Aku Tidak Siap

Aku Tidak Siap
Tak ada harapan


__ADS_3

Satu malam berlalu.


"Aku mau beli perlengkapan buat Rania dulu ya sayang," pamit Dewa kepada Mega yang sudah bisa berjalan-jalan seperti biasa karena melahirkan secara normal.


"Iya kak," jawab singkat Mega.


"Sampai kapan kamu akan memanggilku dengan panggilan itu?" protes Dewa apalagi anak mereka sudah lahir. "Kamu tahu, kalau Rania sudah agak besar, dia sangat mudah menirukan apa yang kamu ucap. Apa kamu mau? dia juga memanggilku kakak nantinya."


Mega tersipu malu. Sebelum nya, dia sudah diperingatkan Zahrin untuk memanggil suaminya dengan sebutan yang romantis. Namun dia tidak menggubris. Alhasil, hari ini dia seperti dituntut untuk lebih mesra kepada suaminya. "Aku harus panggil apa?" tanya Mega dengan rona di kedua pipi.


Dewa semakin mendekat, tahu jika istrinya tengah dirundung malu. Meraih janggut wanita itu yang tetap terlihat cantik meskipun tanpa riasan apa pun di wajahnya. Dewa kemudian menempelkan bibiir nya ke bibiir istrinya untuk sebentar namun penuh makna. Dan setelahnya. "Panggil saja seperti aku memanggil mu. Sayang," lirihnya persis di dekat telinga Mega yang membuat bulu nya merinding.


Dewa kemudian pergi namun tidak pada ibu jarinya yang masih membelai kecil dan berulang pada pipi kanan istrinya. Belum tatapan Dewa yang setelah Mega usai melahirkan. Ingin segera menguasai istrinya dan menikmati nya dengan situasi yang berbeda.


Jika awal pembuatan Rania, otaknya dikuasai oleh minuman beralkohol dan tentunya tidak ada cinta, yaitu hasrat semata. Berbeda dengan penyatuan kedua yang terbilang pelan dan slow akibat Mega hamil muda. Dan setelah dihitung-hitung, dia baru empat kali melakukannya. Belum tercetus kata panas, maut, bergelora dan membara saat keduanya bermain bersama.


Dewa kemudian pergi meninggalkan istrinya. Tidak butuh waktu lama dia sudah sampai pada toko yang menjual perlengkapan bayi. Dewa berkeliling dan memilih semua yang di perlukan Rania putri nya. Dari kesemuanya, warna merah jingga membuat mata Dewa terpana dan selalu memasukkan apapun jika berkaitan dengan warna tersebut. Mengingat baby nya adalah perempuan.


.

__ADS_1


.


Sedangkan di lain tempat.


Arumi dan mama nya tengah bersiap untuk cek kesehatan di rumah sakit pasca kecelakaan. Tiga puluh menit perjalanan ke rumah sakit dan membawanya ke ruang dokter yang sudah membuat janji terlebih dahulu.


Dokter juga menjelaskan, jika secara keseluruhan kesehatan Arumi sudah bagus dan hari itu adalah kontrol terakhirnya.


"Terimakasih dok," kata ibu Clarisa yang senang mendengarnya. Putrinya tidak lagi mengkonsumsi obat-obatan dari rumah sakit setiap pagi, siang dan malam lagi.


"Sama-sama Bu," jawab dokter ramah.


Arumi dan ibu Clarisa kemudian hendak pulang, namun tiba-tiba saja Arumi ingin buang air kecil ketimbang dia harus menahan nya sampai rumah dan tentunya akan membuat sakit pada perut nya. "Ma, aku ke toilet sebentar ya, mama tunggu di mobil." Arumi dan mama nya yang sudah berada di area parkiran dan menyuruh mama nya masuk mobil dan menunggunya di dalam saja.


Waktu telah membuatnya kehilangan cinta dari pria tersebut. Waktu juga yang membuat mereka tidak bisa senyaman dulu saat dirinya untuk pertama kali memanggil nama pria itu dengan sebutan nama nya. Ingin berteriak Dewa yang biasanya pria itu dia panggil sayang, bibirnya kelu. Arumi ragu dan memilih menguntit pria itu akan pergi kemana .


