
Rey Agatha POV
Hari itu aku tengah berkutat menyelesaikan beberapa berkas yang harus ditanda tangani dan juga memeriksa laporan yang masuk ke perusahaan. Kebetulan Maria istriku ikut ke kantor.
“Mas, aku bosan” ucapnya dengan nada memelas. Aku pun menghentikan aktivitasku sejenak lalu menatapnya lembut penuh hangat.
“Kamu bosan? Tunggu ya sebentar lagi aku selesai.” Jawabku seraya tersenyum hangat. Mendengar jawaban dariku Maria pun menghela nafas kasar.
“Ah mas bagaimana kalo aku kebutik depan sebentar? Aku ingin melihat beberapa baju untuk acara kita nanti.” Ucapnya bersemangat dengan mata berbinar.
“Ide bagus, tapi aku ma..”
“Mas gak usah ikut, mas selesaikan saja dulu pekerjaannya. Aku pergi sendiri saja, lagian aku Cuma ke butik depan yang tak jauh dari kantor mas ini. Nanti aku kesini lagi kok.. boleh ya mas boleh ya?...” bujuk Maria dengan memasang wajah melas.
Melihat tingkah Maria yang manja aku pun hanya pasrah mengangguk, aku berfikir aku akan menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin lalu nanti akan menyusul Maria kebutik depan.
“Baiklah, hati-hati ya. Nanti mas menyusul” kataku seraya tersenyum hangat. Maria pun mendekat lalu mencium pipi ku dengan gemas.
“terimakasih mas, aku pergi dulu” ujar Maria seraya menyambar tas dan juga ponselnya di sofa. Sementara aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya yang makin hari semakin manja. Namun aku tak ambil pusing, mungkin itu hormon ibu hamil pikirku.
Perihal hamil, aku jadi merindukan Anita. Anita seharusnya sudah selesai dengan segala ujian sekolah dan juga hal lainnya. Aku pun bersemangat untuk segera membereskan pekerjaan agar nanti bisa berkunjung menemui gadis kecil yang menyebalkan itu.
__ADS_1
Waktu berlalu, semua pekerjaan sudah selesai. Namun istriku Maria belum juga kembali dari butik tersebut, aku pun segera mengambil jas lalu segera menyusul Maria.
Sesampainya disana, benar saja Maria masih ada dibutik. Hanya saja ia seperti tengah menatap seseorang, akupun mengikuti sudut netranya. Aku merasa terkejut, ketika melihat sosok yang baru saja keluar dari butik adalah istriku Anita. ‘ kenapa Maria menatapnya seperti itu?’ pikirku. Namun aku segera menetralkan situasi, aku bertanya kepada istriku Maria.
“sayang, aku mencarimu kemana-mana” kataku pada Maria. Maria pun menoleh, lalu menyeka air matanya yang hampir keluar. aku yang melihat itupun mengernyit heran bertanya-tanya apa yang terjadi.
“kamu kenapa?” tanyaku lagi seraya menatap dalam Maria.
“Tidak ada mas, ayo kita pulang. Aku rasa tidak ada dress yang cocok disini hehehe” ujar Maria beralasan.
“Hmhh baiklah ayo” aku pun menggandengnya keluar dari butik itu.
Sesampainya dirumah, aku merasa heran dengan sikap Maria yang seakan hanya diam. Namun tiba-tiba dia meminta keinginan untuk melangsungkan acara anniversary besar-besaran yang akan ditayangkan di seluruh stasiun tv. Aku sedikit heran, karna pasalnya dari dulu Maria tidak pernah ingin kehidupannya menjadi konsumsi publik tapi kali ini, ah entahlah.
Hari sudah semakin gelap, rintik hujan mulai turun membasahi ibu kota. Aku dengan cepat berjalan menuju appartement, sesampainya disana. Hatiku semakin terasa sakit ketika melihat sosok gadis kecil, sosok gadis yang tengah meringkuk diatas kursi seperti menahan kedinginan.
