Aku Tidak Siap

Aku Tidak Siap
2 hari Satrio di rumah


__ADS_3

Esok harinya.


"Pagi semua," sapa Satrio yang mengecup kening mama nya saat semua berkumpul di meja makan tanpa Mega.


"Pagi sayang," balas ibu Rahma dengan senyuman di bibirnya.


"Kakak berangkat kerja kak?"


"Hem."


"Satrio ikut ya? Bosan di rumah."


Sebenarnya Dewa senang mendengar hal itu dari adiknya. Ketimbang takutnya mendengar sesuatu yaitu Mega yang tengah sibuk dengan aktifitas di dalam kamarnya. "Ya udah ikut aja."


"Sip."


Mereka kemudian melanjutkan makan pagi dan semua bergegas di mobil masing-masing tak terkecuali pak Hendarto.


Namun saat sedang berada di garasi dan Satrio mencari sepatu sneaker nya. Satrio tidak sengaja melihat sepatu elegan dan dia yakin bukan milik mama nya, meskipun ada sepatu mama nya juga yang dia yakini. Namun Satrio tidak menyuarakan apa yang dilihatnya.


"Buruan!" teriak Dewa.


"Iya kak." Satrio kemudian masuk mobil Dewa. Pertama tidak ada hal aneh yang dilihatnya, namun setelah mobil berjalan. Ternyata banyak hal janggal setelah di sadari nya. Terdapat bantal unyu berwarna pink muda yang kilahnya Dewa untuk tidur dia di dalam mobil. Padahal jika dilihat di platform belanja adalah untuk sandaran pada tulang ekor ibu hamil.


Belum lagi, kakaknya yang berubah haluan dari genre musik di dalam flash disk nya. Berubah melankolis cenderung sendu padahal biasanya suka musik kebarat-baratan. Yang Satrio bisa menyadari, jika ada perubahan pada kakaknya dengan selera musiknya.


Sesampainya di hotel.


"Kamu keliling aja dulu. Lihat-lihat hotel kakak. Di sana tuh ada pemandangan bagus banget, kamu pasti betah di sana. Ada tempat duduk bersantai nya juga di sana," ucap Dewa dengan jari telunjuk yang mengarah pada sisi sebelah utara hotelnya. Dimana terdapat pemandangan yang masih alami bahwa hotelnya sangat menyatu dengan alam.


Gemericik aliran sungai terdengar di bawah sana. Belum lagi bebatuan berbagai ukuran dan tampak masih belum tersentuh, sangat kental nuansa alaminya membuat mata termanjakan oleh panorama.


Dewa langsung bergegas menuju ruang kerja nya. Yang dimana dia menjawab sapaan dari pegawai hotel berikut bagian resepsionis yang mengucapkan selamat pagi kepadanya.


Dewa langsung menyembunyikan satu bingkai foto berisi dirinya dan Mega. "Jangan sampai Satrio tahu," lirihnya disela-sela menyembunyikan bingkai foto tersebut.


Sementara Satrio berkeliling hotel. Setelah cukup lama, Satrio memilih tempat sejuk di sisi utara. Mengangkat unsur alam dan tidak jauh beda seperti di Bali. Begitulah hotel kakak nya yang ia rasakan.


"Kamu di sini?" tanya Dewa yang kemudian menghampiri.


"Eh, nggak tahu kenapa. Suka aja di sini."


"Benar kan kataku? Lihat pemandangan air dan bebatuan di bawah sana itu udah adem aja rasanya."


"Iya kak, kakak benar."

__ADS_1


Keduanya berlanjut layaknya pria dewasa yang membicarakan banyak hal, hingga sesekali salah satu diantara mereka pasti ada yang tertawa terbahak dengan pembicaraan mereka. Hingga akhirnya Satrio tersadar. Tentang penyakit yang diderita mama nya yang terlupa akan dibahas dengan kakak nya.


"Kenapa kalian semua sembunyikan sih? Penyakit mama dari aku." tanya Satrio yang membuat Dewa kemudian meletakkan cangkir kopinya.


"Kita nggak bermaksud sembunyikan. Papa hanya tidak mau aja. Kalau ada apa-apa dengan kuliah kamu saat kamu tahu mama sakit. Kamu jadi cemas dan terlalu khawatir berlebihan."


"Hanya itu alasannya?"


"Ehem."


"Menurut kakak sakit mama gimana?"


"Belum sampai ke kanker. Dan untungnya sudah di ketahui sejak dini. Jadi, jika kita melakukan pengobatan rutin, insya allah mama bisa sehat kembali."


"Iya, kasihan mama. Biasanya dia aktif liburan dan suka hangout sama keluarga dan teman-teman. Sekarang dia harus terkurung di kamar."


Dewa tersenyum ragu.


Bukan mama aja kali, Mega juga.


Sama terkurung nya.


batin nya.


"Oh ya, apa ini hasil dari lamaran dengan Arumi?" Satrio mengangkat jari manis kakaknya yang tersemat cincin.


"Kan baru tunangan kak, harusnya di sini," tukas Satrio menggenggam jari manis kakaknya sebelah kiri.


"Halah sama aja," timpalnya lagi.


