
Dua minggu kemudian.
Selama hari itu pula, Mega berusaha menghindari bertatap intens dengan suaminya. Bahkan hampir setiap hari Dewa selalu bertanya mengapa dirinya berubah sikap. Namun Mega selalu menjawabnya, dia baik-baik saja dan hanya perubahan hormon kehamilannya.
"Kamu ada apa sih?" tanya Dewa yang menarik lengan istrinya yang mau keluar kamar.
"Aku nggak ada apa-apa kak. Kan aku udah pernah katakan, kalau suasana hati ibu hamil itu naik turun," jawab Mega berusaha lepas dari tatapan suaminya yang menghanyutkan.
Dewa bersikeras menarik dan memutar punggung istrinya yang sudah mendapat langkah. Mengecup kening Mega cukup lama. "Maafkan aku ya, kalau aku belum bisa jadi suami yang baik untuk kamu," ujar Dewa manis dan terdengar penuh makna. Hati Mega terenyuh dan benar, jika suaminya pintar menyiasati hatinya yang kecewa.
Bola mata Mega berkaca-kaca, namun dia berusaha menyembunyikannya. "Iya kak," jawab singkat Mega antara luluh dan tidak.
"Aku berangkat kerja dulu ya." Diulang nya mengecup sepuluh jemari Mega.
Dewa keluar kamar, turun kelantai satu dan melajukan mobilnya.
Mega yang menangis terisak di tepi ranjang.
.
.
Beralih pada Akhyar yang berbicara empat mata di depan toko kue milik Zahrin dan Regi.
Arsyla bahkan sudah duduk manis dipangkuan Akhyar seolah mereka adalah ayah dan anak.
"Ada apa mas?" tanya Zahrin untuk memutus sepasang matanya yang tidak beralih dari Arsyla, anak perempuannya yang sangat nyaman bersama Akhyar.
"Aku mau titip Mega Rin."
Dahi Zahrin mengernyit. Kata titip membuatnya bingung. "Titip Mega?"
"Iya, aku ada tugas dari pak Hanung ke Jerman. Awal bulan aku berangkat."
"Ke Jerman?"
Akhyar mengangguk berat.
"Jujur aku berat meninggalkan Mega, tapi mau bagaimana lagi?"
"Iya mas, kamu tenang aja. Mega aman kok sama aku. Aku juga akan bujuk dia. Supaya misal ada apa-apa, dia cerita sama aku."
"Iya Rin, aku percaya dan sedikit tenang jika kamu yang menjaga dia. Tolong kabarkan apapun tentang dia, jika ada masalah."
Zahrin mengangguk.
"Terimakasih Rin."
"Sama-sama mas."
"Arsyla, papa A mau pulang. Sini sayang." Zahrin yang mengulurkan tangan nya untuk Arsyla dia gendong.
Acila menggeleng dan menangis histeris.
"Ush... ush... ush... no no no. Arsyla anak pinter nggak boleh nangis ya sayang," kata Akhyar lemah lembut supaya Arsyla berhenti menangis. Akhyar membujuknya dan menggendongnya sembari terus berusaha mendiamkan tangis Arsyla yang tidak mau ditinggal Akhyar pulang.
Zahrin hanya melihat saat bersama Arsyla, Akhyar seperti kembali ke diri nya dulu. Kalem dan tidak meletup-meletup seperti sekarang. Tukang pukul, suka main jotos dan asal maki ke orang.
__ADS_1
Zahrin memberi kode Akhyar untuk masuk ke toko sebentar. Sementara Akhyar masih menggendong Arsyla dan menimang nya supaya diam dan tidur.
"Kenapa? Mana Arsyla?" tanya Regi.
"Tuh..." janggut Zahrin mengarah ke luar kaca toko.
Regi tidak kaget. Arsyla memang lengket seperti perangko dengan Akhyar. Awalnya Regi cemburu, namun setelah dia pikir-pikir, kasihan Akhyar karena Akhyar tidak memiliki istri dan anak. Jadi membuat dia legowo, saat Arsyla bertemu dengan nya dan mereka bermain layaknya seorang ayah dan putri kecilnya.
Setiap selesai bertemu dengan Akhyar pun, Arsyla selalu membahasnya dengan masih terus memanggil nama papa A di hadapan nya. Yang awalnya hatinya sakit, sekarang biasa saja dan tidak apa-apa.
Belum berhenti disitu saja. Setiap mainan apapun yang dibelikan Akhyar, harus tersimpan rapi di lemarinya dan tidak boleh seorang pun menyentuhnya. Yang membuatnya jealous berhari-hari saat pertama kali dia mendengarnya. Bahkan mainan yang dibelikan nya, seolah biasa dan pemberian Akhyar berharga.
Setelah Arsyla bisa tertidur di pundak Akhyar. Barulah Akhyar bisa pulang dengan lega. Meski tidak mudah, menidurkan baby bunny dengan pulas.
"Ingat! Itu anak aku sama Regi, mas. Bukan anak aku sama kamu," celetuk Zahrin yang dari dulu tidak pernah rela jika Arsyla begitu menyayangi Akhyar melebihi mommy dan daddy nya.
"Iya Rin... aku tahu." Akhyar yang menghentikan mengusap puncak kepala Arsyla setelah dia baringkan di kursi belakang mobil.
"Aku pasti rindu sekali sama dia nanti." Akhyar yang cukup galau malam itu.
"Makanya cepet nikah mas, keburu tua," sahut Zahrin dengan ejekan nya.
Akhyar belum menimpali. Sampai dia berkata kalimat yang membuat mulut Zahrin terkunci. "Ya, doakan aja Rin, saya bisa menggantikan nama wanita spesial di hari aku."
