
Dengan langkah terburu-buru Anita segera memasuki appartementnya. berharap jika Rey ia belum.lebih dulu datang kesana. Anita terus melangkah dengan tas dibaginya dan sebelah tangannya memegang perutnya yang rata.
"ceklekk"
pintu dibuka, dengan nafas terengah-engah Anita mulai menutup pintu apartment ia belum menyadari kehadiran Rey disana. tanpa menoleh kesana kemari, Anita langsung berlari menaiki anak tangga dengan maksud untuk menuju kamarnya. Rey yang sudah menunggu lama dan melihat Anita berlari buru-buru seperti itu semakin geram.
"Heyyy! bisakah kau berjalan pelan-pelan!!" teriak Rey yang mampu.membuat Anita terkejut dan menghentikan langkahnya.
Anita pun menoleh dan berbalik badan, nampak sosok pria. berbadan tegap tengah duduk di atas sofa dengan kaki yang melingkar serta tatapan yang sulit diartikan.
"aduh bagaimana ini??? apa dia marah??" batin Anita berucap sambil meremas-remas kecil rok yang dipakainya.
"kenapa diam?? Cepat Kemari!!" teriak Rey dengan posisi yang masih duduk.
dengan langkah ragu dan gugup Anita pun kembali menuruni anak tangga dengan ritme pelan, ia sengaja memperlambat langkahnya karna merasa takut dengan Rey. namun bagaimanapun juga Anita dan Rey hanya berjarak beberapa meter saja, sehingga tak butuh waktu lama Anita sampai tepat di depan Rey. dengan wajah yang masih menunduk karna ia tak berani menatap Rey.
"jam berapa ini?" tanya Rey dingin, Anita yang merasa tengah di introgasi pun merasa semakin gugup.
"jam 6:30" jawab Anita singkat seraya meremas jari jemarinya.
"jam segini baru pulang?? dan masih memakai seragam sekolah???" tanya Rey kembali dengan posisi yang masih sama.
"maaf, tadi aku dari rumah ibu aku ber.."
"dari rumah ibu hingga tak bisa mengangkat telpon dan memberiku kabar" potong Rey tegas, yang berhasil membuat Anita semakin gugup.
"tidak bukan begitu, tapi tadi ak.."
"apa??? kau tidak niat mengangkat atau memberikan kabar kepadaku. kau tidak mendengarkan perintah yang sudah ku katakan lewat Zoy. kau mengabaikan kabar dariku, dan kau tau kesalahan besarmu apa?? Kau berlari menaiki anak tangga begitu cepat. Apa kau selama menuju kemari juga ikut berlari hah!!!" teriak Rey menggema diruangan itu.
dengan menahan air matanya Anita pun kembali mencoba menjelaskan " tidak bukan begitu, aku hanya be...."
"Apa kau tidak menginginkan anak itu?? kau tau dengan ulah barusan kau bisa membunuh bayi itu. apa kau memang tidak menginginkannya Anita!! apa kau tidak ingin melahirkan anak itu??!!" ucap Rey kembali. Anita yang merasa jengah karna tak diberi kesempatan untuk menjelaskan pun mulai meradang. emosinya naik pitam dengan keberaniam yang entah datang dari mana, Anita pun kembali berteriak dan mulai menatap mata rey dengan tatapan yang menandakan bahwa Anita benar-benar murka.
"Cukup!!!!!! Cukupp Mas Rey!!!! apa kau tidak bisa memberikanku waktu untuk menjelaskan sebentar saja hah!!! tak perlu kau jelaskan, aku sudah sadar bahwa aku salah. kau tau jika aku bertemu dengan ibu kandungku sendiri kau tau jika ak"
__ADS_1
"Ya, kau bertemu dengan ibumu hingga kau Lupa pada Suamimu!!!" teriak Rey kembali. adu mulut keduanya pun terjadi, Bahkan Zoy yang baru saja kembali setelah dari toilet pun begitu terkesima dengan keadaan yang ada didepannya itu.
