Aleta

Aleta
25. Rumah Nenda


__ADS_3

...🦋 Happy Reading bestie 🦋...


...***...


Kedua wanita yang berbeda umur itu nampak jongkok disamping makam, mereka berdua nampak sibuk menaburkan bunga diatas gundukan tanah itu.


"Nenda, Aleta dateng sama mama" ucapnya.


"Aleta gak bohong kan, sesuai janji aleta kalo aleta bakal kesini lagi dan ajak mama"


"Maaf ya aleta udah lama gak jenguk nenda, pasti nenda marah ya"


"Nenda pasti seneng kita datang, gak mungkin nenda marah" ujar mama mengusap punggung anaknya.


"Nenda, Aleta seneng banget akhirnya bisa sama mama lagi"


"Nenda juga pasti disana senang kan udah gak kesakitan lagi"


"Nenda gimana disana?"


"Pasti ketemu adek ya?"


"Kalian pasti udah bahagia disana"


"Aleta sama mama juga mulai hari ini akan selalu bahagia gak akan ada lagi tangisan akan aleta pastikan itu, gak bakal ada yang bisa nyakitin kita lagi"


Aleta begitu banyak menceritakan hari-hari dengan mama intan yang setia disampingnya mendengarkan celetotan anaknya sampai sesekali dia menambahkan.


"Udh yuk udh mulai gelap" ajak mama.


"Nenda kita pulang dulu ya" pamit Aleta.


"Nanti aku dan aleta bakal sering-sering kesini lagi ya mah" lanjut mama intan.


Keduanya berjalan sambil bergandengan tangan keluar dari pemakaman itu.


***


"Aleta dimana? Kok tadi gak sekolah" Tanya fely dengan ponselnya yang ada ditelinga.


"Gua ada dirumah nenda"


"Ih kok gak ajak fely sih"


"Kan sekolah"


"Aleta tau masuk sekolah tapi tetep pergi, giliran fely gak boleh" kesalnya.


"Gua cuman lagi butuh udara segar aja sama sekalian mau ajak mamah jalan kasian mama diapartemen terus dia pasti suntuk"


"Kan fely mau ikut"


"Fely susul ya"


"Jangan"


"Ah fely mau susul aleta"


"Gak usah hari minggu gua udah balik"


"Yaudah besok fely kesana"


"Gak usah fely, sekolah aja sama dira"


"Pokoknya fely mau susul aleta" kekeuh nya.


"Yaudah tapi sehabis pulang sekolah aja ya"


"Gak usah sekolah"


"Iya atau gak sama sekali"


"Yaudah deh"


"Yaudah sana tidur udah malam besok sekolah jangan begadang"


"Iya, dadah aleta"


"Good Night"


"Hm"


*****


"Yang ini gimana mah?" Tanya aleta mengangkat beberapa makanan yang tangannya.


"Boleh"


"Mau beli daging juga gak?" Tanya mama intan.


"Iya mah buat barbeque atau hotpot nanti"


"Oke"


"Kayaknya udah cukup deh"


"Yaudah yuk"


Setelah selesai berbelanja kebutuhan untuk makan-makan besok ke-dua duduk diteras rumah dengan dua cangkir coklat hangat sambil memandangi orang yang berlalu lalang.


"Yaampun intan" seru seorang wanita parumbaya.


"Eh uti gina" seru mama intan.


"Sini-sini duduk ti" aleta menuntun wanita tua itu untuk duduk didekat mereka.


"Kalian kapan datang?" tanya wanita tua itu.


"Kemarin ti"


"Yaampun sudah lama sekali aku gak liat kamu tan, setelah dapet kabar kamu sakit terus nenda yang mendadak meninggal dan gadis kecil ini yang bersusah payah harus berjuang sendiri" sedih uti gina mengusap kepala aleta begitu dia mengingat beberapa tahun silam.

__ADS_1


"Alhamdulillah aku udah sembuh ti"


"Alhamdulillah"


"Kita sekarang udah bahagia ti" bangga aleta.


"Iya anak baik, ujian kalian sudah berlalu semoga sekarang hanya ada kebahagiaan yang selalu menyelimuti kalian ya"


"Pasti ti, Aleta jamin itu tidak ada yang bisa mengambil kebahagian kita lagi"


"Pasti"


"T-tapi aku suka sedih kalo inget nenda udah tidak ada, sekarang aku sendirian tidak ada lagi teman mengobrol tapi aku senang juga teman karibku itu sudah tidak merasa kesakitan lagi" serunya dengan senyuman tulus.


"Yang penting uti sehat selalu ya biar dikasih umur panjang" seru Aleta


"Amin"


"Kalian juga sehat-sehat terus ya biar nenda senang"


"Pasti ti"


***


Kedua orang yang berbeda gender itu sedang berbaring di atas kasur dengan tangan kiri Rafael yang sebagian bantalan untuk menumpu kepala Dira dan tangan kanannya ia gunakan untuk mengusap kepala Dira keduanya nampak asik berbincang.


"Aku besok kebogor ya"


"Bukannya kamu sekolah?"


"Pulang sekolah, boleh ya?"


"Ngapain?"


"Susul aleta dirumah nendanya, fely ngerengek minta samperin aleta"


"Berapa hari?"


"Paling hari minggu udah pulang"


"Yaudah, dari pada kamu kesepian dirumah" jawab Rafael seraya memainkan rambut dira.


"Emang kamu mau kemana?" Tanya dira bingung.


"Aku harus ke Amerika ada pertemuan disana"


"Kapan pulang?"


