Aku Tidak Siap

Aku Tidak Siap
Akhyar memberi pelajaran kepada Dewa


__ADS_3

Zahrin kemudian menceritakan apa yang diceritakan Mega kepada suaminya.


"Astaga... Dewa," geram nya saat mendengar semua apa yang disampaikan oleh Zahrin tentang sepupu nya itu.


Keduanya kemudian berdiskusi bagaimana cara nya menyampaikan berita ini ke budhe Rahma dan pak dhe nya Regi.


.


.


Keesokan hari.


Zahrin dan Regi di dikejutkan oleh penampilan dari mama nya memakai kebaya lengkap dan sudah sangat rapi.


"Mama mau kemana?" tanya Regi.


"Mama diikutsertakan sama pak dhe dan budhe kamu, hari ini kan keluarga mereka mau melamar Arumi, kekasihnya Dewa. Kalau kamu mau ikut boleh."


Membuat Zahrin dan Regi bertukar tatap sekaligus panik.


"Ada hal yang mau aku bicarakan ma. Dan ini penting." sahut Regi.


"Nanti saja disana, sekarang kamu siap-siap kalau mau ikut."


"Tapi ma ini penting."


Ibu Olivia terus saja berjalan menuruni anak tangga dan tidak menghiraukan apa perkataan putra nya. Sampai dimana langkah nya terhenti ketika Regi menyuarakan apa yang sejak tadi ingin dia utarakan.


"Lamaran ini harus batal ma," ucapnya serius. "Adik perempuan Akhyar hamil anak Dewa."

__ADS_1


"Apa? Apa kamu bilang?"


"Ya... Mega, adik perempuan Akhyar sekarang mengandung anak nya Dewa. Jadi aku mohon, mama bantu jelaskan kepada pak dhe dan budhe. Supaya lamaran ini tidak jadi dan otomatis rencana pernikahan Arumi dan Dewa batal."


Ibu Olivia masih ternganga, belum pulih dari rasa terkejutnya. "Ini benar atau main-main sih? Zahrin?"


"Benar ma, nanti Zahrin akan ceritakan di mobil. Sekarang kita pergi ke rumah budhe dan pak dhe."


.


.


Di rumah pak Hendarto.


"Dewa... kalau kamu sudah siap, cepat turun," ujar ibu Rahma kepada putra nya.


"Iya ma," sahut Dewa dari dalam kamarnya. Yang tidak lama kemudian dia turun menuju ke mama nya.


Baru saja, ibu Olivia ingin menyampaikan perihal masalah terkait kehamilan Mega. Akhyar tiba-tiba datang dan langsung menghajar Dewa.


Beberapa kali, pukulan penuh murka Akhyar melayang menghajar pipi mulus Dewa. Ditambah perut Dewa juga dihajar habis-habisan dengan kemarahan Akhyar yang tidak terkendali.


Teriakan dari ibu Olivia dan budhe Rahma tentu bersahutan. Menyuruh Akhyar menghentikan tindakan membabi buta nya yang membuat Dewa kewalahan dan tentu babak belur. Darah segar dari hidung dan sudut bibir tentu sudah mengalir perlahan.


Regi dan Pak Hendarto sudah berusaha menghentikan tindakan Akhyar, namun karena kemarahan nya sudah memuncak dan tertahan sejak kemarin. Alhasil sulit dihalau oleh keduanya.


"Mas Akhyar cukup!" pekik Zahrin supaya menghentikan kelakuan Akhyar yang mengedepankan emosi.


Akhyar berhenti dari aksinya yang mau menghajar Dewa kembali.

__ADS_1


"Hei! Siapa kamu? Berani-berani nya menghajar putra kami," seru pak Hendarto kepada Akhyar.


Akhyar kemudian menarik kerah samping kemeja batik yang dikenakan Dewa. "Bajingan! Dasar kamu pria pengecut!" ucap Akhyar dengan sangat keras persis di wajah Dewa yang berjarak kurang dari lima senti itu. "Cepat katakan kepada kedua orang tua kamu! kalau kamu menodai adik ku," perintah Akhyar kepada Dewa yang menahan rasa sakit dan perih tentu nya.