"Suami, suami apa dirimu? dan aku? Aku hanyalah istri simpananmu. kau membahas perihal kabar dan mengabaikan. lalu bagaimana dengan aku?? aku semuanya melakukan sendiri, apa kau pernah ada di dekatku disaat aku membutuhkan dirimu!! apa pernah?? apa aku pernah menuntut dirimu untuk selalu ada bersamaku? Tidak!!! karna aku sadar posisi. dan apa kau mengerti perihal rindu? apa kau mengerti!!! aku merindukan ibuku, karna demi dia aku rela menjadi istri simpananmu, aku rela menjadi boneka mu dengan upah uang untuk membiayai ibuku." ujar Anita berani berteriak.
"apa wajar aku menemui ibuku? aku menghabiskan waktu bersamanya? sebentar saja mas, sebentar. dan perihal anak? anak ini anaku, aku berusaha menerima nya aku menjaganya sebisa mungkin. kau tau alasanku berlari? karna aku takut jika dirimu datang terlebih dahulu lalu memarahiku, karna aku tau dirimu yang sekarang bukanlah dirimu yang kukenal pertama kali. meski kau bisa dikatan sebagai pria brengs*k tapi kau tetap memiliki hati yang baik. tapi sekarang?? tidak! hal itu sudah tidak ada lagi pada dirimu. kau selalu memarahiku karna hal sepele, kau selalu memakiku sesukamu tanpa mengerti akan diriku!" ujar Anita menitikan air mata yang sudah tak terbendung.
Rey yang mendengar penuturan itu pun sedikit terdiam,dan kembali mencerna segala ucapan yang dilontarkan Anita.
"apa kau pernah mengerti akan diriku? apa pernah aku memintamu untuk menemaniku disaat aku mual? pusing? lelah? apa pernah? tidak aku hanya minta satu padamu, tolong beri kesempatan ku untuk menemui ibuku sebelum kehamilanku ini semakin membesar hikss..hikss.." ujar Anita dengan air mata.
"aku han..."
"akhhhh" teriak Anita memotong ucapan Rey dan memegang perutnya sendiri. Anita merasakan begitu sakit pada perutnya, tubuhnya tiba-tiba saja terasa lemas, pandangannya kabur entah kemana.
"brukk" Anita jatuh pingsan dilantai, Rey yang melihat Anita pingsan pun segera merangkulnya begitupun dengan Zoy. Zoy yang sedari tadi memerhatikan dari jauh namun mendengar semuanya segera menghampiri Rey dan membantu Rey membawa Anita ke dalam kamar. sebelumnya Zoy juga langsung menghubungi salah satu dokter terdekat disana.
tak butuh waktu lama, dokter sudah sampai ditempat. dengan teliti dan hati-hati dokter mulai memeriksa keadaan Anita yang terbaring lemah diatas ranjang dengan wajah yang pasi pucat.
"bagaimana dok keadaannya??" tanya Rey panik.
"dia tidak apa-apa, hanya ia merasa setress dan tertekan. sebaiknya jangan berikan dia tekanan dan berikan dia hal-hal yang akan membuatnya bahagia. akarnya itu sangat baik untuk keadannya" ujar sang dokter.
"kandungannya baik dan cukup kuat, hanya jika sang ibu terus-terusan merasa setress maka itu jelas akan menganggu kehamilannya." ujar sang dokter menjelaskan.
"ini resep obatnya, kalau begitu saya permisi. terimakasih" ujar dokter seraya berdiri dan hendak melangkah keluar kamar.
tanpa jawaban dari Rey, dokter itupun kembali keluar kamar dengan diantar oleh Zoy. Zoy kini sudah kembali kekamar Rey dan Anita, Zoy mendapati Rey yang tengah duduk ditepi ranjang sambil memandang wajah polos pasi pucat Anita dengan seksama.
"Rey!" ujar zoy perlahan. namun Rey tak bergeming ia masih berada dengan pemikirannya.
"kau tau, cara orang dalam menentukan kebahagiannya berbeda-beda. sudut pandang seseorang terhadap orang lain berbeda. sedekat apapun hubungannya, maka sesekali pemikiran terhadap satu hal pasti Takan sama." ujar zoy, Rey pun mendongakan kepalannya menatap langit-langit kamar.
