
"Sudah kak, turun aja kak."
"Nggak apa-apa aku masih kuat kok, buat gendong kamu. Mau sampai muteri Bali berapa kali pun. Aku siap."
"Cie-cie... Manis bener ini pasangan pengantin," ledek Zahrin pada keduanya.
Pipi Dewa dan Mega merona. Ya, Dewa sedang menggendong Mega, saat mereka jalan-jalan. Itu dilakukan Dewa karena tidak mau melihat istrinya capek, karena Mega tengah hamil.
Masih banyak lagi yang dilakukan Dewa pada Mega yang tertular oleh Zahrin dan Regi yang meracuni mereka dengan tindakan-tindakan manis layaknya pasangan suami istri pada umumnya.
"Apu dong mom yang dicuapi, masak daddy telus," protes Arsyla dimana Zahrin dan Regi kompak saling memanjakan supaya Dewa melihatnya dan melakukan hal sama kepada Mega.
"Iya-iya sayang... Sekarang gantian Arsyla... Ag..." Zahrin yang kemudian menyuruh putri gemasnya itu membuka mulutnya.
Zahrin juga mencuri gambar Mega dan Dewa saat keduanya saling menyuapi makanan tanpa menggunakan sendok. Dan itu sangat romantis sekali.
Sampai dimana kecerobohan terjadi. Saat Zahrin sakit perut dan pergi ke toilet, Arsyad lah yang memonopoli gadget nya Zahrin. Alhasil WhatsApp dibajak dan beberapa foto terunggah tanpa sengaja termasuk milik Dewa dan Mega.
"Mereka semua sedang liburan ke Bali? Syukurlah, jika ada Zahrin yang ikut. Kamu memang lebih bahagia bersama Regi, Rin." Akhyar melihat foto keluarga mereka semua yang diunggah oleh Arsyad tanpa sengaja. "Dan kamu Mega, kakak akan berusaha percaya ke Dewa. Karena jika melihat dari foto ini. Kamu sangat bahagia sekali," imbuhnya.
Kembali nya Zahrin dari toilet. "Hah!" pekik Zahrin tercengang melihat lebih dari tiga foto pembaharuan statusnya.
"Ada apa?"
"Kenapa kamu nggak awasi anak kamu saat main gadget? Baru juga ditinggal ke toilet sebentar." Zahrin panik melihat satu persatu apakah nama Satrio melihat pembaharuan status terbaru nya.
"Tanggung sayang foto-fotonya. Memangnya ada apa sih?"
"Arsyad pencet-pencet hp aku sayang. WhatsApp ku dibajak. Dan dia unggah beberapa foto termasuk foto Mega dan Dewa."
Regi ternganga hampir tidak percaya. Yang tadinya ingin melanjutkan mengambil gambar dengan kamera yang tergantung dilehernya. "Trus? Apa Satrio melihat nya?"
Zahrin bernafas lega dan langsung menghapus foto Mega dan Dewa. Karena ternyata Satrio belum melihatnya.
"Lain kali kamu hati-hati dong sayang. Jangan ceroboh seperti itu lagi."
"Iya, maaf."
.
.
Malam hari.
Sebelum mereka kembali pulang. Dewa dan Mega sangat mesra sekali. Keduanya menikmati malam diatas ranjang, Dewa meletakkan kepalanya di pangkuan Mega. Mega mengelus lembut rambut suami nya dan keduanya menikmati pemandangan pantai di malam hari. Mendengarkan suara ombak bergulung-gulung dari atas kamar mereka.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan Rin?"
"Sssst!" Zahrin menyuruh Regi untuk tidak berisik.
Regi ikut mengintip. "Apa an sih? Dosa." Regi menarik istrinya untuk menjauh dari pintu kamar Mega dan Dewa.
"Lihat itu sayang! Lihat itu sayang! Katanya sepupu mu itu nggak cinta. Nyatanya doyan juga sama Mega," ucap Zahrin tentunya bisik-bisik saat mengatakan nya.
"Ah, sudah lah ayo tidur."
"Bentar sayang, tanggung. Masak main belai-belai an gitu doang. Hah... Sayang, lihat itu! Aaaaa..." Zahrin yang kemudian menutup wajahnya saat Tahu Dewa beraksi lebih gila di atas ranjang mereka. Yakni mengawali mencium bibiir istrinya dan membuat Mega jatuh di bawah kurungan tubuh suaminya.
Regi langsung menutup pintu kamar mereka dengan sangat pelan supaya tidak ketahuan. Dan Zahrin diomeli oleh Regi karena itu tidak boleh dilakukan meskipun istrinya penasaran.
"Aku tadi mau anter barangnya Mega. Tapi karena lihat dia lagi mesra-mesra begitu. Ya udah, iseng aja dengan adegan apa yang akan mereka mainkan selanjutnya."
"Ck, kamu itu."
.
.
Pagi harinya.
Mereka bersiap kembali pulang. Dimana ada mereka berdua, tentunya dengan keromantisan yang mereka coba bangun untuk menumbuhkan cinta di dalam rumah tangga mereka.
Wuzz
Pesawat mengudara dan akhirnya semuanya sampai.
"Terimakasih ya kak," ucap Mega kepada Zahrin dan Regi, yang dimana mereka berpisah di bandara dan bermaksud pulang ke rumah mereka masing-masing.
"Iya, kamu dan bayi kamu sehat-sehat ya," balas Zahrin yang mengelus perut Mega. Kita duluan ya, Assalamualaikum," pamit Zahrin dan Regi yang sama-sama melambaikan tangan.
