
Sesampainya di appartment Anita segera merebahkan dirinya di ranjang yang empuk. Kakinya terasa lelah, matanya menatap langit-langit ruangan tersebut. Tangannya mengusap-ngusap halus perutnya yang mulai kembung, pikirannya bergerilya kesana kemari tak tentu arah.
“Sayang, mama tau kamu merindukan ayahmu. Tapi mau bagaimana lagi, sabar ya sayang. Maaf mama belum bisa jadi mama yang baik buat kamu” lirih Anita.
Anita mengecek ponselnya, Harap-harap Rey akan memberinya kabar meskipun hanya singkat. Namun ternyata hal itu adalah sebuah ketidak mungkinan. Anita pun mulai merubah posisinya menjadi terduduk, ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri setelah seharian mencari dress untuk acaranya nanti. Namun tiba-tiba Anita kembali terbayang wajah sosok perempuan yang berebut dress tadi.
“yatuhan,,, apa aku jahat ya aku merebut dress yang dia inginkan” lirih Anita kemudian masuk kedalam kamar mandi.
*****************
Sementara itu,
“sayang kamu kok diem terus? Ada yang sakit?” tanya Rey pada Maria.
Maria tak menjawab, ia hanya menoleh sekilas lalu menatap keluar jendela balkon.
“Iya mas rasanya sakit sekali, sesak seakan sulit untuk bernafas pun. Dia merebut segalanya dariku, bahkan sebuah gaun pun dia merebutnya.” Batin Maria .
Merasa pertanyaannya diacuhkan Rey kembali bertanya “ sayanggg???”
“Tidak ada mas, oh iya aku ingin meminta sesuatu boleh?” tanya Maria membalikan badan menghadap Rey.
“katakan” ucap Rey seraya mengelus halus rambut Maria.
__ADS_1
“aku ingin acara anniversary kita ditayangkan di seluruh stasiun Televisi, aku ingin acara ini semeriah mungkin. Dan aku juga ingin mengumumkan kehamilan kita” deret permintaan Maria, Rey yang mendengar itupun memicingkan matanya. Pasalnya dari dulu Maria paling enggan kehidupannya menjadi konsumsi publik, tapi sekarang?
“begini, entah mengapa aku rasanya menginginkan seperti ini hehe. Apa bawaannya Dede bayi ya” ujar Maria seraya mengelus perutnya .
Mendengar kata bayi, Rey pun tersenyum.
“baiklah, apapun itu akan aku turuti kemauanku” ujar Rey.
“terimakasih mas” ucap Maria memeluk Rey erat.
“Aku harap kamu melihatnya, aku harap kamu sadar bahwa kita berdua tidak bisa terpisahkan. Dan aku harap kamu sadar bahwa kamu adalah sebuah duri tajam dalam kehidupan kita. Aku tidak akan diam, akan kulakukan dan membalas apa yang telah kamu lakukan. Camkan itu!!!” Batin Maria menyeringai..
“Sayang aku izin keluar sebentar boleh?” tanya Rey pada Maria, Maria pun melonggarkan pelukannya lalu mendongakkan kepala seolah-olah bertanya kemana?.
“aku ada urusan dengan teman kolega ku, barusan zoy baru memberiku kabar” ucap Rey berbohong.
“baiklah, jaga diri ya mama” ujar Rey mencium kening Maria lalu segera melenggang pergi dari kamarnya.
“Pergilah mas, manfaatkan waktu yang akan segera berlalu itu” ucap Maria menatap kepergian mobil Rey dari balkon kamarnya.
Malam telah tiba, rintik hujan mengguyur ibu kota semakin menambah suasana dingin dan sepi yang Anita rasa. Ia kini tengah duduk dan bersandar pada kursi. Sesekali ia juga menggosok kedua tangan Lalu meniupnya untuk merasakan kehangatan. Menyedihkan sekali pikir Anita, ia kemudian mengelus -ngelus perutnya itu dan tanpa aba-aba bulir- bulir cairan bening itu meluncur deras dari matanya. Tanpa disadari Anita mulai terlelap, menutup mata kemudian meringkuk di kursi yang cukup menampung tubuhnya itu.
