
Keesokan harinya setelah Satrio pulang dari Bali, dia langsung mengunjungi rumah Mega kembali. Ratusan kali mencoba menghubungi ponsel Mega namun operator seluler tidak pernah berubah jawaban. Nomor Mega tidak aktif dan Mega terkesan seperti menghindari bertemu dengannya.
Terlihat teras rumah berdebu seperti tidak berpenghuni. Keluar tetangga Mega dan Satrio bertanya keberadaan Mega dan kakak-kakaknya. Salah seorang tetangga tersebut menyebut jika Akhyar pergi ke Jerman untuk bekerja dan Yanuar kerja di Singapura. Lain halnya urusan Mega, tetangga tidak mengetahui nya.
Sialnya, memiliki hubungan spesial cukup lama dengan Mega, tidak membuat Satrio tahu semua alamat saudara-saudara Mega. Teringat jika istri dari sepupu nya pernah menjadi bagian dari keluarga Mega cukup lama.
"Iya, kak Zahrin minimal tahu alamat rumah saudara Mega," lirih Satrio yang kemudian kembali ke mobilnya dan melaju keluar perumahan tersebut menuju jalan raya.
Dert dert
Suara panggilan dari Satrio sudah tentu membuat Zahrin harus siap dengan jawaban.
"Kenapa nggak diangkat?" tanya Regi yang risih mendengar suara ponsel Zahrin berbunyi terus.
"Satrio," jawabnya tidak bertenaga.
"Ya, diangkat aja," titah Regi.
"Aku masih atur nafas sayang, soalnya ini menyangkut dusta dan balasannya neraka." Zahrin menyentuh benda pipih persegi panjang itu dengan dada belum tenang. Seluruh tubuhnya ikut gemetar pelan, karena kali pertama Satrio menghubungi dirinya. Dan sangat yakin jika alasan menghubunginya terkait Mega dimana.
"Buruan..." seru Regi.
"Kamu aja yang angkat, sepertinya kamu rileks dan tak takut siksa api neraka jahanam tatkala kamu berdusta." Zahrin tidak ada hentinya berkhutbah.
Regi menghampiri istrinya dan mengambil benda pipih persegi panjang itu dari Zahrin. Tidak perlu ba bi bu seperti istrinya, Regi langsung menggeser ke simbol berwarna hijau pada layar ponsel yang artinya menerima panggilan tersebut. "Hallo Sat..."
Keduanya berbincang sebentar yang dapat disimpulkan jika Satrio akan pergi ke toko kue sepupunya itu untuk berbicara dengan istrinya.
Regi menyetujui dan menyuruh Satrio untuk ke toko kuenya saja. Dan mereka berbincang santai di sana.
"Bagaimana ini? bagaimana?" Zahrin yang panik dan takut jika dia tidak bisa menyimpan rahasia.
Regi mendengus halus. Berdecak pelan melihat tingkah istrinya. "Kamu tinggal jawab tidak tahu dengan apapun pertanyaan Satrio, beres."
"Sebaiknya kamu aja sayang, aku tidak kuat melihat wajah sedihnya Satrio. Pasti dia ini lagi sedih-sedihnya, Mega tidak bisa dihubungi dan aku yakin, Satrio kelimpungan mencari informasi apapun terkait Mega."
"Yang diminta kamu sama dia, bukan aku."
Nafas Zahrin berhamburan saat itu juga. Kedua tangannya gemetaran tidak karuan.
.
.
Di toko kue Olivia milik Regi dan Zahrin.
"Apa kabar kamu Sat?" tanya Regi yang menyatukan tangan kanan mereka dan dada mereka layaknya bersua seperti pria dewasa pada umumnya.
"Kurang baik sih," jawab lesu Satrio namun dengan cepat dia bisa menyembunyikan kesedihannya dengan senyum yang dia berikan.
"Eh, sudah datang kamu Sat," ujar Zahrin yang meletakkan Arsyad di atas kursi kerjanya. Gantian menyuruh Regi untuk menjaga nya. "Kita duduk di depan aja ya Sat." Zahrin yang kemudian berjalan di depan toko kue nya.
"Kakak pasti tahu maksud aku datang ke sini." Satrio yang langsung pada pokok perkara, kemudian duduk.
"Suami kakak nggak jelaskan, maksud kedatangan kamu mau apa?" Zahrin masih menjawab santai dan pura-pura.
__ADS_1
Upz, dusta pertama.
kata Zahrin tentu dalam hati.
"Aku mau tanya alamat saudara Mega, kakak kan pernah menjadi bagian keluarga mereka lama," imbuh Satrio.
Zahrin menarik nafas panjang. "Iya kamu betul, tapi aku rasa mereka juga nggak tahu kemana Mega."
"Kalau begitu apa kakak tahu dimana Mega?" sahut Satrio cepat yang membuat jantung Zahrin serasa berhenti menit itu juga.
Wasalam Rin.
Jika kamu berdusta satu kata, nyemplung lah kamu di kubangan api neraka.
Jahanam pula.
gumam Zahrin tentu dalam hati yang berbicara pada dirinya sendiri.
"Kakak tahu? Kemana Mega pergi?"
Zahrin menggeleng. Namun tidak dipungkiri jika dirinya merasa bersalah atas kebohongan yang dia lakukan.
Maafkan aku Sat.
Belum saatnya kamu tahu.
Jika aku berkoar saat ini kepada kamu.
Sudah dipastikan aku diamuk habis-habisan oleh semua keluarga.
Diusir Regi dan ibu mertua dan belum lagi masalah-masalah lainnya yang akan hadir misal aku bicara apa adanya.
