Aku Tidak Siap

Aku Tidak Siap
Trus jangan bobok bareng!


__ADS_3

"Apa? Batal?" pekik papa nya Arumi yang sangat terkejut mendengar apa yang disampaikan oleh pak Hendarto terkait lamaran dan pernikahan Arumi dan Dewa.


Pak Hendarto sudah berusaha menjelaskan duduk permasalahan nya seperti apa. Namun sepertinya mama dan papa nya Arumi kurang bisa menerima.


Arumi berlari dan menangis.


Dikejar lah oleh Dewa. Yang jujur hatinya juga bingung harus berkata apa. Mencoba menyentuh pundak kekasihnya, dihempas dengan cepat oleh Arumi. Tentu saja, sifat tidak jujurnya membuat kekasihnya kecewa. Hari dimana seharusnya datang melamar, berubah menjadi hari pembatalan acara lamaran yang merembet ke gagal nya pernikahan. "Aku minta maaf." Tiga kata yang hanya bisa diucapkan oleh Dewa.


Dan itu tidak merubah keadaan. Dimana batin Arumi tersiksa. Harusnya dia yang menikah dengan Dewa. Bukan malah perempuan asing yang kekasihnya juga tidak mengenal nya.


"Aku janji, sampai anak itu lahir. Hanya sampai anak itu lahir. Dan aku janji, aku akan kembali kepada mu," ucap Dewa meyakinkan kekasihnya yang tengah terisak dalam tangis. Kesedihan nya jangan ditanya. Sedihnya Arumi luar biasa saat itu. Tidak rela, jika seujung kuku pun kekasih nya disentuh oleh wanita lain. Terlebih mereka akan tinggal satu rumah dan tentunya satu kamar dan satu ranjang.


Arumi memeluk Dewa. Tentu dengan air mata yang terus berjatuhan membasahi kemeja batik milik kekasihnya.


Dewa melepas pelan pelukan nya, menyeka jejak basah yang sedari tadi merusak kecantikan wajah wanita pujaan nya. Mengecup lima jari lentik milik Arumi setelah berhasil menentramkan hati nya. "Aku janji akan membawa cinta yang sama. Karena pada dasarnya, kamulah yang aku cintai dan bukan dia," ucap Dewa yang tentu membuat hati Arumi sedikit lega, tersenyum tipis mengarah pada pria yang tidak pernah berubah dan dia tahu, jika seluruh hati pria di depan nya, untuknya.


.


.


Keesokan hari.


Akhyar membuat onar lagi. Berteriak di depan pintu pagar besi tinggi untuk meminta Dewa keluar. Kata-kata kasar pun tak tertahan dari mulut Akhyar. Berikut ancaman ranah hukum sudah mulai Akhyar koarkan guna mendapatkan keadilan. "Dewa... Keluar kamu!" teriaknya berulang dengan kata yang sama. Dan setelahnya, barulah kata-kata umpatan dan kalimat bernada ancaman.


"Apa begini cara anda bertamu?"


Bugh


Tanpa basa-basi Akhyar menghinggapi satu bogem mentah kembali untuk pipi yang masih jelas ada tanda lebam keunguan.


Ibu Rahma histeris memanggil suami nya. Berlari ke depan pagar mendekat ke posisi putra nya. "Tolong, ini masih pagi. Kami sudah ambil keputusan. Dan putra kami Dewa, akan menikahi Mega. Kami janji akan bertanggung jawab atas janin yang dikandung oleh adik perempuan mas."


"Saya pegang janji ibuk. Karena kalau tidak, saya akan lapor polisi. Membawa putra ibuk merasakan dinginnya meringkuk di penjara." Ancaman Akhyar yang tidak main-main berakhir pada tatapan pria yang masih menyentuh pipi kebas akibat pukulan nya.


.


.


Satu hari kemudian, barulah Zahrin diajak oleh keluarga Dewa untuk mengajak bicara kepada Akhyar. Menemui mereka membahas pernikahan Mega.

__ADS_1


Akhir dari pertemuan. Mega dan Dewa akan menikah dua hari ke depan.


"Terimakasih ya kak," ucap Mega yang kemudian memeluk Zahrin.


"Sama-sama," dengan telapak tangan Zahrin yang mengusap punggung Mega berulang. "Kamu sudah seperti adik kakak sendiri. Dan nanti nya kita juga akan menjadi keluarga."


Mega tersenyum, namun tidak pada Akhyar. Zahrin bangkit dari duduknya. Pandangan nya beredar dan jujur kilasan-kilasan dari kisah rumah tangga dengan Akhyar menyeruak perlahan.