"apa aku salah khawatir padanya Zoy?" tanya Rey .
"kau khwatir padanya itu tidak salah. tapi caramu dalam mengkhawatirkannya yang salah" ujar zoy.
__ADS_1
"kau boleh pergi, dan beri alasan apapun pada Maria. aku akan bermalam disini menjaga Anita" ujar Rey seraya mengusap wajahnya yang kasar.
" baiklah, aku permisi" ujar zoy lalu berlalu.
"maafkan aku Anita, maafkan aku. tak seharusnya aku berbicara kasar padamu. aku menyesal maafkan aku" lirih Rey seraya mencium tangan kurus milik Anita.
sementara itu Zoy langsung melangkah pergi meninggalkan kamar , dan segera bergegas kerumah Maria untuk memberi kabar jika Rey tidak akan pulang. Zoy sendiri sebenarnya bingung harus memberikan alasan apa pada Maria.
"hadeuhhhh, kenapa aku ikut terlibat dalam masalah ini" desah Zoy seraya menancapkan pedal gas.
30 menit berlalu, Anita mulai mengerjap-ngerjapkan matanya. ia merasa pusing, badannya terasa lemas. ia menatap sekitar jelas ia hafal betul bahwa ia berada dikamar. hingga tatapan nya berhenti pada satu objek, pria tampan yang nampak tertidur dengan pakaian dan dasi yang acak-acakan.
Anita kembali menitikan air mata, mengingat kejadian sebelumnya. mengingat ia yang sudah merasakan cinta apabila didekat Rey. namun, ia sadar ia tak berhak untuk mencintai Rey.
mendengar suara Isak tangis, Rey terbangun. Rey terperanjat kaget ketika melihat Anita tengah berlinang air mata dengan wajah pucatnya.
"an... maafkan aku" lirih Rey dengan mimik wajah yang sangat merasa bersalah. " tidak apa-apa lupakan semuanya" jawab Anita pelan.
"Anita aku hanya khawatir padamu dan juga pada bayi kita, aku tidak ingin terjadi apa-apa pada kalian. maafkan aku Anita, kau boleh berkunjung, bertemu ibumu sesuka hatimu. hanya saja pesanku tolong jaga bayi yang ada dikandungan mu ini. " ujar Rey seraya mendekati wajah anita dan berniat ingin menghapus air mata Anita.
belum sempat jari jemari Rey menyentuh wajah Anita, Anita sudah memalingkan wajahnya. Rey pun dengan lesu ia menurunkan tangannya.
" kau tak perlu khawatir aku akan menjaga bayi ini, aku adalah yang mengandungnya. aku yang merawatnya dengan penuh perjuangan sendirian. aku yang menjaganya dan bertahan disaat dia menyulitkan ku, disaat ia selalu memberikanku rasa mual dan rasa keinginan. kau tak perlu khawatir, kau tau sendiri bukan aku bisa melewatinya Sendirian" ujar Anita dengan penuh penekanan pada kalimat akhir.
"maaf, selama ini aku tidak ada disampingmu. maafkan aku yang tidak menemanimu bertahan dalam keadaan seperti ini" ujar Rey kembali.
"tak perlu minta maaf, aku sudah terbiasa " jawab Anita seraya memalingkan wajahnya pada wajah Rey .
Rey menatap nanar wajah cantik gadis yang ia temui beberapa bulan lalu. ia semakin merasa bersalah dan berdosa pada gadis malang yang ia temui ya itu. Rey merasa menyesal sudah merusak hidup Anita, andai saja waktu bisa diputar kembali. Rey tentu akan membantu Anita tanpa berbalas jasa, sebab mengeluarkan biaya semua yg sudah diberikan itu tidaklah seberapa dibanding dengan harta yang ia punya.
"an, ak..."
"lagi pula aku sadar posisi, aku harap kehamilan mbak sehat selalu dan tidak sepertiku yang rewel. oh iya aku minta tolong, aku ingin pergi ke toilet" ucap Anita memotong.
"baiklah mari aku bantu" jawab Rey .
__ADS_1
"terimakasih" jawab singkat Anita.
...-bersambung-...