
Satu Minggu kemudian.
Arumi merasakan kesepian, dimana selama itu Dewa berhasil tidak menghubunginya. Dia menitikkan air matanya kembali, jika mengingat apa yang dilakukan Dewa kepada Mega. Setiap kali dia ingin mengawali panggilan telepon kepada Dewa, ujung jari nya selalu mengurungkannya dan teringat apapun yang sudah membuat hatinya sakit.
Sementara Dewa, yang baru turun dari kamarnya melihat dua benda berbentuk persegi empat dengan ukuran yang sangat besar dan tengah disandarkan mama nya di dekat ruang tv. Terbungkus rapi dengan kertas berwarna cokelat terang. "Apa itu ma?"
"Oh, itu. Foto pernikahan kalian. Tapi karena kamu udah tidak satu rumah sama Mega. Mama lupa dan baru sempat diantar oleh studio photo nya."
Dewa menelan saliva nya. Satu Minggu ini saja, rasanya tidak cukup untuk menentukan siapa yang akan dia perjuangkan cintanya.
"Trus kamu sendiri bagaimana? Apa belum bisa melepaskan Arumi?"
Dewa terdiam, tertunduk sebentar dan menatap mamanya ragu.
"Mama nggak habis pikir sama kamu Dewa. Padahal jelas, jika takdir menyatukan kamu dan Mega. Tapi kamu menepisnya. Tapi mama senang, Zahrin cerita banyak kalau kamu mengantar Mega periksa dan menjenguk nya ke rumah sakit. Itu tandanya, kamu peduli sama Mega dan bayi kalian. Apa lagi? Bawa menantu mama kembali. Katakan ke kakak nya kalau kamu akan berjuang untuk rumah tangga kalian."
Glek
Dewa membeku seketika usai mendengar lagi apa kata mama nya. Semua orang berpihak pada Mega. Padahal Arumi lah cinta terbesarnya. Begitu juga cinta Arumi kepadanya. Sama besarnya dan Dewa yakin itu.
Dewa berjalan dimana pigura yang tertempel foto pernikahannya itu disenderkan. Perlahan merobek kertas yang melapisinya dan perlahan pula tertegun melihat foto pernikahan nya dengan Mega. Ada perasaan yang entah apa namanya, dia sendiri tidak tahu dan tidak bisa memaparkan segala apa yang dirasa pada wanita yang kini mengandung buah hatinya. Satu Minggu sama, dimana dia tidak menghubungi Mega. Namun serasa sosok Mega menang banyak atas status sahnya sebagai seorang istri.
Dewa kemudian menyuruh suami dari bibi yang bekerja di rumah nya. Untuk menempelkan dua pigura besar foto pernikahan nya di dinding kamar dan satu lagi di ruang tengah.
Ibu Rahma terbengong, melihat putranya hari itu. Sampai Dewa sendiri sibuk memilihkan tempat untuk dua pigura besar itu.
Dan setelahnya foto pernikahan itu terpajang di dinding kamarnya. Dewa memperhatikan baik-baik wajah Mega berikut dirinya. Dan mengambil pigura kecil berisikan foto Arumi di atas nakas dan membuangnya di bak sampah dan Ibu Rahma tahu itu.
Setelah nya itu semua dia menarik nafas panjang. Dan berharap keputusan nya membawa Mega ke rumah akan berhasil dan disetujui oleh Akhyar. Meskipun janji cinta seiring waktu akan dia upayakan keras, sekeras upaya nya untuk melupakan dan melepaskan Arimi. Dewa bersiap ke rumah Mega dan harus bisa meyakinkan Akhyar.
Berbeda dengan Akhyar, saat berada di kantor. Duduk hanya berdua di ruangan pak Ahanung. Berbicara serius dan empat mata terkait permasalahan penyelewengan dana ekspor yang dilakukan oleh orang kepercayaan nya di Jerman.
"Berapa lama pak?"
"Paling lama enam bulan Yar. Dan setelah itu kamu bisa kembali ke Indonesia."
"Apa tidak ada orang lain pak? selain saya."
__ADS_1
"Yar, kamu itu salah satu orang yang bisa saya andalkan. Lagi pula di Jerman kamu sudah ada fasilitas yang memadai untuk kamu disana. Aku harap kamu bisa mengerti."
"Misal saya tidak mau berangkat apa yang terjadi? Misal saya bisa menyelesaikan misi ini apa yang akan saya dapatkan?"
Pak Hanung terkejut dengan apa yang disampaikan Akhyar. "Apa kamu sedang butuh uang Yar? Berapa yang kamu minta? Bukan kah saya juga pernah menawari kamu sebuah rumah dan mobil tapi kamu menolak nya."
"Maaf pak, saya menolak waktu itu karena Alma sudah banyak membantu saya untuk pengobatan rumah sakit. Lain hal dengan sekarang. Saya harus meninggalkan adik perempuan saya dan itu berat rasanya. Jadi semua harus sepadan dengan apa yang saya dapatkan, mengingat menjaga adik saya yang tengah hamil saat ini. Itu lebih penting dari segalanya."
"Lalu apa yang kamu minta? Rumah? Mobil? Atau apa?"
"30 persen dari saham bapak."
"Kamu gila Yar. Apa kamu bercanda dengan apa yang kamu katakan?"
