
Dewa kemudian masuk kamarnya. Tidak tahunya ada Mega yang berada di belakang pintu dan hampir terjatuh karena terdorong oleh nya saat membuka pintu.
"Aw..." teriak pelan Mega saat tahu dirinya terhuyung karena suaminya.
Dewa langsung menarik lengan istrinya hingga wajah mereka bertemu. "Kamu nggak apa-apa sayang? Sorry..." ungkap Dewa tentu dengan semua perkataannya sangat lirih dan sedikit tertekan oleh keadaan.
Wajah Mega sudah tidak bisa dikondisikan. Antara takut jika ketahuan dan rasa cemasnya mendominasi terang-terangan.
Sesaat dia tersadar, jika semua syarafnya menegang sejak tadi. Mengelus putri tidurnya di dalam perut, seakan merasa bersalah terhadap buah hatinya.
"Aku haus kak," ujar Mega yang memelas dan mendekat ke suaminya yang duduk di tepi ranjang.
Dewa yang sejak tadi memendam kesal oleh keadaan, ambyar mendengar kalimat Mega yang tengah haus. "Astagfirullah..." Dewa langsung bangkit dan panik.
"Kenapa kak?"
"Susu bumil kamu, belum aku amankan sayang." Dewa langsung tergesa menuju pintu kamar. Pelan-pelan dia keluar kamarnya untuk menuju dapur.
Terlihat aman, karena sepertinya Satrio masih istirahat di kamarnya.
Dewa langsung turun ke dapur. Meminta tolong bibi untuk menyembunyikan beberapa box susu hamil milik Mega. Dia kemudian membuatkan susu untuk Mega dan dibawanya ke kamar.
Namun sialnya, belum sampai ujung tangga atas, Satrio keluar kamar yang sepertinya akan turun. "Sejak kapan kakak minum susu? Putih lagi," ujar pria berkaos corak merah itu dengan celana training nya dan terkesan santai.
Dewa melongo. Memikirkan jawaban akhir nya ketemu. "Sejak kamu melihatnya lah."
Satrio lanjut turun tangga dan menuju dapur. Dia membuka lemari dingin dan menuang air dingin dalam gelas lalu meneguknya.
Sementara Dewa, setelah mengusap tengkuk lehernya, langsung berjalan ke kamar menyuruh istri nya untuk minum susu ibu hamil yang dia buatkan. Dewa tersenyum dan mengusap puncak kepala Mega saat fokus Mega tertuju pada gelas berisi susu yang diminumnya.
"Kak, aku masih laper..." rengek Mega dengan manja karena biasanya di jam-jam tersebut dirinya makan camilan dan buah.
"Kenapa kamu nggak bilang tadi?"
"Pingin nyemil nya sekarang kak."
"Ya udah. Tunggu sebentar ya, Satrio tadi di dapur ambil air minum."
Mega mengangguk dan terlihat sekali dia tidak rewel saat dikurung di kamar.
Sesaat Dewa kemudian keluar kamar. Ternyata Satrio masih di meja makan dan terlihat sekali jika dia tengah menghubungi seseorang. Dan sepertinya Mega. Karena sejak tadi Dewa mendengar gerutuan adik laki-lakinya itu.
"Kamu kemana sih sayang?" keluh Satrio yang terdengar saat Dewa memotong kue untuk istrinya. "Tega banget sih kamu. Masak iya, tiba-tiba hpnya tidak aktif." Satrio yang bergumam-gumam sendiri dan lagi-lagi sampai pada telinga Dewa.
"Kenapa?" tanya Dewa pura-pura tidak tahu.
"Nggak apa-apa kak, pusing aja sama cewek ku. Masak iya, aku bela-belain pulang dari Inggris dan pinginnya satu bulan ini liburan ke Bali, eh tau nya hpnya nggak aktif," kata Satrio yang kemudian meletakkan ponselnya di atas meja.
"Oh, mau diajak ke Bali?"
"He em."
"Siapa nama cewek kamu?" Dewa yang pura-pura lagi tidak tahu.
"Mega..."
"Oh... Mega." Dewa yang menganggukkan kepala kecil berulang dengan ekspresi yang tentu bimbang-bimbang gemas.
__ADS_1
"Itu buat siapa kak?" tanya Satrio melihat nampan berisi penuh dengan kue, puding, buah potong berikut snack makanan ringan.
"Ya buat kakak lah." Dewa yang bangkit dari duduk nya dan mengangkat nampan berisi camilan Mega.
"Sebanyak itu?"
Dewa merem melek. Sadar nampan yang dia bawa isinya memang cukup banyak, mengingat ada dua makhluk hidup di dalam kamarnya. "Buat sambil nonton tv."
"Wah... Kita nonton sama-sama yuk kak, biar seru." Satrio yang sudah berjalan di bawah anak tangga kakaknya berpijak.
"No!" pekik Dewa dengan sangat. Yang membuat Satrio jantungan. Reaksi Dewa terkesan berlebihan memang. Lha bagaimana tidak. Misal dia tidak begitu. Yang ada tahu jika kekasihnya ada di dalam. Runyam.
"Emangnya kenapa sih kak?" tanya Satrio bingung dengan reaksi kakaknya yang agak-agak.
"Nggak! Nggak ada nonton tv bareng. Di kamar kamu juga ada tv. Tuh, tv besar." Sepasang mata Dewa yang mengarah pada tv besar di ruang tengah untuk menonton televisi keluarga. "Kamu bisa nonton tv dimana aja," ketus Dewa yang kemudian naik tangga lagi.
"Ampun... Galak amat. Kan seru kalau nontonnya barengan."
"Nggak! Kakak mau nonton film hitam. Anak kecil nggak boleh nonton," seru Dewa yang kemudian membuka pintu kamar dan menutupnya keras.
