Aku Tidak Siap

Aku Tidak Siap
Bon cabe level super pedas


__ADS_3

"Kamu suka sayang?"


Mega mengangguk.


Keduanya kemudian menikmati makanan yang mereka baru saja pesan. Dan apa yang terjadi? Satu sendok di awal baik-baik saja, meskipun Mega merasakan ada yang tidak beres dengan makanan nya terkait rasa pedas yang tidak biasa.


Satu sendok kedua. Lidahnya sudah merasakan pedas dan wajahnya berkeringat. Hingga di sendok ketiga. Mega tidak kuat dan menambah pesan minuman karena mulutnya kepedasan dan mulutnya terbakar.


"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Dewa panik.


"Pedes, pedes..." dengan mulut yang tidak berhenti meneguk minuman di gelasnya.


"Kok bisa?"


Mega mengibaskan tangannya di dekat area wajah karena keringat nya bercucuran saking terbakarnya mulut Mega.


Dewa langsung memanggil pegawai restoran setelah dia mencicipi makanan yang dipesan istrinya. Dewa marah-marah dan menyuruh pegawai restoran mencoba makanan yang dipesan istrinya dan pegawai restoran bingung.


Karena bagaimana bisa? Menu yang dipesan Mega yang tidak pedas bisa terasa pedas sekali.


"Kamu nggak apa-apa sayang?" tanya Dewa yang mengelap wajah istrinya dengan tisu karena sisa-sisa pedas itu masih terasa.


Setelah pegawai restoran mengucapkan kata maaf, barulah Dewa mereda kemarahannya dan mereka pergi dari restoran tersebut, meskipun pihak restoran menawarkan ganti makanan, namun Dewa tidak mau dan memilih pulang.


Sementara Arumi tersenyum penuh menang. Karena memang dia lah, orang yang memberikan bon cabe level ekstra pedas ke piring makanan Mega.


Iyes.


Arumi tersenyum bahagia melihat Mega kepedesan dan itu sangat menggelikan sekaligus hiburan malam baginya.

__ADS_1


Ya, Arumi sengaja menanyakan pada Dewa dimana mereka makan malam. Alhasil dia dengan cepat merencanakan hal demikian karena saking geram dengan Mega yang selalu jadi penghalang saat Dewa dan dirinya ingin menikmati waktu bersama.


Dewa kemudian mengantar Mega pulang dan beralasan akan membeli makan di luar. Namun Mega tahu, jika yang dikatakan suaminya adalah dusta semata. Yang ada Dewa akan pergi ke bioskop dan nonton bersama.


Jujur, Mega sedih sekali. Karena yang dilakukan Dewa berkali-kali dan lebih dari satu atau dua kali. Bulir-bulir jernih jatuh hingga membuat dia terduduk dan bersandar pada tempat tidur. Mengelus perutnya, yang mulai terasa gerakan bayinya di dalam sana dengan menendang-nendang seperti bermain bola.


Mengajak bayinya bicara, untuk terus kuat dan tidak memikirkan lima bulan ke depan bagaimana. Antara diceraikan Dewa? Atau suaminya berubah pikiran dan memutuskan ikatan cinta nya dengan Arumi. Entahlah. Mega tidak sanggup untuk menghadapinya, misal Dewa benar-benar menjalankan kesepakatan awal mereka. Yaitu pernikahan mereka sampai bayi mereka lahir. Dan nama Sadewa Dirgantara tertera di akta kelahiran anaknya.


Berbeda di tempat lain. Arumi sangat gembira setelah mereka bisa nonton bioskop bersama. Meskipun jujur, Dewa juga memikirkan Mega yang tengah berada di rumah. Yang dia tinggalkan dan belum makan. Namun Dewa yakin, Mega tidak bodoh dan bisa pesan makanan online. Namun karena sadar, jika pamitnya adalah membeli makan. Dewa gelisah dan takut Mega menunggu nya pulang.


Membuat Dewa melakukan panggilan kepada Mega. Yang lagi-lagi membuat Arumi tidak suka. Dewa menyuruh Mega pesan makanan online, karena dirinya akan pulang malam.