"Saya sudah perkirakan, satu tahun kemungkinan saya bisa membenahi semua nya di Jerman. Dan saya kenal bapak. Setelah semuanya beres. Itu belum memuaskan bapak. Dan kemudian saya akan lebih lama berada di sana untuk kestabilan usaha ekspor bapak, sampai menemukan orang kepercayaan untuk mengurus ini semua. Dan itu harganya mahal pak."
Pak Hanung menarik nafas panjang dan mengeluarkan nya berantakan. Akhyar mengancam tidak akan berangkat menyelesaikan semrawutnya ekspor bernilai ratusan miliar di Jerman.
Ya, Akhyar sengaja menjadikan Mega alasan terbesarnya. Dan itu benar. Namun ada alasan tambahan yang dimana pikirannya panjang mengarah kepada kestabilan hidupnya ke depan. Ingin hidup Mega dan Yanuar terjamin. Yanuar pulang dan tidak perlu bekerja jauh dan semuanya kembali berkumpul seperti dulu.
"Terimakasih pak. Akan saya urus segera visa nya."
Ya, meskipun berat harus meninggalkan Mega. Namun ini adalah kesempatan emas untuk mengubah masa depan nya lebih baik. Bahkan semua akan cemerlang, bukan hanya Mega dan Yanuar. Namun jika nanti dia memiliki keluarga baru. Semuanya akan terjamin dan tidak kekurangan. 30 persen dari saham PT. Mebel Sejahtera akan dia nikmati sampai masa tua nya nanti. Dan itu lebih dari kata cukup.
Akhyar pulang dan akan membicarakan nya ke Mega.
"Kakak mau pergi ke Jerman?" Mega terkejut mendengarnya. Akan sangat kesepiannya dirinya nanti, jika kakak nya pergi meninggalkan nya. Satu bulan lebih saja, dia sudah sangat kesepian ditinggal kakak nya bekerja.
"Urusan pekerjaan."
"Lalu Mega dengan siapa?" Bola mata Mega yang berkaca.
"Kakak akan..." Belum selesai Akhyar bicara, Dewa datang dan sudah mendengar semuanya. Seolah semesta mendukung, meskipun terdapat secuil keyakinan dari hati yang paling dalam, jika Mega akan berhasil dia bawa pulang.
"Permisi."
"Kak Dewa," lirih Mega terbengong.
__ADS_1
"Kamu," ucap Akhyar antara suka dan tidak.
"Maaf kak, kalau saya sudah mendengar semuanya. Kebetulan sekali, jika kedatangan saya akan membawa Mega pulang ke rumah. Jadi kakak tidak perlu khawatirkan Mega. Dan kakak bisa tenang bekerja nanti di Jerman."
Sayangnya, apa yang baru saja Dewa katakan tidak meluluhkan hati Akhyar. "Malah kamu, yang aku takutkan akan mencelakai adikku," sambung Akhyar dengan wajah marah, kala terngiang apa yang dikatakan oleh seorang perawat tempo lalu. Jika Dewa tahu dan diam, Arumi berhasil melukai adik nya lewat jarum infus di tangan Mega.
"Maksud kakak apa?"
"Hehm," sinis Akhyar menoleh mengarah ke Dewa. "Kamu pikir saya tidak tahu? Apa yang kamu lakukan? Saat kekasih mu itu berhasil melukai adik ku di rumah sakit." Nada bicara Akhyar memang tidak berteriak keras. Pelan penuh penekanan dan kebencian kepada Dewa.
Membuat Dewa dan Mega ternganga.
"Kak, tolong jangan benci suami aku. Bagaimana pun, kak Dewa masih sah menjadi suami ku."
"Mega... Kakak hanya ingin melindungi kamu dari bajingan seperti dia." Akhyar yang mendorong keras dada Dewa hingga Dewa terhuyung.
"Tapi Mega mau pulang dengan suami Mega." Mega yang meraih pergelangan tangan Dewa tanpa ada rasa canggung lagi. Meskipun tadinya dia mau bertanya apakah Dewa serius dengan ucapan nya?
"Apa yang kamu katakan Mega?" tanya Akhyar terkejut bukan main saat adiknya seolah lupa jika pria yang digenggam jarinya adalah pria yang sudah menghancurkan nya.
"Aku sadar dengan apa yang aku katakan kak. Mega sudah dewasa. Dan Mega berhak, memutuskan apapun terkait rumah tangga Mega sendiri." Bersamaan dengan semakin erat nya Mega menggenggam jemari Dewa.
"Dengan menyaksikan dan membiarkan suami kamu bermesaraan dengan wanita lain. Apa seperti itu Mega?"
"Itu dulu, iya kan kak?" tanya Mega kepada Dewa.
Dewa mengangguk kecil meskipun ragu. Ingin berjanji mencintai istrinya seiring waktu. Namun tidak ada kesempatan bicara untuk nya. Jika dirinya berbicara seperti itu, Akhyar pasti belum terima dan dapat dipastikan Mega tidak berhasil dia bawa pulang. "Iya."
"Kakak dengar sendiri kan? Jika suami ku akan berhasil melepaskan kekasih nya. Dan tolong kakak beri kesempatan kepada dia untuk membuktikan nya."
"Mega..." Akhyar antara harus percaya atau tidak. Adik yang dia jaga supaya hatinya tidak kecewa malah memilih bersama orang yang sudah melukainya berkali-berkali.
"Aku mohon kak," mohon Mega dengan sangat kepada Akhyar.
Akhyar menggeleng tidak percaya, melengos dan tidak mampu menahan kepergian Mega yang akan kembali ke rumah suami nya.
BERSAMBUNG
__ADS_1