Aleta

Aleta
12. Mulai Dekat


__ADS_3

...🦋 Happy Reading bestie 🦋...


...***...


Banyak muda mudi yang makan atau hanya sekedar nongkrong bersama teman-teman, ah Aleta jadi begitu merindukan kedua temannya karena berkas-berkas dari butik mamahnya tidak ada yang menghandle jadi begitu banyak pekerjaan yang terbengkalai jadi mau tak mau harus iya yang turun tangan.


Walaupun sudah dibantu oleh bunda kaila tetap aja ada beberapa yang memang harus dia urus sendiri.


"Nih makan" ujar barra yang duduk didepan Aleta membawa nampan berisikan 2 porsi sate taichan 2 gelas air putih dan 2 gelas jus alpukat.


"Jangan bengong terus nanti kesambet" terus barra.


"Iya" Aleta begitu lahab memakan sate dihadapannya sampai membuat barra terdiam menatap Aleta dengan senyuman.


"Jangan ngeliatin gua terus nanti suka" kata Aleta masih sibuk memakai sate ditangannya.


"Kalo udah suka gimana?" Aleta hanya mengindikan bahunya acuh.


"Ya suka mah suka aja, gak ada larangan ini untuk menyukai siapapun"


"Udah gitu doang?"


"Maksudnya?"


"Gak ada feedbacknya gitu?" tanya barra serius dijawab indikan bahu oleh aleta.


"Kenapa?"


"Gak ada waktu ngurusin cinta-cintaan, lagi juga gua udah dijodohin ya walaupun terpaksa"


"Kenapa mau? Kan lu gak suka"


"Gua nolak pun gak akan ada bedanya itu akan berjalan sesuai rencana dia" kekeh Aleta miris.


"Sabar ya cantik kan ada gua" katanya tersenyum manis kearah Aleta.


"Mulai sekarang kalo ada masalah apa-apa lu boleh kok cerita ke gua, lu boleh nangis sekencang yang lu bisa gua bakal minjemin bahu gua buat lu bersandar"


"Gua akan jadi tempat lu berkeluh kesah pokoknya kalo ada masalah apapun lu bisa cari gua, gua akan berusaha sebisa gua untuk selalu ada disisi lu" ujarnya serius.


"Kenapa?" Tanya Aleta.


"Emang harus ada alasan untuk melakukan kebaikan yang kita ingin untuk orang yang kita sayang?"


"Lu sayang sama gua?"


"Iya"


"Kita kan baru kenal bar"


"Langit gelapkan?"


"Iya" jawab Aleta dengan bingung menatap ke langit.


"Gelap dan bunyi gemuruh petir belum tentu hujankan" tanya barra.


"Maksudnya?"


"Biarkan saya menyayangin tanpa tapi dan mencintai tanpa alasan, untuk saat ini kamu sedang hancur saya tau kamu mati rasa karena orang terdekat kamu, orang yang seharusnya membuat putrinya merasakan jatuh cinta untuk pertama kali untuknya tapi malah ia buat hancurkan tanpa tersisa, jadi biarkan saya tetap berada disamping kamu mengumpulkan setiap remahan yang tersisa, karena suatu hari udah gak ada alasan bagi saya untuk melepaskan"


"Yang datang lebih dulu akan kalah sama yang selalu ada, jadi izinin saya selalu ada disisi orang yang saya sayang, buat dia selalu ingat bahwa masih ada orang yang peduli dan melindungi dia kapanpun itu"


"Jadi izinkan saya masuk kehati kamu ya"


"Tapi gua udah dijodohin barr"


"Hidup, mati, jodoh semua sudah ada yang mengatur tugas saya hanya berusaha sebisa saya"


"Biarkan seperti ini ya bar, biarkan alur yang membuat cerita ini kita cuman bisa mengikutinya"


"Jadi?"


"Iya, gua bakal izinin lu ada disisi gua buat jadi tameng terkuat yang selalu ada waktu gua cari" jawabnya tersenyum kearah barra.


"Yaudah jangan nangis terus ya cantik sekarang ada mas barra" kekehnya.


"Siap mas" mereka berdua pun terkekeh.


"Ayo pulang udah malem"


***


Sudah hampir 1 bulan mereka selalu sibuk dengan urusan masing-masing bahkan fely selalu keluar ditemani oleh naufal, dan tanpa Aleta dan barra sadari hubungan mereka menjadi sangat dekat.


Setelah pulang sekolah Aleta akan sibuk dicafe dengan setumpuk berkas dan barra yang selalu menemaninya setelah itu mereka akan kerumah sakit untuk menjenguk mamah aleta.


"Jadi sebenarnya barra itu pacar Quen atau temen?" Tanya mamah intan bahkan sudah yang berkali-kali.


