasana berbeda, membuatnya sedikit banyak terlupa dengan sosok Arumi.
Malam dimana selimut, bantal, guling yang andai mereka bisa bicara mereka akan teriak hore. Karena sang pemilik ranjang sudah usai melewati rasa kesepian nya lebih dari satu bulan.
Cup
Dewa mengecup kening Mega saat keduanya sama-sama berbaring di ranjang bersiap untuk tidur dan saling berhadapan.
.
.
Saat sarapan bersama, Dewa dan Mega dikejutkan oleh suprise hadiah pernikahan mereka. Sebenarnya sudah lama, ibu Rahma dan pak Hendarto ingin menyampaikan kepada Dewa dan Mega. Berhubung mereka berpisah sementara dan Mega dibawa pulang kakak nya. Jadi semuanya tertunda dan baru sekarang menyampaikan nya.
"Tara..." Ibu Rahma dengan bahagia memberikan dua tiket liburan untuk Mega dan Dewa ke Bali.
"Tiket ke Bali?" tanya Dewa ke mama nya.
__ADS_1
"Hem, harusnya memang ini hadiah honey moon kalian. Tapi tahu kan? Kalau kemarin ada kekisruhan antara kamu dan Mega. Jadi mama urungkan terlebih dahulu. Karena sekarang, masalah kalian terselesaikan, mama kasih suprise buat kalian honey moon ke Bali."
Dewa dan Mega saling melirik. Dewa selesai meminum juice semangka. Sementara Mega baru meminum susu ibu hamil rasa vanila.
"Kan Mega udah hamil ma," balas Dewa yang susah bagaimana menjelaskan nya.
"Trus? Kalau hamil nggak boleh honey moon? Kan kalian bisa belanja-belanja. Refreshing di pantai. Otak kamu jadi segar kembali. Dan Mega juga biar happy dan cucu mama dalam perut Mega juga ikut happy. Dan... Menurut mama tidak ada yang salah kalau kalian pergi."
"Em... Kamu gimana sayang?" tanya Dewa yang mulutnya kelepasan memanggil istrinya dengan sebutan sayang.
Ibu Rahma tertawa kecil, mendengar Dewa sudah memperlakukan Mega selayaknya istri dengan baik. "Mama seneng deh dengernya. Kalau kalian mesra begini."
Dewa dan Mega pun ikut tersenyum saat mama nya berkata demikian. "Aku terserah kakak aja."
"Pergi lah, biar seru. Biar Mega dan kamu bahagia di sana nanti," desak ibu Rahma kepada keduanya.
Dewa yang tadinya ragu dan enggan berangkat. Akhirnya memutuskan mengiyakan pergi ke Bali dengan Mega.
Dewa kemudian berangkat kerja dan sudah disambut oleh Arumi di tempat kerja nya.
Dewa dan Arumi hanya saling berdiri membeku mempertahankan pemikiran nya masing-masing.
"Apa kamu melupakan aku? Aku hanya mengembalikan ini." Arumi meletakkan kartu kredit unlimited milik Dewa diatas meja kerja dan cepat-cepat pergi.
Dewa ingin sekali meraih tangan Arumi dan mengatakan minta maaf kepadanya. Namun yang ada, wajah Mega dua kali lipat mendominasi pikiran dan hatinya. Dewa membiarkan Arumi pergi dan wanita itu menangis terisak di dalam mobilnya.
"Maafkan aku Arumi..." Bersamaan dengan tertutupnya kelopak mata Dewa meresapi kepergian Arumi dari hadapan nya. Dan dia harus belajar demikian supaya mereka menjauh satu sama lain dengan sendiri nya. Karena jujur, sampai detik dimana dia bisa.membawa Mega kembali, Dewa belum siap mengatakan kata putus untuk Arumi.
__ADS_1
"Kamu bahkan tidak mengejarku," lirih Arumi dengan tangisnya dan menghentikan mobilnya di tepi jalan. "Arrrrgh... Semua gara-gara kamu Mega!" tangis bercampur marah yang dia lampiaskan ke badan setir di depan nya. Arumi benar-benar frustasi pagi itu. "Tenang Arumi, tenang. Kamu harus sabar, menunggu Mega melahirkan dan barulah kamu bisa merebut hati Dewa kembali," kata Arumi pada dirinya sendiri. "Tidak-tidak, bayi dalam kandungan Mega juga mengancam. Bisa saja, nanti Dewa luluh gara-gara bayi itu dan dia tidak jadi menceraikan Mega. Tidak. Aku harus menyingkirkan bayi itu. Ya, dengan bayi itu tersingkirkan, Dewa tidak mungkin bersikap manis seperti kemarin ke Mega. Dan aku yakin. Dewa akan sangat mudah menceraikan Arumi," sorot mata dendam Arumi atas kebencian nya kepada Mega yang telah merebut cinta Dewa.
BERSAMBUNG