
"Bagaimana cara menyampaikan nya kepada mama mu?"
Dewa diam, belum menjawab dan berpikir. "Misal kita bohong bagaimana pa?"
"Mama mu tidak bodoh. Dia pasti akan bertanya untuk apa dia minum obat banyak dan melakukan pemeriksaan dan pengobatan di rumah sakit."
"Iya juga sih pa."
"Kita lebih baik jujur aja. Papa tahu mama mu. Takutnya kalau kita tidak jujur, mama mu malah tidak mau minum obat-obatan yang diberikan oleh sang dokter."
Dewa mengangguk bagaimana baiknya saja.
Pak Hendarto dan putranya kemudian memasuki ruang rawat mamanya. Dan sudah disambut senyum ceria ibu Rahma setelah menikmati makanan di atas meja yang dibelikan putra nya.
Wajah ibu Rahma mendadak berubah. Melihat dua orang pria yaitu suami dan putra nya masuk dengan wajah sedih. "Ada apa dengan kalian?" tanya ibu Rahma meletakkan apa yang dipegangnya.
Keduanya masih terdiam.
"Jangan bilang kalau ada apa-apa dengan mama." Bola mata ibu Rahma tampak berkaca-kaca.
"Mama sakit tumor otak. Tapi masih bisa sembuh kata dokter. Asal kita rutin melakukan pengobatan dan mama patuh minum obat dari dokter, menjalankan semua saran dari dokter." Cukup sedih pak Hendarto mengutarakan nya.
"Tumor otak?" lirihnya nyaris tidak terdengar. Namun air mata sudah melaju berjatuhan. "Kok ngeri sih pa," imbuhnya berusaha tenang supaya putra dan suaminya tidak cemas.
"Nggak apa-apa ma, nanti kita cari rumah sakit terbaik ya. Ya terpenting mama harus sembuh," balas pak Hendarto yang merangkul pundak istrinya. Mengusapnya berulang, supaya istrinya kuat menghadapi kenyataan.
"Harus dong pa, mama mau lihat cucu-cucu mama. Apalagi cucu pertama mama, kurang beberapa bulan lagi Mega lahiran. Dan mama nggak mau melewatkan itu. Menimang cucu perempuan mama untuk yang pertama."
"Iya, iya."
Dewa cukup sedih mendengarnya. Mamanya yang biasanya bawel dan mengomelinya, tiba-tiba kini kondisinya berbeda. Setelah mendengar vonis dokter tentang penyakitnya, mama nya lebih banyak diam dan mengurung diri di kamar setelah kepulangan nya dari rumah sakit.
Setelah melakukan pengobatan yang sudah satu bulan rutin beliau lakukan. Bukannya malah terjadi perkembangan terkait kesehatannya. Yang ada malah semakin hari semakin memburuk.
"Mama..." teriak Dewa yang mengetahui jika mama nya hampir terjatuh.
__ADS_1
"Mama tidak apa-apa Dewa." Dengan bibir pucat ibu Rahma berusaha tenang dan harus terlihat baik-baik saja di depan putranya.
"Kita ke kamar ya ma. Kan ada bibi, mama bisa minta tolong sama bibi dan Mega."
Ibu Rahma sedih. Tubuhnya yang dulu masih segar bugar, sekarang seakan melemah seiring berjalannya waktu.
Tidak lama, pak Hendarto pulang kantor dan masuk kamar yang sudah ada Dewa dan Mega. "Ada apa dengan mama mu?"
"Mama tadi hampir jatuh pa," jawab Dewa dengan mata berkaca-kaca.
Pak Hendarto dengan langkah lesunya. Setiap pulang ke rumah, dia selalu mendengar hal yang tidak diinginkan perihal kesehatan istrinya.
Kring kring kring
Ponsel milik ibu Rahma pun berdering. Dimana Satrio yang awalnya bertanya kabar merembet mempertanyakan masalah apakah mama papa nya jadi liburan ke Inggris seperti yang kapan lalu mereka sampaikan.
"Ada apa pa?" tanya Satrio dari seberang dan di dengarkan oleh semuanya karena di loud speaker.
"Nggak ada apa-apa Sat. Terus bagaimana kuliah kamu?" Pak Hendarto berusaha mengalihkan pertanyaan putra keduanya.