Dahi Satrio berkerut. "Film hitam?" lirihnya sembari menggaruk-garuk kepala, karena tidak mengerti apa maksud kakak nya.
"Ini sayang," Dewa yang menyerahkan nampan penuh dengan aneka makanan dan buah.
Mega tersenyum dan segera menyantap apa yang ada di atas nampan.
"Pelan-pelan, nanti keselek."
"Hehehe..." tawa kecil Mega dengan potongan semangka yang masih membungkam mulutnya. "Ada apa?" tanya Mega melihat Dewa gelisah.
Mega seketika berhenti mengunyah. Dia letakkan kembali makanan di tangannya di atas piring. "Trus Gimana kak?"
"Ya mau gimana lagi? Ketimbang kuliah dia kacau setelah dia dengar kamu aku nodai dan aku nikahi ditambah sekarang aku cintai."
Seketika tubuh Mega melemah. Bisa merasakan perasaan Satrio betapa sakitnya.
Keduanya terdiam saling berhadapan. Dimana kedua kening mereka bertemu. Yang artinya mereka tengah pusing berjama'ah. "Udahlah, kita pikirkan nanti yang masalah bicara ke Satrio. Tunggu baby cherry ini lahir. Semoga saja Satrio lanjut sampai S3. Jadi kita bisa bernafas lega agak lama."
"Jangan panjang-panjang dulu mikirnya. Yang ini aja dulu di hadapi. Supaya Satrio tidak tahu jika ada aku di rumah ini."
"Iya, iya. Kita bisa siasati. Buktinya sekarang, baik-baik aja kan?"
"Tapi aku takut kak..."
Dewa kemudian meraih kepala istrinya untuk dia letakkan di bahunya. Diusapnya rambut bagai sutra milik Mega yang kemudian mereka menikmati dengan menonton tv bersama.
.
.
Malam hari.
"Buat siapa bi?" tanya Satrio kepada bibi mengapa harus makanan milik mama nya di antar ke kamar.
"Buat ibu, mas Satrio."
"Kenapa harus diantar? Kan biasanya mama makan malam bersama di meja makan?"
__ADS_1
Bibi diam setengah menunduk. Karena sudah dipesan untuk tidak bicara macam-macam terkait apapun tentang penyakit ibu, terlebih pernikahan Dewa dan Mega.
"Kalau begitu biar Satrio aja." Satrio berusaha meraih nampan berisi makan malam untuk mama nya.
"Nggak usah mas Satrio." Bibi yang berusaha mempertahankan nampan berisi makanan.
"Nggak apa-apa bi."
Satrio kemudian ke kamar mama nya.
Sudah disambut dengan ibu Rahma yang menyadarkan punggung di tempat tidur. "Kok kamu yang antar, bukan bibi."
Satrio belum menjawab. Masih memperhatikan mamanya dengan seksama. "Apa ada yang mama sembunyikan terkait sakit mama?"
Ibu Rahma cukup kaget. Mendengar putranya bertanya demikian. "Nanti juga sembuh."
"Sakit apa sih ma? Satrio nggak suka, kalau mama bohongi Satrio perihal sakitnya mama."
Ibu Rahma mengalihkan mata yang sejak awal tertuju pada putra nya. Mendengus halus. "Tumor otak."
Satrio tercengang. "Apa ma? Kenapa mama nggak jujur sama Satrio?" protes Satrio seolah semua terkesan menutup-nutupi darinya.
"Buat apa? Nanti malah ganggu kuliah kamu," jawab ibu Rahma lesu tidak bertenaga. Tidak pada umumnya orang sehat seperti sedia kala.
"Trus gimana ma?"
"Gimana apanya?"
"Tumornya?"
"Ya udah dijalani aja. Kata dokter selama tumor mama tidak agresif, insya Allah sembuh dan tidak merembet menjadi kanker yang berbahaya."
"Pantes, mama terlihat tidak segar bugar, saat Satrio pulang. Papa juga gitu waktu di telepon. Jika Satrio selalu tanya keadaan mama, papa selalu tidak pernah menjawab dan mengalihkan ke arah pembicaraan lain."
"Ya udah, ya udah. Sekarang kan udah tahu." Ibu Rahma yang kemudian memeluk Satrio.
"Ya udah sekarang mama makan dulu ya, biar Satrio suapi. Biar mama cepat sehat lagi ma. Trus nanti pas wisuda aku, mama bisa datang ke sana."
"Doain ya sayang, semoga mama cepat sehat dan bisa datang ke wisuda kamu."
"Iya ma," jawab Satrio dengan anggukan di kepalanya.
Setelah usai menyuapi mamanya. Satrio pun keluar dan terkejut dengan apa yang dilakukan Dewa kakaknya. Karena melihat kakaknya membawa dua piring nasi berikut lauk pauknya untuk di makan di kamar nya. Yang padahal dia bisa melakukannya di meja makan.
"Buat siapa kak?" tanya Satrio dengan mata tertuju yang lagi-lagi pada nampan di tangan Dewa.
"Ya buat kakak lah."
Pandangan Satrio bercabang, antara kakaknya dan si nampan.
"Harus ya makan di kamar? Kan biasanya di meja makan."
"Nggak tahu, hari ini kakak pingin aja makan di kamar. Nonton film hitam sampai malam." Dewa yang tidak menggagas lagi Satrio akan berpikir apa. Yang terpenting adalah istri dan babynya tidak kelaparan tengah malam. Dewa berlalu dari hadapan adiknya.
Sedangkan Satrio, tidak punya kata yang dia gumam-gumam kan macam-macam selain kata aneh untuk kakaknya.
BERSAMBUNG
__ADS_1