Kamar tidur di depan nya, adalah masa lalu yang tidak terbantahkan. Pandangan nya tidak berhenti disitu saja saat masih berada di ruang tamu rumah milik mantan suami nya. Merembet ke area dapur, dimana banyak penggalan-penggalan kisah yang dia alami. Kursi makan yang belum berubah, dimana dirinya sempat menangis menolak untuk bercerai dari pria yang masih duduk di hadapan nya. Membuat Zahrin memutus paksa ingatan nya. Menarik nafas panjang dan menguburnya kembali masa lalu kelam. "Kakak pamit dulu Mega."


"Iya kak."


Akhyar ikut bangkit. Berjalan di belakang Zahrin yang keluar menuju teras dan pastinya mobil yang dia parkir di depan rumah nya.


"Aku pulang dulu mas," ucapnya meskipun dengan tatapan yang entah apa namanya.


"Iya Rin, lagi pula kamu juga pasti tidak nyaman berlama-lama di rumah ini."


"Terserah kamu mas." Zahrin pergi dan menaiki mobil nya.


.


.


Keesokan hari.


Dewa mengangguk tidak nyaman. Mengatakan perihal menyakitkan kepada wanita yang jujur dia kasihi.


Isak Arumi semakin bertambah. Dimana harusnya lagi-lagi dia yang menikah. Mengapa menjadi berubah? Dan nama Mega lah yang tiba-tiba hadir di antara mereka.


"Meskipun aku menikah dengan dia, hubungan kita tidak pernah berubah. Aku tidak mau kita putus. Kita akan kencan seperti biasa. Dan wanita itu harus terima."


"Apa dia mau?"


"Harus."


Dewa yang punya sejuta cara untuk meyakinkan wanitanya. Keduanya benar-benar sama-sama tidak rela jika pada akhirnya Mega merusak semuanya. Nama Mega berakhir menyandang status nyonya Dirgantara. Sungguh hati Arumi tidak terima.


Arumi akhirnya berhasil memaksa Dewa, mengajak menemui wanita yang bernama Mega di taman kota.

__ADS_1


"Oh, jadi kamu yang nama nya Mega," sinis Arumi yang tidak suka karena Mega baginya cukup cantik juga.


Mega hanya tertunduk. Tahu betul, pasti keduanya akan melakukan perjanjian-perjanjian yang akan menyiksa batinnya selama di dalam pernikahan nya dengan Dewa.


"Kamu tahu kan? Kalau aku dan Dewa yang harusnya menikah. Dan sesuai permintaan kamu. Kekasih ku menikahi mu sampai anak kamu lahir." Kata-kata Arumi penuh dengan marah yang tertahan meskipun jujur, Mega dapat menangkap banyak kesedihan.


Mega mengangguk. Meskipun hatinya ingin menjerit. Merasa kata adil tidak berpihak pada nya.


"Dan ingat! Kamu tidak boleh menyentuh kekasih ku."


Membuat Mega dan Dewa bertukar tatap. Jelas Mega bingung dengan larangan Arumi yang tidak boleh menyentuh Dewa. Karena mana mungkin? Sedikit banyak, entah sekali atau dua kali, pasti itu akan dilakukan mereka. Mengingat mereka suami istri.


Dewa sadar, larangan Arumi ambigu. "Sayang, maksud kamu menyentuh bagaimana?"


"Ya, apapun itu. Kalian tidak boleh berpegangan, bergandengan, bersentuhan dan semacamnya." Arumi yang malah bingung sendiri karena saking takutnya Dewa jatuh cinta dengan Mega.


Membuat Dewa dan Mega saling menoleh bersamaan. Menatap canggung yang sulit untuk dijelaskan.


"Ya mana mungkin?" jawab Dewa.


"Tuh kan, baru sejam tadi janji apa? Lupa?" dengan jari telunjuk nya yang mengarah kepada Dewa.


Membuat Dewa menghela nafas pasrah dan geleng-geleng kepala kecil.


"Trus jangan bobok bareng!" cetusnya Arumi.


"Aku disuruh tidur di bawah?"


"Terserah. Beli kasur lagi juga boleh."


"Lalu apa kata mama papa sayang?"


"Trus kamu mau tidur seranjang sama dia?" Bola mata Arumi yang menatap benci kepada Mega.


Dewa menggelengkan kepala.


Sementara Mega hanya diam saja tanpa menimpali saat keduanya berdebat masalah larangan tentang kata sentuh dan tidur bersama, saat dirinya dan Dewa sudah menikah nanti.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2