Aku Tidak Siap

Aku Tidak Siap
Happy Valentine's day


__ADS_3

"Sayang ... Sayang ..." Dewa berusaha menghentikan istrinya. "Sayang kamu salah paham sayang." Dewa lagi-lagi ingin Mega mengerti, jika kehadirannya untuk Arumi itu hanya sekedar karena ucapan terimakasih pula kepada Arumi yang telah menerima keputusannya yang sepihak. Karena itu tidak mudah. "Misal aku meninggalkan kamu setelah anak kamu lahir dan memilih dia, bagaimana perasaan kamu?" Pertanyaan Dewa sontak membuat Mega berhenti.


Entah apa yang dipikirannya? Dia hanya tiba-tiba merasakan sesak yang menjalar karena perutnya yang membesar.


"Begitulah perasaan Arumi. Dia bisa terima untuk bukan hanya aku saja, tapi kamu juga, kita sama-sama tidak tepati janji ke dia yang membuat hatinya hancur. Hanya perhatian kecil saja yang aku berikan dimana aku datang ke rumah sakit dan itu membuat nya tersenyum, rasanya tidak sebanding dengan kebahagiaan kita."


"Bukankah kakak yang janji? Aku tidak."


"Okay, iya. Aku yang salah kamu tidak. Tapi tolong sayang, jangan kita ribut hanya gara-gara permasalahan sederhana seperti ini."


"Sederhana dan biasa menurut kakak, menurut Mega tidak biasa dan complicated."


Dewa meraih jari istrinya. "Percayalah, kali ini aku benar-benar lupa setelah mama nya Arumi mengajak bicara panjang lebar."


Mega masih dengan air matanya yang menetes.


Sedangkan Dewa berusaha meraih kepala istrinya untuk dia letakkan pada bahunya. Namun Mega memilih masuk bathroom dan membasuh wajahnya dengan air keran.


Dewa pasrah karena dia salah.


Air mata Mega terus mengalir bersamaan menyatunya dengan air keran. Jika mengingat akhir-akhir ini, Dewa memang mengesampingkan segala apapun terkait istrinya sendiri dan memilih menjaga perasaan Arumi.


Terbukti, makan malam yang dia buat sendiri. Yang harusnya mereka berdua pulang dengan rasa bahagia, berubah perang dingin menimbulkan keributan yang tak bisa dihindari. Mega masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan suaminya. Tidak mengerti pula, mengapa Dewa begitu mudah melakukannya dan minta maaf lalu mengulangnya.


Kata putus itu seolah tak berarti apa-apa. Tidak bermakna, jika keduanya saja, masih sering bersua dan sedikit banyak bernostalgia.


Jika saja Dewa tidak mengatakan nya, memilih dia dan anaknya, dirinya dan anaknya adalah masa depannya yang kesemuanya membuat dia terbang tinggi di atas cakrawala, Mega tidak sesedih malam itu.


Bayangkan saja, beberapa pesan dikirimnya dan panggilan juga dilakukannnya sampai restoran tutup menunggu suaminya. Dewa tidak tampak batang hidungnya, hingga dirinya memutuskan pulang sedang makanan hanya terhidang dan belum dia makan.


Mega dikejutkan dengan suaminya yang berdiri di depan pintu bathroom dengan kertas besar bertuliskan, I'm sorry honey, tentu dengan wajah yang mengiba supaya mendapat maaf dari Mega.


Mega tetap sama perasaan nya. Masih belum bisa, mengingat Dewa selalu mencari gara-gara. Sikap dingin Mega berlanjut, tidur memunggungi Dewa, dimana Dewa selalu berusaha mencairkan kebekuan diantara mereka.


Sengaja, Dewa lebih pagi berangkat kerja sebelum penghuni rumah bangun. Dia pergi ke florist dan memesan bunga segar yang diikat manis. Seratus tangkai mawar merah maroon sudah siap di kirim ke rumah.


"Suami mu mana? Nggak ikut sarapan?"

__ADS_1


"Sudah berangkat ma," jawab Mega sedih karena menurutnya, Dewa tidak serius untuk minta maaf. Pagi-pagi sudah berangkat kerja tanpa pamit yang padahal harusnya tidak menyerah minta maaf pagi ini dan keduanya bercengkrama. Namun angan tidak seindah realita. Yang membuat Mega tidak bersemangat makan pagi karena tidak ada suaminya. Biarpun keduanya sedang marah, itu terlihat baik saat satu meja ketimbang Dewa tidak duduk di sebelahnya.


Ting tung


Suara bel rumah berbunyi.


"Biar Mega aja ma." Mega kemudian berjalan dan menuju pintu utama. Alangkah terkejutnya jika terdapat seratus tangkai mawar merah maroon untuk nya. Terdapat juga secarik kertas yaitu dari suaminya yang mengucapkan hari valentine's day. Mega terharu. Air matanya turun dari atas dan melaju ke bawah meski tidak deras.


"Siapa Mega?"


"Ini, ma. Kak Dewa kirim bunga mengucapkan hari valentine's day."


Ibu Rahma tersenyum lebar. "Jadi dia sengaja berangkat pagi mau kasih kejutan?" Ibu Rahma geleng-geleng kepala tidak percaya. "Romantis juga dia," dengan senyum yang belum sepenuhnya terkunci.