"Kuliah ku baik-baik saja pa, lancar dan ini liburan satu bulan. Aku tunggu kabar mama sama papa. Jika memang kalian batal liburan, ke Inggris, mending Satrio aja yang pulang pa. Kangen rumah. Kangen Mega, hehehe." Yang semua jawab Satrio di dengar oleh semuanya. Dewa tampak risau, memijit pelan dahi bagian tengahnya dengan ibu jari. Begitu juga dengan Mega, yang tercengang untuk beberapa detik setelah Satrio dengan jelas mengucap nama nya di sambungan telepon.
"Papa bujuk dia supaya tidak pulang. Alasan apapun," pinta ibu Rahma.
"Mama lupa anak mama. Dia aja rela meninggalkan kekasihnya dan keluarga nya dan memilih mengejar apa yang diinginkan dengan melanjutkan studi jauh disana, padahal papa tawarkan dia kuliah di Singapura yang tak kalah bagus kualitasnya. Satrio, keras kepala. Dia tidak mungkin mau dicegah. Jika kita tidak bisa kesana, otomatis dia akan pulang." Pak Hendarto yang melirik Mega dan Dewa. "Kalian siap-siap aja." Pak Hendarto yang kemudian bangkit dari duduknya. Keluar kamar yang tidak lama Mega dan Dewa juga keluar dari kamar mama dan papa nya.
.
.
"Bagaimana kak?" tanya Mega yang khawatir jika Satrio datang.
Dewa belum menjawab pertanyaan istrinya. Kepalanya tertunduk, memijit dahinya dengan beberapa jarinya. "Kita pikirkan nanti ya sayang."
"Apa nggak bisa cepat?" Mega yang terlihat sekali jika dia tengah diliputi kecemasan tingkat sangat.
__ADS_1
"Kenapa memangnya?"
"Aku tahu Satrio seperti apa. Bisa saja lusa dia sampai ke Indonesia."
"Kamu bahkan lebih kenal dia."
"Kak..." Mega yang galau malam itu juga.
Dimana Dewa beranjak untuk tidur. Mega gelisah dengan sendirinya.
"Kalau Satrio pulang dan meminta bertemu bagaimana?" lirih Mega dengan cuping hidung yang dia kembangkan merambat melihat perutnya yang besar. "Misal alasan pergi ke luar kota. Dalam satu bulan dia Indonesia, rasanya mustahil dia tidak berusaha ingin bertemu. Kecuali harus dia cegah kepulangan nya. " Mega kemudian berkirim email ke Satrio. Namun sampai esok harinya emailnya tidak kunjung dibalas juga.
Dewa yang baru bangun tidur, sudah melihat istrinya rapi dengan kaki yang tidak berhenti berjalan mondar-mandir dengan ponsel yang dia tempelkan di telinga.
"Syukurlah, akhirnya kamu angkat juga," kata Mega kepada Satrio.
"Ada apa sayang?" balas Satrio kepada Mega. "Kan aku udah bilang, kirim email saja. Pasti aku balas."
"Aku sudah kirim, tapi tidak kamu balas."
"Iya ada apa? Aku kangen, kalau misal mama papa tidak jadi liburan ke Inggris. Aku pulang. Aku rindu kamu sayang," jawab manja Satrio. Yang semua itu di dengar Dewa, karena dia meminta Mega untuk mengeraskan suara Satrio.
"Tapi misal kamu pulang, aku sedang di luar kota." Mega ragu mengatakan nya. Matanya sedetik dia buka sedetik setelahnya memejam karena sadar jika semua itu adalah dusta. Itu pun dia lakukan sembari mengelus bayi nya, semoga baik-baik saja atas dusta ibunya.
"Gampang lah itu bisa diatur," jawab Satrio yang sudah tidak bisa dia tawar.
"Sayang..." Seketika Mega menutup mulutnya dengan telapak tangan karena lupa akan kebiasaan memanggil kekasihnya itu sayang.
Dewa geleng-geleng kepala kecil, gemas dan mencubit hidung istrinya.
"Sebaiknya kamu nggak usah pulang. Tapi nggak apa-apa sih kalau kamu ngotot pulang. Yang penting aku udah katakan, kalau aku tidak bisa bertemu dengan kamu."
"Tega amat."
Tut Tut Tut
__ADS_1
"Yah, habis pulsa nya," keluh Mega dengan wajah tidak ada ceria-ceria nya.
BERSAMBUNG