Satrio tertawa kecil sembari menggelengkan kepala. Berkali-kali melihat ponselnya dan nihil, Mega tidak membaca pesan yang dikirimkan bahkan ponselnya tidak kunjung dinyalakan sehingga tidak aktif.


"Kenapa?" tanya Dewa yang melihat adiknya resah setiap kali menatap layar ponsel.


"Nggak apa-apa. Bingung aja sama Mega, cewek aku. Kakak belum sempet kenalan ya?" tanya Satrio yang membuat resah pada diri adiknya merembet di bagian tubuh Dewa.


"Siapa? Nama nya Mega?" pura-pura kaget. Padahal jelas-jelas dibuntingi.


"Iya kak, nama nya Mega. Nantilah aku kenalin kakak sama dia."


"Hem..." jawab Dewa manggut-manggut. Dengan mengalihkan wajah menatap ranting jatuh ke aliran sungai dibawah sana.


"Masalahnya, Mega tiba-tiba susah dihubungi dan hpnya tidak aktif kak."


"Oh ya? Kamu cinta banget sama dia?" telisik Dewa yang ingin tahu dalam nya cinta Satrio ke Mega.

__ADS_1


Satrio tersenyum halus. "Cinta banget sih. Nanti selesai wisuda. Aku mau ajak nikah dia."


Deg


Jantung Dewa terasa berhenti. Dan masih belum pulih malah bertambah nyeri. Belum bisa menimpali, yang baru saja adik nya katakan terkait perempuan yang saat ini menjadi penguasa hati.


Takut, takut akan bagaimana keadaanya nanti. Takut melihat hati adiknya tersayat dan tersakiti. Tidak tega. Rasanya baru saja mereka menyakiti Arumi. Dan itu sulit sekali. Lalu bagaimana nanti dengan Satrio? Apakah akan rela begitu saja? Atau merebut hati Mega darinya? Sungguh, Dewa tidak tahu dan tidak siap sekedar untuk membayangkan nya.


"Kamu tidak berniat sampai S3?"


"Ada sih kak, sempat aku terpikir ke arah itu. Tapi nggak tahulah nanti. Takut aja kalau Mega diambil orang lain," jawab Satrio yang terlihat jika dia benar-benar tulus mencintai Mega.


Duh... Sat.


batin Dewa nelangsa mendengar alasan adiknya. "Misal dia diambil orang lain, bagaimana?" tanya Dewa ragu yang mengulik jauh, hati paling dasar Satrio.


"Maksud kakak?"


"Iya, misal aja dia nggak ngomong kalau udah nikah." Dewa yang sambil garuk-garuk dahi.


"Apa an sih kak? Ngaco deh." Satrio yang tidak suka andai-andai kakaknya itu.


"Ya misal aja ... trus bagaimana perasaan mu?" Masih belum berhenti Dewa mengorek sepenting apa Mega bagi Satrio.


"Ya aku bunuhlah suaminya," dengan keras dan lantang Satrio mengatakan. "Biar dia jadi janda, trus aku kawinin. Hahaha..." Kelakar Satrio yang awalnya membuat Dewa ternganga, namun saat Satrio menyuarakan tawanya, perlahan ketegangan meluntur.


"Beneran kamu bunuh?" tanya Dewa serius meskipun tahu adiknya tertawa keras.


"Hahaha... ya nggaklah, ntar aku masuk penjara lagi."


"Trus kamu apakan?"


"Apakan ya?" Satrio menoleh ke Dewa seolah menanti jawaban untuk diberi masukan. "Lagian juga Mega nggak mungkin mau kak, orang kita udah janji kok. Aku selesai studi, aku nikahin dia. Dan aku yakin, dia pasti nunggu. Jadi nggak mungkin dia nikah sama orang lain," jawab Satrio dengan sangat yakin jika Mega tidak menikah dengan orang lain. Namun kenyataannya, semua bertolak belakang. Dan Mega sudah menjadi istrinya. Terlebih sebentar lagi, mereka akan dikaruniai buah hati.


"Ini kak, Mega." Satrio menggeser ponselnya ke arah Dewa. Dimana foto mereka terpampang nyata menjadi wallpaper ponselnya.


Dewa terkesima untuk sementara. Memperhatikan dalam-dalam foto mereka. Dimana sedikit perih, saat menatap mereka tampak bahagia tertawa lepas di foto tersebut.


"Gimana kak? Cantik kan Mega?" sembari tersenyum Satrio mengatakannya.


"Hem..."


"Waktu kakak pulang dari Melbourne. Aku ajak dia ke pesta kakak. Tapi papa sakit kepala mendadak dan aku harus antar papa ke rumah sakit. Pas malam nya aku kembali. Acara udah selesai dan sepi. Ya udah, aku nggak jadi kenalin dia ke kakak. Mega pulang naik taksi."


Dewa tersenyum getir. Teringat betul jika malam itulah yang membuat keadaan menjadi seperti sekarang. Sekarang mereka sudah menjadi suami istri dan terlebih lagi saling mencintai. Seperti nya memang takdir harus berkata demikian. Meski harus melalui cara yang salah dan menyakiti kekasih masing-masing.

__ADS_1


"Eh, kita makan siang yuk," ajak Dewa kepada adiknya. Memutus paksa ingatan perih yang hanya Satrio saja yang belum tahu.


BERSAMBUNG


__ADS_2