Aku Tidak Siap

Aku Tidak Siap
Gantungan kunci, topi & kaos


__ADS_3

"Kalian udah baikan?" tanya ibu Rahma saat tahu jika putra dan menantunya saling bergandengan memasuki rumah yang entah dari mana.


"Udah ya sayang? Kamu udah maafin aku kan?" tanya Dewa kepada istrinya.


Yang dibalas oleh Mega dengan anggukan kecil lalu tersenyum.


"Syukurlah... Mama seneng lihat nya. Oh, ya. Mana? Katanya tante kamu, kamu banyak sekali beli puding dan kue di toko nya. Di mobil?"


"Em..." Dewa yang bingung harus jawab apa. Wajahnya gugup lagi takut jika Mega ngambek. Padahal baru saja berbaikan. Masak iya mau marahan lagi.


"Buat kekasihnya yang masih belum pulih ma," sahut Mega yang setengah tidak nyaman mengatakan nya. Mega langsung pamit ke ibu Rahma untuk naik ke lantai dua.


"Kamu nggak marah sayang? Tahu aku belikan puding dan kue buat Arumi."


"Mau marah juga percuma kan?" Mega langsung bersiap berganti celana pendek dan kaos bertuliskan nama kampus yang diberikan Satrio sebagai hadiah ulang tahun nya.


"Kamu tidurnya kok pakai itu?"


"Kenapa?"


"Tunggu-tunggu..." Dewa memperhatikan baik-baik kaos berwarna pink dan bertuliskan Stanford University yang Dewa bisa menebak itu dari siapa. "Hadiah dari Satrio?"


Mega mengangguk. Yang kemudian naik ke atas ranjang.


"Sayang, kamu nggak kasihan anak kita? Itu dia sesak lho, kalau kamu pakai celana gitu. Bumil kan harus pakai pakaian longgar."


"Nggak apa-apa, ini juga celananya molor."


"Nggak, nggak, nggak. Aku ambil kan daster bumil." Saking tidak terimanya, melihat Mega memakai kaos dari Satrio. Dewa kemudian mengambilkan daster bumil di lemari pakaian untuk istrinya. Menyuruh Mega mengganti kaos hadiah dari adiknya. Melepas dan mengganti memakai daster yang sudah diambilnya.


Malam dengan cepat berganti pagi. Dimana Mega menatap lama dan sangat dekat wajah suaminya. Entah perasaan apa yang pagi itu dia rasa? Yang pasti, ada rasa tentram saat mereka sudah berbaikan seperti sedia kala dan tidak sedang marahan.


"Jangan lihatin aku terus," ujar Dewa dengan mata tertutup. Sejak tadi dia tahu, jika istrinya memandangi wajahnya dengan senyum-senyum sendiri.


Mega terkejut, karena ternyata Dewa menyadari apa yang dia lakukan. Dua pipinya merah merona karena malu dan mereka lanjutkan dengan saling melempar canda di atas ranjang pagi itu.

__ADS_1


.


.


Seperti yang lalu. Arumi mendatangi tempat kerja Dewa, karena pria itu tidak membalas pesan dan menerima panggilannya untuk menjelaskan kesalahpahaman nya dengan Niko.


"Sayang aku minta maaf," ucap manja Arumi dengan pelukan yang belum sepenuhnya dia lepas.


Dewa belum mengatakan apapun terkait pria yang nama nya Niko. Namun tidak lama, Dewa memberikan jawabannya untuk Arumi. "Kalau kamu cinta sama dia, ya udah kamu sama dia aja."


Arumi terkejut mendengarnya. Dia tidak percaya, karena terdengar sangat ringan Dewa mengatakan nya. Seperti tidak ada beban mengeluarkan kalimat yang jujur membuat Arumi sedih. Arumi melepaskan pelukannya dan tidak sedikitpun menyentuh bagian tubuh pria itu. "Apa kamu bilang?"


"Iya, iya udah kamu sama dia aja."


Telinga Arumi tidak cukup kuat untuk mendengarnya. Dewa seolah lupa dengan kesepakatan mereka berdua. "Kamu lupa dengan janji kamu?"


"Aku capek Arumi! Aku capek! Aku capek kamu selalu mengingatkan aku dengan janji itu." Dewa cukup frustasi dan melangkah agak jauh dari posisi Arumi. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Karena yang ada, disaat dia ada untuk Arumi, Mega marah dan mereka berantem. Begitu juga sebaliknya, dirinya siaga untuk Mega, Arumi tidak terima dan tidak rela. Yang ada mereka bertengkar. Belum lagi dengan mama nya yang membela Mega dan menyudutkan nya. Rasa nya sangat sulit dan pasti tidak akan lama hubungan salah satunya harus ada yang terselesaikan.


Maka dari itu. Dirinya juga akan belajar tidak peduli dengan urusan Arumi tentang laki-laki. "Aku, Aku..."


Dewa mengejarnya dan berhasil menghentikan Arumi. "Maksud aku bukan begitu Arumi."


