Aku Tidak Siap

Aku Tidak Siap
Belum siap kehilangan


__ADS_3

"Trus menurut kakak, apa aku tega?" jawab Mega yang ikut sedih pula. "Aku harus bagaimana?"


"Sudah, sudah. Maafkan kakak, aku lupa kalau kamu sedang hamil. Bumil tidak boleh banyak pikiran. Jadi kamu harus lupakan dulu permasalahan antara perasaan orang-orang dewasa menyangkut perasaan mu sendiri. Yang terpenting sekarang, baby kamu dalam perut, karena sebentar lagi kamu akan melahirkan. Itu dulu yang dipikirkan."


"Iya kak. Tapi jujur aku ingin membahas dia mumpung bertemu dengan kakak."


"Perihal?"


"Perasaannya, apakah dia tergambar kehilangan sangat? Karena aku tidak tahu seperti apa ekspresinya? kakak tahu maksud ku bukan?"


"Aku nggak kuat melihatnya. Frustasi dan sangat menimbun rindu."


Mega yang tampak berubah menjadi takut akan bayangan satu tahun ke depan. Dia sangat takut bagaimana reaksi Satrio saat tahu semuanya.


"Sudah, kamu harus hempaskan persoalan Satrio sementara." Zahrin yang tahu Mega melamun dan membuyarkan nya.


Sementara disisi lain.


Di dalam mobil Satrio sangat merasa kehilangan akan sosok kekasihnya. Surprise kedatangannya yang dikira akan sangat membahagiakan, berubah tidak terbesit sedikitpun akan menjadi seperti ini. Entah mengapa, suasana musik di dalam mobilnya jelas sekali menggambarkan suasana hatinya akan takut kehilangan Mega.


Lirik lagu dari penyanyi Stevan Pasaribu membuat hatinya berdesir saat ikut samar-samar menyanyikan lagu tersebut.


Sewindu sudah.


Ku tak mendengar suara mu.


Yang slalu menghiasi hariku


Sewindu sudah.


Kau tak berada disisi ku.


Kau menghilang dari pandangan ku.


Tak tahu kini kau dimana.


Ternyata belum siap aku.


Kehilangan dirimu.


Belum sanggup untuk jauh dari mu.


Yang masih slalu dalam.


Hatiku...


"Kamu kemana sih Mega," lirih nya dengan wajah sedih yang sejak kepulangannya ke Indonesia. Mobilnya bahkan masih membawanya menuju rumah Mega dan cukup lama berhenti memantau rumah tersebut hingga sore hari. Namun yang ada, Mega bahkan tidak ada tanda-tanda pulang atau mengunjungi rumahnya.


Membuat Satrio bernafas sesak rasanya. Antara nangis dan kesal hingga dia gemas-gemas sendiri dengan meremas hp dan beberapa kali memukul badan setir.


Satrio memutuskan pulang ke rumah. Ibu Rahma melihat jika putra nomor duanya tampak sedih dan lesu. Berjalan tidak bersemangat, bahkan tidak menyapa nya.


.


.


Satu minggu kemudian.


"Bi, Satrio mana? kok nggak turun?" tanya ibu Rahma dan pak Hendarto yang bersiap sarapan dan mau berangkat pengobatan ke rumah sakit.


"Belum turun Bu," jawab bibi.


"Pa, antar mama ke kamar nya Satrio," pinta ibu Rahma yang hari itu kondisi badan nya kurang bersahabat.


Ibu Rahma dan pak Hendarto kemudian naik ke atas, ke lantai dua. Mengetuk pintu kamar Satrio dan hanya sahutan menyuruh mereka masuk dari dalam.


"Kamu sakit Sat?" tanya pak Hendarto.

__ADS_1


"Iya, kamu kok pucat?" imbuh ibu Rahma.


"Satrio nggak apa-apa ma."


"Nggak apa-apa apanya, orang demam begini kok badan nya." Ibu Rahma yang menyentuh dahi dan lengan putranya dan semuanya terlihat demam.


"Nanti aku kasih obat juga sembuh ma."


