
Sepanjang hari Dewa disibukkan di hotelnya. Hingga sampai sore hari, dia baru melihat pesan dari mama nya Arumi yang terkirim sejak tadi siang di ponselnya.
Dewa mampir sebentar ke toko kue tante nya. Dan masih ingat betul, jika mantan kekasihnya itu suka kue red velvet. Meskipun saat menyuruh pegawai toko kue itu, Dewa teringat istrinya di rumah. Lalu membelikan juga Mega kue yang sama dengan rasa yang berbeda yaitu coklat.
Tidak lama sampai rumah sakit. Karena jarak yang cukup dekat, toko kue Olivia dengan Rumah sakit dimana Arumi dirawat.
"Dewa..." sapa senyum lebar bahagia dari ibu Clarisa yang menghentikan menyuapi putrinya bubur dari rumah sakit untuk makan malam.
"Maaf ya Tante, saya terlambat."
"Tidak Dewa, kedatangan mu sungguhlah berharga buat putri tante. Kamu bersedia datang saja, tante sudah senang." Ibu Clarisa kemudian pamit keluar sebentar kepada Arumi dan Dewa. Sengaja, ibu Clarisa memberikan waktu kepada mereka berdua. Dan mungkin itulah yang diharapkan Arumi putrinya.
Setelah ibu Clarisa menutup pintu. Dewa melangkah lebih dekat di sisi mantan kekasihnya. Dan semua itu tidak terpangkas sedikit pun dari tatapan Arumi yang sejak tadi melihati nya.
"Aku suapi, kamu lanjutkan makannya ya?" tanya Dewa yang jujur belum bisa acuh seratus persen kepada Arumi. Terlebih jika melihat keadaanya yang terbaring diatas tempat tidur tidur pasien dan tidak bisa apa-apa.
Arumi mengangguk. Yang jujur malam itu dia senang. Kedatangan Dewa membuktikan, jika pria itu masih perduli padanya dan belum bisa penuh mengabaikan nya begitu saja.
Beberapa suapan berhasil masuk ke rongga mulut dengan aman. Dan tidak ada kata selain tindak tanduk Dewa yang begitu telaten menyuapi Arumi, begitu pun mengelap area janggut Arumi yang basah terkena kuah soto menu rumah sakit malam itu.
"Aku juga beli kue kesukaan kamu." Dewa yang kemudian membuka kue dari kardus nya. Terdapat pisau plastik berwarna putih dalam kardus tersebut dan Dewa mengirisnya sedikit untuk dia berikan kepada Arumi. Memasukkan kue itu perlahan masuk kembali ke mulut Arumi. Dan keduanya tersenyum dengan tatapan yang lama tidak mereka pancarkan.
"Terimakasih," ucap Arumi yang setelah nya tersenyum dan tidak melepaskan bola matanya dari pria yang sejak lama dia rindu.
"Sama-sama. Arumi, kalau begitu aku permisi ya, sudah malam." Dewa yang memusatkan sepasang matanya ke arloji yang melingkar di pergelangan tangan.
Bola mata Arumi berkaca-kaca. Tidak kuat dengan segala apa yang terjadi padanya. Hingga pria yang pernah mengisi hari-harinya, tega pergi memutus tali kasih dan meninggalkannya. "Apa kamu besok masih mau menjengukku?"
Sesaat Dewa terdiam dan menyembunyikan dua tangan nya pada saku celana melipis nya. Dan setelahnya, dia mengangguk dan tersenyum tipis.
Ada pilihan menggeleng dan menjawab tidak bisa, namun Dewa benar-benar tidak tega kepada Arumi. Bukan apa? Mengingat luka yang dia berikan, tidak akan sembuh begitu saja. Pasti akan membutuhkan waktu yang lama. Sengaja, mengangguk dan artinya iya, itu karena Arumi cukup bisa diajak bekerja sama untuk mengakhiri segala keputusan nya. Walaupun dia harus berakhir dan terbaring di tempat ini, pastilah semua karena dia.
Tanpa kecupan bibiir, tanpa elusan di kepala. Tanpa ritual apapun Dewa pergi perlahan menjauh dari tempat dimana mantan kekasihnya itu tengah terbaring.
Yang ditatap nanar oleh Arumi dengan tidak tahan hingga jatuhlah buliran jernih yang terus tiada henti. Dadanya seketika terasa nyeri, saat Dewa menjauh pergi tanpa kata apa pun malam itu. Good night, terlalu romantis mungkin buat mereka lagi.
__ADS_1
Kenapa? Kenapa seolah sekarang hanya ingin mengatakan hal yang dulu biasa dan terbiasa saja susahnya minta ampun. Bibir Dewa bahkan terkunci. Seolah tengah menjaga perasaan Mega dengan sangat hati-hati.
.
.
Di rumah.
"Kamu kok pulangnya malam sekali?" tanya ibu Rahma kepada putranya.
"Iya ma. Hotel di booking acara untuk kawinan sejak pagi. Dewa capek, Dewa mau ke atas."
Ibu Rahma hanya bisa menghela nafas. Sangat kenal putra sulungnya, jika dia selesai menjumpai Arumi, namun Dewa tidak pandai menyiasati ekspresi, hingga dapat disimpulkan nya.
