
...🦋 Happy Reading bestie 🦋...
...***...
"Jadi gimana dok?" Tanya Aleta cemas.
"Temen kalian udah nikah?" Tanya dokter itu begitu melihat ke-lima remaja itu masih menggunakan seragam sma.
"Hah?" Bingung karin disamping aleta.
"Udah dok" jawab aleta, Karin yang tidak paham hanya diam sama disamping aleta.
'Kapan Dira nikahnya? Bukannya yang udah nikah itu aletae?' batin Karin bingung.
"Kamu gak bohong kan?" Tanya dokter penuh selidik.
"Gak kok dok" jawab aleta yakin.
"Bener?" Tanya dokter menatap Karin dengan serius.
"A-anu b-bener kok" jawabnya salah tingkah karena tatapan tajam sang dokter.
"Masa anak SMA kaya kalian udah nikah?"
"Kita serius dok" sahut tasya.
"Untuk usia kalian ini sangat rentan untuk hamil muda" jeda sang dokter, Karin nampak shok dengan penuturan dokter itu tapi dia mencoba untuk menyembunyikan.
"H-hamil dok?" Tanya Karin.
"Iya temen kalian sedang hamil sudah memasukin Minggu ke 6 kehamilan di usia kalian ini sangat rentan keguguran jadi harus dijaga dengan baik" jelas sang dokter.
"Biar saya kasih obat penguat kandungan, karena sepertinya kandungan sang ibu sangat lemah"
"Nanti bisa ditebus ya"
"Baik dok, terimakasih"
"Iya sama-sama" ke-dua remaja itu keluar dari ruang dokter.
"I-ini beneran?" Tanya karin yang masih shock.
"Iya" jawab Aleta mengganggukan kepalanya.
"T-tapi gimana bisa? M-maksud gua Dira hamil anak Siapa?" Tanya Karin bertubi-tubi.
"Feeling gua sih anaknya Rafael mereka kan tinggal serumah dan Dira pun dia yang beli dari rumah bordil jadi tuh laki-laki ngerasa punya hak buat apa-apain dira karena dia udah ngebeli Dira dengan harga mahal" jelas aleta.
"Tapi bagaimana tega dia begitu ke Dira, kita kan masih sekolah ta"
"Dalam dunia bisnis gak ada yang namanya tega" tegas Aleta.
"T-tapi ta"
"Ya gua juga gak tau, yaudahlah biar Dira aja yang jelasin semuanya kita gak bisa menerka-nerka" potong aleta.
Kedua gadis itu berjalan beriringan menuju ruang rawat dira yang didalamnya terdapat Dira, fely dan Tasya yang senantiasa disamping brankar Dira.
"Gimana?" Tanya Tasya khawatir.
"Udah hubungin Rafael?" Tanya balik aleta.
"Udah" jawab fely mengangguk kepalanya.
'Clek.
Terdapat laki-laki dewasa yang masuk kedalam ruang rawat dira dengan terburu-buru, dengan setelan jas yang masih lengkap ditubuhnya, keempat remaja itu hanya diam disisi dira melihat kepanikan laki-laki dewasa yang masuk kedalam ruangan.
"Kamu gapapa?" Tanya Rafael cemas begitu melihat wajah dira yang pucat.
"Gapapa" jawabnya lemah.
"Gua mau ngomong berdua sama lu bisa?" Tanya aleta datar.
Sejenak Rafael menatap kearah seorang gadis yang berdiri dengan tangan melipat didada yang tengah menatapnya dengan tajam, gadis yang dia tatap sangat lebih dominan memancarkan aura tegas dibanding teman-temannya yang kontras.
__ADS_1
"Bisa" jawabnya mengganggukan kepalanya.
"Gua tunggu diluar" ujar Aleta dingin, saat aleta keluar laki-laki dewasa mengikuti langkah dalam diam.
Keduanya sampai ditaman rumah sakit itu tanpa banyak bicara Aleta menampar laki-laki dewasa didepannya dengan begitu keras.
'Plak
"Apa-apaan kamu" kaget Rafael dengan Aleta yang tiba-tiba menampar pipinya begitu kencang.
"Dira hamil" ujarnya menatap kearah jalan dengan tatapan dingin.
"Saya tau" Rafael menjeda ucapannya dan menarik nafasnya dalam.
"Saya akan menikahkan dira secepatnya" jelasnya.
"Gua harap lu gak main-main sama Dira"
"Saya tidak pernah seserius ini dengan seorang wanita"
"Ya, setidaknya omongan lu bisa dipegang ya kecuali laki-laki pengecut"
"Saya tidak seperti itu"
"Awas aja kalo lu nyakitin dia, walaupun dira ngomong lu laki-laki baik gua gak sepenuhnya percaya"
"Saya akan buktikan itu"
"Gua bakal jadi orang pertama yang buat lu hancur kalo dira sampe kenapa-kenapa dan jangan berharap bakal liat dia lagi" ujar aleta tegas.