Dengan mata yang masih terpejam, aku memindahkan Anita keatas ranjang. Mengecup menyapu segala permukaan wajahnya, aku juga mengecup dan mengucap perutnya yang sudah mulai membuncit itu.
“mas Rey” lirih Anita dengan mata sedikit terbuka nan sayu.
Anita kembali memejamkan matanya, mata yang tertutup sayu dengan wajah sendu. Aku pun mengecup sekilas bibir ranum yang selalu menjadi candu itu. Menelisik tiap inci wajahnya yang kini semakin membulat berisi.
__ADS_1
Aku terperangah ketika Anita memeluk erat diriku, namun juga aku merasa tertampar ketika pelukannya itu seakan sedang menumpahkan rindu yang selama ini terpendam. Air mata Anita mulai membasahi kemeja yang aku pakai, menangis sesenggukan seakan menumpahkan rasa sakit yang teramat sangat dalam. Menumpahkan segala beban yang ada di pundaknya.
Aku semakin tercekat ketika melihat Anita memukul-mukul keras dadanya sendiri dengan air mata yang deras mengalir meskipun dengan mata terututup nan sayu. Sesakit itukah hatinya? Sejahat itukah aku?...
“kamu jahat mas Rey, kamu jahat. Kamu tau aku merindukanmu, aku membutuhkan dirimu. Aku kesulitan melewati semuanya sendiri, aku terlalu rapuh untuk memopang beban ini sendirian, aku butuh teman, aku butuh kamu hiksss...hikssss.” lirih Anita dengan suara tercekat.
“kamu tau mas? Aku selalu berusaha untuk kuat. Aku selalu berusaha untuk menerima takdir dan keadaan ini, tapi nyatanya aku tetaplah aku hanya perempuan biasa. Pedih mas, sakit sekali sakit hikss..hikss..... Sesekali ingin rasanya aku... Aku mengakhiri semuanya, mengakhiri kehidupan yang kejam ini mas hikss hiks... Tapi aku masih punya ibu, masih punya anak yang ada didalam rahimku. Aku memiliki beban berat mas hiks.... Hiks...”
“aku membenci ayahku , aku membenci Anjani wanita penggoda itu. Dan lucu nya lagi justru sekarang aku seakan tengah menjadi wanita penggoda mas. Merebut milik orang lain, bersama dengan orang lain hiks... Hikss... Aku ingin menyudahi semuanya mas Rey, aku lelah.. aku lehahhhhhhhh hiksssssss” racau Anita mengeluarkan segala pedihnya. Tangisnya pecah, dengan gemetar dirinya menangis dipelukan ku. Aku yang mendengar penuturan itupun ikut menangis, tak kuasa membayangkan beban Anita.merasa bersalah atas apa yang telah kulakukan, merasa sangat kejam karna tidak bisa berprilaku adil kepada nya.
Aku pun mencoba menenangkan Anita. “Annnnn tenanglah, aku disini. Aku mi...”
Baru saja aku membuka mulut, aku merasa sosok yang ada di pelukanku itu diam dengan tenang. Akupun melirik sekilas, ternyata Anita sudah tertidur pulas.
Aku merebahkan tubuh Anita secara perlahan, menutupi tubuhnya dengan selimut agar tak kedinginan lalu mengecup menyapu seluruh wajah sendu Anita.
Setelah dirasa cukup aku pun dengan perasaan bersalah dan juga gundah,melangkahkan kaki untuk pergi meninggalkan appartement untuk kembali kerumah.
Namun ketika hendak keluar dan membuka kenop pintu, aku melihat sebuah dress berwarna merah darah tergantung dibalik pintu, aku tersenyum. Lalu kembali mengecup keningnya .
“Maafkan aku, dan selamat untuk kelulusannya” kataku lalu segera pergi.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...
...