"Ikut mama ke rumah sakit aja. Sekalian kamu ke dokter," bujuk ibu Rahma.


"Nggak usah ma," jawab Satrio yang kembali menghempas pelan punggung nya ke ranjang.


"Sat, mama kamu benar. Sekalian ikut ke dokter. Nggak bagus kalau sakit dibiarin." Pak Hendarto dengan tegas mengatakan hal itu. "Udah, sekarang kamu mandi dan ganti baju. Ikut! Papa mama tunggu di bawah."


Satrio tidak bisa membantah dan menuruti saja titah mama papa nya. Ketiganya kemudian pergi ke rumah sakit bersama.


.


.


Di rumah sakit.


"Bagaimana dok, istri saya?" tanya Dewa yang cukup panik. Lagi-lagi Mega mengeluh sakit perut dan membuat Dewa tanpa pikir panjang membawanya ke rumah sakit.


"Bapak tenang aja, belum waktunya melahirkan kok. Hanya kontraksi palsu. Memang seperti ini sering dialami oleh ibu hamil yang menjelang lahiran," jawab dokter yang membuat Dewa cukup tenang.


"Terimakasih dok."


"Sama-sama."


"Bagaimana sayang, udah enakan?" tanya Dewa kepada Mega yang masih ambil nafas dalam karena perutnya sudah semakin besar.


Mega mengangguk.


"Ya udah yuk, sekarang kita pulang." Dewa kemudian menuntun istrinya untuk dia bawa ke mobil. Namun karena letak mobil cukup jauh, Dewa menyuruh Mega untuk menunggu saja di kursi tunggu.


Dewa ternganga. Jantungnya berdetak hebat kala bertemu Satrio tanpa ia duga. "Kamu? Ngapain di rumah sakit?" jawab Dewa sesantai mungkin.


"Mama papa yang paksa. Badan ku demam, disuruh periksa ikut mereka. Sekalian mama pengobatan rutin," jawab Satrio dengan badan kurang sehat."


"Mama mereka?"


"Di dalam."


"Kamu mau kemana?"


"Katanya, dokter umum nya di UGD. Jadi aku suruh kesana."


Deg.


Tamat nih.


Haduh...


Gimana ini?


Mega duduk di sana lagi.


batin Dewa yang mengusap tengkuk leher dan terlihat sekali jika dia panik.


"Oh ya, kakak ngapain di rumah sakit? sepagi ini." Satrio yang melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Kata mama kakak ke luar kota."


Dewa bertambah kaget. Menatap adiknya sangat lama. "I-iya kakak, kakak sudah pulang tadi malam. Kakak langsung ke hotel, karena dini hari pulang kakak." Dewa tergagap menjawabnya.


"Trus kakak ngapain di sini?"


"Em... Kepala kakak sakit. Ya udah kakak periksa aja." Dewa masih terlihat panik dan bingung bagaimana menyuruh Mega ke mobil. Ponsel istrinya di dalam tas dan semua barang Mega di tinggal di mobil. Jadi tidak bisa menghubungi Mega untuk memberi tahu jika dirinya bertemu dengan Satrio.

__ADS_1


"Ya udah aku kesana dulu ya kak," tunjuk Satrio mengarah ke Unit Gawat Darurat.


"Eits!" Dewa meraih pergelangan tangan adiknya. Cukup keras Dewa menggenggam tangan Satrio hingga Satrio merasa ada yang aneh dengan kakaknya. "Sorry ... sorry, antar kakak ke mama dulu ya." pinta Dewa yang lebih dari tiga sampai empat kali melihati ruang Unit Gawat Darurat. Dimana Mega pasti cemas menunggu nya.


Sayang...


Please... kamu duduk anteng ya.


Jangan kemana-mana atau jalan-jalan mencari aku.


Please Mega...


pinta yang tentu pada batinnya.


"Lho, Dewa?" serentak ibu Rahma dan pak Hendarto terkejut dengan Dewa mengapa bisa bertemu dengan Satrio.


"Tadi kita ketemu di depan UGD ma," jawab Satrio. Dimana ibu Rahma dan pak Hendarto tercengang.


