Aku Tidak Siap

Aku Tidak Siap
What?


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Satu hari sebelumnya, pak Hendarto sudah memberi tahu Satrio, jika mama papanya menunda liburan mereka ke Inggris.


Pak Hendarto juga membujuk Satrio untuk tidak pulang. Dan menyuruh putra nomor dua nya itu pulang ke Indonesia saat selesai wisuda saja.


Satrio hanya berkata iya iya saja di dalam sambungan telepon. Tapi Pak Hendarto pasrah jika keadaan nya berlawanan.


Sadar betul, dengan karakter Satrio yang keras. Membuat dia sudah wanti-wanti Mega dan Dewa.


Namun tidak pada pagi itu yang semuanya sedang berkumpul untuk makan pagi. Semuanya dikagetkan dengan pak Hendarto yang menerima panggilan dari Satrio.


"Kamu sudah mau sampai rumah?" pak Hendarto hanya melirik bola matanya ke arah putra dan menantunya.


"Iya, pa. Satrio sudah mau sampai rumah," jawab Satrio yang tengah naik taksi online menuju rumah.


Dan apa yang terjadi setelah pak Hendarto menutup ponselnya yang belum dia letakkan di atas meja?


"What?" pekik Dewa dengan menjambak rambut dengan kedua tangan karena saking frustasinya. "Itu anak ya," geramnya dengan tulang rahang mengeras dan memukulkan kepalan tangan di meja.


Tidak hanya Dewa, Mega lebih parah. Sekujur tubuhnya tidak punya daya. Matanya bahkan berkunang-kunang dan tiba-tiba pandangannya memburam.


"Mega... Mega..." panggil pak Hendarto yang kemudian menangkap menantunya itu tengah tidak sadarkan diri.


Sedang Dewa kalang kabut, menyembunyikan semua pigura foto perkawinan yang dipasang di dinding luar kamar. Semua dia pindahkan ke dalam gudang terlebih dahulu.


"Sayang, kamu kenapa sayang?" tanya Dewa tercengang saat mengetahui istrinya di papah oleh bibi dan papa nya di atas sofa. "Papa tolong chat Satrio pa, suruh beli apa kek! Biar lama dikit! Mega pakai acara pingsan lagi." Dewa yang paniknya tidak terkendali.


"Iya, iya. Papa akan suruh Satrio beli makanan kesukaan papa dan mama."


"Iya, iya pa ide bagus."


Setelahnya pak Hendarto berkirim pesan. Mama nya tidak lama keluar kamar dan mendengar dari bibi. "Apa bener pa? Satrio sudah mau sampai rumah?" tanya dengan wajah panik yang menyentuh pelipis kanan milik ibu Rahma.


"Mama kok keluar sih? Mama istirahat aja di kamar. Biar papa dan Dewa yang atur."


"Mega kenapa itu?" Ibu Rahma semakin sakit kepalanya. Terlebih melihat Dewa kalang kabut berlarian gedabyukan.


"Papa antar mama ke kamar ya?" tanya pak Hendarto yang ikut pusing juga dengan ulah Satrio.


"Apa papa nggak cegah Satrio untuk pulang? Kok jadi gini sih? Padahal pikir mama, Satrio pulangnya selesai wisuda. Anak Dewa dan Mega sudah besar, baru semua akan dibicarakan bersama. Semua gara-gara mama yang sakit ya pa?" sesal ibu Rahma dengan wajah sedihnya.


"Ma, sudah lah ma. Tolong, mama kendalikan kepala mama untuk tidak memikirkan urusan anak-anak. Saya yakin, Dewa dan Mega bisa menyelesaikan nya. Okay." Pak Hendarto berusaha menenangkan istrinya. "Sekarang papa antar ke kamar, untuk istirahat." Pak Hendarto bersiap dan sudah merangkul pundak istrinya berjalan menuju kamar.

__ADS_1


"Papa yakin? Dewa dan Mega bisa menyelesaikan nya?"


"Iya papa yakin. Semua sesuai rencana. Pembicaraan terkait pernikahan Dewa dan Mega tidak untuk sekarang disampaikan ke Satrio. Kuliah dia bisa berantakan. Kacau balau. Terpaksa, kita main kucing-kucingan. Dengan menyembunyikan Mega satu bulan di rumah ini tanpa Satrio tahu." Panjang lebar pak Hendarto memaparkan kepada istrinya.


"Apa...?" lirih ibu Rahma dengan kernyitan di dahinya. Nafasnya berhamburan. "Apa akan berjalan mulus?"


"Kita coba ma."


"Iya, kita coba ma," sahut Dewa dengan nafas sengal karena habis berlarian kesana kemari mengambil pigura foto besar yang terpajang di dua ruangan. Belum foto-foto perkawinan nya yang berukuran sedang hingga kecil banyak memenuhi meja panjang di dekat ruangan menonton televisi.


"Trus ini, istrimu?" Jari telunjuk ibu Rahma yang menunjuk Mega yang masih terbaring di sofa.


"Iya habis ini, saya bawa Mega ke kamar ma," jawab Dewa.


Ibu Rahma dengan wajah tidak percaya. Apa mungkin dalam satu bulan Mega bersembunyi di dalam kamar Dewa tidak ketahuan oleh Satrio? Rasanya tidak mungkin. Tapi ya sudahlah, benar kata suaminya jika kuliah Satrio pasti akan semrawut jika tahu Mega dan Dewa menikah sekarang.


Ibu Rahma mengambil nafas panjang, yang kemudian dia hembuskan pelan. Dia masuk kamar di antar suaminya dengan perasaan was-was.