"Aku sama Niko nggak ada apa-apa. Okay, okay kalau kamu nggak percaya." Arumi mengeluarkan ponselnya. Arumi menghubungi Niko untuk tidak lagi berkirim pesan dan melakukan panggilan. Tidak disitu saja. Arumi juga meminta mereka untuk tidak saling kenal dan tidak ada kata teman. Dan semua itu di dengar oleh Dewa karena di panggilan tersebut sengaja di load speaker oleh Arumi. Dan setelahnya, guna lebih meyakinkan kekasihnya, Arumi bertindak total dan tidak setengah-setengah dalam memperjuangkan Dewa. Arumi menghapus sekaligus memblokir nomer telepon Niko di depan mata Dewa. "Kamu percaya?"


Dewa terdiam. Cukup ternganga dengan apa yang dilakukan oleh Arumi. Terlihat jika Arumi sangat besar pengorbanannya untuk meraihnya kembali.


Sementara dia, jika sudah melihat seperti ini. Kaki rasanya lemas lagi. Hati risau kembali dan ujung-ujungnya adalah kata bimbang. Selalu saja Arumi memiliki beribu cara untuk meluluhkan hatinya kembali. Menggapai cinta nya yang teralihkan entah itu sementara atau selamanya dari Mega.


Dewa akhirnya mengangguk pelan. Keduanya berbaikan dan seperti itu terus hingga pasti nanti ada satu wanita yang protes karena tidak tahan.


"Sayang, nanti malam kita nonton yuk. Lama lho, kita nggak pergi malam dan ke bioskop sama-sama," ajak Arumi setelah keduanya berbaikan.


"Iya."


Namun saat Dewa pulang kerja dan sampai rumah. Bibi yang kerja di rumah, sedang sakit dan tidak masuk. Alhasil tidak ada makan malam bersama di rumah.

__ADS_1


"Dewa, bibi kan sakit. Ajak istri kamu makan malam di luar ya. Mama sama papa berangkat dulu. Karena kita mau mampir ke tante-tante kamu. Assalamualaikum. Jangan lupa lho. Mega diajak pergi makan di luar."


"Iya ma. Waalaikum salam."


Dewa akhirnya naik ke kamarnya. Mandi dan berganti pakaian nya. Begitu juga dengan Mega.


"Sayang, sudah belum?" tanya Dewa pada istrinya karena cukup lama di dalam bathroom.


"Iya." Mega keluar bathroom dengan memakai celana bumil panjang dan kaos pemberian Satrio berikut topi. Mega juga pakai tas tali panjang yang dia beli sendiri ditambah dengan gantungan kunci dari Satrio yang di kaitkan di tas tersebut.


Dewa terbengong. Memperhatikan penampilan istrinya yang menurutnya tidak pas, mengingat dirinya hamil dan ini sudah malam dan rasanya tidak perlu pakai topi.


"Sayang, kamu salah nggak salah kostum?"


Mege menggeleng.


Dewa kemudian menyentuh dan mendekatkan sepasang matanya pada benda yang tergantung di tas istri nya. Gantungan kunci. "Aku tahu semua ini hadiah dari Satrio, tapi kamu sedang hamil sayang."


"Kenapa?"


"Ya, nggak pas aja sayang dengan perut kamu yang hamil itu."


"Jadi menurut kakak aku udah jelek dan gendut? Tidak menarik lagi hingga tidak pas pakai kaos beginian."


"Nggak, nggak, nggak. Bukan begitu sayang." Dewa gelisah dan akhirnya menuju lemari pakaian. Memilihkan pakaian bumil yang menurut Dewa tepat dipakai istrinya malam ini. "Kamu pakai ini ya." Dewa menyerahkan pakaian bumil sebagai gantinya. Sedikit memaksa dan menyuruh Mega untuk berganti di bathroom.


Sementara sejak tadi Arumi sudah bersiap untuk berangkat, namun Dewa tidak kunjung menjemputnya.


"Iya sayang, aku minta maaf. Semua serba mendadak. Bibi sakit dan tidak masak di rumah. Jadi mama menyuruh aku dan Mega makan malam di luar," ucapan Dewa dengan sangat jujur kepada kekasihnya lewat sambungan telepon. "Begini saja, setelah makan malam aku dengan Mega. Aku antar Mega pulang. Baru kita nonton. Bagaimana?"


Mega berdiri sedih mendengar apa yang dikatakan suaminya pada perempuan itu lewat sambungan telepon. Dia berusaha kuat, seolah hatinya baik-baik saja padahal jelas terasa sakit. Saat dalam malam yang sama, Dewa akan membagi waktu kepadanya dan kekasihnya.


"Arggh...!" Arumi kesal, karena lagi-lagi Mega selalu merusak kencan nya dengan Dewa. Entah itu sengaja atau tidak. Menurutnya, Mega lah priority Dewa dan bukan dia.


Meskipun dia sudah berjanji untuk mengerti situasi dan tidak menuntut banyak hingga membuat kekasihnya tertekan. Namun tetap saja, Arumi harus mengalah lagi dan lagi.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2