
Di bandara.
Mega dan Akhyar saling berpelukan tentu dengan wajah mereka yang basah.
"Kakak, hati-hati ya."
"Kamu juga."
Dewa juga bersikap santun pagi itu. Berpelukan seperti para pria lumrahnya. "Kamu, aku punya seribu cara untuk membalas kamu. Jika kamu membuat adikku menangis," pesan Akhyar tepat ditelinga Dewa saat mereka berpelukan.
Dewa sudah ciut nyali. Berdesir hatinya membayang kan jika Mega menangis dan mengadu semuanya. Habis dia ditangan Akhyar.
Akhyar sudah berjalan menuju pesawat. Mega masih melambaikan tangan nya dengan lelehan air mata yang bisa dibilang cengeng tapi dia tidak peduli. Karena pada kenyataannya. Memang benar, jika dirinya dan Akhyar tidak pernah terpisah jarak, ruang dan waktu dalam hitungan tahun.
Mereka selalu bersama-sama sejak kecil. Bahkan sampai mama Mega tidak ada, Akhyar lah yang menggantikan peran mama nya.
"Mau sampai kapan nangis nya?" Dewa yang kemudian duduk dan mengusap dua pipi yang sudah basah sejak tadi.
Dewa menaruh kepala Mega di bahunya. Setelahnya reda isak nya, Dewa membawa istrinya itu pulang.
.
.
Dua Minggu kemudian.
"Bagus banget kak, gaunnya." Mega yang membuka satu kotak berisi gaun pesta berwarna hitam dan sudah Dewa pesan di butik terkenal langganan keluarganya di kota itu.
"Kamu suka?"
Mega mengangguk suka.
"Sekarang kamu coba, muat nggak?" ledek Dewa.
Mega pergi mencoba gaun yang sengaja di pesan Dewa. Semua juga atas kerja sama dengan mamanya, karena terkait ukuran badan Mega yang hamil dan setiap harinya pasti mengalami peningkatan berat. Mamanya lah yang mengukurnya, supaya Mega tidak curiga.
Sengaja, dia menghadiahi satu paket tas kecil berwarna hitam, berikut sepatu tanpa hells berwarna hitam pula dan gaun pesta yang akan dia pakai untuk memberi kejutan ulang tahun Mega, yang istrinya sendiri bahkan lupa.
Mega keluar bathroom dan menyuruh suaminya melihat gaun yang dikenakan nya.
"Alhamdulillah... Pas." Dewa tersenyum mendekat dan memandangi lekat-lekat istrinya. "Kamu terlihat cantik sekali pakai gaun ini."
Mega tersenyum. "Gombal."
"Serius."
"Nanti ke yang lain juga bilang gitu."
Sadar, Mega meledek hubungan nya dengan Arumi. Membuat dirinya menggeleng kepala kecil sembari tersenyum.
"Kamu siap-siap ya."
"Loh, kita pergi nya sekarang?"
"Trus? Apa kamu nggak lihat? Aku sudah rapi begini?"
"Kenapa dadakan sih kak? Ke acara kondangan nya."
"Sudah kamu ikut aja. Aku ada surprise buat kamu." Kalimat terakhir yang dibisikkan tepat ditelinga Mega.
"Kejutan? Kejutan apa?"
"Dandan yang cantik!" Dewa keluar kamar dan turun.
Ya, semua sudah menunggu di restoran milik tantenya. Acara makan malam kecil-kecilan untuk seluruh keluarga dekat dan tentunya ada kue ulang tahun dan hadiah-hadiah yang sudah menanti Mega di sana.
Termasuk dirinya, sudah tentu memberi hadiah yang berkesan dan akan dikenang oleh Mega. Sepasang cincin pernikahan, yang dipesan khusus untuk mereka dan tersemat ukiran nama mereka berdua. Kenapa cincin? Karena cincin nikah mereka tanpa persiapan. Dewa bahkan bukan yang membelinya, mamanya yang beli dan semua belum terpikirkan waktu itu dan serba dadakan.
__ADS_1
Namun sekarang berbeda, hatinya berubah seiring berjalannya waktu. Meski tersemat pria plin plan untuk dirinya, yang tidak mampu menentukan satu wanita untuk terus menetap dan bergandengan bersama. Masih belum bisa. Namun upaya nya akan keras. Mencintai Mega sebesar mencintai Arumi. Dan meskipun sakit, pada akhirnya harus terpilih satu diantara mereka. Siap tidak siap.
Sepasang mata Dewa yang menjelajahi istrinya dari mata kaki hingga ujung rambut. "You are very beautiful."
Mega tersenyum.
Dewa mengulurkan tangan untuk digandeng wanitanya.
Mega pun menautkan dan akhirnya tangan mereka menyatu, berjalan bersama menuju mobil.
"Hah? Harus ditutup begini," protes Mega karena tidak suka matanya di tutup.
"Ssst! bumil diem aja." Dewa yang sibuk mengikat penutup mata untuk istrinya.
"Kita mau kemana sih kak?"
"Ada deh."
"Mau ke telaga biru?"
"Ck, kamu ada apa dengan telaga biru sih? Pasti itu tempat kencan kamu sama Satrio," tuding Dewa asal.
"Enggak..." jawab manja Mega.
"Ya udah, bumil duduk manis aja dulu. Sebentar lagi kita sampai. Ini nggak ada hubungannya dengan telaga biru."
"Okay," jawab Mega.
Tidak lama mobil mereka pun sampai. Dewa membawa keluar Mega dengan mata yang tertutup.
