
Satrio akhirnya memutuskan terbang ke Bali tanpa Mega. Liburan sendiri bersama teman-teman kampusnya yang lama di kota itu.
Dan itu ada yang kurang, yaitu kekasihnya yang tidak membersamainya.
Berbeda dengan Dewa yang cukup keras menyuarakan kata yes dengan kepalan tangan yang dia ayunkan ke udara. Tahu jika Satrio pergi ke Bali selama satu Minggu. Cukup lega. Akhirnya dia bisa periksakan kandungan Mega seperti biasa. Dan melakukan aktifitas rumah seperti sedia kala nantinya.
Satu hari kepergian Satrio ke Bali. Untuk pertama kali Dewa duduk manis mendengarkan lantunan ayat suci Al-quran di acara tujuh bulanan putrinya yang masih berada dalam kandungan. Sempat tertunda beberapa hari karena adanya Satrio, jadi Dewa tidak menyia-nyiakan waktu untuk memperingati acara tujuh bulan putrinya.
"Bagaimana?" tanya Zahrin kepada Mega.
"Bagaimana apanya kak?"
"Satrio datang. Bermain nya cantik nggak?" tanya Zahrin mengulik lebih jauh rumah tangga mantan adik iparnya.
Mega tersenyum geli. "Alhamdulillah, kita bisa bermain apik kak."
"Baguslah. Aku nggak bisa bayangin aja, kalau Satrio akhirnya tahu kamu ada di rumah ini juga. Apa tidak sebaiknya, sementara kamu tinggal sama kakak?"
Mega menoleh ke Zahrin dengan tatapan bimbang.
"Menurutku itu lebih aman. Ketimbang kamu susah bergerak dan takutnya seperti kemarin malam. Dimana di usia-usia kandungan kamu yang mulai menua ini akan sering kontraksi palsu dan perut mengencang. Karena semakin membesar bayi dan mau keluar, otomatis air ketuban semakin berkurang."
"Menurut kakak?"
"Asal Dewa izinkan kamu tinggal di rumah kakak, tidak masalah. Bisa main sama Arsyad dan Arsyla. Aku juga kadang ke toko kue, kamu bisa di rumah. Ada bibi juga. Lebih leluasa bergerak ketimbang kamu terkurung di kamar seharian. Dan itu akan berhari-hari kamu lakukan setelah Satrio pulang liburan dari Bali," ucap Zahrin yang menghitung jari berapa lama lagi Satrio akan tinggal di rumah itu setelah pulang liburan. "Masih sekitar 15 hari lagi dia tinggal di rumah. Itu kalau dia tidak percepat balik ke Inggris nya. Apa kamu tidak tertekan?"
"Ide bagus sih kak itu, tapi..."
"Tapi apa? Nggak bisa bobok bareng?" ledek Zahrin dengan senyum di bibirnya.
"Kakak tahu aja sih," malu.
"Ya, kalian bisa atur sendiri lah. Sebenarnya kalau suami mu mau. Kamu bisa diumpetin Dewa di hotel nya. Tambah sering kalian bertemu, pagi sore siang malam dan tidur sana sekalian. Keramas tiap hari juga bisa," imbuh Zahrin yang keduanya kemudian tertawa kecil.
"Apa an sih kak?"
__ADS_1
"Iya udah nanti, aku bicarakan dulu sama kak Dewa."
"Kamu masih manggil dia kakak? panggil kek dengan sebutan sayang, honey, bunny, sweety atau apalah... malah manggil Satrio sayang. Dewa aja aku denger, udah manggil kamu sayang, kalau aku jadi Dewa, udah protes aku," celetuk Zahrin saat itu juga.
Mega tertawa kecil dan mencubit gemas lengan mantan kakak iparnya itu.
Dimana acara tasyakuran tujuh bulanan sudah usai. Semua keluarga juga pulang ke rumah masing-masing setelah banyak dari mereka yang memberi semangat ibu Rahma untuk cepat sembuh dan tidak boleh kalah sama penyakit.
.
.
Keesokan hari.
"Eh, ada menantu." Kelakar pak Hendarto dengan ekspresi lucu, karena beberapa hari tidak melihat Mega makan pagi bersama semenjak putra nomor dua nya di rumah.
Membuat dia terkejut yang sengaja dia buat bercanda karena pagi-pagi Mega sudah duduk di meja makan.
