
Mega menangis di kamarnya. Mengurung diri lama saat dia berada dalam bathub dan mengelus-elus perut nya yang sudah terlihat besar.
Menyelam pada semua peristiwa bahagia yang diberikan Dewa padanya. Dan semua sulit dibantah, jika memang perlahan dia mencintai suaminya dan yakin Dewa juga.
"Kamu sudah selesai mandi?" tanya halus dari pria yang sejak tadi menunggunya keluar saat dia lama berendam.
Kedua mata mereka bertatap dan Dewa langsung memeluk Mega. Mega menangis di dada bidang suaminya, meresapi semua perkataan Arumi yang dia tidak tahu musti jawab apa.
"Aku pilih kamu dan anak kita," suara serak Dewa menambah tangis Mega, antara percaya atau tidak. Mega tidak perduli dengan itu semua. Cinta nya kepada Dewa tidak bisa dia hentikan begitu saja. "Arumi, urusan ku. Biar aku yang menyelesaikan nya," imbuhnya.
Dewa kemudian melepas pelukannya, Menyentuh dua batas pipi milik istrinya yang berderai dengan air mata. Menyapunya dengan dua ibu jari miliknya dan mengecup kening Mega.
"Kamu, anak kita, adalah masa depan ku. Dan Arumi adalah masa lalu. Dan aku janji, akan sebisa mungkin, untuk tidak bertemu Arumi lagi."
"Jangan janji kalimat yang terakhir, karena kamu sering mengingkarinya."
"Kali ini tidak."
Keduanya kemudian saling merangkul hangat. Dimana Mega sangat bersyukur dengan hari itu. Hari dimana Dewa terketuk hatinya dan tepat untuk menentukan pilihan hidupnya ke depan tanpa menoleh ke belakang.
.
.
Tanggal 4 bulan berikutnya.
"Mama ikut ya? mama udah nggak sabar nih, deg-degan, ingin tahu jenis kelamin cucu mama," kata ibu Rahma kepada Dewa dan Mega saat keduanya hendak berangkat periksa kandungan.
"Iya ma, boleh."
"Makasih ya sayang, kamu udah izinin mama ikut. Mama penasaran soalnya," balas ibu Rahma dengan senyum yang belum dia kunci, dan dia mengambil tas di kamar setelah itu berjalan bersama putra dan menantunya ke garasi mobil.
.
.
Di tempat praktek dokter.
Selama di ruangan dokter, ibu Rahma sibuk dengan kehebohannya sendiri. "Jadi cewek apa cowok dok?" tanya ibu Rahma tidak sabar.
__ADS_1
"Sabar ya Bu, kita lihat pelan-pelan," jawab dokter saat perlahan menggeser-geser alat di atas perut Mega yang sudah dioles gel.
Ketiganya tersenyum, saat dokter menjelaskan bagian perbagian dari tubuh mungil di dalam perutnya Mega.
"Aaa... lucunya..." kata ibu Rahma yang terharu menyaksikan nya sendiri di layar ultrasonografi.
"Insya Allah cewek ya Bu, jenis kelamin nya," kata dokter dengan alat yang masih dia geser perlahan di atas perut Mega.
"Alhamdulillah..." Dewa dan mama nya berucap syukur karena senang mendengar penuturan dari dokter.
"Senang ya Bu, mau dapat cucu perempuan."
"Iya Dok, itu karena saya sudah merasakan punya dua anak cowok-cowok semua. Jadi pingin aja punya cucu-cucunya nanti cewek semua," tukas ibu Rahma yang berbicara dengan senyum yang belum sepenuhnya usai.
"Alhamdulillah ya Bu, doanya terkabul. Dan semoga lancar nanti sampai lahiran."
"Iya Dok terimakasih."
Sampai akhirnya itu semua selesai dan ketiganya tengah menuju parkiran mobil. Arumi memantau dari kejauhan. Dia merasakan sakit sekali, melihat Mega begitu mendapat perhatian dari ibu mertuanya, yaitu ibu Rahma.
Ya, berhari-hari Arumi terus meneropong dari jauh rumah tangga mereka. Sejak Dewa tidak membalas satu pun komunikasi nya. Membuat Arumi memutuskan memandang mereka dari kejauhan. Dan itu rasanya sakit. Karena apa? Karena Dewa dan Mega terlihat terang-terangan mengkhianati nya. Pura-pura tidak ingat apa yang dikatakannya dulu. Saat pertama kali mereka menikah yang tujuannya hanya apa?
Ingin sekali melancarkan hal tidak terpuji kepada Mega dan bayinya. Tapi Arumi sadar, jika dia melakukan hal diluar batas dan ujungnya ketahuan oleh Dewa, Arumi yakin Dewa tidak akan pernah memaafkannya dan malah akan tertanam benci di hati kekasihnya itu. Arumi kenal Dewa.
