Aku Tidak Siap

Aku Tidak Siap
Photoshoot (Tamat)


__ADS_3

"Hati-hati ya sayang," ucap ibu Rahma yang mengecup pipi kanan dan pipi kiri Satrio. Perasaannya sedikit lega, karena putra nomor duanya itu sebentar lagi kembali ke Inggris. Mereka tidak lagi bermain kucing-kucingan yang membuat Mega melahirkan lebih cepat dari jadwal yang ditentukan.


"Iya ma," jawab Satrio.


"Hati-hati, kuliah yang bener," ujar pak Hendarto yang memeluk putranya dan menepuk punggung Satrio.


"Iya pa."


Satrio kemudian berjalan menuju pesawat yang akan membawanya. Ibu Rahma dan pak Hendarto melambaikan tangan mereka bersama dengan perasaan haru.


"Mama nggak tahu lagi pa, nanti akan bagaimana setelah Satrio tahu jika Mega menikah dengan Dewa," lirihnya dengan wajah sendu dari ibu Rahma.


"Sudahlah ma, mama tenang aja. Kita doakan saja semoga Satrio menemukan belahan hatinya yang lain. Mana tahu nanti dia bertemu dengan wanita lain dan bisa melupakan Mega," jawabnya sembari merangkul punggung istrinya berjalan keluar bandara.


Pak Hendarto berusaha menentramkan hati istrinya supaya tidak berpikir jauh kedepan yang mana semua belum pasti dan belum terjadi.


.


.


Siang harinya.


Dewa dan Mega bersama Rania akhirnya pulang ke rumah.


"Hallo sayang nya Oma, unch... unch... unch," gemas ibu Rahma menyambut kedatangan mereka bertiga. Dimana Rania tampak anteng di dalam gendongan mama nya. "Ya udah kalian istirahat ya, kasihan Rania."


"Iya ma," jawab Dewa.


Namun tidak lama bel rumah berbunyi. Dimana Arumi dan mamanya datang untuk melihat bayi Mega dan Dewa. Meski sepuluh menit yang lalu, Arumi terserang kekeluan di bibirnya.


Flashback on.


"Arumi ... Ayo!" Ibu Clarisa yang hendak keluar mobil. Namun melihat putri ya termenung seperti ada yang dipikirkan.


"Ini beneran nggak sih ma? Arumi hampir tidak percaya dengan semua ini." Arumi yang ragu saat mobilnya sudah berhenti di depan rumah Dewa dan akan melihat putri nya. Memberi selamat pula, rasanya mimpi.


Padahal rasanya baru kemarin mereka merajut angan dan impian untuk hidup bersama. Namun mengapa berubah haluan dan malah sekarang seolah berbahagia dengan kehadiran buah hati mereka.


Arumi mendengus kasar. Menghempas punggungnya setengah kasar ke jok mobil.


"Sudahlah Arumi, ayo turun. Kita sudah di depan rumah Dewa," ujar ibu Clarisa kepada putrinya.


"Tapi ma..."

__ADS_1


"Udah yuk!" Ibu Clarisa yang kemudian turun dari mobilnya.


Tidak lama diikuti oleh Arumi yang keduanya membawa kado spesial untuk putrinya Dewa.


Flashback off.


"Hai... Clarisa." Ibu Rahma yang terkejut dengan kedatangan ibu Clarisa bersama Arumi. Ibu Rahma kemudian memeluk ibu Clarisa dan juga Arumi. "Silahkan, silahkan," imbuh ibu Rahma yang mempersilahkan keduanya masuk dan duduk di ruang tamu rumahnya. "Kebetulan sekali, Dewa dan Mega baru saja pulang ke rumah, sebentar ya saya panggilkan." Ibu Rahma yang kemudian ke belakang memanggil Dewa dan Mega berikut membawa Rania.


Tidak lama, Rania yang digendong oleh ibu Rahma pun keluar. "Maaf ya Arumi, Dewa sama Mega kelelahan. Banyak begadang nya gantian jaga Rania. Jadi mereka masih istirahat karena baru saja pulang."


"Nggak apa-apa kok tante. Kita kesini memang mau melihat Rania."


Ibu Clarisa dan Arumi pun memperhatikan geliat Rania layaknya bayi pada umumnya yang terlelap tidur dan begitu menggemaskan.


Arumi tersenyum tidak percaya, jika yang di depan nya kini adalah baby dari mantan kekasihnya yang begitu nyata adalah calon suami nya saat itu.


