
Setelah mereka makan siang di luar. Keduanya pun kembali ke hotel sampai sore hari. Dimana Dewa melanjutkan kerja nya.
Dan saat setelahnya mereka pulang kerja. Satrio meminta Dewa untuk mampir ke rumah Mega. "Kak, kita jangan langsung pulang dulu ya. Setelah perempatan ini, kita lurus terus baru belok kiri dan belok kanan. Masuk gapura kalau nggak salah," papar Satrio yang lamat-lamat antara ingat setengahnya lupa.
Bukannya arah itu ke rumah Mega?
tanyanya, tentu hanya dalam hati Dewa.
"Nah, di rumah itu kak kita berhenti," tunjuk Satrio dengan jari telunjuk nya.
Tidak lama, suara mesin mobil Dewa masih menyala. Sedangkan Satrio masih melihati rumah Mega yang lampu terasnya gelap gulita.
"Sepertinya Mega tidak ada di rumah. Kemana sih dia? Kok menghilang bagai tertelan air samudra," gumam Satrio yang mengotak-atik ponselnya dan lebih dari dua sampai tiga kali mencoba menghubungi Mega. Tapi operator selalu menyambut dengan kata jika nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.
Satrio mulai resah, yang akhirnya dia mencoba keluar dari mobil dan mendekati pagar rumah kekasihnya itu. Memanggil-manggil nama Mega berulang. Namun tidak ada jawaban dari dalam.
Dewa tidak kuat, melihat ekspresi adiknya yang masih belum menyerah siapa tahu ada sahutan dari dalam. "Mega ada di rumah kita Sat," ucapnya lirih terdengar oleh dirinya sendiri saat menatap wajah Satrio yang tampak bingung mencari Mega ada dimana.
Sekitar tiga puluh menit, Satrio berusaha menggedor pagar. Namun upayanya harus terhenti dikata frustasi. Sejak kepulangan nya ke Indonesia, Mega tiba-tiba saja mematikan ponselnya dan tidak ada kabar.
"Gimana? Ada?" tanya Dewa pura-pura.
Satrio menggeleng lesu. Dia masuk mobil dan langsung menyadarkan kepalanya dengan kasar. Mendengus dan terkesan putus asa. "Aku takut dia kenapa-napa kak?" lirihnya masih dengan nafas yang terdengar berantakan.
"Memangnya dia tidak kabari kamu?" tanya Dewa pura-pura tidak tahu. Padahal juga dia yang mematikan hp Mega dan menyembunyikan Mega di kamarnya.
Satrio menggeleng. "Tapi emang dia bilang sih, kalau dia sedang di luar kota dan tidak kita tidak bisa bertemu. Tadinya aku pikir itu hal remeh. Karena aku bisa susul dia biarpun jauh. Jangan kan yang hanya luar kota, Inggris sini saja aku tempuh demi bertemu dia. Masak yang hanya jaraknya sepanjang penggaris saja aku tidak bisa tempuh. Ya pasti aku susul dia lah." Panjang lebar Satrio mengutarakan kekecewaan hatinya.
"Ya udah mungkin dia sibuk kerja. Mending kamu liburan sama teman-teman kamu sendiri aja ke Bali," imbuh Dewa supaya Satrio pergi ke Bali untuk beberapa hari.
"Nggak ah kak, nggak ada Mega. Buat apa juga aku ke Bali?" jawab cepat Satrio yang tidak bersemangat.
__ADS_1
"Ya kan ada teman-teman kampus. Nggak melulu Mega," ucap Dewa sembari memutar roda mobilnya malam itu.
"Tapi tujuannya Mega kak. Mega sama mama."
"Iya, iya tahu. Mega. Tujuan kamu pulang untuk bertemu Me ga." Dewa yang tidak bisa menyembunyikan jika kesal juga dengan Satrio yang bucin tingkat amat kepada istrinya.
Duh Sat, Sat.
Bagaimana perasaan kamu nanti? Jika tahu Mega punya anak dan sudah besar.
Terlebih tahu jika kakak mu ini yang sudah mengambilnya dari kamu.
Maafkan kakak ya Sat.
batin Dewa berbicara bebarengan dengan menolehnya kepala pada adiknya.
Tidak ada hal lain yang mereka bicarakan. Selain wajah Dewa yang sering menoleh menatap wajah adiknya yang sedang gundah gulana.
Sampai dimana mobil mereka sampai. Satrio melepas sneaker nya. Dan sepatu elegan itu tidak berubah tempat dari rak.
"Iya ma," keduanya bersahutan menjawab dan mencium punggung tangan mamanya.
"Satrio mau ke kamar ma, mau mandi." Satrio yang kemudian naik ke lantai dua dimana Dewa sudah mengirim pesan pada Mega untuk membuka kunci kamarnya.