Zahrin benar terdiam hingga Regi datang dengan menggendong Arsyad yang kemudian mereka berpamitan pulang. Dan Akhyar masih berdiri memandang mobil mereka hilang dari pandangan nya.
"Kamu tidak pernah tergantikan Rin," lirih Akhyar yang cukup perih matanya, jika melihat mantan istrinya seolah lupa dengan kenangan masa lalu mereka. Meski tidak dipungkiri, jika dia ikut bahagia juga melihat kebahagiaan rumah tangga mantan istrinya.
.
.
"Kalian ikut mama yuk, temenin mama belanja bulanan ke supermarket. Memangnya kalian mau ada acara?" tanya ibu Rahma kepada Mega dan Dewa.
"Enggak ma, kita nggak ada acara ya sayang?"
"Mega menggeleng."
"Ya udah yuk. Kalian siap-siap, kita berangkat."
"Oke ma."
Ketiganya berangkat ke supermarket dan Mereka pun sedang berbelanja. Dewa yang mendorong troli nya. Mengikuti kemana pun mama nya berjalan mengelilingi supermarket mencari keperluan di rumah yang sudah habis persediaan nya.
"Sayang, aku ke toilet dulu ya," pamit Dewa yang ingin buang air kecil.
"Iya."
Dan seusai Dewa keluar dari toilet. Dewa melihat Arumi dengan pria yang pernah dia lihatnya di gerai kebab di dekat pom bensin.
"Laki-laki itu lagi," ucap Dewa dengan perasaan tidak rela jika kekasihnya dekat-dekat dengan seorang pria.
"Siapa dia sayang?" tanya Dewa dengan wajah tidak suka. Dewa sudah berdiri di pinggir meja makan mereka.
"Sayang, kamu disini juga." Arumi kaget. "Oh, ini Niko. Niko, ini Dewa, kekasih ku." Niko yang mengulurkan tangannya lebih dahulu kepada Dewa. Namun tidak kunjung tangan Dewa menyambutnya untuk berkenalan. Arumi yang tidak enak hati dengan Niko, menarik tangan Dewa dan menyatukan telapak tangan mereka.
Dewa menatap tidak suka pada sosok Niko.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak izin dulu kalau kamu mau keluar sama pria itu?" tanya Dewa yang posesif mengajak Arumi bicara empat mata.
"Niko itu cuma..." Arumi belum selesai bicara, Dewa memotong ketus kalimatnya.
"Nggak! Aku nggak mau tahu. Sekarang kamu pulang. Dan kamu nggak boleh bermain sama pria yang aku nggak kenal dia siapa." Dewa posesif.
"Sayang, kok..."
Dewa menggelandang kekasihnya ke parkiran mobil. Mengantarkan Arumi pulang dan mereka berlanjut berdebat di dalam mobil.
Sementara ibu Rahma mencari keberadaan putranya.
"Mega, kamu hubungi Dewa. Katanya pergi ke toilet kok lama amat." gerutu ibu Rahma. "Bilang, belanja nya mau selesai dan kita makan siang bersama."
"Iya ma."
Tut
Tut
Tut
"Hallo sayang."
"Sayang kamu dimana?"
"Em... toilet nya tadi antri sayang, dan aku ke toilet luar supermarket."
"Oh..." Mega yang curiga, Dewa berbohong. Karena yang ada, telinganya cukup bisa menebak jika suaminya tengah berada dijalan. Karena bisa mendengar suara klakson mobil lain yang lebih dari tiga kali dia dengar. "Ini, mama sudah selesai belanja nya. Dan kamu ditunggu, soalnya kita mau makan siang sama-sama."
"Iya, iya. Sayang." Dewa pikir sudah menyentuh tanda telepon berwarna merah di layar ponsel nya. Ternyata belum.
"Siapa? Mega?" tanya Arumi dimana Mega dengan jelas mendengarnya.
"Jadi kamu pergi sama Mega?"
"Tidak berdua. Kita diajak mama untuk belanja ke supermarket. Pokoknya lain kali aku nggak mau tahu. Kamu nggak boleh jalan sama... Sama siapa tadi? Niko, Niko itu."
"Tapi kan aku cuma berteman sama dia sayang."
"Nggak boleh! Kamu pikir aku nggak tahu? Kamu bukan kali ini aja bertemu sama dia. Aku pernah lihat kamu asyik ngobrol sama dia di gerai kebab."
Arumi terbengong. Karena bagaimana bisa kekasihnya tahu?
Mega yang berada di seberang sudah tidak kuat mendengar percakapan mereka yang ternyata benar dugaan nya. Dewa berbohong terkait kepergiannya ke toilet. Mega kemudian mematikan ponselnya bersamaan dengan air mata yang mengambang. Terlebih dua telinganya terlanjur mengartikan apa yang mereka sampaikan. Dewa masih bertahan dengan rasa yang sama untuk Arumi.
Mega pamit ke toilet. Dan membasuh wajahnya yang setengah basah karena buliran jernih.
Beberapa menit kemudian Mega kembali, setelah memperbaiki penampilan bedaknya luntur karena dia basuh air keran.
"Kamu sudah hubungi Dewa?"
"Sudah ma. Mungkin sebentar lagi ma. Katanya tadi toilet sini antri, jadi kak Dewa buang air kecil di luar supermarket."
Mereka berdua menunggu lebih dari satu jam. Hingga ibu Rahma sebal dan akhirnya menikmati makan siang dengan Mega membawa rasa kesal. Dan masih belum cukup disitu. Usai makan, keduanya masih menunggu Dewa di restoran Mall. Nyatanya sampai sore Dewa tidak kunjung muncul juga. Dan alhasil, hingga petang menjelang, barulah Mega memesan taksi online untuk mereka berdua.
Kemana Dewa?
__ADS_1
BERSAMBUNG