Mega tersenyum karena membaca untaian kata-kata manis suaminya. Kesalahan-kesalahan yang diperbuat Dewa lenyap seketika. Ada perasaan bahagia bercampur walau dia tahu jika Dewa sering mengatakan hal gombal yang ditulisnya.


Masih tidak hanya seratus tangkai bunga segar itu saja, Dewa masih menghujani Mega di siang harinya dengan kiriman cokelat Toblerone dan Silverqueen yang tersusun rapi dalam bentuk bucket bunga. Berikut kata-kata permintaan maaf Dewa yang tidak berhenti di satu kertas yang tadi lebih dulu dikirimnya bersama bunga.


Membuat Mega lagi-lagi tidak bisa mengunci bibirnya yang sejak tadi tersenyum cerah. Dewa sangat pintar membuatnya luluh dengan segala cara yang dia upayakan untuk mendapat kata maaf darinya.


Dan apakah sampai disitu? Tidak. Dewa masih meminta tolong mama dan papanya untuk membawa Mega makan malam yang sudah dia siapkan di hotelnya sendiri. Makan malam di cafe hotel Mediterania, yang tentunya diiringi lantunan piano menyambut hari valentine's day malam itu.


"Happy valentine's day sayang. Cup," ucap Dewa manis dengan kecupan yang bermuara pada kening nya.


Sedangkan Mega, tentu bahagia perasaannya. Merasa dirinya spesial dimata suaminya, merasa menjadi wanita paling istimewa di hati Dewa.


Keduanya kemudian menikmati makan malam romantis mereka. Berdansa sebisanya, mengingat perut Mega sudah besar dan semakin sesak nafasnya.


"Kamu cantik sekali malam ini," lirih Dewa yang kemudian jarinya menyelipkan rambut istrinya ke belakang telinga.


"Gombal."


"Serius."


"Bilang aja. Sayang, kamu terlihat gendut dan chubby pipi mu."


Dewa tertawa, karena itu benar adanya. Dua pipi Mega terlihat chubby seperti pumpkin yang terbelah.

__ADS_1


Mega mencubit gemas perut suaminya, yang kemudian mereka tertawa hangat malam itu. Menikmati malam valentine's day dengan dekapan hangat Dewa dari belakang. Dimana kaki keduanya bersamaan bergoyang mengikuti alunan piano malam itu.


"Aduh pa, sakit pa kepala mama," kata ibu Rahma yang meminta duduk saat mereka berdansa.


"Mama, tunggu disini sebentar. Papa panggil Dewa untuk kita lebih baik pulang." Pak Hendarto yang kemudian berjalan ke arah Mega dan Dewa yang tengah menikmati alunan musik. Pak Hendarto memberitahu Dewa yang kemudian mereka putuskan untuk melarikan ibu Rahma ke rumah sakit.


Situasi berubah panik. Dimana ibu Rahma menangis histeris karena kepalanya sakit saat diperiksa oleh dokter di rumah sakit.


Mega dan Dewa tidak kalah mondar-mandirnya seperti pak Hendarto. Cemas menunggu dokter selesai memeriksa istrinya.


"Bagaimana Dok?" tanya pak Hendarto kepada dokter yang baru saja keluar.


"Kami belum bisa simpulkan pak, untuk sementara sudah saya beri suntikan dimana akan meredakan sakit yang diderita ibu Rahma. Sekarang beliau sepertinya sudah agak tenang dan biarlah istirahat. Besok, baru kami ketahui hasilnya dari berbagai rangkaian pemeriksaan yang paginya akan dilaksanakan."


"Terimakasih dok." Pak Hendarto kemudian masuk ke dalam ruangan, yang diikuti Mega dan Dewa.


"Mama sakit apa pa?" tanya ibu Rahma yang terbaring di tempat tidur pasien.


"Masih belum tahu. Besok pagi mama baru diperiksa lanjutan dan setelahnya akan disimpulkan mama sakit apa."


"Nggak biasanya lho pa, kepala mama sakit sampai seperti ini. Biasanya palingan juga sakit, dikasih obat kepala juga sembuh."


"Ya udah nggak apa-apa. Sekarang mama istirahat aja. Jangan ada beban pikiran. Dan kamu Dewa, sebaiknya bawa pulang istri kamu, sudah malam. Tidur di rumah aja. Biar papa yang jaga mama. Besok papa akan ambil libur."


"Iya pa. Mama istirahat ya. Cup." Pamit Dewa yang kemudian mengecup punggung tangan mama nya.


Begitu juga Mega yang pamit pulang ke rumah dan mereka akan kembali esok hari.


.


.


Di rumah sakit.


"Apa? Tumor otak?" Pak Hendarto tidak percaya dengan hasil pemeriksaan istrinya. Dadanya terasa nyeri. Yang kemudian Dewa mengetuk ruangan dokter dan akhirnya tahu jika mamanya di vonis tumor otak.


Pak Hendarto terdiam sejenak. Menghela nafas panjang dan mengeluarkan nya perlahan.

__ADS_1


"Papa sabar ya pa. Nanti kita cari rumah sakit terbaik untuk kesembuhan mama," ujar Dewa yang tidak kalah sedihnya saat itu.


BERSAMBUNG


__ADS_2