Aku Tidak Siap

Aku Tidak Siap
Are you okay?


__ADS_3

"Dewa..." Ibu Clarisa yang terkejut dengan kedatangan Dewa pagi itu di rumah sakit.


"Bagaimana tante keadaan Arumi?"


Ibu Clarisa kemudian memeluk Dewa dan menangis. "Kata dokter Arumi koma, Dewa."


"Tante, sabar ya tante."


Dewa kemudian masuk ke dalam ruangan dimana Arumi di rawat. Dengan memakai pakaian khusus Dewa lebih dekat melihat keadaan Arumi. Kata tidak tega muncul di benak Dewa. Jujur, terbesit ada perasaan bersalah mengingat peristiwa kecelakaan Arumi setelah Dewa mengucap kata putus di malam pesta waktu itu.


Hanya berdiri di dekat sisi tempat tidur pasien. Tanpa menyentuh jemari Arumi karena ada Mega yang melihatnya dari luar. "Arumi, aku minta maaf. Kamu pasti kuat, Arumi." Hanya dua kalimat itu yang Dewa katakan. Meskipun ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika melihat wanita yang pernah mengisi hatinya penuh itu terbaring lemah dibantu alat-alat kedokteran.


Tiga puluh menit di dalam yang sesekali Dewa melihat istri nya tengah duduk menungguinya untuk keluar. Namun keajaiban itu nyata. Diujung jam dimana Dewa hendak keluar ruangan, jemari Arumi bergerak dan menyebut nama nya dengan sangat lemah dan suara terdengar parau. "De... wa."


Dewa yang tadinya hendak beranjak pergi. Urung, membalik punggung dan menghampiri Arumi. "Kamu bangun Arumi?" perasaan senang Dewa pada detik itu.


Wanita itu hanya diam dan berusaha meraih pria yang melihatinya. Berusaha melihat sekeliling. Namun tidak bisa mengucap ya dengan lancar. Punggungnya nyeri semua.


Dewa kemudian menekan tombol dimana memanggil perawat jaga dan mengabarkan kalau pasien bangun dan sadar dari koma.


Tidak lama, dokter dan perawat pun datang dimana ibu Clarisa dan suaminya tersenyum dengan sisa tangisnya mendengar jika Arumi sudah terbangun dari koma.


"Syukurlah pa, Arumi bangun dari koma nya."


"Iya ma," jawab suami ibu Clarisa dimana keduanya saling mengeratkan genggaman dalam sepuluh jemari mereka. Melihat putrinya dari jendela kaca dimana dokter dan perawat tengah memeriksa nya. Perasaan bahagia keduanya pun terasa.


Dokter kemudian memeriksa Arumi, mengecek jantung, mata Arumi dan rongga mulutnya. Dimana Dewa diperkenankan tetap berada di dalam hingga dokter selesai melakukan pemeriksaan.


Setelah selesai dokter keluar. Dimana kedua orang tua Arumi dengan cepat menghampiri dan menanyakan keadaan Arumi. "Bagaimana dok, keadaan putri kami?"


"Syukurlah bapak, ibu, putri kalian sudah melewati masa kritis nya. Dan nanti siang kita lihat perkembangan nya terlebih dahulu, barulah lanjut dipindahkan ke ruang perawatan."


"Terimakasih dok," ucap bersamaan dari kedua orang tua Arumi.


Sementara di dalam, kedua mata Arumi berkaca-kaca seperti ingin menyampaikan sesuatu, namun masih belum bisa karena masih memakai alat bantu pernafasan.

__ADS_1


"Kamu tidak usah bicara dulu Arumi. Sebaiknya kamu istirahat. Biar kamu segera pulih dan sehat," tutur Dewa pelan lebih dekat.


Arumi menutup kelopak matanya, seperti menangkap apa yang disarankan Dewa kepadanya.


"Kalau begitu aku pulang dulu ya," pamit Dewa namun jemari Arumi berusaha meraih kulit Dewa dengan perlahan karena kondisi nya masih lemah. Berharap Dewa tidak pergi meninggalkan nya.


Dewa tidak sampai hati, menghiraukan jemari Arumi yang berusaha menyentuhnya. Disentuh lah jemari lentik itu dan diletakkan di sisi tubuh Arumi yang tengah terbaring. "Kamu istirahat ya." Dewa yang kemudian pergi dan Arumi menjatuhkan cairan jernih di pipinya.


Setelah keluar. Dewa disambut kedua orang tua Arumi yang langsung mengucapkan terimakasih kepadanya. Dewa kemudian pamit pulang, dimana setelahnya Dewa lebih banyak diam sepanjang perjalanan setelah dari rumah sakit menjenguk Arumi.