"Maunya sih langsung jadi suami aja tante gausah jadi pacar" balas barra, Aleta hanya mendengus mendengar jawaban barra.


"Sekolah dulu yang tinggi baru mikirin nikah" ujar mamah intah.


"Udah mamah jangan dengerin barra dia emang suka ngaco anaknya" sela Aleta.


"Loh kan bener ya, aku udah megang 1 perusahaan papi nikahin kamu setelah lulus sekolah mah gampang gausah mikirin mau makan apa kamu minta apa aja bakal aku beliin" lagi-lagi mama intan dibuat tertawa dengan jawaban barra.


Laki-laki remaja ini begitu mencintai anak gadisnya semoga anak gadisnya bisa mendapatkan orang yang benar-benar sangat mencintai dan menyayangi dia dengan tulus tidak seperti mantan suaminya.


"Sekolah yang bener abis itu kuliah jadi orang sukses bahagiain orang tua baru mikirin nikah" jawab Aleta.


"Aku udah sukses sebelum lulus sekolah, orang tua aku juga selalu bahagia karena ada aku jadi gak salah kalo mikirin nikah, tante mau kan punya menantu ganteng kek aku" tanya barra mengedipkan mata ke Tante intan.


"Dih ngapa lu kecolok tawon mata lu" sunggut aleta kesal.

__ADS_1


"Gimana tante?" Tanya barra yang tidak menanggapi ucapan Aleta.


"Tante mah terserah quen yang penting tulus, baik, sholeh, sayang sama keluarga dan yang paling penting ga neko-neko juga bertanggungjawab"


"Itu sih barra banget" jawabnya cengengesan.


"Dih pd loh" ujarnya menyentil kening barra.


"Aw.. yaampun ta belom nikah udah kdrt aja Iya" katanya memegang keningnya.


"Jijik bar ih jauh-jauh sana" usirnya.


Tante intan pun terkekeh dengan kelakuan 2 anak itu dia begitu bahagia melihat anaknya ada yang menjaga seperti orang sebaik barra.


"Udah yuk mah masuk udah mau gelap" ajak Aleta.


"Mamah udah boleh pulang belom sih" tanyanya sedih.


"Nanti Aleta tanya dokter ya kapan mamah boleh pulang"


"Udah tante jangan sedih harus semangat biar cepet sembuh dan boleh pulang" ujar barra.


"Pasti dong"


"Yaudah kalian pulang gih udah mau magrib" ujar tante intan.


"Mama gapapa ditinggal?" Tanya Aleta khawatir.


"Gapapa"


"Yaudah kita pulang ya mah" mereka pun berlalu pergi menuju ruangan dokter.


"Jadi gimana dok, kapan mama saya udah boleh pulang?"


"Keadaan mama kamu udah mulai stabil mungkin minggu besok udah boleh pulang dan harus tetap minum obat yang teratur dan yang penting jangan dulu deketin dia ke orang-orang yang buat dia shok nanti malah membuat ibu intan depresinya kambuh" jelas dokter.


"Baik dok"


"Kalo gitu kami permisi dulu"


"Terimakasih"


"Gak nyangka banget setelah 4 tahun mamah depresi akhirnya mamah sembuh pokoknya gua harus jauhin mamah dari si j*l*ng itu" ujar Aleta penuh penekanan.


"Seneng banget ya" seru barra.


"Yaudah jangan sedih-sedih lagi hari minggu kita jemput tante intan ya" aleta pun menganggukkan kepalanya senang.


"Sekarang mau kemana?" Tanya barra.


"Terserah"


"Yaudah pulang aja" Aleta tampak kecewa dengan jawaban barra.


"Ayo turun"


"Katanya mau pulang"


"Yakin?" Aleta tampak menggelengkan kepalanya pertanda tidak setuju.


"Yaudah ayo turun" mereka pun berjalan menyusuri pasar malam.


"Mau beli apa?" Aleta tampak berfikir seraya menatap ke sepenjuru arah sampai kedua matanya tertuju ke sebuah penjualan gula-gula kapas.


"Beli itu" ujarnya menarik tangan barra kepenjual gula-gula kapas.


"Astaga, yang ngantri anak-anak kecil semua ta"


"Ih gapapa ayo"


Mereka pun nampak bersabar berbaris menunggu giliran sampai pada akhirnya giliran mereka abang-abang gula kapas membuatkan Aleta gula-gula kapas yang lumayan besar sampai gadis itu kegirangan dibuatnya barra hanya menggeleng kepalanya.


"Ayo mau beli apalagi?"


"Mau coba itu" Aleta menuju ketoko permainan mereka pun menghampirinya.


Ah ternyata mereka harus melemparkan 6 gelang masuk kedalam botol didepan sana jika dia berhasil mereka boleh memilih boneka.