Sesampainya masuk kamar, Dewa dikagetkan oleh Mega yang belum tidur dan masih menonton televisi.
"Kamu belum tidur?"
Mega menggeleng.
Mega menyusul perlahan untuk turun dan mereka bertemu di dapur. "Sini biar aku aja kak," ujar Mega yang kemudian memotong kue yang tadinya mau dipotongkan oleh Dewa. Mega dapat melihat jika di dalam struk pembelian tersebut ada dua kue yaitu kue red velvet yang nyata-nyata tidak tampak dilihatnya. Sedang kue coklat, yang saat ini hendak mereka makan berdua. "Ini kak." Mega meletakkan piring kecil putih berisi potongan kue yang baru saja dipotongnya.
"Thank you sayang," dimana Dewa langsung memasukkan potongan kue tersebut masuk ke dalam mulutnya dengan lahap.
Mega tersenyum. "Kakak dari mana?"
Dewa menyelesaikan kunyahan kue yang masuk mulutnya. Meskipun dalam benaknya berpikir apakah dia harus jujur atau bohong kepada Mega?
Dewa tidak menjawab dan memilih berdiri. Menggeser kursi makan lalu pergi. "Aku mau mandi dulu sayang." Dewa kemudian naik ke lantai dua kamarnya.
Sementara Mega, hanya bisa memandangi punggung suaminya yang menghilang dari balik pintu kamar. Mengelus pelan perutnya berulang, dengan nafas sedikit susah karena semakin membesar perutnya.
Dan setelahnya Dewa usai mandi. Barulah dia mengatakan jika dia selesai menjenguk Arumi dari rumah sakit.
Mega sudah menduga nya. Jika kue red velvet itu tentulah untuk Arumi.
__ADS_1
Sampai beberapa hari kedepan hal serupa terjadi. Dewa selalu menjenguk Arumi setelah pulang kerja dan sampai di rumah lewat dari pukul sepuluh malam.
Sadar, jika apa yang dia lakukan bisa salah arti dimata istrinya. Membuat Dewa ingin melelehkan suasana yang sempat beku diantara keduanya. "Sayang, nanti malam aku akan ajak kamu makan di luar," kata Dewa yang tidak ada angin tidak ada hujan. "Kamu siap-siap ya nanti."
Tentu, Mega senang mendengarnya. Dimana pada saat siang hari, Dewa mengingatkan Mega untuk tidak lupa dan ketiduran. Dimana pukul lima sore, Dewa mengingatkan kembali via chat WhatsApp kepada Mega untuk siap-siap. Namun yang ada berubah haluan. Tiba-tiba Dewa pasrah dan tidak menolak saat mamanya Arumi meminta Dewa untuk mengantar mereka pulang. Yang dia pikir akan sebentar. Ternyata ibu Clarisa mengajaknya berbincang hingga membuat Dewa lupa akan janji makan malam dengan istrinya. "Mega," lirihnya panik mengemudikan kendaraan roda empat nya melesat dengan kecepatan tinggi.
Dewa berlarian dari garasi menuju kamarnya. Mendapati istrinya tidak ada di kamar dan berlari kembali ke bawah untuk menyusul istrinya yang mungkin masih di restoran dimana mereka janjian.
Namun seketika langkahnya terhenti, melihat Mega baru keluar dari taksi online dan mereka saling bertatap dari kejauhan. Dewa segera menghampiri istrinya, namun tidak pada Mega dengan sikap dingin nya yang perlahan berjalan karena perutnya besar.
"Aku minta maaf sayang. Aku lupa," ujar Dewa yang tidak tahu musti bagaimana.
Mega terus berjalan. Menahan sejak tadi untuk tidak menangis akhirnya tidak kuat juga. Dia akhirnya menumpahkan air mata, dimana bola mata nya tidak kuat menampung lagi terhadap apa yang dirasa.
Pertengkaran mulut antar keduanya tidak terhindarkan. "Sayang aku minta maaf sayang," ucap Dewa terus memohon.
"Sampai kapan kak? Sampai kapan kakak akan mempermainkan perasaan Mega?" tentunya dengan menangis sesenggukan yang coba dia tutup dengan kedua telapak tangan.
"Sayang, aku minta maaf." Dewa tidak berhenti mengulang kata yang sama. Karena memang tidak sepantasnya dia membela diri. "Mama nya Arumi mendadak menghubungi. Dan aku mengantar mereka pulang karena hari ini, adalah kepulangan Arumi dari rumah sakit."
"Oh, jadi karena dia lagi? Karena dia lagi?" Mega yang tidak kuat, karena terus-terusan Arumi dan Arumi.
"Aku mohon kamu mengerti sayang. Dia terbaring sampai koma itu semua gara-gara kita," teriak Dewa untuk Mega mengerti jika Arumi sudah berkorban hati untuk mereka.
"Jadi, kakak terperangkap lagi dengan akan terus perduli terhadap apapun yang terjadi dengan Arumi?" Mega tidak kalah ingin mengetahui jika hati suaminya tidak kembali terbagi.
"Sayang..."
"Jawab kak!"
"Tidak seperti itu..."
"Pada kenyataan nya begitu kak." Mega dengan cepat memotong perkataan Dewa yang belum selesai dan pergi.
BERSAMBUNG
__ADS_1