Namun setelahnya dia bisa menyusuri bagian-bagian rumah sakit tanpa sepengetahuan mantan kekasihnya itu. Arumi tercengang melihat tulisan dipapan yang terletak di atas pintu kayu itu. Ruang Bersalin.


"Mega sudah melahirkan," lirihnya dengan sendu dan terdengar pilu. Tidak lama bola matanya berkaca-kaca dan setengah menundukkan kepala. Arumi tetap menyelinap masuk ruangan itu. Dan benar dugaannya, Mega melahirkan.

__ADS_1


Dia melihat Mega tengah menimang bayinya dengan perut yang sudah terlihat rata. Dewa juga sangat terlihat bahagia sekali. Senyum lebar keduanya terpancar jika mereka sangat menginginkan bersama-sama dengan buah hati mereka yang baru lahir ke dunia.


Air mata tidak kuasa untuk Arumi bendung. Banyak dari buliran jernih jatuh bergantian membasahi kedua sisi pipi. Melihat mereka berdua bahagia, rasanya sakit sekali. Kakinya seperti terjerembab dan berjalan di atas bara api. Panas dan tentunya terbakar hingga kulit terasa terkelupas. "Kamu menang Mega. Kamu dan anak mu, sudah mendapatkan cinta Dewa seutuhnya. Kamu berhasil merebut dia dari aku." Arumi yang tidak berhenti dari air mata yang sejak tadi dia tumpahkan. Geleng-geleng kepala kecil berulang, seolah menepis semua yang terlihat di depan mata adalah mimpi belaka. Namun sial, semuanya fakta dan untuk kehidupan dia selanjutnya, tidak ada nama Dewa yang bertahta lagi di hatinya. Entahlah, rasanya tidak siap. Harus kehilangan seluruh cinta Dewa yang dulunya hanya miliknya semata. Semata.


Arumi pergi, mengusap kasar air mata yang berderai dengan telapak tangan nya. Tidak sengaja, kakinya menabrak kursi tunggal berjejer di depan ruangan itu hingga membuat Dewa menoleh ke sumber suara. Namun setelah Dewa melihatnya keluar, tidak ada siapa-siapa. Dan dia memilih menutup pintunya.


Sedangkan Arumi. Masuk ke dalam toilet dan menangis hebat di dalam sana. Dua kata, tidak siap, untuk meneruskan hidup dia selanjutnya tanpa pria itu. Pria pertama yang sudah menguasai seluruh hatinya. Cintanya dia ukir dalam dan dia letakkan di tempat paling istimewa. Namun sayang, takdir berjalan dan tidak berpihak padanya. Arumi kemudian membasuh wajahnya, sadar jika dia terlalu lama meninggalkan mama nya di dalam mobil.


Sesampainya di mobil. Belum ibu Clarisa mengeluhkan jika putrinya lama, Arumi sudah memeluknya erat dan menyuarakan tangisnya. Membuat ibu Clarisa bingung apa yang terjadi dengan putrinya.


"Ada apa sayang?" tanya halus ibu Clarisa dengan mengusap punggung yang tertutup dengan rambut Arumi yang panjang.


"Aku melihat Dewa dan istrinya yang sudah melahirkan, mereka berada di ruang bersalin," jawab Arumi yang terbilang tidak lancar karena Isak sengguk dari tangisnya.


Ibu Clarisa melepas pelan pelukan putrinya dan menghapus jejak basah yang sudah tidak karuan. "Kamu yang sabar ya," ucapnya dengan bola mata tidak kalah berkaca-kacanya. Perasaan ibu, tidak dipungkiri merasa sakit hati apabila melihat putrinya dipermainkan oleh seorang pria.


"Arumi tidak rela ma," lirihnya dengan tangis yang mulai memelan.


Ibu Clarisa mengusap air matanya sendiri dengan sehelai tisu. Membuang nafasnya yang sejak tadi membuat dadanya terasa sesak. Menyadarkan kepala putrinya untuk bersandar pada bahu kanan miliknya. "Mama yakin, kamu bisa dapatkan yang lebih baik dari Dewa."

__ADS_1


Arumi menggeleng antara tidak mau dan tidak mungkin dia bisa melupakan Dewa dalam waktu yang cepat.


BERSAMBUNG


__ADS_2