Namun saat Satrio hendak sampai kamarnya, dia mendengar bunyi klek pada pintu kamar Dewa. Seperti orang yang sedang membuka kunci dari dalam. Satrio menoleh tepat pada bagian kunci yang menjadi sumber suara. Karena setelahnya, tidak terdengar lagi ada apa-apa. Satrio kemudian masuk ke dalam kamar.
Disusul Dewa dengan hati-hati untuk membuka pintu kamarnya. Takut jika istrinya berada di belakang pintu seperti kemarin.
"Kakak sudah pulang?" diciumnya dengan lembut punggung tangan Dewa oleh Mega, berikut Dewa mengecup kening milik istrinya. "Kenapa?" tanya Mega ingin tahu mengapa wajah suaminya tampak lesu.
"Satrio. Satrio tadi ke rumah mu." Dewa menatap Mega yang ternganga yang kemudian menutup mulutnya sendiri.
__ADS_1
"Trus gimana kak?" dengan nafas yang terdengar kacau saat mengatakan nya.
"Dia bucin banget sama kamu." Kalimat Dewa tersirat cemburu.
Bukannya senang, Mega malah semakin tidak karuan denyut jantungnya. Tersenyum ragu yang sulit untuk digambarkan. "Kakak mandi dulu ya," ujar Mega menyuruh suaminya mandi terlebih dahulu.
"Maafkan aku Sat," lirih Mega tidak kuat menggambarkan wajah Satrio yang pasti diselimuti rasa kecewa gara-gara dirinya.
Berbeda di kamar Satrio.
Satrio tidak bergairah malam itu. Mencoba berulang kali untuk menghubungi Mega kembali. "Kamu kemana sih Sayang?" gemasnya dengan rasa kesal yang kemudian beralih pada takut jika Mega sedang tidak baik-baik saja. "Tidak ... tidak. Aku yakin kamu baik-baik saja. Kamu sengaja menghindar dari ku Mega? Apa begitu?" gumamnya yang belum usai begitu saja. Masih tidak terima, bagaimana bisa kekasih pujaan hatinya menutup akses komunikasi mereka berdua. "Jangan-jangan?" Satrio yang teringat apa kata kakaknya, dimana Mega sudah menikah dengan pria lain dan tidak boleh menghubunginya. "Arrgh!" kepalan tinjunya mengenai dinding kamar. Nafasnya berantakan dan tidak beraturan.
Satrio dilanda kegundahan yang teramat sangat. Tidurnya menjadi tidak tenang karena memikirkan Mega yang sekarang entah berada dimana. Di negara mana? Di benua apa dan dengan siapa?
Sedangkan di kamar sebelahnya. Dewa dan Mega bahkan saling mendekap tidur nya. Saling memberi kehangatan. Seolah melupakan Satrio yang beberapa hari ini kebingungan mencari keberadaan Mega.
Dewa bahkan tidak hentinya mengecup puncak kepala Mega. Takut, jika cinta Satrio mengalahkan cintanya, hingga membuat Mega luluh dan dengan mudah meninggalkan pernikahan mereka.
Atau bagaimana nantinya? Satrio marah kepadanya dan memisahkan mereka dengan menyuruhnya untuk melepaskan Mega. Tidak. Dia tidak siap. Dia tidak siap untuk jauh dari Mega dan anak nya. Tidak boleh. Tidak ada yang boleh memisahkan mereka. Dimana keduanya sudah memutuskan untuk bersama dan menumbuhkan cinta sampai tua.
Begitu juga dengan Mega. Walau matanya terlihat terpejam, namun tidak pada hatinya yang galau karena kedatangannya Satrio. Berulang kali dia meminta maaf pada Satrio dalam hati. Namun berulang kali pula, dia melihat putri tidurnya dalam perut yang membutuhkan sosok ayahnya. Dan hanya dengan bersama, mereka dapat mewujudkannya. Mengorbankan hati Satrio yang tulus mencintai nya dengan teramat. Tidak kuasa, ingin menyakitinya. Namun keadaan memaksa. Memaksa dia harus memilih suaminya ketimbang kekasihnya.
"Aw..." perut Mega terasa sakit tapi bukan ingin buang hajat.
"Kenapa sayang?"
"Kak, perut ku ... perut ku." panik Mega dengan mengeluarkan nafas bak orang mau melahirkan.
"Sayang, please jangan stres! Tenang ... tenang." Dewa yang berusaha mendudukkan istrinya. "Bukannya hari perkiraan lahiran masih dua bulanan?"
Mega mengangguk setengah menahan rasa sakit di perutnya.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa sebaiknya kita ke rumah sakit?" tanya Dewa bertambah panik karena tubuh Mega keluar keringat dingin.
BERSAMBUNG