
"Pagi sayang," sapa manis dari Dewa kepada Mega yang baru bangun tidur.
Mega acuh dan beranjak dari kasur, namun Dewa menghentikan nya dengan meraih tangan milik istrinya. "Eits, mau kemana?"
"Mandi."
"Oh..." Dewa kemudian melepaskan tangan nya. Membiarkan Mega mandi terlebih dahulu baru mereka akan bicara. Dan setelah lima belas menit Mega mandi. "Sayang, aku minta maaf ya. Kemarin aku nggak pulang."
Mega yang sibuk mengeringkan rambutnya dengan hair dryer dan sudah tahu mengapa suaminya tidak pulang ke rumah kemarin malam. Arumi adalah alasannya. Alasan dari ketidak pulangan Dewa malam itu. Mengabaikan nya di acara tasyakuran 4 bulanan kemarin. Dan memilih mengantar Arumi ke rumah sakit.
"Sayang, kamu mau kemana?" Dewa yang melihat istrinya tampak buru-buru menuruni anak tangga dan bicara ke bibi menanyakan keberadaan mama nya.
"Aku mau pergi sebentar."
"Biar aku antar ya?"
"Nggak usah."
"Trus kamu mau naik apa?"
"Taksi online." Semua jawaban yang diberikan Mega cepat dan seakan malas menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan Dewa kepadanya.
"Sayang kamu jalannya pelan-pelan dong." Dewa yang khawatir melihat istrinya, karena jalannya Mega terbilang cepat dan terburu-buru.
Dewa kemudian menghadang istrinya dengan kedua tangan yang dia rentangkan untuk menutup akses jalan Mega. Itu dikarenakan Mega jalan terus dan tidak berhenti saat diajak bicara. "Aku mau bicara dulu."
"Ya udah bicara!"
"Sayang, kamu kenapa sih? Kan aku udah minta maaf. Okay, aku salah. Tapi Arumi lebih butuh aku malam itu."
Mega tidak sadar, jika perlahan-lahan bulir-bulir jernih dari matanya jatuh saat suaminya menyebut perempuan yang masih menjadi kekasihnya. Arumi.
"Please... Kamu jangan nangis. Aku nggak kuat. Dan kamu harus tahu alasannya. Dia punya penyakit maag akut. Orang tuanya keluar kota pada saat itu. Dia harus minta tolong kepada siapa? Kalau bukan aku. Tolong kamu mengerti ya."
Mega masih terdengar samar isaknya. Rasanya baru saja suaminya itu mengganti cincin nikah mereka yang bertuliskan nama berdua, makan malam romantis dan banyak hal seakan dia segalanya. Ternyata pada Arumi juga.
"Taksi online ku sudah dateng." Mega yang bisa lolos juga dan akhirnya keluar menuju taksi online.
Dewa mengejarnya dan memanggil nama istrinya lebih dari empat kali namun Mega terus saja dan akhirnya Dewa menyerah. Membiarkan Mega pergi, namun dengan pesan yang diberikan Dewa kepada supir taksi untuk hati-hati karena istrinya tengah hamil. Dewa juga meminta nomor wa sang supir dan memberinya lembaran uang untuknya.
Dewa kemudian pergi ke proyek hotel yang 80% sudah jadi pembangunannya. Seperti biasa, mengecek semua yang menurutnya tidak sesuai dan bertemu dengan beberapa perusahaan terkait fasilitas hotel.
__ADS_1
Hingga mobilnya tepat berada di depan toko kue tantenya. Dewa teringat Arumi yang masih pemulihan. Dia kemudian pergi ke toko kue Olivia untuk membeli pudding dan aneka kue kesukaan Arumi.
"Banyak sekali kamu belanjanya."
"Tante." Dewa menoleh ke Tante Olivia yang tengah berdiri melihat dirinya tengah membayar ke kasir.
"Pasti buat Mega sama mama kamu. Kenapa mama kamu nggak ke toko sendiri? Biasanya juga kesini."
Dewa tidak menjawab dan tersenyum.
Usai membeli puding dan kue kesukaan Arumi. Kendaraan roda empat nya tidak lama telah sampai di rumah Arumi. Dan apa yang dilihatnya?
Niko datang dan menjenguk Arumi. Mobil Dewa berhenti disaat Niko pamit mau pulang.
"Sayang," ucap Arumi kepada Dewa.
"Ngapain dia kesini?"
"Dia habis jenguk aku."
"Oh gitu. Kamu masih berhubungan sama dia?" nada intonasi Dewa yang mulai marah.
"Sayang kamu kenapa sih? Niko niat nya baik lho. Dia hanya jenguk aku yang habis sakit. Apa itu salah?"
"Sayang..."
"Kamu tahu? Aku bela-belain berantem sama mama dan Mega. Nggak pulang, nungguin kamu di rumah sakit dan sekarang ada dia yang baru aja jenguk kamu. Egh..." Dewa kesal menghempas puding dan kue red velvet ke atas lantai.
Arumi ternganga, tidak percaya dengan kemarahan Dewa siang itu. Tersadar, jika mungkin Dewa tidak menyukai kedatangan Niko yang menjenguknya. "Sayang tunggu sayang..." Arumi berusaha mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil Dewa, namun Dewa tidak perduli dan tetap melajukan mobilnya.
"Arrrgh..." Arumi juga kesal bercampur sedih. Menghentakkan kakinya di aspal jalan. Karena tidak menyangka, dengan hal remeh seperti itu saja, Dewa bisa marah kepadanya.
.
.