"Paling Senin aku udah disini"


"Kalo gitu aku diapartemen aleta ya sampai kamu pulang, kalo gya aku kerumah mama"


"Terserah kamu yang penting pas aku pulang kamu udh dirumah, dan inget gak boleh kecapean" serunya menjawil hidung Dira.


"Oke"


"Yaudah tidur udah malem besok kan masih harus sekolah"


***


Yang tadinya hanya fely dan Dira saja yang ingin menyusul aleta tapi malah Tasya, Karin, Barra, Naufal, Elvan, bahkan bunda dan mama Dira beserta Vania ikut ke bogor menyusul aleta dan mama intan.


"Dira Dira" panggil fely.


"Cepet liat kuenya udah mulai mengembang tuh" heboh fely menunjuk kearah oven yang terdapat kue buatan mereka sedang mengembang begitu besar.


"Mana mana coba liat" heboh Karin dan Tasya.


"Ih iya gede banget"


Dengan begitu semangat fely nampak tidak begitu sabar ketika mama Jesika mengambil kue dari dalam oven.


"Yah kok jadi kecil kuenya" bingung fely.


"Emang fely gak bakat" ledek Dira.


"Kok malah bantet" seru Tasya mereka semua terkekeh melihat mimik muka fely yang nampak kebingungan.


"Gak subur kue nya" kekeh Tasya.


"Kurang makan toge tuh dia" kata Karin.


"Loh emang pake toge?" Tanya fely polos, semua hanya terkekeh dengan pertanyaan fely.


"Ya enggaklah yakali kue pake toge" jawab Dira.


"Nanti yang ada jadi sayur toge" seru tasya.


"Tapi kata Karin barusan"


"Yaelah bercanda" sahut karin.


"Terus kenapa bantet?"


"Kurang baking powder kali" sahut Tasya.


"Atau kurang waktu di mixser"


"Udah lama kok sampe tangan fely pegel nih"


"Iyalah pegel biasanya makan doang" sahut bunda.


"Udah gapapa, tapi enak kok kuenya" kata mama jesika saat mencicipi kuenya.


"Bohong ya" kata fely penuh selidik.


"Iya enak" lanjut vania.


"Tuh anak kecil tuh gak bisa bohong berarti mama jesika gak bohong" ujar bunda.


"Iya enak kok" kata mama intan.

__ADS_1


"Wah berarti fely berbakat dong" bangganya.


"Berbakat buat kacau?" Tanya dira.


"Dira ih" semuanya terkekeh.


Mereka semua pun keluar dari dapur dan berjalan menuju ruang tamu yang sudah berisikan ketiga remaja laki-laki yang sibuk menonton televisi.


"Wah enak nih kuenya" ujar elvan.


"First time kue buatan fely nih" bangganya.


"Wah mana-mana mau coba" seru Naufal.


"Enak kok walaupun bantet" kata Elvan jujur.


"Yang penting enak"


"Bang Elvan ayo kita main kuda-kudaan" ajak Vania.


"Oke let's go" Vania nampak sibuk duduk diatas punggung elvan.


"Ayo yiha, yiha, yiha" serunya.


"Kudanya laper" seru elvan menjatuhkan badan dengan buru-buru Vania membawakan makanan ke Elvan.


Setelah selesai makan mereka kembali bermain kuda-kudaan


"Yiha, yiha, yiha"


"Aduh kudanya haus" lagi-lagi Elvan menjatuhkan tubuhnya diatas karpet berbulu, dengan antusias Vania mengambilkan minum dan memberikannya ke Elvan dan setelahnya mereka lanjut bermain.


"Yiha, yiha, yiha"


"Akh, kudanya laper" kesekian kalinya Elvan menjatuhkan tubuhnya diatas karpet berbulu itu sambil berteriak lapar dan haus.


"Yiha, yiha, yiha" seru Vania yang nampak begitu bersemangat diatas punggung elvan.


"Duh kudanya haus" seru elvan menjatuhkan tubuhnya diatas lantai.


"Kudanya laper sama haus mulu sih" kesal Vania mereka semua tertawa dengan kelakuan keduanya.


"Kan abis kerja makanya cape jadi laper dan haus kudanya"


"Mau ganti kuda ajalah" serunya.


"Vania gak setia nih"


"Biarin aja abis kudanya banyak mau"


"Tapikan van-" ucapan Elvan langsung dipotong dengan perkataan Vania.


"Ayo bang Naufal" ajak Vania menarik tangan Naufal.


"Let's go princess"


***


Aleta nampak sibuk menatap kearah atas malam ini langit nampak begitu cerah banyak begitu bintang yang bertaburan menyinari langit dibantu oleh bulan.


"Kebiasaan bengong" ujar barra menjawil hidup aleta.


"Barra ih" kesalnya.


"Gak boleh cemberut nanti cantiknya berkurang loh"


"Kenapa lagi sih?"


"Gapapa"


"Kalo gak mau cerita juga gapapa"


"Tumben pake cincin" ujar barra yang melihat cincin dijari manis aleta.


"Bagus" Barra memegang tangan kiri aleta menatap cincin itu.


"Dibeliin mama?" Aleta melepaskan tangannya dari genggaman barra.


"Cincin tunangan"


"Hah?"


"Tunangan?"


"Papah kamu beneran jodohin kamu?"


"Papah gak pernah main-main sama ucapannya bar"


"Kalo aku batallin Perjodohan kamu gimana?"


"Gak usah aneh-aneh bar"


"Aku bakal temuin papah kamu"


"Bar udah deh gausah dibahas"


"Tapi_"


"Bar udah cukup"


"Barra Aleta ayoo makan dulu" Teriak bunda.


"Iya bund"


"Sekarang"


"Iya"


"Ayo masuk"


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2