Sekilas banyak kenangan tertumpuk untuk sekedar diingat singkat oleh kepalanya detik itu juga. Semua hal yang kini dilihatnya seolah tidak nyata dan harapannya mimpi belaka. Namun sial, lagi-lagi yang tampak nyata di depan mata adalah fakta yang tidak terbantahkan, jika calon suaminya dulu dengan tega meninggalkannya demi perempuan yang melahirkan baby ini.


"Hai... kamu manis sekali," pujinya Arumi dengan bahasa bayi dan terdengar menggemaskan.


Begitu juga dengan ibu Clarisa yang memperhatikan betul setiap gerakan dari Rania yang tertidur namun bibir nya seperti mengenyot botol susuu.


Mereka bertiga kemudian berbincang-bincang agak lama. Hingga dimana tanpa sadar hari sudah berganti sore, matahari beralih peraduan dan awan pun menggelap perlahan.


"Terimakasih ya Clarisa, Arumi. Lain kali main-main Arumi. Pintu rumah tante terbuka lebar kalau kamu mau main kesini." Ibu Rahma basa-basi.


"Iya Tante terimakasih."


Ibu Rahma kemudian mengantar keduanya sampai pintu utama. Dimana setelahnya Arumi naik ke dalam mobilnya. Arumi terisak dengan tangis pelannya.


"Kamu kenapa sayang?" tanya ibu Clarisa.


"Ini nggak adil ma, harusnya Dewa yang menikah dengan Arumi bukan perempuan itu," lirihnya dengan air mata perlahan.


Ibu Clarisa memeluk putrinya dan mengusap puncak kepala nya, membelai rambut putrinya yang luruh ke punggung Arumi. "Sudah lah sayang, mama yakin kamu akan dapat lebih dari Dewa."


Arumi yang kemudian melepas pelukan mama nya. Mengusap kasar wajahnya yang basah karena air mata.


Dia kemudian mengeluarkan ponselnya dan berkirim pesan kepada Dewa.


Pesan Arumi.


Selamat ya, selamat atas kelahiran putri kamu.

__ADS_1


Semoga kalian bahagia.


Arumi.


Meskipun sangat susah dan lama sekali Arumi mengetuknya. Antara ingin dan tidak ingin. Antara rela dan tidak rela, namun harapan semoga mereka bahagia itu jujur ketikan yang dia coba untuk hapus berkali-kali walaupun akhirnya dia kirim juga pesan tersebut ke nomor mantan kekasihnya.


Arumi yang kemudian menyandarkan kepalanya pada jok mobil. Masih sangat sulit untuk semuanya dia terima.


.


.


Satu Minggu kemudian.


"Sayang, buruan... udah di tunggu sama fotografer nya." Dewa yang memanggil istrinya yang masih berdandan karena mereka akan mengabadikan banyak foto mereka bertiga ditempat yang sudah dipersipkan fotografernya.


Taman belakang sudah di sulap sangat memukau. Terdapat balon-balon udara yang bergantungan dan pernak-pernik untuk menunjang photo shoot mereka bertiga.


Rania juga didandani dengan berbagai kostum dan berbagai gaya yang akan diabadikan oleh mereka.


"Ouwh... cucu Oma menggemaskan sekali sih," ucap ibu Rahma yang tersenyum lebar menyaksikan cucu kecilnya anteng dengan apapun yang diperbuat oleh mama dan papa nya harapkan.


"1 2 3..." Aba-aba dari sang fotografer untuk mengambil gambar mereka bertiga dengan banyak gaya kekinian.


Dewa dan Mega juga tampak bahagia dengan ide photo shoot dari istrinya. Puluhan kali mereka bergaya bersama Rania putri kecil nya yang akan mewarnai kehidupan rumah tangga keduanya.


"Thank you istri ku tersayang," lirih Dewa saat keduanya foto dengan gaya cukup mesra dimana Rania berada ditengah-tengah mereka.


Mega haya bisa tersenyum malu melihat keromantisan suaminya yang bertambah setiap harinya.


"Setelah ini kita buat adik buat Rania," imbuh Dewa yang membuat Mega nyengir. Mengingat perjuangan melahirkan terlebih saat mengej@n itu sakitnya antara hidup dan mati. Mega saja sudah bersyukur dirinya diberi kekuatan nafas panjang saat melahirkan Rania.


"Kamu yang melahirkan aku yang ngidam," canda yang dilempar sang istri kepada Dewa, supaya suaminya merasakan bagaimana itu sakitnya melahirkan. Jangan asal tancap terong ungu dan asal tanam benih aja para pria itu. Hahaha...


S E L E S A I


Halo semua...


Ramaikan baca judul di bawah ya...


Ini adalah lanjutannya...


Terimakasih😘😘

__ADS_1



__ADS_2