Aku Tidak Siap

Aku Tidak Siap
Satrio kembali ke Inggris


__ADS_3

"Mama sama papa dari mana?" tanya Satrio kenapa satu harian rumah sepi. Padahal besok dia harus kembali ke Inggris.


"Mama sama papa habis dari tante kamu sayang," bohong ibu Rahma kepada Satrio. Padahal jelas-jelas jika dia tengah mengunjungi Rania di rumah sakit. Mengabarkan kepada Dewa dan Mega agar pulang besok saja dari rumah sakitnya, sekalian. Karena Satrio berangkat kembali ke Inggris.


"Oh, kirain kemana?"


"Mama sama papa istirahat dulu ya. Besok mama sama papa antar kamu ke bandara."


"Iya ma," jawab Satrio yang kemudian naik ke lantai dua kamarnya.


.


.


Esok hari.


Dimana pagi sekali bibi membereskan kamar tidur Dewa dan Mega yang akan pulang hari itu.


Satrio yang sudah berkemas dan hanya membawa koper kecil untuk dia bawa kembali ke Inggris. Tanpa sadar, dia melihat pintu kamar kakaknya itu terbuka. Satrio langsung masuk ke kamar perlahan. Dimana bibi tengah membersihkan dan merapikan area bathroom.


Langkah kaki Satrio semakin mendekat ke arah ranjang, nakas dan bingkai foto besar pernikahan Dewa dan Mega masih terpasang. Tidak ada yang berubah di area kamar mereka. Semua masih pada tempatnya.


"Sayang, yuk!" Ibu Rahma yang menepuk pundak putra nya. Untung saja dia cepat tahu kalau Satrio ternyata masuk ke kamar kakaknya. Karena sepertinya bibi sedang bersih-bersih untuk kedatangan Dewa dan Mega berikut Rania.


"Eh mama," jawab Satrio kaget.


Ibu Rahma sudah bergetar saja dadanya. Dia hanya berpura-pura untuk tetap tenang dimata putranya.


Mereka turun ke bawah untuk sarapan pagi lalu berangkat ke bandara.


Namun ditengah perjalanan. Satrio meminta papanya untuk membawanya ke hotel kakak nya. Dia ingin berpamitan kepada Dewa secara langsung.


Pak Hendarto tidak bisa menolak. Yang ada ibu Rahma dan pak Hendarto saling berbalas pesan. Dimana ibu Rahma meminta pak Hendarto berhenti di minimarket, supaya dia bisa menghubungi Dewa untuk segera siap-siap berangkat ke hotel, karena ibu Rahma yakin jika Dewa masih berada di rumah sakit.


"Pa, berhenti di minimarket sebentar ya, tenggorokan mama sakit pa. Mama mau beli permen pelega tenggorokan," tidak jujurnya ibu Rahma berkata demikian di depan Satrio.


"Okay ma." Pak Hendarto kemudian membelokkan rodanya dan menghentikan mobilnya di depan minimarket.


Ibu Rahma dengan segera keluar dari mobil dan menempelkan benda pipih persegi panjang itu di telinga nya. "Cepetan dong Dewa... angkat..." gerutu ibu Rahma karena Dewa lama sekali angkat ponselnya.


"Iya ma..." jawab Dewa dengan suara baru bangun tidur.


"Kamu lama sekali sih angkat teleponnya?"


"Maaf ma, Dewa habis begadang. Bantuin Mega."

__ADS_1


"Kamu segera ke hotel ya, adik kamu mau pamit balik ke Inggris."


"Dewa sudah di hotel sih ma. Mega tidak betah, lama-lama di rumah sakit. Mending tidur di hotel. Baru nanti pulang ke rumah kalau sudah aman."


"Baguslah kalau begitu, kamu siap-siap. Adik kamu mau ke hotel soalnya."


"Iya ma. Dewa tunggu."


Percakapan mereka selesai. Ibu Rahma sesuai dengan apa yang menjadi tujuannya, yakni membeli permen pelega tenggorokan. Setelahnya dia membayar di kasir barulah mereka semua ke hotel Mediterania.


Di hotel Mediterania.


Dewa melihat Mega dan Rania tengah tertidur lelap. Mengecupnya hangat dan lama pada kening istrinya.


Mega merasakan, jika suaminya tengah mencium keningnya. Dia perlahan membuka matanya.


"Kamu sudah bangun? Sebentar lagi Satrio kesini untuk pamitan mau balik ke Inggris. Aku harus siap-siap."


"Iya, kalau begitu aku ambil dulu ya, perlengkapan Rania di dalam mobil."


"Iya sayang."


Dewa pergi ke bathroom dan Mega keluar menuju mobil suaminya.


Dimana bertepatan sekali jika mobil yang ditumpangi ibu Rahma, pak Hendarto dan Satrio memasuki hotel Mediterania.


"Mama nggak apa-apa ma?" tanya Satrio yang otomatis menoleh ke mamanya dan melewati Mega. Namun Satrio tidak mengetahuinya, karena tepat sekali Satrio menoleh singkat ke ibu Rahma.


