Aku Tidak Siap

Aku Tidak Siap
Lipstik


__ADS_3

Setelah Dewa berangkat kerja, Mega kemudian mengemas beberapa barang untuk dia masukkan dalam koper. Dengan bantuan bibi yang dimana di suruh Mega untuk mengambil koper yang diletakkan Dewa di atas lemari pakaian untuk di letakkan di dekat lemari pakaian.


Mega sudah selesai memindahkan banyak helai pakaiannya ke dalam koper. Namun saat membuka lemari pakaian milik suaminya, Mega dikejutkan dengan satu bok cukup besar yang berisi kenangan Dewa dengan Arumi terkait apapun. Kaos-kaos couple yang bertuliskan dari nama mereka masing-masing. Topi juga demikian, sengaja di cetak tulisan nama mereka Dewa love Arumi dan itu banyak sekali ia jumpai di box tersebut yang masih banyak benda lainnya di dalam wadah tersebut.


Yang awalnya Mega biasa menanggapinya, berubah cemburu detik itu juga. Bisa dikarenakan hormon kehamilan nya yang tidak menentu, akhirnya Mega menyuruh bibi untuk membakar saja semuanya di dekat taman belakang.


Ting


Suara ponsel bibi berdenting. Tanda pesan dari Dewa yang mengetes komunikasi dengan bibi untuk hari-hari berikutnya setelah Satrio pulang liburan.


Tes


bunyi pesan Dewa.


Bibi dengan maksud membalas pesan, mencoba ponsel yang dibelikan oleh Dewa dengan mengambil gambar barang-barang milik Dewa yang dibakar.


"Apa an nih?" lirih Dewa terkejut dengan gambar bibi yang tengah bakar-bakar barang. Dewa seketika menghubungi bibi dan menanyakan apa yang dibakar itu.


Bibi kemudian menjelaskan lewat sambungan telepon. Dimana istrinya menemukan sesuatu dalam wadah dan memintanya untuk dibakar saja barang-barang tersebut.


"Astaghfirullah... kenapa aku lupa ya?" Dewa yang gemas dengan dirinya sendiri. "Mega pasti cemburu itu," imbuhnya yang kemudian menuju mobil untuk pulang ke rumah detik itu juga.


Ibu Rahma juga batuk-batuk menghirup asap api yang membumbung tinggi. "Apa itu Mega?"


"Oh, itu barang-barangnya kak Dewa dan Arumi ma."


"Hah? Dewa masih menyimpan nya?" Ibu Rahma yang kemudian geleng-geleng kepala.


Sementara beberapa saat kemudian, Dewa sudah memanggil istrinya dari kejauhan.


"Keterlaluan sekali sih kamu. Masak masih menyimpan barang mantan?" celetuk ibu Rahma saat putra nya melintas di depan nya.


"Dewa lupa ma," timpalnya sambil jalan menaiki anak tangga menuju lantai dua. "Sayang, pakaian ku biar aku aja yang kemasi." Dewa yang berusaha menyuruh istrinya untuk berhenti melipat pakaian yang akan di bawanya ke hotel.


"Kakak takut? Kalau ada barang mantan lagi yang masih tertinggal atau sengaja disimpan di lemari pakaian?" jawab Mega dengan sangat lancar dan terlihat kurang nyaman. Fix Mega kesal.


"Enggak, nggak, bukan begitu sayang. Maksud ku adalah kasihan sama kamu, karena barang ku banyak." Dewa yang masih menyisakan benda keramat yaitu kalung yang berisi foto dirinya dan Arumi. Fix jika Mega berhasil menemukannya di dalam laci lemari, tamat dia.


Dan benar, seakan semesta mendukung ketakutannya. Mega perlahan membuka laci dan menemukan kotak hitam layaknya tempat perhiasan. "Apa ini?"


Dewa tidak menjawab, dia diam saja dan sudah merasakan getaran pekikan perlahan yang akan disuarakan istrinya.


"Apa ini kak?" tanya Mega yang kemudian menyerahkan kotak mungil itu kepada suaminya.

__ADS_1


"Ini kalung yang sudah nggak penting sayang, biar sekalian aku bakar." Dewa yang hendak keluar kamar.


"Tunggu kak, boleh Mega lihat?"


"Buat apa? Kamu tahu barang-barang yang semua tulisan ada nama nya saja sudah kamu bakar. Apalagi ini?" Dewa menggenggam erat saking kesal teramat, mengapa sampai abai dengan hal-hal demikian.


"Aku hanya ingin tahu aja kak?"


"Janji nggak marah?" sahut Dewa cepat.


Mega tersenyum. "Iya, nggak..."


Dewa kemudian membuka kotak mungil tersebut. Dia lantas mengambil kalung yang dimana kalung tersebut berbentuk hati dan bisa dibuka yang diisi oleh foto dirinya dan Arumi.


Mega cukup ternganga.


