
Tangis Arumi pecah saat berada di dalam mobil. Meski kata putus dari Dewa sudah dia duga sebelumnya. Namun tetap saja, malam itu terasa remuk saat mendengarnya sendiri.
Sementara Dewa dan Mega melanjutkan acara mereka. Keduanya berdansa, dimana lantunan musik malam itu membuat mereka terbawa suasana.
"Kamu cantik sekali malam ini sayang," ujar Dewa tentunya dengan tatapan penuh cinta kepada Mega.
"Oh ya?"
"Hem."
Dewa kemudian meraih janggut istrinya, mendekatkan biibir Mega dan mencium nya. "I love you sayang," imbuhnya Dewa yang dibalas Mega i love you too yang kemudian mereka saling memeluk hangat. Seakan malam itu adalah malam terbahagia mereka, karena sudah tidak ada lagi nama Arumi di hati Dewa dan bagian hidup mereka.
"Apa kamu bahagia malam ini?"
"Hem," Mega mengangguk.
"Apa sudah cukup bukti? jika aku sangat mencintai kamu dan anak kita nanti."
Mega mengangguk malu. Tidak percaya jika Dewa mampu melakukannya. "Apa semua ini nyata?"
"Hem, ini nyata sayang." Dewa mencubit pelan pipi Mega yang ternyata Mega merasakan sakit, yang berarti malam itu nyata dan bukan hanya mimpi. Keduanya tertawa kecil dalam sentuhan yang tidak sebentar pun mereka lepas.
.
.
Dua hari berikutnya.
"Sayang, mama dan papa yang mau kesana Sat. Sekalian mama sama papa mau liburan Sat. Jadi kamu sebaiknya tunda aja dulu kepulangan kamu ya sayang," kata ibu Rahma saat Satrio berniat pulang dua bulan lagi di panggilan ponselnya.
Satrio pasrah tidak ada kata membantah. Padahal niatnya pulang ke Indonesia, selain bertemu keluarga juga ingin berjumpa dengan Mega kekasihnya.
Sambungan telepon akhirnya terputus.
"Kenapa ma? Satrio mau pulang." tanya Dewa yang mendengar perbincangan mereka dari telepon.
"Iya tadinya begitu. Tapi mama berhasil mencegahnya. Mama akan ulur waktu sampai Satrio wisuda, baru dia boleh pulang. Pas setelah Mega melahirkan dan anak kalian sudah besar. Setelahnya baru kita bicarakan sama-sama persoalan kamu dan Mega kepada dia," papar panjang lebar dari ibu Rahma.
"Apa menurut mama? Satrio akan siap melepas Mega dan rela begitu saja ma."
"Ya, seperti kamu dan Arumi. Butuh waktu. Semua butuh waktu Dewa."
Dewa terdiam, masih tidak siap jika waktu itu tiba.
__ADS_1
"Buktinya saat ini, kamu dan Mega sudah saling cinta dan melupakan Arumi. Padahal kalau diingat, bikin sesak nafas tingkah kamu itu Dewa."
Dewa terkekeh.
"Eh malah ketawa. Nggak lucu tahu. Sekarang tahu sendiri kan, emang takdir nya kamu sama Mega. Ya, walau jalan awalnya harus begitu. Tapi kalau lihat sekarang sih, jujur mama papa bahagia. Karena sebentar lagi mama mau timang cucu dari kamu."
"Nggak nyangka ya ma, Dewa sebentar lagi mau punya baby." Dewa yang hampir tidak percaya jika waktu berlalu secepat itu.
"Makanya, kamu jadi suami yang bener."
"Hehehe, kan udah ma."
"Iya, iya. Mama hampir tidak percaya, jika kamu akhirnya memilih Mega dan berani melepas Arumi."
"Mama sama aja kayak Mega. Bilang katanya apakah semua ini hanya mimpi atau nyata?" Dewa yang memeragakan gaya bicara Mega di saat makan pesta.
"Hahaha."
Obrolan santai anak dan mama itu selesai. Saat ibu Rahma melihat nama Clarisa yaitu mama nya Arumi tertera di panggilan layar ponselnya. Ibu Rahma masih terheran, karena tidak biasanya mamanya Arumi menghubunginya semenjak pembatalan pernikahan Dewa dan Arumi.
"Kok nggak diangkat ma? Siapa?"
Ibu Rahma kemudian mengangkat benda pipih persegi panjang itu. Baru saja menempelkan benda itu di telinga, suara tangis dari seberang sudah terdengar. Mengatakan jika Arumi kecelakaan setelah pulang pesta dari acara peresmian hotel. Berharap Dewa menjenguknya, karena keadaan Arumi tengah kritis dan di rawat di unit gawat darurat dan belum sadar.