Dewa tidak berkutik. Dewa akhirnya mengatakan apa yang diperintahkan Akhyar kepadanya. Meskipun cukup sulit bibir nya mengakui kesalahan nya.


Sontak saja membuat budhe Rahma dan pak dhe Hendarto kecewa. Tangan kekar pak dhe Hendarto menampar wajah putra nya yang sudah lebam. Memberi jejak tambahan yang sudah terkena bogem tanpa ampun dari Akhyar. "Papa tidak pernah ajarkan kamu untuk tidak bertanggung jawab. Papa malu, Dewa."


Budhe Rahma hanya terisak tangis. Satu, pasti mengecewakan calon besan yang dimana adalah teman bisnis sekaligus teman arisan. Dua, acara yang sudah tersusun rapi alhasil berakhir akan gagal total. Bukan hanya acara hari ini, melainkan rencana pernikahan di depan mata yang tentunya akan batal.


Keributan berakhir. Setelah pembicaraan dengan kepala dingin itu berhasil ibu Olivia sampaikan kepada Akhyar mewakili keluarga kakaknya.


Ya, Akhyar mengapa tadi bisa sampai di rumah pak Hendarto dan langsung menghajar Dewa? Sejak pagi, dia sengaja memantau rumah ibu Olivia. Dan kebetulan, mobil di tumpangi oleh ketiga nya keluar dari garasi mereka. Yang dimana Akhyar sebenarnya tidak begitu yakin mereka akan pergi ke rumah Dewa.


Namun sesampainya, ada seorang pembantu rumah tangga Dewa tengah keluar dan Akhyar pun bertanya pada nya. Rumah siapa? Dan apakah kenal dengan Dewa? Ditunjuklah sosok laki-laki yang kemudian Akhyar melampiaskan kemurkaannya.


Setelah Akhyar pulang. Semua keluarga berembug. Dewa seperti seorang terdakwa yang benar-benar diadili. Kepalanya tertunduk, mulutnya membisu seperti tidak ada yang peduli.


"Kamu harus menikah dengan dia. Dan otomatis batal menikah dengan Arumi," ucap penuh sesal yang keluar dari mulut pak Hendarto. Karena bagaimanapun, keluarga Arumi adalah rekan bisnis nya. Ibunya Arumi teman budhe Rahma, sementara papa Arumi adalah teman kuliah pak Hendarto saat keduanya melanjutkan S3 nya di Singapura.


Dewa bahkan tidak langsung menjawab nya. Dia benar-benar terguncang atas amukan sosok pria yang katanya kakak dari Mega. Namun dia juga enggan menerima pernikahan nya dengan Mega begitu saja. Terlebih akan menyakiti hati Arumi dan tentunya hatinya juga. "Aku tidak mau. Aku tidak siap. Aku tidak siap menikah dengan orang yang tidak aku kenal dan tidak aku cintai."


Dilempar lah bantal sofa bulat berwarna krem itu mengarah ke kepala putra nya karena saking kesal nya. "Apa kamu bilang? Tidak siap? ... Lalu mau kamu apa?" sentak pak Hendarto yang cukup geram dengan jawaban putra nya. Bagaimana tidak? Dia saja rela tidak jadi berbesanan dengan kawan lama nya. Yang jelas-jelas pasti ada renggangnya tali silaturahmi nanti nya diantara mereka. Malah sekarang, dengan ringan nya Dewa bicara hal demikian.


"Aku mau menikah, sampai anak Mega lahir. Dan setelah itu izinkan aku kembali pada Arumi," jawab Dewa yang beberapa hari ini dia pikirkan dan memang akan disampaikan kepada Mega setelah Mega meminta hak nya atas nama ayah di akta kelahiran anak nya nanti.


Pak Hendarto geleng-geleng kepala dengan putra nya. Menganggap jika Dewa mempermainkan pernikahan nya dengan Mega. "Kamu..." geramnya bersamaan dengan tarikan nafas panjang pak Hendarto sembari memegang bagian jantung nya.


"Apa mama sama papa lupa? Kalau Satrio juga mencintai Mega? Dan aku rasa, Satrio juga tidak akan rela, jika kekasihnya akan seumur hidup menjadi istri saya."

__ADS_1


Membuat semuanya ternganga dengan apa yang dikatakan oleh Dewa.


BERSAMBUNG


__ADS_2