"Ayo bar main"


"Berapa bang?"


"100 ribu dapet 6 gelang a, kalo berhasil masuk semua boleh pilih boneka tapi kalo masuk 5 dapet boneka sedeng itu a nah kalo cuman masuk 4 dapet boneka yang kecil-kecil itu a" jelas abang-abangnya.


"Boleh bang"


"Ini a" barra pun menerima 6 gelang itu.


"Ayo barr semangat"


Barra pun nampak fokus dilempar pertama dia masuk, lemparan kedua juga masuk dilemparan ke tiga lagi-lagi di masuk.


"Ayoo 2 lagi" heboh Aleta.


Saat dilemparan ke empat dia hampir gagal posisi gelang itu berdiri diatas botol dan hampir saja terjatuh tapi akhirnya masuk juga dengan sempurna.


"Hampir saja" seru Aleta legah.


Dan dilemparan ke 6 lagi-lagi barra memasukkannya Aleta bun bersorak gembira.


"Asik menang" ujarnya bertepuk tangan barra menatapnya tersenyum.


"Silakan dipilih a" kata sang penjual.

__ADS_1


"Mau yang mana?" Tanya barra.


"Mau itu panda"


"Yang panda bang"


"Ini a"


"Makasih ya bang"


"Iya a"


Barra pun memberikan boneka panda itu ke Aleta.


"Nih"


"Makasih"


"Mau kemana lagi?" Tanya barra.


"Beli bakso cilok itu yuk" ajak aleta.


Mereka pun duduk disamping motor Dengan baso cilok digenggam masing-masing, tahu bulat yang digantung dimotor bersama kue cucur, teh manis yang mereka taru disamping mereka dan jangan lupakan boneka panda didalam pelukannya aleta.


"Taro dulu bonekanya, jadi susahkan makannya" seru barra.


Barra mengambil boneka yang dipeluk Aleta dan menaruhnya diatas motor.


Cukup lama mereka duduk disini akhirnya mereka bersiap untuk pulang.


"Hm, barra" Panggil Aleta.


"Kenapa lagi?"


"Ini bawanya gimana?" Bingungnya pasalnya boneka pandanya berukuran sedang.


Barra melupakan itu mereka membawa motor bagaimana bisa mereka membawa boneka itu.


"Gampang udah sini" barra menaru boneka itu didepan walaupun terhalang sedikit penglihatannya.


"Bener gapapa?" Tanya aleta ragu.


"Gapapa"


"Keliatan gak?"


"Keliatan kok, udah ayo pegangan nanti jatuh gua gak mau lu sampe lecet sedikitpun"


***


"Hampir 2 bulan kita gak pernah main bareng" keluh fely.


"Sorry ya gua sibuk dicafe" sahut Aleta.


"Gua juga lagi sibuk banget sorry ya fel" sesal dira.


"Ohiya hari minggu gua mau jemput mamah" ujar Aleta tiba-tiba.


"Mama intan udah sembuh" tanya fely senang.


"Asikk ayoo kita jemput bareng-bareng" senang dira.


"Dirumah sakit gak boleh rame-rame kali" sahut Dira.


"Yah terus?"


"Kalian tunggu diapartemen gua aja ya"


"Oke"


"Kita bakal siapin makanan yang banyak buat mama intan" seru dira dan fely senang.


"Abis itu kita buat kue bareng-bareng"


"Kita jalan bareng-bareng"


"Pokoknya kita harus habiskan waktu bareng-bareng"


"Ohiya nanti fely ajak bunda, bunda pasti seneng karena udah lama gak ketemu mama intan" Ujar fely anak itu sudah berfikir terlalu banyak yang akan iya habiskan dengan mama.


"Tapi mama intan kan baru pulang dari rumah sakit gak boleh cape-cepe fel" tegur dira.


"Gapapa mama intan duduk aja kita yang buat kue"


"Kita?" Tanya dira menunjuk ke Aleta dirinya dan fely.


"Gua sama aleta doang kali, elu mah sibuk ngacak-ngacak dapur" seru dira, fely hanya cengengesan dengan penuturan dira.


"Ya gapapa"


"Gak ada gak ada bisa habis dilahap api dapur kalo lu yang main didapur" bantah dira.


"Dira kenapa sih kaya bunda suka banget ngelarang kalo gitu terus wajar aja fely gak bisa-bisa cuman bisa kacau aja" katanya melipat kedua tangannya didepan dengan wajah kesal.


"Janji dulu gak buat kacau"


"Iya janji"


"Oke"


"Tapi dikit gapapa kan" tanyanya menunjukkan seujung kuku.


"Yeh sama aja" katanya menepuk jidatnya.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2