Percakapan keduanya usai. Jujur ibu Rahma bingung bagaimana menyampaikannya.
"Bukan siapa-siapa. Sudah kamu berangkat kerja," kata ibu Rahma menutupi dari Dewa.
Ya, semua itu dia lakukan untuk kebaikan rumah tangga putranya. Bukan berarti tidak empati pada Arumi yang dikenal baik juga olehnya. Tapi menurutnya, tidak semua hal tentang Arumi, Dewa harus perduli.
Dewa berpamitan berangkat kerja, sementara ibu Rahma datang seorang diri ke rumah sakit.
"Maafkan aku Clarisa. Dewa sibuk dengan hotel barunya. Jadi saya putuskan datang sendiri."
Ibu Clarisa menghentikan tangisnya. "Tidak menyangka ya Rahma. Kamu bisa tega begini dengan Arumi. Hanya demi perempuan yang tidak kamu kenal bahkan. Sedangkan hubungan pertemanan kita sudah lama. Jauh sebelum kamu mengenal wanita yang sekarang jadi istri Dewa. Minta Dewa untuk datang saja, kamu seolah enggan membujuknya," jawab ibu Clarisa yang tidak sepenuhnya percaya kepada sahabatnya itu.
"Clarisa..."
"Kamu lihat itu Arumi. Terbaring di dalam sana dalam keadaan kritis. Rahma, tolong Rahma. Mana tahu arumi cepat bangun, dari tidurnya yang hampir tiga hari dia belum sadar juga."
"Sabar Clarisa. Kita tunggu dulu perkembangan nya."
"Sampai kapan? Kamu mau biarkan Arumi terbaring di dalam sana Rahma." Ibu Clarisa yang bersedih mencoba memelas kepada ibu Rahma.
__ADS_1
"Clarisa..." Ibu Rahma mencoba menenangkan sahabat nya. Memberi tahu nya pelan, untuk tidak selalu mengaitkan Dewa dalam semua hal yang terjadi dengan putrinya.
Ibu Clarisa menangis melihat Arumi dari pintu kaca ruang unit gawat darurat. Bersujud memohon kepada ibu Rahma, namun ibu Rahma segera meraihnya, untuk ibu Clarisa tidak perlu melakukan hal tersebut.
Keduanya kemudian berpelukan dan ibu Rahma berkata akan bawa Dewa ke rumah sakit untuk masuk ke dalam dan bicara kepada Arumi mana tahu cepat bangun.
.
.
"Mama kenapa?" tanya Dewa lewat sambungan telepon.
"Dewa, kamu pulang sekarang ya. Mama mau bicara."
Tidak lama ibu Rahma berpamitan kepada ibu Clarisa. Dan sesampainya rumah, tidak berselang lama Dewa juga sudah sampai.
"Ada apa ma?" tanya Dewa yang melihat mama nya terlihat resah dengan jalan mondar-mandir di ruang tengah.
"Arumi koma. Tiga hari ini belum bangun dan sekarang di rawat di rumah sakit."
Dewa terkejut. Nafasnya berubah irama. Setelah mendengar apa yang baru saja disampaikan mamanya. "Dari mana mama tahu."
"Tadi pagi mama bohong sama kamu. Mama pergi ke rumah sakit sendiri melihat keadaan Arumi. Dia kecelakaan saat pulang pesta peresmian hotel kamu."
Semakin Dewa sesak mendengarnya. Mengulang peristiwa dimana malam pesta tersebut dia berkata apa kepada Arumi.
Dia pasti hancur malam itu.
Makanya dia tidak kendali nyetirnya dan kecelakaan.
ucap Dewa pada batinnya yang kenal betul dengan Arumi. Dewa menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan.
"Jika bukan Clarisa, mama Arumi memohon untuk kamu datang kesana, mama nggak akan minta kepada kamu kesana. Sekarang terserah kamu, mau datang apa tidak?" Ibu Rahma dengan berat mengatakannya. Karena rasanya, baru saja rumah tangga putranya seakan terlihat bahagia dan baik-baik saja.
" Aku terserah Mega ma. Gimana sayang?"
Mega yang juga sama perasaannya dengan ibu Rahma. Berat. Soalnya kalau begini terus, hubungan mereka seakan tidak pernah selesai karena saling tarik ulur. Meskipun ini adalah hal diluar dugaan, yang tidak ingin Dewa dan Arumi inginkan.
"Kalau kamu nggak izinkan, aku nggak pergi sayang."
"Nggak apa-apa kakak pergi aja."
"Ya udah gini aja. Perginya sama kamu."
__ADS_1
Dewa tahu, jika mama dan istrinya pasti berat. Mengingat baru saja Dewa bisa menentukan siapa wanita pilihannya untuk masa depan.
BERSAMBUNG