Sementara Mega. Mega pergi ke rumah nya. Terkejut melihat paper bag berikut kotak kubus berukuran sedang berwarna cokelat terang dan terlilit pita cokelat tua yang menghiasinya.
Teringat, jika Satrio pernah bicara perihal kado yang dititipkan lewat temannya yang pulang ke Indonesia. Mega membukanya dan terharu. Di satu sisi hatinya hancur karena kakaknya terus-terusan menguji iman dan kesabarannya. Disisi lain, Satrio begitu menjaga perasaan nya untuk terus membuat nya tersenyum dan bahagia. Bertolak belakang.
Satu bulir jernih berhasil lolos melaju tanpa permisi saat Mega membuka satu persatu kado yang diberikan Satrio padanya. Gantungan kunci, topi dan kaos berwarna pink kalem dengan corak warna putih pada tulisan Stanford university, dimana Satrio tengah melanjutkan studi S2 nya. Mega sesenggukan memegang erat seluruh pemberian Satrio itu. "Kamu nggak tahu Sat, aku bahkan sekarang pakai daster-daster ibu hamil. Aku juga mau punya baby sebentar lagi," lirihnya tidak kuasa jika saat nanti tiba Satrio tahu keadaanya seperti apa.
__ADS_1
Tidak kuat, Mega membayangkan waktu itu tiba. Dia kemudian membawa pemberian Satrio itu untuk ke telaga biru. Disana dia akan merasa tenang melihat telaga itu. Seakan kesedihannya hilang seketika. Perasaan nya akan kembali baik-baik saja setelah dia mencurahkan isi hatinya di sana.
Awalnya Mega terkejut, karena mengapa taksi online yang mengantarnya tidak pergi dan malah menunggu nya? Ternyata Dewa sudah membayar lebih untuk mengantar dirinya pergi kemana saja dalam satu hari ini.
Sementara Dewa kacau dan marah pada Arumi. Meskipun Niko tidak terpantau melakukan hal diluar batas pada wanitanya, namun tetap saja Arumi salah. Disaat dia habis-habisan melakukan segalanya untuknya dan bersitegang dengan mamanya dan istrinya. Malah Arumi bisa-bisanya menerima laki-laki lain dan masuk ke rumahnya.
Ting
Salah satu pesan dari supir taksi online yang mengirim gambar Mega tengah menangis di pinggir telaga.
Sesuai kesepakatan awal, apapun yang dilakukan Mega suruh mengabarkan padanya dan supir taksi itu melakukannya. Dewa memutar roda mobilnya dan menuju ke telaga biru. Menyuruh supir tersebut menyudahi pekerjaan nya karena istrinya akan pulang dengan nya.
Sementara Mega melamun sembari menatap ke tengah telaga. Sepasang matanya tertuju pada air yang tidak pernah tenang saat perahu motor itu mengguncang dengan berjalan diatas nya. Seperti hidupnya kini, semenjak hamil dan sekarang menikah sampai memiliki seorang suami. Hidupnya tidak pernah tenang, karena guncangan-guncangan kecil hingga dahsyat itu selalu menerpa seolah tidak ada kata hentinya.
Bagi Arumi, dirinyalah orang yang salah karena telah masuk secara tiba-tiba dalam jalinan cinta mereka. Namun bagi Mega, Dewa lah yang secara tidak sengaja membawa dirinya masuk dalam kehidupan cinta Dewa dan Arumi.
Tidak ada kata cinta segitiga sebenarnya. Yang ada hanyalah perasaan nya yang mulai terambang oleh janji-janji Dewa. Tidak ada keputusan, siapa yang lebih diutamakan dan semuanya terkesan membingungkan. Seakan, kini dirinya dituntut untuk lebih paham oleh keadaan. Misal Arumi dalam keadaan genting, Dewa ada dan siaga. Misal dirinya mungkin yang situasinya genting, kita lihat saja nanti. Karena sepertinya, sembilan puluh sembilan persen cinta Dewa masih milik Arumi. Sedang bersama nya hanya untuk... entahlah, Mega tidak tahu apa maksud perhatian-perhatian yang coba diberikan Dewa padanya.
"Kamu di sini?"
Mega menoleh ke suaminya.
"Kakak kok tahu aku di sini?"
Dewa tersenyum. "Apa sih yang enggak aku tahu tentang kamu? Kamu suka warna pink dan putih. Kamu suka makan cokelat yang katanya itu buat pelampiasan stress, kamu suka makan spaghetti yang nggak perlu dikasih bumbu dan harus sampai matang tang tang tang tang, kayak bubur ayam. What...apa enak sayang itu?"
Luluh, Mega akhirnya tersenyum meskipun malu mengapa dari ketiganya yang disebut oleh suaminya benar adanya.
"Kamu pikir aku suami apa an? Nggak tahu kesukaan istrinya. Tahu lah."
"Tahu dari mana?"
"Em... Ada deh."
Ya, Dewa pernah buka blog istrinya. Dan semua isinya adalah tentang kesehariannya dan apapun itu. Namun dia secara sembunyi-sembunyi melakukannya.
Keduanya pun tersenyum. Seolah Mega lupa lagi atas rasa kecewa yang berulang kali Dewa berikan.
Sebaliknya, Dewa merangkul bahu istrinya, menarik tubuh istrinya itu untuk dia sender kan pada bahunya.
Lirikan mata mereka pun saling bertukar. Hingga keduanya benar-benar hanyut terbawa suasana hingga senja menyapa.
__ADS_1
BERSAMBUNG