Satrio bernafas dalam. Terdengar sesak dan apatis detik itu juga.
Zahrin tidak tega melihatnya.
"Menurut kakak, Mega kemana?" tanya Satrio yang tidak ada habisnya dan selalu mengandung kata Mega di dalam nya. Terlihat sekali jika Satrio sangat mencintai mantan adik iparnya itu.
Zahrin lagi-lagi menggeleng. Itu sengaja dia lakukan, supaya mengurangi dusta yang akan dia suarakan.
Alamat Rin, mencium baunya surga firdaus aja tidak kamu nanti.
batin Zahrin lagi.
"Kemana ya kak dia? mendadak tidak ada kabar seperti ini. Aneh." Wajah Satrio tampak sekali muram tidak bersemangat.
Zahrin setengah menunduk. "Kamu sudah hubungi dia?"
Satrio mengangguk. "Ribuan ada mungkin."
Zahrin tercengang, mendengar kata ribuan yang terlontar dari mulut Satrio. Dia mulai resah, apalagi Satrio tidak kunjung menyudahi pembicaraan mereka berdua.
"Kamu kemana sih Mega?" lirih Satrio frustasi menutup wajahnya dengan kedua tangan dan mengusapnya kasar.
"Misal dia ada orang lain, bagaimana?" tanya Zahrin yang lolos begitu saja dari mulutnya.
__ADS_1
Satrio menoleh tajam ke Zahrin. "Maksud kakak?"
"Egh... Enggak, enggak. Aku bercanda. Lagi pula tidak mungkin kan Mega mengkhianati kamu, kecuali terpaksa," kode Zahrin sebenarnya tentang situasi yang dialami mantan adik iparnya.
"Aku nggak mengerti maksud kakak." Wajah serius Satrio masih menatap penuh tanya kepada Zahrin.
"Mungkin nggak sih? Dia ada orang lain gitu?" Zahrin yang bertambah memberi kode Satrio samar-samar.
"Nggak mungkin sekali. Kita udah janji dan akan menikah jika studi ku selesai."
"Seyakin itu kamu sama dia?"
Satrio mengangguk. "Dia nggak mungkin ingkar janji kak. Aku kenal Mega. Dia juga sangat tahu kalau aku serius sama dia." Dengan sangat mantap Satrio mengatakan nya. Seolah tidak meragukan cinta Mega yang ternyata sudah perlahan berlabuh di hati Dewa.
"Ya udah, kalau kamu yakin dia tidak akan mungkin berpaling. Kamu juga harus yakin, jika mungkin hari-hari ini dia sibuk dengan entahlah yang kamu tidak diberi penjelasan olehnya."
"Begitu ya kak?"
Zahrin mengangguk, diikuti senyuman haru
menyaksikan sendiri betapa sepupu suaminya itu tidak berubah perasaan kepada Mega.
"Jujur aku penasaran aja, apa sih yang dia kerjakan? Sampai-sampai ponsel dimatikan begini." keluh Satrio berbicara pelan.
"Lain kali jangan bikin kejutan. Alangkah lebih baiknya, sebelum kepulangan kamu nanti kedepannya, kalian lebih baik bicarakan." Saran Zahrin yang ditangkap Satrio benar.
Salahnya, mendadak pulang padahal Mega sudah memperingatkan tidak akan bisa bertemu. Tapi tidak sangka, jika hal yang menurutnya terdengar ringan, berakibat panjang, runyam dan membuat dia gagal paham.
"Iya kak, kakak benar. Untuk kepulangan ku selanjutnya, aku pasti akan bicarakan ke Mega."
"Iya, harus begitu. Karena kamu juga tidak tahu kesibukan Mega."
"Iya kak," jawab Satrio yang tidak berubah ekspresi.
Percakapan mereka berakhir. Dengan pamitnya Satrio yang pergi dari toko kue Zahrin dan sepupunya.
Namun tidak lama berselang, mobil Dewa masuk ke area parkiran toko kue Zahrin. Sedang Zahrin baru saja membuka pintu kaca tebal toko kuenya.
"Kalian?" Zahrin ternganga dengan tatapan tidak percaya. Melihat Dewa begitu santai melingkarkan tangan ke pinggang istrinya.
"Ada apa kak? Kok kakak seperti kaget?" tanya Mega.
"Satrio baru aja keluar," Zahrin susah menelan saliva nya. Menengok ke arah parkiran dan memastikan jika Satrio tidak melihat mereka berdua.
"Apa?" pekik Dewa dengan dua bola mata melotot. Setelahnya menoleh ke arah Mega yang sama pula menatapnya.
"Tapi seperti nya sudah aman." Zahrin yang gugup pula saat itu melihat mereka berdua mengapa bisa ke toko kue nya bersama. "Memangnya kalian habis dari mana? Kenapa keluar sama-sama? Apa tidak takut? kalau Satrio memergoki kalian berdua?"
"Kita selesai periksa kak, kan jadwal periksa menjadi dua minggu sekali kalau menjelang hari kelahiran," jawab Mega.
"Trus kita mampir aja kesini, karena kebetulan lewat," sahut Dewa.
"Untung aja Satrio udah pergi." Zahrin masih meletakkan telapak tangannya di dada, akibat gugup yang belum sepenuhnya hilang dan menjadi tenang.
Mereka kemudian masuk toko. Dimana Regi berbincang dengan Dewa. Sementara Zahrin dengan Mega.
__ADS_1
"Dia sedih banget, aku tidak tega," ujar Zahrin kepada Mega yang menjelaskan raut wajah Satrio.
BERSAMBUNG