Aku Tidak Siap

Aku Tidak Siap
Bicara dari hati ke hati


__ADS_3

Dewa masih belum reda emosinya. Puluhan kali memencet bel rumah, Mega tidak mengangkatnya dan tidak lama, papanya datang berikut mama dan Mega. "Ada apa dengan Mega ma?"


"Lha kamu ini gimana sih? Kamu kan yang suaminya. Malah keluyuran malam nggak tahu kemana. Istri kamu perutnya sakit. Mama takut, ya udah mama bawa ke rumah sakit."


"Trus ma? Mega nggak apa-apa?"


"Kata dokter kontraksi palsu. Lagi pula kamu dari mana sih? Kata Mega, kamu beli makanan. Trus mana makanan nya? Mobil kamu juga di rumah. Naik unta pergi nya?"


Dewa terdiam. Merasa bersalah sekali dengan istrinya. Gara-gara kecemburuan Arumi, Mega dan bayinya yang harus jadi korban.


"Mama sebel deh sama kamu, Dewa. Nggak tahu sama jalan pikiran kamu." Ibu Rahma yang kemudian pergi ke kamarnya.


Dewa masih mematung sejenak, barulah dia naik ke lantai dua dengan wajah lesu mendekat ke istrinya.


Masih belum dia bicara saat Mega akan membaringkan tubuhnya untuk tidur. "Sayang aku minta maaf ya," ucapnya penuh penyesalan saat tahu jika kekasihnya yang membuat perut Mega sakit.


Namun Mega pura-pura tidur dan tidak menjawab permintaan maaf suaminya.


"Aku yakin kamu belum tidur."


"Hem..." jawab Mega segera, supaya Dewa tidak banyak bicara.


.


.


Pagi harinya.


"Sayang, aku mau nemenin kamu di rumah," kata Dewa antusias kepada Mega saat istrinya itu bangun tidur.


Namun Mega acuh dan wajahnya datar, biasa saja seolah mau Dewa dirumah dan tidak hari itu. Terserah. Mega tidak perduli.


"Sayang, aku udah minta maaf kan." Dewa yang berjalan di belakang istri nya yang masuk ke bathroom. Tidak putus asa, supaya komunikasinya dengan Mega membaik lagi meski dia bosan dengan semua ini. Bosan dengan sebentar-sebentar marahan, sebentar-sebentar baikan.

__ADS_1


Brak


Suara pintu bathroom yang dengan keras Mega tutup.


Dewa masih berdiri di dekat pintu kamar mandi. Menunggu Mega keluar dari kamar mandi. Namun setelah lima belas menit, Mega keluar dengan perasaan yang sama. Acuh dan masih marah kepadanya.


"Sayang, hari ini jalan-jalan yuk. Aku antar kamu ke salon ya. Atau aku anter kamu ke telaga biru. Kita habiskan hari ini di sana." Dewa yang membujuk Mega namun istrinya seperti menganggapnya tidak ada.


Sampai jarum jam pendek berubah tempat di angka 1 siang. Mega tetap mengacuhkannya dan memilih merawat bunga-bunga di taman. Mega selalu menghindar, jika Dewa berusaha mendekat dan mengajaknya bicara santai.


Ting tung


Bunyi bel rumah yang dibuka oleh bibi.


"Arumi..." Dewa yang terkejut mengapa Arumi berani datang ke rumah.


"Sayang, aku tadi mencari kamu di tempat kerja. Tapi katanya kamu tidak masuk hari ini. Makanya aku kesini."


Dewa masih menunjukkan sikap tidak bersahabat nya. Dia masih menyimpan kekesalan pada Arumi sejak semalam. "Mending kamu pergi," usirnya pelan dengan wajah yang datar.


Dewa terkejut, semua hal yang dilakukan Arumi mengarah memperjuangkan nya mati-matian seolah tidak ingin dia marah berkelanjutan. "Ya udah, masuk. Mega di taman belakang."


Arumi kemudian masuk dan mendekat ke Mega yang sibuk dengan tanaman-tanaman di belakang.


Mega cukup kaget dengan Arumi yang tiba-tiba berdiri di dekatnya.


"Mega..."


"Kalau kalian tidak nyaman dengan keberadaan ku, aku akan pergi supaya kalian leluasa berbicara," ujar Mega yang akan beranjak namun Arumi meraih jemari Mega.


"Kamu jangan salah paham. Aku mau minta maaf,"


Dahi Mega berkerut, mempertanyakan apa maksud Arumi berkata maaf kepadanya.

__ADS_1


"Aku yang menaburi bubuk cabe di makanan kamu semalam. Aku minta maaf Mega."