Belum kering air mata Mega, namun harus ditambah lagi dengan suara samar dari tokoh-tokoh film yang tengah mereka tonton saat itu. Membuat hati Mega perih dengan sikap suaminya yang selalu memberikan luka pada batinnya.


Hingga pukul 23.00 WIB. Arumi dan Dewa selesai menonton dan hendak mengantar Dewa pulang.


Ya, setelah tadi dia mengantar Mega pulang. Dia pamit keluar untuk membeli makan padahal akan berangkat ke bioskop. Namun tiba-tiba Arumi sudah berada di depan rumahnya dan menjemput dirinya. Alhasil, mereka pulang mengendarai mobil Arumi yang dikemudikan Dewa.


Dewa langsung menoleh ke arah Arumi.


Apa Arumi yang melakukan nya?


batin Dewa dengan sepintas peristiwa yang sekitar dua tiga jam yang lalu terjadi pada istrinya.


Lampu merah usai, Dewa melajukan mobilnya kembali. Meski dadanya sudah tidak tahan mendesaknya ingin bertanya segera kepada Arumi.


"Kita sudah sampai Arumi." Dewa mengguncang pelan bahu kekasihnya supaya terbangun.


Arumi perlahan membuka mata. "Oh, aku ketiduran." Arumi kemudian hendak memeluk Dewa, namun Dewa enggan. " Kenapa sayang?"

__ADS_1


"Tolong jelaskan aku dengan ini?" Dewa yang menunjukkan wadah bon cabe masih setengah dari isinya.


Arumi ternganga. Jantungnya berdetak berubah ritme seketika. Saat Dewa sudah terlihat sekali jika dia curiga terhadap tindakan nya.


"Kenapa diam?"


"Oh, itu buat jaga-jaga kalau aku makan kebab sayang," tidak jujurnya Arumi berkata demikian.


"Sejak kapan kamu suka pedas? Jawab!"


Arumi mengeluarkan buliran jernihnya dari dua mata.


"Kenapa nangis?"


"Aku minta maaf. Ya, aku yang menaburkan bubuk cabe itu ke makanan Mega."


Dewa tidak mau menatap wajah kekasihnya. Menggelengkan kepalanya berulang, tanda dia tidak percaya terhadap apa yang dilakukan Arumi kepada Mega.


Sementara Arumi. Dia terus berusaha menjelaskan jika dia kesal dengan Mega yang selalu Dewa utamakan.


"Astaghfirullah... Aku nggak nyangka kamu berbuat seperti ini. Aku kecewa Arumi. Aku kecewa dengan sikap kamu."


"Aku minta maaf, aku janji nggak akan ulangi lagi," mohon Arumi dengan sangat.


"Nggak, nggak bisa. Ini sudah fatal. Dan kamu tahu? Kalau apa yang kamu lakukan itu? Adalah hal yang berbahaya buat kandungan Mega. Karena apapun yang dimakan Mega. Itu terserap oleh baby nya," dengan keras Dewa mengatakan nya. Menunjukkan jika apa yang dilakukan Arumi adalah bukan hal remeh yang patut dia terima begitu saja. Karena itu sudah mengarah pada kelicikan Arumi. Dimana dia bisa saja nantinya bertindak lebih nekat dari ini. Dan berusaha melancarkan tindakan tercela-tercela lainnya, yang mungkin lebih parah dan membahayakan jiwa bayi dalam kandungan Mega.


Dewa kemudian pergi dengan kemarahan nya. Membanting pintu mobil dengan sangat keras dan belum ada kata pemberian maaf dari Dewa.


Arumi tidak mengejarnya. Karena dengan bersikap begitu saja, dia dapat mengartikan jika Dewa mengkhawatirkan bayi dalam kandungan Mega. Dan benar, separuh hati Dewa milik Mega bahkan jika bayi itu sudah hadir di tengah-tengah mereka. Bukan tidak mungkin, mereka lupa akan janji tidak tertulis nya kepada nya. Berbalik menyepakati pernikahan berlanjut dan melepaskan nya begitu saja. Dan lagi-lagi. Pil pahit harus dia terima. Dia tidak siap, dia tidak siap waktu itu tiba.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2