Tapi entah mengapa tiba-tiba saja ia merasa ada sosok yang memindahkan dirinya ke atas ranjang, mengecup kening, membelai halus rambut, mengusap bahkan mengecup perutnya. Apa itu Rey? Anita kembali tersadar bahwa itu tidak mungkin.
__ADS_1
“mas Rey” lirih Anita dengan mata sedikit terbuka nan sayu.
Anita kembali memejamkan matanya, namun lagi-lagi ia merasa ada benda basah yang mengecup kilas bibirnya. Anita tersenyum bahagia, entah ini mimpi atau tidak yang jelas dia sangat merindukan belaian kasih dan kehangatan tersebut.
Anita memeluk erat sosok itu, seakan menumpahkan rindu yang selama ini terpendam. Air mata Anita mulai membasahi kemeja sosok itu, menangis sesenggukan seakan menumpahkan rasa sakit yang teramat sangat dalam. Menumpahkan segala beban yang ada di pundaknya.
Anita memukul-mukul keras dadanya yang terasa sangat sesak, sesak. Nyeri sekali rasanya, nyeri sekali mengingat takdir dan nasibnya. Nyeri sekali apabila harus membayangkan masa depannya yang entah akan menjadi apa. Keluarga, kerabat, sahabat, apa yang harus dilakukan Anita kelak.
Ia semakin merasa sesak ketika mengingat masa kecilnya dulu yang berharap ingin segera dewasa, namun kenyataannya justru ia menyesal menjadi sosok orang dewasa. Terlalu banyak beban, terlalu banyak kebohongan, terlalu banyak rasa sakit yang seakan terus saja menjadi sebuah bayangan dalam hidupnya.
“kamu jahat mas Rey, kamu jahat. Kamu tau aku merindukanmu, aku membutuhkan dirimu. Aku kesulitan melewati semuanya sendiri, aku terlalu rapuh untuk memopang beban ini sendirian, aku butuh teman, aku butuh kamu hiksss...hikssss.” lirih Anita dengan suara tercekat.
“kamu tau mas? Aku selalu berusaha untuk kuat. Aku selalu berusaha untuk menerima takdir dan keadaan ini, tapi nyatanya aku tetaplah aku hanya perempuan biasa. Pedih mas, sakit sekali sakit hikss..hikss..... Sesekali ingin rasanya aku... Aku mengakhiri semuanya, mengakhiri kehidupan yang kejam ini mas hikss hiks... Tapi aku masih punya ibu, masih punya anak yang ada didalam rahimku. Aku memiliki beban berat mas hiks.... Hiks...”
“aku membenci ayahku , aku membenci Anjani wanita penggoda itu. Dan lucu nya lagi justru sekarang aku seakan tengah menjadi wanita penggoda mas. Merebut milik orang lain, bersama dengan orang lain hiks... Hikss... Aku ingin menyudahi semuanya mas Rey, aku lelah.. aku lehahhhhhhhh hiksssssss” racau Anita mengeluarkan segala pedihnya. Tangisnya pecah, dengan gemetar dirinya menangis diperlukan Rey. Rey yang mendengar penuturan itupun ikut menangis, tak kuasa membayangkan beban Anita. Ia juga merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan.
“Annnnn tenanglah, aku disini. Aku mi...”
Baru saja Rey membuka mulutnya, ia merasa sosok yang ada di pelukannya itu diam dengan tenang. Rey pun melirik sekilas, ternyata Anita sudah tertidur pulas.
Rey merebahkan tubuh Anita secara perlahan, menutupi tubuhnya dengan selimut agar tak kedinginan lalu mengecup menyapu seluruh wajah sendu Anita.
Setelah dirasa cukup Rey pun dengan perasaan bersalah dan juga gundah, ia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan appartement untuk kembali kerumah. Kembali pada istri yang ia cintai, yaitu Maria.
__ADS_1
...BERSAMBUNG.....
...