Dewa segera menutupnya, sadar jika benda itu bisa membuat perih mata Mega. Dewa kemudian pergi membuangnya di atas kepulan asap yang apinya belum sepenuhnya padam.


Mega melihati suaminya melakukan itu dari jendela atas kamarnya. Ada guratan senyum yang timbul, seakan semakin hari Dewa membuktikan bahwa hati suaminya benar-benar miliknya dan bukan milik wanita itu lagi.


.


.


Setelah packing selesai. Keduanya pamit ke mama nya. Jika mereka akan tinggal sementara di hotel.


"Iya ma, perasaan ku nggak enak, takut Satrio berubah pikiran dan pulang dadakan dari liburan."


"Ya udah, hati-hati ya. Jaga istri kamu." pesan ibu Rahma.


"Iya ma, mam juga jaga kesehatannya. Jangan banyak pikiran. Dan kalau ada apa-apa, hubungi Dewa."


Baru saja lima menitan mobil Dewa keluar dan Satrio menoleh melihati mobil kakaknya itu keluar dari rumah nya.


"Assalamualaikum ma," Satrio yang melepas sneaker dan meletakkan ke rak sepatu. Dilihatnya sepatu tanpa haq dan terlihat elegan itu sudah tidak ada ditempat. Sedangkan milik mama nya juga tidak berubah posisi. Masih di posisi semula tidak bergeser dan tidak berpindah. Satrio hanya membatinnya dan tidak pula menanyakan ke mama nya.


Ibu Rahma ternganga. Dia pikir Dewa yang kembali lagi ternyata Satrio yang pulang dari liburan. "Wa alaikum salam sayang, Satrio ... Bukannya kamu harus nya masih di Bali." Ibu Rahma yang belum pulih dari rasa terkejutnya.


"Iya ma, tapi Satrio pulang duluan. Satrio nggak semangat ma, liburannya, karena tidak ada Mega. Mega juga tidak ada kabar sejauh ini."


Ibu Rahma ikut tertular sedihnya Satrio. Merasa bersalah ikut menyembunyikan kebohongan persoalan pernikahan Mega dan Dewa.


Maafkan mama ya Sat.

__ADS_1


Mama adalah salah satu orang yang mendukung hubungan kakak mu dan Mega berlanjut.


Tolong yang Sat, nanti kamu paham dan bisa menerima.


Alasan semua masih menyembunyikan itu juga demi kebaikan kamu Sat.


batin ibu Rahma melihati punggung putranya berjalan lesu dan murung.


Sepasang mata Satrio menemukan lipstik tergeletak begitu saja.


"Apa Sat?" tanya ibu Rahma, mengapa Satrio berdiri tidak jauh dari depan pintu kamar kakak nya.


"Lipstik ma," jawab Satrio mengingat samar setelah dia memperhatikan betul tentang lipstik yang ditemukannya. Memutar waktu dimana dirinya dan Mega akan keluar untuk menikmati malam. Terlihat jika Mega sibuk memulas lipstik di bibirnya dan samar-samar seperti yang berada di tangan nya kini.


"Punya mama, mama mencarinya." Ibu Rahma membuyarkan lamunan Satrio yang teringat Mega saat itu. Ibu Rahma kemudian mengambil lipstik tersebut dari Satrio.


Seketika Satrio tersadar. Lalu pergi ke kamar.


Ya ampun... ceroboh sekali sih mereka.


Untung, mama bisa menyiasatinya.


Dan untung Satrio tidak tahu.


batin ibu Rahma. Yang senam jantung sejak kedatangannya Satrio pulang ke Indonesia. Ibu Rahma kemudian menghubungi Dewa. Memberitahukan jika benar firasatnya terkait kepulangan liburannya Satrio.


"Alhamdulillah syukurlah ma, aku tadi cepat bawa Mega keluar dari rumah. Kalau telat dikit aja, wassalam."


"Iya kamu benar."


"Lain kali juga jangan ceroboh untuk Mega. Lipstik dia terjatuh di depan kamar. Dan Satrio yang menemukan."


"Hah?" seketika Dewa menoleh ke istrinya karena terkejut mendengar apa yang disampaikan mamanya.


"Tapi mama udah amanin kok, cuma lain kali kalian lebih hati-hati aja," pesannya yang coba di suarakan oleh ibu Rahma.


"Iya ma, terimakasih."


Dewa kemudian memberitahu Mega terkait lipstiknya.


"Hah? Masak sih kak?" Mega yang panik dan langsung mengecek tas bertali nya. Setelah dia cek, benar. Jika memang lipstiknya kemungkinan terjatuh dari tasnya.


"Udah nggak usah panik. Mama udah amankan dari Satrio. Satrio ternyata melihat mobil kita keluar dari rumah.

__ADS_1


Mega kembali tercengang. Jantungnya berdegup tidak karuan. "Dia nggak lihat kita kan kak?"


"Sepertinya enggak."


__ADS_2