Aku Tidak Siap

Aku Tidak Siap
Mega melahirkan


__ADS_3

Mega langsung masuk lagi ke toilet dan untungnya masih sepi. Memang di toilet tersebut jarang terlihat ada orang berlalu lalang. Lain halnya di depan mushola yang terdapat jalan menuju ke dalam rumah sakit lewat pintu belakang, jika memarkir kendaraannya di belakang.


Nafas Mega serasa tercekik saat itu juga. Bagaimana tidak? apa yang akan dia lakukan?jika kekasihnya itu tahu kalau perutnya besar dan tentunya mengandung. Belum lagi jika Satrio akhirnya tahu, jika nama kakaknya lah yang merenggut mahkotanya malam itu dan membuat mereka akhirnya menikah dan sampai sekarang. Sama-sama ingin mempertahankan pernikahan mereka, dimana anak dalam kandungannya lah yang membuat ikatan diantara mereka berdua.


Mega menyandarkan seluruh punggungnya pada pintu toilet. Terdengar langkah kaki yang perlahan sampai pada selaput telinga Mega. Detik itu juga dia memejamkan mata dan seluruh syaraf dalam tubuhnya melemas karena dikuasai rasa takut.


Terdengar pintu ditutup dan Mega yakin jika Satrio lah yang masuk di dalamnya. Karena memang hanya ada dua toilet yaitu satu toilet wanita dan satu lagi pria.


Namun saat kedua mata Mega dia buka perlahan, ada seekor kecoak yang terbang hinggap di atas perut nya. Seketika dia berteriak karena terkejut. Hingga membuatnya terpeleset karena lantai nya terbilang licin.


Mega mengerang kesakitan. Perutnya berkontraksi dan sepertinya air ketuban pecah. Mendadak wajahnya pucat karena tidak kuat menahan perutnya yang sakit luar biasa.


Satrio mendengar itu. Teriakan seorang wanita di toilet sampingnya. Dia mencoba mengetuk pintu toilet yang di dalamnya adalah Mega yang air ketuban nya sedang pecah.


Mega tidak kuat berdiri, karena menahan sakit pada perutnya.


"Mbak ada apa?" tanya Satrio setelah mengetuk pintu toilet tersebut.


"Nggak apa-apa mas," jawab Mega sembari menahan rasa sakit luar biasa. "Bisa minta tolong mas?"


"Iya mbak, meminta tolong apa?"


"Tolong panggilkan suster untuk ke toilet ini," Mega menangis antara sakit dan ketakutan. "Mas..." panggil Mega lagi.


"Iya mbak."


"Tolong setelah perawat kesini, anda pergi, karena saya malu. Sepertinya saya mau melahirkan dan air ketuban saya pecah," imbuh Mega dengan menangis tanpa suara yang sungguh deras.


Ya, dia sengaja berkata jujur, karena Satrio tidak mungkin mengira jika yang di dalam toilet adalah dirinya. Dengan jujur air ketubannya pecah dan mau melahirkan, pasti membuat Satrio akan langsung menjalankan permintaannya karena Satrio akan mengira hanya seorang perempuan yang jatuh di toilet dan mau melahirkan. Singkatnya, Satrio tidak mungkin mengira jika itu dia. Karena Mega baginya, tidak sedang perempuan hamil terlebih mau melahirkan.


"I-iya mbak, mbak kuat kan tapi?" Satrio yang ikut panik setelah tahu apa yang dialami oleh perempuan itu di dalam. "Apa perlu saya panggilkan suami mbak? dimana dia?"


"Enggak usah mas, cepetan!" dengan lengkingan suara karena Mega tengah kesakitan.


"Oke mbak, oke." Satrio kemudian berlari untuk menuju ruang unit gawat darurat dan memberi tahu apa yang terjadi. Salah satu perawat kemudian berjalan cepat menuju toilet yang diberi tahu Satrio.


Awalnya Satrio masih berdiri agak jauh, ingin melihat perempuan itu benar-benar tidak apa-apa. Namun mama nya memanggil dia dan akhirnya Satrio masuk ke dalam rumah sakit kembali.


Berbeda dengan Mega yang tentu memberi pertanyaan lebih dulu kepada perawat sebelum dia membuka pintu dengan kekuatan yang tersisa. Namun Mega lega, jika salah seorang perawat mengatakan jika tidak ada siapapun dan terlihat sepi.

__ADS_1


Mega sekuat tenaga membuka pintu barulah dia menyuarakan sakitnya sejak tadi. Perawat terkejut, karena bagaimana bisa Mega terjatuh. Mega kemudian dibawa perawat tersebut ke ruang bersalin. Disana Mega meminta suster menghubungi nomor Dewa yang untung dia hafal betul nomor suaminya karena sangat mudah.


Awalnya Dewa ragu, mengangkat panggilan dari nomor tidak dikenal. Namun tetap dia angkat dan alangkah terkejutnya dia, mendengar suara istrinya merintih kesakitan dan mau melahirkan.


Dewa langsung ke ruang bersalin dan pastinya menghubungi papa nya yang tiba-tiba terserang panik juga.


"Sayang... Sayang..." Dewa yang menggenggam erat jemari istrinya. Membelai rambut halus pada puncak kepala Mega. Menjalar mengelap dahi Mega yang berkeringat dan tidak tega melihat istrinya tengah melahirkan.


"Kak... Mega sudah nggak kuat," tangis dan teriak Mega bercampur detik, menit itu juga.