Membiarkannya, sama saja menyetujui nya. Sepakat mereka bersama. Dan itu masih tidak siap dia terima.
Berbeda dengan mereka bertiga, yang masih diliputi perasaan bahagia karena mendengar jika jenis kelamin bayi dalam perut Mega adalah perempuan. Berulang kali ibu Rahma mengucap syukur, Mega dan Dewa ikut bahagia melihat mamanya nya bahagia.
Mereka kemudian merayakan hari itu dengan makan di luar. Dengan ibu Rahma yang belanja banyak sekali untuk menantunya karena saking senangnya mau dapat cucu dengan gender perempuan.
.
.
Malam pun tiba.
Dewa sibuk dengan mengubah nama hotel yang satu minggu lagi akan dia resmikan. Rasanya akan sangat penuh arti jika nama Mega, dirinya dan anaknya di satukan. Terpilihlah satu nama. Hotel Mediterania. Dimana Me berasal dari nama Mega. di te dan ra bisa diambil dari nama Dewa Dirgantara. Dan nia, adalah penggalan nama terkait anak perempuan nya nanti.
Ketika Dewa membicarakan hal itu pada istrinya, Mega terharu mendengarnya. Tidak menyana jauh, jika Dewa sampai terpikir mengukir nama mereka bertiga menjadi nama hotel yang akan diresmikan suaminya.
__ADS_1
.
.
Satu minggu kemudian.
Prok prok prok prok
Suara riuh tepuk tangan dari semua tamu undangan di acara pesta peresmian hotel baru milik Sadewa Dirgantara.
Salah seorang MC, menyuruh Dewa memberikan sambutan selaku pemilik hotel tersebut. Dewa kemudian maju ke atas podium dan memberikan sambutan. Rasa bangganya atas terselesaikan nya pembangunan hotel pun tak luput dia utarakan kepada seluruh tamu undangan. Dewa juga dengan bangga menyebut dan memperkenalkan Mega, selaku istrinya di depan para hadirin tamu undangan.
Mega juga maju ke depan dan mendampingi suaminya diatas podium. Lalu Dewa bercerita singkat asal muasal nama Hotel Mediterania kepada tamu undangan, jika nama tersebut adalah nama dari penggalan huruf dari nama mereka berdua dan penggalan nama keluarga baru yang akan hadir dan masih tidur di perut istrinya, yang kemudian di sambut riuh tepuk tangan dari seluruh tamu yang ada di sana.
Namun acara yang tadinya bahagia itu, mendadak berubah rasa ketika Arumi hadir dan memberi selamat kepada Dewa dan Mega.
"Selamat ya, nama hotel yang bagus." Arumi dengan berat hati hadir di sana sebenarnya. Jika bukan karena undangan dari pak Hendarto kepada keluarganya, Arumi tidak akan mau menggantikan ketidak hadiran papa dan mamanya di acara tersebut.
Karena apa? Sejak tadi perlakuan manis Dewa yang masih berstatus kekasih nya itu, membuatnya hancur lebur untuk kesekian kali.
"Terimakasih Arumi," jawab Dewa.
"Selamat juga, atas kelahiran anak yang dinanti dan terlebih itu perempuan yang kata nya sangat diinginkan oleh mama papa kamu."
"Iya, terimakasih." Dewa tidak ingin terlibat percakapan banyak dengan Arumi. Tidak perduli ada kata putus atau tidak, toh cukup lama juga dia tidak pernah membalas pesan, mengangkat panggilan apalagi bertemu dengan Arumi. Jadi buatnya malam itu, mereka seperti sudah tidak ada hubungan padahal Arumi menganggapnya masih.
"Bisa kita bicara sebentar?"
"Harus ada Mega." Dewa melirik istrinya, Mega pun begitu.
"Okay," lirih Arumi terima saja. "Bagaimana hubungan kita?" Arumi meminta kejelasan, supaya hatinya tidak mengambang. Meskipun dia tahu, jika Dewa sudah enggan memilih mempertahankan cinta mereka.
"Seperti yang kamu saksikan hari ini. Aku memilih Mega dan calon buah hati ku. Maafkan aku Arumi," jawab Dewa berat namun dia harus ikhlas. Melepas salah satu diantara mereka yang jujur, sebenarnya hari ini tidak siap.
Wajah Arumi sudah basah, lelehan air mata mengalir dari dua bola matanya. Meski sudah di tebak nya, jika Dewa akan meninggalkannya demi Mega dan bayinya.
Arumi membalik langkah, berlari dan menangis. Dewa dan Mega masih berdiri di tempat semula. Menambah eratan genggaman mereka.
BERSAMBUNG
__ADS_1