
...🦋 Happy Reading bestie 🦋...
...***...
Minggu pagi ini Dira pergi mengantarkan Elvan untuk periksa kondisinya kedokter keduanya berjalan berdampingan dilorong rumah sakit.
"Van harus berapa kali sih gua ngomong lu tuh harusnya ngomong sama orang tua lu kalo lu lagi gak baik-baik saja"
"Males ah"
"Gak boleh gitu"
"Gua gak mau bikin nyokap gua jadi kepikiran sama kondisi gua dir"
"Gua sih cuma ngasih saran takutnya nyokap lu nantinya malah jadi salah paham"
"Iya gua tau kok maksud lu baik makasih" jawab elvan mengacak-acak rambut dira.
"Gausah rese deh loh" kesal dira menghentakkan tangan Elvan dari kepalanya.
"Galaknya gak ilang-ilang untung cantik"
"Modus lu"
"Hehehe"
"Mau ikut masuk?" Tanya Elvan ketika keduanya sampai didepan pintu ruangan.
"Gak lu aja gua tunggu sini" jawab Dira menggelengkan kepalanya.
"Oke, tunggu ya jangan kemana-mana" perintah Elvan.
"Iya, udah sana masuk" ujar Dira mendorong tubuh Elvan untuk masuk.
Hampir setengah jam dira duduk di kursi tunggu menatap kearah kanan dan kiri semua orang nampak begitu sibuk berlalu lalang.
'Dret'Dret'Dret
📞 Rafael is call
"Hallo"
"Kamu dimana?"
"Diluar, kenapa?"
"Diluar mana?"
"Mau ke cafe aleta aku bosen dirumah sendirian"
"Pantesan aku cari-cari kamu dirumah gak ada"
"Loh? Katanya meeting"
"Ini berkas aku ketinggalan"
"Makanya jangan terburu-buru jadi ada yang ketinggalankan"
"Iya, kamu jangan pulang kemaleman ya"
"Iya"
"Apa perlu aku jemput pas pulang?"
"Gausah pokoknya nanti sebelum kamu pulang aku udah dirumah"
"Oke, mau dibawain apa nanti?"
"Ehm, gak ada"
"Kalo dedek bayi?"
"Gak ada juga"
"Oke, berarti apa aja ya"
"Terserah"
"Inget jangan kecapean"
"Iya"
Tut.
"Dir" Panggil Elvan.
"Eh, iya udah?"
"Udah ayo"
"Iya"
__ADS_1
"Langsung ke cafe apa cari makan dulu?"
"Langsung aja tadi gua udh sarapan kok"
"Oke"
***
Ruangan Aleta yang semulanya begitu rapi menjadi bener-benar berantakan setelah diisi dengan kedatangan teman-temannya yang begitu membuat rusuh.
"Duhai senangnya pengantin baru" nyanyi Elvan.
"Hobah" teriak Tasya, Karin dan fely berbarengan.
"Duduk bersanding bercanda gurau" sambung tasya.
"Bagaikan raja dan permaisuri
Tersenyum simpul bagaikan bidadari
Duhai senangnya menjadi pengantin baru" lanjut Elvan.
"Asek mang saweran" ujar Karin menadang topi elvan.
"itu lagu apasih?" Tanya fely bingung begitu elvan berhenti bernyanyi.
"Lah lu gak tau?" Tanya Elvan kepada fely yang kebingungan.
"Gak" fely menggelengkan kepalanya dengan polos.
"Gak tau tapi ikutan hobah hobah lu yeh nek gayot"
"Nek gayot apa?" Tanya fely polos.
"Gak tau dah serah lu fel" kesal Elvan dengan kepolosan fely, Tasya dan Karin hanya tertawa dengan Elvan yang kebingungan menjawab pertanyaan polos fely.
"Gak usah didengerin elvan mah gak jelas" ujar Naufal.