"Saya pastikan itu tidak akan pernah terjadi!" begitu selesai bicara dengan Rafael, Aleta berjalan memasuki lorong rumah sakit lagi tapi laki-laki itu pergi entah kemana.
'Clek.
Diruangan aleta jadi nampak begitu ramai dengan kedatangan barra dan kedua teman-temannya.
"Kalian ngapain?" Tanya aleta.
"Jenguk dira" jawab Elvan.
"Yeh kuat-kuat gini Dira juga manusia" sewot karin.
"Ya udah sih santai bu galak amat" ujar elvan.
"Lu lagian bikin sewot, gua bagel pake remote nih"
"Kek ibu-ibu kosan nagih bayar bulanan lu"
"Enak aja!"
"Sudah sudah kalo berantem jangan disini sana biar seru disini tuh rumah sakit gak boleh berisik" lerai Tasya.
"Rafael mana sya?" Tanya dira.
"Gak tau tadi keluar sama aleta"
Mereka semua nampak asik bercanda sampai suara pintu terbuka menghentikan aktivitas mereka dengan serentak mereka menatap kearah pintu.
Terdapat laki-laki yang sejak tadi dicari-cari dira masuk kedalam ruangan dira dengan tangan yang penuh makanan.
"Ini om om siapa?" Tanya Elvan bingung.
"Kamu udah baikkan?" Tanya Rafael begitu sampai disamping brankar dira.
"Udah"
"Tadi saya udah ketemu dokter katanya kamu gak boleh ke capean gausah sekolah dulu ya"
"Yah" sedih dira.
"Untuk sementara waktu nanti kalo udah baikkan boleh balik sekolah lagi" ujar laki-laki itu meyakinkan Dira dengan terus mengusap kepala Dira.
"Yaudah" final dira, dia akhirnya menurut setelah ia pikirkan ini demi kebaikannya juga dia gak boleh egois kalo nanti sampe anaknya kenapa-kenapa bagaimana.
Remaja-remaja itu hanya asik menonton interaksi antara Dira dan Rafael.
__ADS_1
"Itu siapa sih?" Bisik Elvan.
"Mana gua tau" jawab Naufal.
"Itu siapa fel?"
"Oh om Rafael" jawab fely dengan lantang dan polos, semua yang ada didalam ruangan itu langsung menatap kearah gadis itu.
"Kenapa semua liatin fely?" Tanya fely bingung.
"Kamu ngomongnya kekencangan" bisik Naufal.
"Sorry" kekehnya.
"Oh, jadi lu abangnya bagas?" Tanya Elvan songong, Rafael menatap kearahnya dengan tampang bingung.
"Kamu kenal adik saya?"
"Kenal lah siapa yang kenal sama manusia tukang cari gara-gara" sahut elvan, Rafael menganggukkan kepalanya.
"Dira sakit pasti gara-gara lu kan" kesal Elvan.
"Jangan-jangan dira lu jadiin pembantu dirumah lu ya? Makanya dia kecapean dan sakit jadinya atau jangan jangan" cecar Elvan dengan pertanyaan bertubi-tubi.
"Jangan jangan apa?" sentak karin khawatir Elvan tau.
"Lu bawa dira keluar negri buat jual ginjalnya, makanya dia jadi sakit-sakitan gini" tuduh elvan dengan kesal semua mata langsung tertuju menatap Elvan nyalang, Karin menyikut tubuh Elvan.
"Aw, sakit Rin" ringisnya memegang dada.
"Omongan lu ngaco"
"Mending lu balikin Dira ke nyokapnya deh" suruh Elvan.
"Apa perlu gua ganti uang yang lu pake buat beli Dira"
"Kamu punya uang?"
"Berapa sih?" Tanya Elvan songong.
"Cuma 2 milyar murah kan" jawab Rafael tenang, semua tercengang dengan pernyataan yang baru saja Rafael beberkan.
"Mampus lu punya emang duit segitu banyak?" Bisik naufal.
"Mau ditransfer kapan?" Tantang Rafael.
"Nyicil bisa gak?" Rafael mengerutkan keningnya dengan jawaban bocah yang sejak tadi begitu sombong.
"Saya bayar dia cash masa diganti nyicil, kamu mau melunasi sampai kapan? Seumur hidup" talak sudah ucapan Rafael bener-benar membuat Elvan terdiam.
"Mampus lu, dengan lu jual ginjal lu aja masih kurang" bisik naufal.
"Makanya jangan songong" cibir Karin berbisik.
"Kalah kan lu"
"Bawel ih" kesal Elvan dengan bisikan Karin, Rafael yang melihat elvan yang sudah kalah adu argumen dengannya hanya tersenyum remeh.
"Gimana gak sanggup?"
Gak punya duit sebanyak itu gua kan masih sekolah om" jawabnya.
"Oke, berarti kamu tidak sanggup"
"Belum punya, bukannya tidak sanggup"
"Terserah deh"
"Udah kalah talak masih aja ngeyel lu" cibir Naufal.
"Ini saya bawa makanan kalian boleh makan" ujar Rafael.
"Makasih om" ujar fely polos.
Bersambung.......
__ADS_1