Dewa kemudian bicara ke papanya agak jauh dari Satrio dan berbisik meminta tolong untuk membawa Mega yang tengah berada di UGD masuk ke dalam mobilnya. Dia juga memberikan kunci mobil ke papa nya. Dan Dewa akan menahan Satrio untuk tetap berada bersama mereka untuk sementara.


Memang cukup genting sebenarnya, namun mereka semua pintar menyembunyikan kegugupan mereka. Hingga pak Hendarto beralasan ada yang ketinggalan di mobil, hingga membuatnya harus ke parkiran.


Di lain sisi, Mega pergi ke toilet karena ingin buang air kecil.


Pak Hendarto sudah menyusuri bagian Unit Gawat Darurat, namun tidak berhasil menemukan menantunya. Dia juga bertanya pada beberapa perawat yang jaga, namun dari mereka tidak ada yang tahu kemana arah Mega.


Apa keluar dari UGD? Karena jika keluar, sudah terlihat parkiran mobil bagian depan, dan tidak nampak sekali jika ada Mega. Pak Hendarto mendadak panik dan takut, jika Satrio bertemu dengan Mega.


Pak Hendarto kemudian menghubungi Dewa. Memberitahukan jika istrinya tidak ada di UGD.


"Apa?" jawab Dewa panik, namun terdengar aman saat Satrio melirik ke arahnya begitu juga dengan dia.


"Ya udah saya kesana ya," jawab Dewa panik yang dia kondisikan seolah tidak terjadi apa-apa.


Ting


Ponsel ibu Rahma berdenting. Ibu Rahma sudah membaca pesan Dewa dan mengangguk pelan seolah tahu maksud putra nya, untuk tidak memperbolehkan Satrio kemana-mana terlebih dahulu, sebelum dia mengabarkan jika dirinya sudah keluar dari rumah sakit dengan Mega.


"Ma, aku pergi duluan ya. Jaga mama dulu!" pesan Dewa yang menepuk bahu adik laki-lakinya. "Cepat sembuh ya," imbuhnya.


Satrio mengangguk berulang.


Dewa berlarian mencari seluruh penjuru lorong rumah sakit. Kembali lagi UGD, namun Mega belum berhasil dia temukan. Dia juga mencoba ke parkiran mobil dimana mobilnya terparkir, namun Mega tidak ada di sana.


"Bagaimana pa?"


"Nggak ada Wa, papa nggak tahu dimana istri mu." Pak Hendarto yang cukup kelelahan juga gara-gara ulah Mega pagi itu.


"Haduh... bagaimana ini pa?" Dewa yang tidak bisa berpikir jernih saat itu. Bagaimana kalau mereka bertemu?" Dewa yang tidak bisa membayangkan itu terjadi sekarang.


"Kita cari lagi aja!" seru pak Hendarto. "Jangan sampai mereka bertemu." Pak Hendarto yang kemudian menyusuri kembali rumah sakit, berikut dengan Dewa dengan berpencar.


"Kamu dimana sih sayang?" lirih Dewa cemas dengan tingkat teramat. Kekhawatirannya mengalahkan apapun saat itu. Berlarian kesana kemari namun Mega belum juga dia jumpai.


Sementara Mega yang tadinya ingin buang air kecil di toilet yang tidak jauh dari UGD, ternyata digunakan. Mega kemudian menuju toilet di belakang mushola yang dekat dengan parkiran belakang.


"Ma, aku ke toilet sebentar ya," pamit Satrio ke mama nya.


"Iya sayang, cepat balik ya," jawab ibu Rahma.


Satrio mengangguk dan melangkah pergi menuju toilet terdekat yaitu dibelakang mushola.


Bertepatan dengan Mega yang baru keluar dari toilet.


"Satrio..." Mega ternganga dan bingung harus bersembunyi dimana. Saking paniknya, dia bahkan lupa jika perutnya besar, hingga berjalan cepat tanpa perduli dengan kehamilannya. Demi menghindari untuk tidak bertemu dengan Satrio. "Satrio," lirihnya dengan nafas tersengal-sengal menuju toilet kembali.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2