"Oke"
"Lu potong rambut?" Tanya dira yang melihat rambut aleta pendek sedikit dibagian samping tapi hanya sedikit membuat Dira mengerutkan keningnya.
"Nih dipotong barra" jawabnya kesal.
"Kok aku" seru barra begitu namanya disebut-sebut aleta.
"Iya kan emang kamu yang potong rambut aku waktu malem abis kelar acara"
"Siapa suruh pake piyama yang ada kancingnya"
"Yaudah iya salah aku" pasrah barra.
"Oh jadi waktu malem pertama yang digunting rambutnya aleta bukan buyung puyuh nya si barra" bisik Elvan ke Naufal.
"KALIAN NGINTIPIN ALETA SAMA BARRA WAKTU MALEM PERTAMA?!" Teriak Tasya dan Karin berbarengan menunjukkan kearah pelaku, satu ruangan itu mendadak sunyi.
"E-eng-gaa kok" panik elvan begitu mendengar teriakkan tasya.
"Bukan gua nih dia sama si Abiyan" jawab Naufal.
"E-lu juga anjir"
"Mana ada, lu dih lu doang berdua"
"Tapikan lu ikutan"
"Tapi gua gak ngintipin gua tuh nyusul lu berdua buat ngajak pulang"
"Tap-"
"Gak ada tapi-tapian gua tuh ngelarang lu berdua biar tau privasi orang" sahut Naufal dan Elvan tengah sibuk berdebat, ucapan barra membuat mereka berdua terdiam.
"Udah salah gak mau ngaku, ngelak mulu kerjaan lu gak tau privasi orang apa" ujar barra pedes, elvan hanya menunduk dan terdiam dia benar-benar merasa bersalah sekarang.
"S-sorry, gak lagi-lagi bar" jawabnya menyesal.
"Makanya jangan batu, lu tuh kalo udah ketemu si Abiyan sama-sama gila kalo punya ide" kesal Naufal.
"Abiyan siapa?" Tanya Aleta bingung.
"Sodara kembarnya barra" jawab Naufal.
"Sodara kembar?"
"Lu gak tau ta?" Tanya dira.
"Enggak" jawab aleta menggelengkan kepalanya.
"Dia kan dateng waktu acar nikahan kalian" jelas fely, Aleta nampak mengingat-ingat begitu mendengar pernyataan fely tapi seingatnya benar-benar gada yang bernama.
"Tapi gua gak liat dan gak tau" jawab Aleta.
"Gua juga gak ada liat Abiyan dari acara gua mulai sampai selesai padahal dia berangkat bareng kalian" tanya barra menuju kearah Naufal dan elvan.
__ADS_1
"Waktu lu akad dia masih ada tapi pas nih cewek-cewek jemput Aleta turun dia ijin kekamar mandi" jelas Naufal.
"Selama itu? Sampe acara gua kelar gak keluar-luar lagi" tanya barra.
"Dia sempet ke kita lagi kumpul-kumpul tapi dia jadi bolak-balik kamar mandi gara-gara salah makan" kekeh Elvan.
"Terus?"
"Akhirnya dia balik katanya mau ke dokter minta obat" jelas Naufal.
***
Saat Elvan pergi kekamar suasana diruang tamu menjadi canggung kedua wanita berbeda umur itu sama-sama diam.
"Saya gak setuju ya kalo anak saya pacaran sama kamu!"
"Maksud Tante?" Tanya dira bingung dengan pernyataan wanita parumbaya didepannya.
"Ya saya gak setuju, karena semenjak kenal sama kamu uang anak saya tuh abis gak tau kemana"
"Kamu pasti suka minta beliin barang-barang branded sama anak saya kan!"
"Ini semua barang-barang branded yang kamu pake hasil dari nguras tabungan anak saya kan!"
"Saya emang dari keluarga orang miskin tante tapi saya gak pernah yang namanya minta-minta sama orang lain, kalau saya mau pasti saya berusaha kerja bukanya minta-minta"
"Emang Elvan gak cerita ke Tante?"