Selama diperjalanan pulang dari bandara ke rumah, Mega sepertinya mengantuk dan perlahan matanya terpejam. Dewa tersenyum melihat Mega dan membelai rambut istrinya. Sampai akhirnya tiba di rumah. Dewa yang ingin membangunkan Mega, namun tidak jadi mengingat kasihan jika istrinya capek keliling Bali. Dewa memapah istrinya. Membawanya masuk ke dalam rumah.
"Eee... Kalian sudah pulang," seru ibu Rahma saat tahu Dewa memapah Mega.
"Sssst. Nanti Mega bangun ma," kata Dewa pelan dan terburu-buru untuk naik ke kamar.
Ibu Rahma hanya melirik Mega yang dipapah oleh putranya dengan sangat senang nya.
Sepertinya mereka jauh lebih dekat dari yang kemarin-kemarin.
batin ibu Rahma dengan tersenyum lalu kembali ke dapur.
__ADS_1
Namun saat Mega baru ditidurkan di atas ranjang, matanya terbangun perlahan. "Sudah sampai? Kenapa kakak tidak bangunkan aku?"
"Aku hanya kasihan sama kamu, kamu tidurnya pules. Nih lihat, kamu bikin pulau di baju ku. Pulau apa ya ini?"
"Hah..." Mega ternganga malu. Menutup mulutnya sambil tertawa kecil. Karena bagian depan kemeja suaminya membekas basah iler saat dia tertidur.
Dewa menertawakan wajah Mega yang pipinya merah. Mengelus-elus puncak kepalanya lalu pergi berganti pakaian.
.
.
Esok hari nya.
Dewa sudah dikejutkan oleh Arumi yang menangis dan memeluknya dari belakang di tempat kerjanya. "Apa kamu mau mengingkari janji mu?" Satu kalimat Arumi yang berhasil menjatuhkan bulir jernih dari salah satu sudut matanya.
Dewa masih terdiam dan masih belum tahu apa yang ingin dia katakan. Ikatan batinnya dengan Arumi memang seolah tidak bisa terpisahkan begitu saja. Padahal sudah cukup banyak hari tidak mereka lewati bersama. Namun yang ada, cinta itu tidak segera pergi darinya dan malah semakin tertanam kuat tinggal di hatinya. "Tolong kamu jangan siksa aku dengan tangis mu." Berbarengan dengan Dewa melepas pelukan Arumi.
"Mega sudah kembali ke rumah? Apa itu tandanya kamu akan memutuskan aku?" suara Arumi yang tidak karuan dibarengi dengan isak sedihnya. Yang sesekali mengusap ingusnya karena dia tidak mampu mengucap kata putus.
Dewa tidak mampu mengatakan nya ke Arumi. Melihat wajah sedih kekasihnya yang penuh dengan air mata pagi itu saja, dia sudah tidak tega. Apalagi akan memutuskannya setelah apa yang dilakukan dirinya dan Mega. Posting foto Mega di status wa nya saja, pasti sudah mengiris hati Arumi. Mana mungkin sekarang? Akan dia kejutkan dengan kata bubar jalan untuk hubungannya. Pasti dia akan hancur. Perlahan, kata itulah yang sedang berusaha dia cobanya. "Tolong kamu juga mengerti aku Arumi."
"Apa aku kurang memahami mu? Sayang, bukan kah harusnya aku yang menikah dengan kamu? Bukan dia." Diikuti tangis Arumi yang semakin pecah, mengingat kan Dewa yang mabuk kepayang tergila-gila dengan Mega.
"Iya aku salah. Semua salah ku. Aku minta maaf. Tapi aku berusaha memperlakukan kalian sama."
"Tidak, kamu memperlakukan Mega lebih utama," jawab cepat Arumi.
"Arumi... Itu karena Mega istri ku."
"Istri yang kamu nikahi karena kecelakaan. Bukan karena cinta." Arumi berulang kali mengingatkan Dewa yang pura-pura amnesia. "Namun sekarang berubah, kamu sepertinya sudah jatuh cinta sama Mega. Bahkan kamu berani mengakuinya, jika dia istri mu dan kamu panggil dengan sebutan sama dengan ku." Arumi yang menyuarakan ketidak rela an nya, yang sedari tadi isak samar nya belum juga mereda.
"Arumi..." Dewa sejak tadi mendengarnya, dapat merasakan jika Arumi merasa tersakiti. Bimbang lagi, kata perlahan yang akan dia coba untuk melepaskan Arumi, nyatanya kata tersebut satu persatu tanggal dan berganti kata bimbang. "Apa kamu mau pipi ku bonyok semua gara-gara dipukuli oleh kakaknya Mega?"
"Dengan mengorbankan hati ku?"
"Aku tidak mengorbankan hati mu. Aku hanya ingin kamu sedikit aja mengerti kalau aku ini suami sah nya Mega untuk saat ini."
"Maksud kamu?"
Dewa yang kelepasan bicara, yang bisa ditarik kesimpulan jika apa yang baru saja diucapkan nya mengandung arti perpisahan sementara. Dewa pusing dengan mencengkeram kuat kepalanya dengan kedua tangan nya. "Aku tidak tahu lagi Arumi. Kamu tidak mau putus. Okay... Tapi kamu juga harus mengerti. Untuk tidak menuntut ku banyak hal terkait apapun yang aku lakukan."
"Jadi sekarang, aku dan Mega sama. Begitukah maksudnya?"
Dewa mendengus kasar.
__ADS_1
BERSAMBUNG