"Mama nggak apa-apa kok. Hanya tiba-tiba nyeri saja kepala mama," tidak jujurnya ibu Rahma. Padahal semua dia lakukan untuk mengalihkan fokus mereka supaya tidak melihat Mega.


Namun pak Hendarto tahu, jika istrinya seperti berpura-pura. Dan benar saja, alangkah terkejutnya dia melihat Mega sekelebat.


"Kita parkirnya agak sana saja Sat," tunjuk pak Hendarto supaya Satrio parkir agak jauh dari posisi menantunya.


Ibu Rahma terus melihat pergerakan Mega. Dan syukurlah, Mega sudah kembali ke kamarnya dan terlihat Dewa yang keluar menuju loby hotel.


Ketiganya kemudian keluar mobil dan menuju loby.


"Kak... aku sengaja mau pamit sama kakak untuk kembali ke Inggris."


"Iya, by the way terimakasih. Kamu masih ingat sama kakak mu."


Tidak lama terdengar suara Rania menangis keras layaknya bayi yang tengah kehausan.


Pandangan Satrio langsung menoleh ke sumber suara dimana terdengar tangisan bayi tersebut. "Suara bayi nangis," ucapnya.

__ADS_1


"Biasa, tamu hotel. Oh ya Sat, sudah sarapan belum? Kalau belum, sarapan di sini aja."


"Kita sudah sarapan semua kok sayang," jawab ibu Rahma supaya Satrio tidak berlama- lama. Takut jika Rania menangis kencang membuat Satrio bertambah curiga.


"Trus, apa kakak tidak mau ikut serta mengantar aku ke bandara?" tanya Satrio.


Dewa terdiam sejenak. Padahal dia tidak tega meninggalkan Mega dan Rania sendiri. Mega masih kewalahan dan semalam saja dia begadang.


"Ayolah kak, ketimbang kakak di sini juga ngapain?" bujuk Satrio yang ingin di antar oleh keluarga lengkap formasinya. Karena kepulangannya kemarin, dia tidak dijemput oleh mama dan papanya apalagi kakaknya.


"Okay..." jawab Dewa pasrah. Yang kemudian dia berkirim pesan ke Mega tentang keikutsertaannya mengantar Satrio ke bandara.


"Ya udah yuk, kita berangkat." Ibu Rahma yang sejak tadi tidak nyaman karena dikuasai oleh rasa takut.


Ketiganya kemudian berangkat menuju bandara. Namun saat hendak pergi menjauh dari loby. Rania menangis keras lagi dan itu terdengar oleh mereka.


"Dimana sih ibunya? bisa bayinya nangis sampai gitu," gumam Satrio yang di dengar oleh ketiganya saat mereka berjalan bersama menuju mobil.


Membuat semua yang mendengarnya hanya saling bertukar lirikan.


Sementara Mega, berusaha menenangkan Rania namun Rania masih menangis. Padahal Mega sudah memberinya sussu dan sudah menggendongnya, namun Rania masih menangis juga.


"Sayang... cup ... cup ... jangan nangis ya, papa sebentar kok perginya," kata Mega berujar pada putri kecilnya. Memang Dewa lebih jago menenangkan Rania. Rania di gendong saja oleh Dewa sebentar, putrinya itu langsung tertidur jika mengendus aroma tubuh papa nya. Dan Rania dapat dipastikan tidak sekeras ini menangis nya.


Namun baru saja mobil keluar dari hotel. Dewa sengaja menyuruh resepsionisnya menghubunginya jika ada meeting atau apapun untuk menelepon ponselnya.


Dert dert.


Ponsel Dewa bergetar dan itu ternyata resepsionis yang disuruhnya.


Nice.


batin Dewa senang, karena resepsionis nya dapat diandalkan dan mumpung mobil belum melaju jauh.


Dewa mengangkat ponselnya dan apa yang direncanakan berhasil. "Sorry ya Sat, kakak terpaksa sekali tidak bisa antar kamu ke bandara," ujar Dewa kepada adiknya.


"Iya kak, Satrio tahu kok.


"Ya udah, kamu hati-hati ya." Dewa memeluk adiknya. mengusap punggungnya dengan banyak perasaan bersalah.


Dewa kemudian kembali dan berlari karena saking tidak ingin meninggalkan Mega dan Rania berdua saja. Di dengarnya, Rania masih menangis keras.


"Sayang... Anak papa... unch... unch..." Dewa yang kemudian menggendong putrinya dengan perasaan bahagia.


"Tuh kan, papa sudah datang. Papa cuma pergi sebentar," ucap Mega dengan bahasa bayi yang terdengar menggemaskan untuk sampai pada telinga.

__ADS_1


Dewa kemudian mengecup kening istrinya. Mereka bertiga tampak bahagia. Dewa juga menjelaskan kepada Mega, jika sebenarnya Satrio memintanya untuk ikut ke bandara. Namun dia tolak, karena ingin selalu bersama mereka sepanjang hari. Dan kasihan pada Mega yang masih amatiran merawat Rania yang terlampau mungil.


BERSAMBUNG


__ADS_2