Mega hampir tidak percaya mendengarnya. Menoleh ke Arumi dengan belum ada kata yang dia ucapkan. "Jadi kamu yang melakukan nya?"


Arumi mengangguk. "Aku minta maaf Mega, tapi aku janji, aku tidak akan mengulanginya lagi. Asal kamu juga janji, mengembalikan Dewa kembali kepada ku," kata Arumi yang membuat hati Mega dan Dewa yang berdiri tidak jauh dari keduanya berdesir. "Aku tidak bisa hidup tanpa Dewa, kita sudah sangat lama menjalin cinta. Dan aku sangat cemburu, melihat kamu setiap hari bersamanya di rumah yang sama dalam satu kamar. Mungkin satu ranjang, aku tidak tahu apa yang kalian lakukan. Tapi aku berbesar hati untuk itu semua," ucap Arumi dengan bola mata berkaca-kaca. Terlihat sekali, jika hatinya sangat tersakiti dengan pernikahan mereka dan banyak hal yang dilakukan Dewa kepada Mega.


Mega juga tak kalah perih mendengarnya. Seketika seperti tertusuk jutaan jarum di sekujur tubuhnya. Dia masih terdiam dan belum menjawab apa-apa.


"Kamu bisa kembali dengan Satrio. Satrio pria baik, adik nya Dewa. Masih keluarga ini. Dan aku ikhlas jika ada ikatan cinta antara kalian yang tidak akan pernah putus, yaitu anak dalam perut kamu. Bukan kah harusnya begitu Mega? Setelah kalian bercerai, kamu kembali kepada Satrio. Hidup bersama dan bahagia. Begitupun aku, akan menikah dengan Dewa dan bahagia. Begitu kan Mega?" Arumi yang mengiba dengan tetesan-tetesan air matanya.


Begitu juga dengan Mega, yang menangis terisak, saat nama kekasihnya Satrio masuk dan dikaitkan oleh Arumi dalam perkara mereka.


Arumi belum melepaskan tangan Mega.


Mega juga belum menjawab apapun terkait hal yang disampaikan oleh Arumi. Dimana begitulah memang seharusnya yang terjadi. Pernikahan Dewa dan dirinya, usai ketika bayi dalam kandungannya lahir ke dunia. Yang awalnya itu juga permintaan Mega dan hal sederhana artinya biasa. Sekarang berubah, hal sederhana itu sulit dia terima seiring waktu dimana Dewa memperlakukan dia sebagai istri sungguhan dan bukan istri mainan.


Dewa lagi-lagi terenyuh. Tertunduk lesu dengan dua wanita yang bicara dari hati ke hati perihal menyepakati.


"Biar kak Dewa yang memilih." Mega yang kemudian pergi dengan langkahnya.


"Itu tandanya kamu juga mencintai Dewa. Melupakan Satrio. Kenapa kamu jahat sekali Mega?" Arumi bertambah tangisnya, ketika mendengar Mega tidak penuhi janjinya.


Mega berhenti. "Tanyakan saja pada kak Dewa, aku juga bingung Arumi. Aku juga tidak menginginkan semua ini terjadi," ucap Mega yang tidak kalah tangisnya dengan Arumi.


"Tapi kamu bisa, kamu bisa menolak Dewa dan kembali pada Satrio nanti. Jawabannya adalah kamu mau atau tidak. Dan kamu jelas-jelas mengingkari janji, Mega. Janji yang katanya, kamu hanya menginginkan nama Dewa untuk ada di akta kelahiran anak kamu. Apa kamu lupa?" Arumi yang terus mencungkil ingatan Mega dengan kata-katanya sendiri. Supaya Mega tepati janjinya. Tidak terbawa perasaan saat mereka bersama dalam satu atap.


Mega pergi dengan air mata yang dia bawa.


Sementara Arumi menangis kecewa. Karena ternyata, Mega juga mencintai Dewa dan lupa akan janjinya.


"Arumi..." ucap Dewa dengan suara yang serak karena lama bungkam.


"Aku tidak ingin dengar apapun. Aku tidak ingin dengar kamu berkata setengah bagian hati kamu milik Mega. Setengah nya lagi untuk bayi dalam perut Mega dan nama ku tidak ada." Arumi berlari kecil pergi. Menghalau tangan Dewa yang hendak meraihnya. Hatinya hancur merasakan dikhianati oleh keduanya.

__ADS_1


Sementara Dewa. Dewa tidak bisa berbuat apa-apa, selain menjambak kuat rambut ikalnya dengan kedua tangan nya.


BERSAMBUNG


__ADS_2