Aku Tidak Siap

Aku Tidak Siap
Drama tasyakuran 4 bulanan


__ADS_3

"Alhamdulillah bayinya sehat. Dan sekarang berarti menginjak 16 bulan. Insya Allah bulan depan, kita bisa tahu jenis kelamin nya," ujar sang dokter saat melihat layar ultrasonografi. "Papa mamanya mau nya anak cewek apa anak cowok?"


"Hehehe, sedikasih nya aja dok. Yang terpenting sehat. Ibu dan bayinya sehat," sahut Dewa dengan setia mengantar Mega periksa.


"Amiin... Seperti biasa ya, ini ada vitamin-vitamin yang harus ditebus di apotik terlebih dahulu."


"Iya Dok terimakasih."


"Sama-sama."


Tidak lama, Hp Dewa berdering setelah keluar dari ruangan dokter.


"Siapa? Kok nggak diangkat?" tanya Mega yang entahlah posesif pada tempatnya atau tidak.


"Nggak penting sayang. Nanti aja. Tebus vitamin kamu lebih penting." Dewa mengabaikan panggilan telepon dari Arumi.


"Benar aku yang lebih penting?"


"Iya sayang,"


"Kalau gitu mati in. Berisik soalnya."


"Hpnya dimatikan?"


"Iya, matikan."


"Tapi sayang, kalau ada telepon dari proyek? Aku silent aja ya?"


"Katanya aku yang lebih penting?"


"Okay aku mati in sayang." Dewa terpaksa melakukannya. Maksud hati melambungkan hati istri nya. Malah berbalik membungkam dirinya sendiri.


.


.


"Nanti malam kalian jangan kemana-mana ya," kata ibu Rahma kepada keduanya setelah mereka pulang periksa kandungan Mega.


"Emangnya ada apa ma?" sahut Dewa.


"Tasyakuran empat bulanan."


"Oh..."


Bertambahnya jam, berdatangan beberapa kerabat yang sudah datang dan bantu-bantu menyiapkan segalanya. Adik-adik pak Hendarto yang memiliki restoran sudah tentu turun tangan untuk bagian menu nanti malam.


"Astaghfirullah... Aku lupa nyalain hp?" ucap Dewa setelah selesai mandi. Namun setelah ponselnya dinyalakan ternyata mati lagi dan berarti baterai lowbat. Alhasil Dewa mengecharge nya lebih dulu.


"Kakak udah selesai mandinya?"


"Udah."


"Kalau sudah disuruh mama turun."


"Iya, aku ganti baju dulu ya."


"Pakai setelan koko yang udah aku siapin di atas ranjang ya kak."


"Iya sayang."


"Ya udah aku turun lagi ya."


"Iya."


Sebelum turun, dan berkumpul dengan kerabat di bawah, Dewa bermaksud membawa ponselnya. Namun dia terkejut bukan main jika banyak panggilan dari Arumi dan mengabarkan jika sejak pagi dia mutah-mutah karena lambung nya kumat. Maag akut yang di deritanya tiba-tiba kambuh dan hendak pergi ke rumah sakit tidak ada orang di rumah. "Arumi." Dewa panik dan tergesa-gesa turun ke bawah, setelah membaca pesan dari Arumi.

__ADS_1


"Dewa kamu mau kemana?" tanya ibu Rahma melihat putranya jalan dengan langkah cepat tampak terburu-buru.


"Aku mau keluar sebentar ma."


Belum selesai bicara, ada telepon penting dan ibu Rahma harus mengangkatnya. Ibu Rahma kembali ke belakang dan menyuruh Mega menghentikan suaminya.


"Kakak mau kemana?"


"Aku ada urusan sebentar sayang."


"Kak, tunggu acara nya mulai dulu ya." pinta Mega.


"Nggak bisa sayang. Aku harus pergi sekarang."


"Kak, sepuluh menit lagi acaranya mulai. Sampai tengah-tengah acara, baru kakak pergi," mohon Mega dengan menarik lengan suaminya untuk tidak pergi.


"Ini darurat sayang. Cup. Aku sayang sama kamu." Dewa cepat-cepat mengecup kening istrinya dan pergi naik mobilnya.


Bola mata Mega berkaca. Padahal jelas-jelas kurang sepuluh menit lagi acara tasyakuran 4 bulanan di mulai. Namun suaminya malah memilih pergi dengan kekasihnya.


Acara tasyakuran di mulai. Dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran yang dibacakan. Jujur, seandainya jika tidak sedang duduk di tengah-tengah banyak nya tamu yang hadir dan para saudara, Mega sudah menangis sesenggukan.


Sementara Dewa, Dewa langsung membawa Arumi ke rumah sakit dan Arumi di anjurkan menginap untuk menerima perawatan intensif.


"Gimana sayang? Are you okay?" tanya Dewa yang membelai puncak kepala kekasihnya.


Arumi mengangguk. Perutnya sudah mendingan, tidak sakit nyeri seperti tadi pagi sampai sore.


"Sekarang kamu makan buburnya dulu ya?" Dewa kemudian menyuapi Arumi makan malam bubur rumah sakit.


"Kenapa tadi pagi waktu aku telpon, kamu matiin?"


"Aku minta maaf sayang. Aku tadi antar periksa kandungan Mega."