"Papa..." sahut ibu Rahma.
Mega mulai membicarakan saran Zahrin kepada mereka semua.
"Papa setuju-setuju aja sih. Kan cuma sementara, setelah Dewa kembali ke Inggris, toh kamu juga balik ke rumah ini. Kecuali..."
"Kecuali apa pa?" sahut ibu Rahma.
"Nggak jadi, karena mereka kan sudah saling cinta. Beda waktu dulu. Mereka ngotot dengan pendapat masing-masing. "Pokoknya setelah anak itu lahir, aku mau cerai dari Mega. Kembali ke Arumi," kelakar pak Hendarto memperagakan kemarahan putra nya saat itu kala dipaksa menikahi Mega.
Semua satu meja tertawa. Sedang Dewa geleng-geleng kepala dengan tersenyum malu karena papa nya mengingatkan peristiwa lama.
"Apa an sih pa?" tidak terimanya Dewa.
"Lucu tahu," jawab cepat pak Hendarto dengan melanjutkan makan pagi nya.
Sedangkan ibu Rahma dan Mega masih beriak tawa, hingga masih saja tersenyum lebar dengan tatapan malu dari Mega yang belum sirna.
__ADS_1
Melanjutkan ke pokok pembahasan pagi itu, dimana ibu Rahma juga menyetujui jika Mega tinggal sementara di rumah Olivia. Jika kemarin tidak sempat karena Satrio terlalu mendadak kedatangan nya. Lain hal nya sekarang, dimana ada waktu leluasa untuk menyembunyikan Mega yang hamil besar dari putra nomor duanya.
"Tergantung kamu Wa, bagaimana kamu?" timpal pak Hendarto.
"Di hotel aja deh pa, sepertinya."
"Bagus itu," jawab antusias pak Hendarto menimpali jawaban putra nya.
Semua menoleh ke arah pak Hendarto, sementara pak Hendarto merasa tidak ada yang salah dengan jawaban nya.
"Kalau mama kok setuju di tante kamu ya, selain Mega ada yang awasi yaitu Zahrin dan Regi, Olivia juga ada. Jadi misal sewaktu-waktu Mega butuh sesuatu, ada orang. Kalau di hotel siapa?" pendapat ibu Rahma.
"Dewa ma, Dewa yang jagain. Dewa nggak pulang. Palingan pulang, kalau ambil barang yang Dewa dan Mega perlukan. Dan nanti biar Dewa koordinasi dengan bibi untuk apapun aktivitas Satrio misal Satrio keluar mau kemana nya. Jadi tetap terpantau dan aman. Dan aku rasa, Satrio nggak akan lagi ke hotel Dewa. Satu, ngapain? dua, sepertinya nggak mungkin." Panjang lebar dari J sampai O Dewa memaparkan.
"Ya udah atur aja, yang penting kepulangan Satrio kali ini jangan sampai mengetahui kalau kalian sudah menikah. Mama nggak mau, kuliahnya berantakan nanti."
"Syukur kalau dia mau lanjut S3, sudah besar anak kalian. Jadi akan butuh waktu cepat untuk merelakan," sahut pak Hendarto.
"Mudah-mudahan ya pa," timpal ibu Rahma.
"Ya udah sayang, aku berangkat dulu ya. Kamu nggak apa-apa minta bantuan bibi untuk kemasi barang-barang yang mau dibawa tinggal di hotel. Ingat! Jangan lakukan sendiri." Dewa yang kemudian mengecup kening istrinya. Dimana pak Hendarto dan ibu Rahma tersenyum.
"Udah tahu rasanya enak ya Wa?" kelakar pak Hendarto lagi dengan senyum di bibirnya.
"Apa an sih pa?" timpal Dewa yang tahu maksud papa nya.
Sementara ibu Rahma geleng-geleng kepala kecil. "Lho, memangnya mau hari ini tinggal di hotelnya? Satrio kan masih 5 hari lagi di Bali?" tanya ibu Rahma.
"Iya ma, nggak apa-apa. Takut aja, jika anak satu itu tiba-tiba merubah jadwal kepulangan nya. Biar aman aja."
"Biar aman dan biar tidak ada yang ganggu ma." Pak Hendarto yang masih melayangkan canda untuk putra dan menantu nya.
"Oh gitu..." jawab ibu Rahma.
BERSAMBUNG
__ADS_1