Sedangkan Dewa, sok jagoan, sok strong. Di tawari bantuan oleh papa nya memapah Mega, tidak mau dan memilih menggendong istrinya sendiri. Alhasil keringat bercucuran sembari menggerutu jika istrinya ternyata memiliki berat badan yang tidak dia duga. "Astaghfirullah... berat juga kamu sayang," keluhnya saat berhasil merebahkan tubuh istrinya.


Membuka sandal yang dipakai istrinya. Mengusap kakinya dengan minyak kayu putih berikut lubang hidung Mega yang dioles samar-samar dengan minyak kayu putih.


Perlahan mata Mega membuka. Sedikit demi sedikit dan tahu jika yang duduk tidak jauh darinya adalah suaminya.


"Kak..." panggil Mega dengan suara takutnya.


"Kalau ketahuan?"


"Wallahu A'lam."


"Kak..." Mega dengan tidak bisa menimbun ketakutannya. Mega sangat takut setakut takutnya.


Dewa meletakkan kepala istrinya di dada. Terdengar jelas, jika irama jantung mereka sama deg-degan dan tidak bisa mengendalikan keadaan.


Ting tung


Suara bel rumah berbunyi. Dan semua sudah harus bisa menjalankan aktingnya masing-masing sesuai rencana.


"Aku akan keluar sayang, ingat! Apapun yang kamu lakukan, jangan memancing perhatian Satrio. Kamu bisa?" dengan tangan Mega yang tergenggam di tangan Dewa.


Mega mengangguk. Keringat dingin sudah tidak bisa dia sembunyikan. Dua kakinya ikut gemetar seiring bertambahnya bel berbunyi yang belum di buka oleh bibi.


"Surprise ... Assalamualaikum pa." Satrio langsung memeluk papanya dengan wajah ceria.

__ADS_1


"Wa alaikum salam sayang." Pak Hendarto menarik nafas yang kemudian dia keluarkan berhamburan. Semua senyum lebarnya hanya di depan Satrio. Padahal dalam hatinya, penuh ketegangan namun harus terlihat tenang. "Kamu pasti capek."


"Hem... Kok sepi pa? Mama mana?" tanya Satrio dengan sangat santai. Satrio mengambrukkan tubuh di sofa ruang tamu sebentar, barulah dia berteriak layaknya anak pulang dari rantauan.


Ceklek.


Satrio membuka pintu kamar mama nya. Dan apa yang terjadi? Satrio tercengang dan berubah ekspresi tatkala melihat mama nya tampak pucat seperti orang sakit. "Mama sakit?" tanya Satrio yang kemudian melepas tangan nya dari gagang pintu dan berjalan mendekat ke mama nya yang bersandar di atas tempat tidur.


Ibu Rahma masih terdiam menyembunyikan sakitnya. "Sayangnya mama." peluknya ibu Rahma kepada Satrio. "Maafkan mama papa ya sayang. Kita nggak ada yang jemput kamu di bandara."


"Nggak apa-apa ma. Kan Satrio yang bikin kejutan. Eh, Satrio belikan topi bundar gede banget buat mama ke pantai atau jalan-jalan ke Bali." Satrio masih belum menyadari keadaan mama nya. Satrio pikir, mamanya sakit biasa.


Ibu Rahma tertawa kecil sembari mengusap-usap punggung putra nomor duanya.


"Mama sakit apa sih ma?" tanya Satrio.


"Hei... Adikku tersayang." Dewa yang kemudian memeluk adiknya layaknya pria dewasa.


"Kok, semua ada di rumah. Nggak ada yang pada kerja?" Satrio yang heran, mengapa semuanya lengkap berada di rumah. Padahal biasanya mereka sibuk kerja. "Katanya hotel kakak baru? Apa nama hotelnya kak?" lupa aku dikasih tahu papa." Satrio dan Dewa yang kemudian berjalan keluar dari kamar mama nya dengan obrolan santai mereka.


"Hotel Mediterania."


"Hahaha... Kok gitu namanya? Kenapa nggak dikasih nama Hotel Arumi & Dewa..." Dengan sangat antusias Satrio mengejanya sembari jari telunjuk dia tulis itu kata yang diucapkannya di awang-awang.


"Eits! Jangan salah! Itu nama bukan sembarang nama. Itu semua ada makna nya."


"Cielah... iya, iya ada makna nya," timpalnya yang kemudian dia tertawa.


Sedangkan Mega, samar-samar menguping di belakang pintu kamarnya. Terdengar jika kekasihnya itu tengah berbincang santai dengan kakak nya di sofa bawah tangga.


"Ya udah aku ke kamar dulu ya kak." Satrio yang kemudian naik ke lantai dua. Namun karena lama dia tidak pulang dan setengah nya lupa.


Dia menggenggam erat daun pintu kamar Dewa yang nyaris dia buka.


Namun teriakan Dewa tak kalah memekik telinga seisi rumah karena saking terkejutnya. "Satrio..." Dewa panik dan berlari ke adiknya.


Satrio kaget dan menyembulkan kedua bahunya seketika. Hingga tangan yang menggenggam erat daun pintu kamar Dewa terlepas.


"Ini kan kamar kakak." Dewa langsung menghalau adiknya dengan memposisikan diri seakan Satrio tidak boleh masuk kamar.


"Oh, aku lupa kak. Berarti kamar ku sebelah?" dengan jari telunjuk mengarah ke pintu kamar yang terletak di samping kamar Dewa.


Dewa mengangguk.

__ADS_1


Dimana bibi dan pak Hendarto sudah ketar-ketir saat Satrio akan masuk kamar Dewa. Keduanya kemudian bernafas lega. Meskipun masih ada 25 hari lagi yang akan membuat jantungnya berayun-ayun.


BERSAMBUNG


__ADS_2