"Kita udah sampai."
"Kenapa aku jadi deg-degan gini sih kak? Tuh kan aku deg-degan." Mega yang berhenti berjalan, karena jantungnya terpacu cepat. "Kita mau makan malam ya?"
"Udah, nanti kamu akan tahu sendiri." Dewa yang menggenggam kedua tangan Mega yang sudah berkeringat.
"Apa sih kak? Jangan main teka-teki gini dong." rengek Mega berharap bocoran.
Mega menangis terharu. Melihat kekompakan keluarga Dewa yang benar-benar tidak memandang strata dirinya siapa. Dipeluk suaminya dan dihujani kecupan dan semuanya penuh makna.
Seperti pada ulang tahun umumnya, berdoa dan meniup lilin diikuti nyanyian selamat ulang tahun, adalah hal yang tidak akan Mega lupakan. Dan semua itu berkat suaminya. Suami yang dulu dia kenal angkuh, sekarang kata itu luntur dan berganti dengan suami romantis meski plin plan. Ya, plin plan karena sampai sekarang hati Dewa terbelah antara Arumi dan dirinya.
Satu persatu keluarga Dewa memberi selamat kepada Mega. Dan semuanya berlanjut menikmati makan malam. Sama halnya, Mega dan Dewa yang berada di meja paling sudut.
"Kamu suka sayang?"
Mega mengangguk tersenyum. Dan setelah nya kaget, karena Dewa meraih jari manisnya yang tersemat cincin pernikahan mereka. Perlahan melepasnya.
"Kok dilepas?"
"Aku sudah siapkan gantinya sayang." Dewa membuka kotak cincin yang dibawanya. "Dan cincin ini ada nama kita berdua."
"Em... co cweet," ucap manja Mega.
Dewa menyematkan cincin pernikahan mereka yang baru. Dan setelahnya mengecup jemari istrinya itu yang merembet bermuara pada kening Mega.
"Terimakasih ya kak."
"Iya, sama-sama."
Usai mereka merayakan ulang tahun Mega. Acara pun selesai dan mereka pulang ke rumah.
Dert... Dert
Suara ponsel Mega yang tidak biasanya malam-malam berbunyi.
"Satrio," gumam Mega terkejut dengan panggilan telepon dari Satrio.
__ADS_1
"Siapa?"
Mega tidak menjawab kata, namun memperlihatkan layar ponselnya.
"Satrio... Angkat!" Dewa menyuruh Mega untuk mengangkat telepon dari adiknya.
Mega yang hendak menempelkan benda pipih persegi panjang itu ke telinganya. Namun tiba -tiba saja Dewa menariknya dan membawa mereka duduk di atas ranjang dengan ponsel yang di loud speaker.
"Hallo sayang, selamat ulang tahun ya." Kalimat pertama Satrio yang terdengar.
Mega masih belum pulih dari keterkejutannya. Tidak percaya Satrio akan memberinya ucapan selamat ulang tahun padanya.
"Sayang?"
"Iya, iya. Terimakasih sayang," jawab gugup Mega yang kemudian melirik ke arah Dewa yang tampak jealous nya.
"Apa kado ku sudah sampai?"
"Ka-kado?"
"Iya, aku menyuruh teman kampus. Suruh mengirimkan ke rumah mu. Namun aku juga belum dapat kabar dari dia."
"Em..." Mega panik. Dewa juga tertular panik. "Em- aku, aku," Mega tergagap.
"Kamu kenapa sayang? Sakit?"
Mega pusing tujuh keliling. Karena tanpa persiapan kata dan tentunya bingung harus menjawab bagaimana karena ada Dewa kakaknya Satrio yang kini jadi suaminya. "Enggak, aku nggak sakit."
"Kamu sedang apa?"
Dewa menyuruh Mega menjawab tidur, supaya percakapan mereka selesai. "Tidur," jawab cepat Mega.
"Kamu tidur dimana?"
Mega panik, menatap suaminya begitu sebaliknya.
Dewa sudah tidak tahu harus berkata apa. Biar Mega aja yang menjawab semua pertanyaan dari Satrio.
"Ya di rumah dong sayang." Mega langsung menutup mulutnya, karena kelepasan memanggil Satrio sayang.
Dewa melengos. Cemburu.
"Di rumahnya siapa? Kalau dirumah kan harusnya tahu, paket kado dari aku sudah dateng apa belum?"
"Itu dia sayang," kelepasan lagi. Menutup mulut lagi. Mengatakan kata sayang. "Masalahnya aku tidak tidur di rumah. Aku di rumahnya saudara. Karena kak Akhyar pergi ke Jerman."
"Oh... Ya udah besok kamu cek ya. Kamu kabari via email aja. Takutnya kalau aku sibuk kuliah."
"I-iya sayang," menutup mulut lagi. Kelepasan bilang sayang lagi.
Tut Tut tut
Sambungan seluler mereka terputus. Diikuti nafas lega dari Mega.
"Pasti kalau tidak aku loud speaker, kamu lebih mesra dari itu."
"Kakak bahkan lebih mesra dengan Arumi."
Iya juga sih.
Mereka hanya telpon-telponan aja, telinga ku udah sakit.
Apalagi nanti kalau mereka melakukan hal serupa seperti aku dan Arumi.
Bagaimana dengan hatiku?
beraninya dalam hati.
__ADS_1
Dewa gelisah seakan tidak siap dengan waktu itu.
BERSAMBUNG