"Cerita apa?" Tanya Tante Sari Bingung.
"Hampir 2 bulan ini Elvan selalu bolak-balik rumah sakit"
"Ngapain anak saya bolak-balik rumah sakit?"
"Dia gak cerita sama saya dia lagi kenapa, dia cuma bilang kalo dia lagi banyak pikiran makanya dia bolak-balik rumah sakit untuk konsultasi ke dokter dan minum obat penenang yang harga gak murah"
"Dia selalu bolak-balik ke psikiater entah untuk yang keberapa kali, saya rasa dia memang benar-benar tertekan dirumah sampai harus bolak-balik konsultasi"
"Saya bukannya mau ikut campur urusan keluarga tante saya juga gak tau tekanan apa yang Elvan dapet sampai dia hampir depresi, tapi saya cuma mau bilang setiap anak itu tidak sama walaupun lahir di rahim yang sama semua orang punya kelebihan masing-masing"
"Saya tau setiap orang tua mau yang terbaik untuk anaknya tapi tanpa sadar mereka membanding-bandingkan anak mereka yang membuat anak itu menjadi berfikir bahwa dia tidak layak baik, makanya dia selalu dibanding-bandingkan dengan yang lainnya"
"Setiap anak punya porsinya masing-masing tante gak bisa dipukul sama ratakan, kalo dia lihai dibidang melukis belum tentu anak itu bisa desain? Sama-sama pandai menggunakan tangan tapi beda yang mereka tekuni, begitupun sebaliknya"
"Yang terbaik bagi orang tua belum tentu baik untuk anak itu sendiri, orang tua harusnya menjadi support system terbaik buat anaknya tumbuh bukannya malah memberikan tekanan karena keegoisan orang tua dengan alibi demi kebaikan anak itu kedepannya" jelas Dira.
"Ohiya satu lagi tante" Dira menjeda ucapannya.
"Saya gak ada hubungan apapun sama elvan kami hanya sekedar berteman, jadi tante gak perlu khawatir saya udah punya tunangan kok dan sebentar lagi kami akan menikah" ujar dira tersenyum.
Tante Sari yang mendengar ucapan Dira benar-benar membuatnya tersadar, begitu melihat elvan yang menuruni tangga dan berjalan kearah mereka tante Sari menahan isakan tangisnya.
Begitu elvan sampai didepannya dia benar-benar tidak bisa menahan tangisnya tante Sari langsung merengkut elvan ke dalam pelukannya.
"Mah kenapa?"
"Maafin mama sayang" isaknya dengan terus memeluk anaknya.
"Kenapa kamu gak ngomong kalo kamu sakit sayang?"
"Kamu harus ngomong sama mama"
"Maafin mama karena mama dan papah kamu jadi gini"
"Maksud mama?"
"Dira udah ceritain semuanya ke mama kamu gausah bohong lagi nak"
"Mah Elvan gapapa"
"Kamu gak baik-baik aja nak"
"Kita ulang dari awal ya, kita buat keluarga bahagia yang sesungguhnya bukan bahagia terpaksa karena keegoisan mama dan papah"
"Mulai sekarang mama akan dukung apapun yang kamu suka"
"Kita obatin penyakit kamu bareng-bareng sampai sembuh ya nak"
"Iya mah"
"Nak dira maafin tante ya"
"Jujur aku sakit hati dengan perkataan tante barusan tapi wajar jika tante berpikir seperti itu, aku gapapa kok"
"Maaf ya sayang" Isak Tante Sari memeluk Dira.
"Aku maafin tante kok, tapi aku gak lupa dengan apa yang udah tante bilang ke aku"
"Maaf ya sayang omongan tante nyakitin hati kamu tante benar-benar minta maaf"
"Iya tan"
Bersambung........
__ADS_1