"Are you okay?"


"Ya, aku nggak apa-apa kok sayang. I'm okay," jawab Dewa disela-sela melajukan mobilnya.


Sesampainya di rumah pun, Dewa tampak murung dan tidak bersemangat, hingga ibu Rahma bertanya ada apa dengan Dewa dan bagaimana keadaan Arumi kepada Mega.


Mega kemudian menjelaskan jika Arumi bangun dari koma nya dan ibu Rahma cukup terkejut dengan penuturan menantu nya.


Hingga malam harinya. Ibu Rahma memperbincangkan nya dengan suaminya. "Pa, tadi tuh Dewa jenguk Arumi."


"Kok hem aja sih pa?"


"Trus aku harus jawab apa ma?"


"Papa tahu? Arumi koma tiga hari dan langsung bangun saat Dewa mengunjunginya."


"Oh ya?"


Ibu Rahma mengangguk terheran. Seolah mereka berdua ada ikatan batin yang kuat.


"Bagus dong ma, kalau kedatangan Dewa bisa jadi penyembuh untuk Arumi."


"Kok bagus?"


"Ya itu tandanya, anak kamu itu membawa penyemangat atau obat bagi yang sakit. Makanya Arumi terbangun."

__ADS_1


"Apa an sih pa? Kok nggak nyambung," ujar ibu Rahma setengah kesal yang kemudian pak Hendarto tertawa kecil.


.


.


Esok hari nya.


"Syukurlah tante, Dewa senang mendengarnya," jawab Dewa dengan benda pipih yang menempel di telinga nya. Namun saat ibu Clarisa meminta kedatangan Dewa lagi, Dewa lama belum menjawab dan menoleh ke arah istrinya yang sibuk dengan makanan nya. Dewa juga menatap mama nya dan akhirnya dia menjawab. "Em, Dewa usahakan ya tante, karena hotel ramai dan hampir keseluruhan tempat di booking untuk acara pernikahan. Jadi, Dewa harus pantau kinerja semua. Supaya tidak mengecewakan. Tapi Dewa janji, Dewa akan sempatkan untuk menjenguk Arumi. Misal tidak bisa hari ini, hati selanjutnya ya tante. Tolong sampaikan kepada Arumi dan Dewa harap tante bisa mengerti."


Ibu Clarisa mengucapkan terimakasih dan tidak lama pembicaraan mereka di telepon berakhir.


Ibu Rahma sudah berubah ekspresi, sejak Dewa menjanjikan akan menemui Arumi kembali.


Begitu juga dengan Mega, bahkan tadi sempat tersedak, dimana suaminya terlihat ragu menjawab untuk datang ke rumah sakit kembali.


"Kamu mau datang lagi ke sana?" tanya ibu Rahma yang tidak suka. Karena jika begitu caranya, Arumi pasti akan sulit untuk cepat melupakan Dewa.


Dewa menarik nafas sebelum menjawab. Sadar, jika mamanya dan Mega pasti tidak akan setuju dengan keputusannya. "Ma, tadinya aku juga mau nolak. Tapi mama nya Arumi terus memohon untuk aku datang ke rumah sakit. Ya udah, aku jawab begitu tadi." Dewa kemudian menghempas nafasnya kasar. "Boleh ya sayang? Lagi pula aku janji, aku nggak akan ngapa-ngapa in dengan Arumi." Dewa yang meminta izin kepada wanita yang duduk di sebelahnya.


Mega tidak lantas berkata iya mengizinkan, mengingat hubungan nya dengan Dewa baru saja mengenyam kata bahagia.


"Kamu tahu kan? Dia kecelakaan tepat aku mengatakan kata putus malam itu. Jadi kalau cuma datang memberi semangat untuk dia cepat sehat, menurut ku nggak masalah sayang. Bukan kah itu baik?"


"Yang nggak baiknya nanti. Kalau kamu kasih hati dia minta usus," cetus ibu Rahma.


"Kok usus ma?"


"Ya, usus kan panjang. Jadi nggak cuma kemarin dan nanti atau besok. Tapi itu akan terus-terusan dan semakin Arumi susah move on dari kamu."


"Trus aku harus apa ma?"


"Mama angkat tangan Dewa, kamu sudah dewasa. Kamu harus tahu kapan berhenti untuk tidak perduli lagi dengan mantan kekasih mu itu. Dan aku harap Mega, kamu sebagai istri juga harus bijak memberi izin kepada suami mu besok-besok. Apalagi terkait Arumi." Ibu Rahma kemudian pergi ke kamar nya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2