Arumi mengalihkan wajahnya.


"Benar begitu?"


Dewa mengangguk. Meskipun nanti pas dia pulang, percekcokan mulut antara mama nya dan juga Mega yang pasti menangis sudah terbayang di kepalanya. "Sekarang kamu istirahat ya."


"Apa kamu pergi?" Arumi yang meraih lengan kekasihnya dan di dekap erat bahkan diciuminya.


"Aku harus pulang sayang."


"Enggak, nggak boleh pulang. Lagi pula juga udah jam sepuluh malam." pinta manja Arumi yang tidak mau ditinggal.


"Sayang, please... Kamu nggak mau kan? Urusan nya jadi runyam."


"Trus kamu tega tinggalin sendiri."


"Pagi-pagi sekali aku akan kesini."


"Mega di rumah ada mama sama papa kamu. Sementara aku sakit, papa mama aku ke luar kota. Nggak ada siapa-siapa. Dan cuma kamu sayang yang aku punya, hiks," rengek Arumi mengiba supaya Dewa mengurungkan niatnya pulang.


"Iya udah aku bobok sini."


"Nah gitu dong sayang." Arumi senang dan tersenyum.


Sementara Mega tengah menangis sesenggukan di tepi ranjang kamarnya. Berjalan melihat jendela kamarnya. Dan tidak ada tanda-tanda kedatangan Dewa malam itu.


Sedangkan ibu Rahma dan pak Hendarto. Tengah berdebat kecil gara-gara tidak adanya Dewa di acara.


"Dewa tadi kemana ma? Kok nggak ada di acara."


"Aku sendiri juga bingung sama Dewa. Tadi mama udah berusaha mencegahnya, namun karena ada telepon dari Olivia. Aku suruh Mega membujuk Dewa untuk tidak pergi. Tapi nyatanya lolos juga. Sepertinya Dewa sedang dengan Arumi. Sebel deh pa, mama sama Dewa." keluh ibu Rahma.

__ADS_1


"Iya sudah. Besok mama kasih tahu dia. Papa mau tidur ma."


Ibu Rahma mendengus.


.


.


Sampai fajar pagi menjelang dan semuanya usai sholat shubuh.


"Suami kamu belum pulang?" tanya ibu Rahma kepada menantunya.


Mega menggeleng.


"Kamu yang sabar ya, Mega. Berdoa terus semoga pintu Dewa terketuk dan dia tahu apa dan siapa pilihannya?"


"Iya ma."


Hari itu dengan cepat sekali pagi berganti siang dan kemudian sore. Dimana Arumi diperbolehkan pulang dan rawat jalan. Kedua orang tuanya juga sudah pulang dari luar kota, jadi Dewa tenang meninggalkan kekasihnya itu.


"Makasih ya sayang, atas semuanya." peluk Arumi ke Dewa.


"Iya, sekarang aku pulang dulu ya."


"iya sayang hati-hati. Lain kali, jangan dimati in ya, kalau aku telepon. Baca dulu pesannya, mana tahu penting."


Dewa mengangguk berjalan pergi.


Sesampainya di rumah.


"Masih ingat rumah!" pelan namun sangat menghujam di telinga Dewa.


Dewa hanya diam. Ketika mama nya sedang protes dengan perilakunya.


"Kenapa nggak sekalian aja dibawa kesini itu Arumi?"


"Ma, dengerin aku dulu."


"Apa? Mama harus denger apa?" Intonasi ibu Rahma yang meninggi.


"Ma, Arumi itu punya penyakit maag. Dan maag nya itu akut. Kemarin itu tidak ada orang di rumah nya. Mama papanya keluar kota. Dia hampir tidak sadarkan diri dan lemas karena dari pagi mual-mual tidak berhenti ditambah perutnya nyeri hebat. Kasihan dia ma. Tolong mama ngerti ya."


"Trus?"


"Trus Dewa bawa ke rumah sakit. Perlu dirawat. Awalnya Dewa mau pulang, tapi kasihan Arumi sendirian."


"Kamu nggak kasihan sama Mega?"


"Mega kan nggak sakit ma. Lagi pula disini juga ramai saudara. Dia juga tidak kenapa-napa."


"Kalau hatinya yang sakit bagaimana?"


"Ck, kenapa jadi rumit begini sih ma?"


"Kamu yang bikin rumit. Salah siapa kamu menodai anak orang?"


"Ma..."


"Mama nggak tahu. Mama pusing dengan tabiat kamu." Ibu Rahma pergi dengan kesal.


Mega sudah mendengarnya sejak tadi. Apa yang menjadikan suaminya pergi di waktu tasyakuran 4 bulanan malam kemarin. Tidak pulang, menjaga kekasihnya di rumah sakit. Apa lagi? Nanti yang akan dia dengar setelah ini.


Dewa masuk kamarnya. Mendapati Mega sudah tidur. Dewa kemudian jongkok, tepat menatap istrinya dengan jarak sekitar kurang dari tiga puluh senti. "Maafkan aku sayang," ucapnya yang kemudian mengecup kening istrinya, lalu berdiri dan pergi ke bathroom.


Sementara Mega, berusaha menahan air matanya. Namun tidak berhasil dan akhirnya lolos juga bulir-bulir jernih itu silih berganti membasahi pipinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2