Dokter kemudian datang dan membantu persalinan.


Dewa tidak tahu harus berbuat apa selain berdoa dan berusaha ikut serta merasakan sakit yang di derita istrinya.


Sementara di ruang lain masih dalam rumah sakit yang sama.


"Lihat pesan Dewa ma." Pak Hendarto yang membuka ponselnya dan Dewa mengirim gambar dimana Mega tengah berjuang untuk melahirkan.


"Berarti mereka sedang berada di rumah sakit bersalin pa," jawab ibu Rahma panik. "Tunggu, tunggu pa. Bukankah harusnya masih bulan depan Mega lahirannya?" Ibu Rahma mendadak panik.


"Iya, iya." jawab Pak Hendarto yang sudah tentu pikirannya bercabang. "Bagaimana caranya menyuruh Satrio pulang ya ma?"


Mereka kemudian menghubungi Satrio, bertanya keberadaan Satrio yang ternyata tengah menebus resep dokter di apotik rumah sakit.


"Sat, mama ternyata ada pemeriksaan lanjutan. Dan sepertinya bakal lama sekali. Bagaimana kalau kamu pulang dulu sayang? Kamu kan juga tidak sehat badannya," kata ibu Rahma kepada putra nya.


"Nggak apa-apa ma, Satrio tunggu."


"Lama Sat, lagian juga ada papa. Ya kan pa?" papar ibu Rahma yang dijawab anggukan kepala oleh suaminya.


"Ya udah, kalau begitu Satrio pulang ya."


"Iya sayang, hati-hati ya. Istirahat. Jangan lupa makan," usap ibu Rahma pada punggung putra nya.


"Iya ma." jawab Satrio berjalan keluar loby rumah sakit dan terlihat sekali jika Satrio masuk mobil dan keluar dari area rumah sakit.


Keduanya bernafas lega, menyaksikan itu. Keduanya kemudian menyusul Dewa dan Mega di ruang bersalin.


"Dewa, Dewa bagaimana Mega?" tanya ibu Rahma panik. "Mega, kok bisa seperti ini? harusnya kan melahirkannya masih bulan depan?" ibu Rahma ikut tertular sakit seperti yang dirasakan Mega. Seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat, padahal ruangan ber AC.

__ADS_1


Mega kemudian menjelaskan jika bertemu Satrio waktu pergi ke toilet belakang mushola rumah sakit. Dia juga mengutarakan mengapa sampai air ketubannya pecah dan sekarang melahirkan lebih awal. Mega menjelaskan dengan terbata-bata bercampur erangan menahan rasa sakit pada perutnya.


Semua terkejut mendengar penuturan Mega.


"Astaghfirullah..." Dada ibu Rahma bertambah sesak mengapa bisa sampai begini.


Tiga jam berlalu dan Mega sedang menunggu pembuka@n akhirnya terjawab. Pembuka@n sudah seperti yang diinginkan dokter. Tidak lama suara bayi cantik, mungil, terlahir ke dunia.


Oeg oeg oeg


Suara bayi perempuan itu menggema ke seluruh sudut ruang bersalin.


Dewa, ibu Rahma dan pak Hendarto begitu terharu mendengar bayi mungil tersebut. Untungnya berat badan bayi mencukupi dan tidak lah prematur, meski secara usia belum waktunya lahir.


"Terimakasih sayang," ucap Dewa yang mencium kening Mega dalam dan penuh perasaan. Dewa menangis terharu, mengingat Mega berjuang menahan rasa sakit yang dia derita untuk melahirkan buah cinta mereka.


Kedua pipi Mega basah karena air mata bercampur rasa. Rasa haru, bahagia tentunya, sakit dan ada segumpal sedih di sudut hatinya, jika mengingat proses kelahiran putri nya yang tidak lain melibatkan kekasihnya yaitu Satrio.


Dewa mengadzani nya dengan rasa haru bercampur bahagia.


"Lihat sayang, dia cantik seperti kamu," ucap Dewa yang belum pulih melihat putri nya yang tidak dia sangka akan lahir lebih awal dari jadwalnya.


Mega ikut terharu melihatnya.


"Kamu kasih nama siapa sayang?" tanya ibu Rahma yang tidak kalah ingin menimang cucu pertamanya.


"Rania Dirgantara. Iya ma, Rania. Panggilannya Rania. Bagaimana sayang?" tanya Dewa ke Mega.


Mega mengangguk, tersenyum bahagia dan sangat percaya dengan Dewa terkait nama anak mereka.


Pak Hendarto dan ibu Rahma juga setuju dengan nama tersebut. Bahkan ibu Rahma tidak berhenti mengajak Rania bicara dengan bahasa bayi. Ibu Rahma yang tadinya kurang sehat, menatap dan menimang cucu pertamanya seolah bagai obat.


"Halo Rania, ini opa..." sapa pak Hendarto tak kalah gemas juga melihat cucunya. Yang dimana raut wajah ibu Rahma dan pak Hendarto terlihat sangat bahagia tiada tara.


Dewa terus membelai puncak kepala istrinya, mengecup kening berulang begitu juga dengan genggaman tangan yang tidak dia lepas seraya berkata, "Thank you mau sweety... Cup." entah berapa kali Dewa mengecup kening Mega dan yang kali ini, paling lama dan penuh arti.


BERSAMBUNG


__ADS_1


__ADS_2