Aleta

Aleta
38. Meminta ijin


__ADS_3

...🦋 Happy Reading bestie 🦋...


...***...


Ruang tamu ini begitu mencengkeram begitu kedatangan Dira bersama Rafael disampingnya.


"Jadi maksud kedatangan saya kemari saya ingin menikahi anak om dan tante" seru Rafael.


"Tapi dira masih sekolah" tolak abi.


"Tapi tidak baik untuk menunda-nunda pernikahan sebelum perut dira membesar"


"Apa maksud kamu?" Kaget mama dira.


"Dira sekarang sedang hamil anak saya sudah jalan 8 minggu" jelas Rafael.


"Dira kenapa gak ngomong sama mama nak?" Tangis mama dira memeluk anak gadisnya dia merasa gagal menjadi seorang ibu begitu tau anaknya dijual oleh ayahnya sendiri dan ditambah dengan kabar anaknya hamil dengan seorang pria yang sudah membeli anaknya dari rumah bordil itu.


"Saya mau berterimakasih dengan itikad baik kamu datang kerumah saya untuk menikahi anak saya" mama dira menarik nafasnya dalam.


"Saya setuju kamu menikahi dira"


"Tapi Dira masih sekolah mi, kamu gak bisa gitu" tolak abi mentah-mentah.


"Tapi kalo dibiarin perut dira akan semakin membesar dan itu malah akan membuat dia malu kalo sampai teman-temannya tau Dira hamil di luar nikah" jelas mama dira.


"Baiklah kalo itu yang terbaik" pasrah Abi.


"Saya kasih kepercayaan untuk kamu, saya yakin kamu orang baik dengan itikad baik kamu yang masih mau meminta ijin baik-baik"


"Baik om terimakasih"


"Kapan kalian akan menikah?"


"Minggu ini om" jawab Rafael.


"Apa gak kecepatan?" Tanya mama dira.


"Lebih cepat lebih baik Tante"


"Baiklah"


"Apa yang bisa om dan tante bantu?"


"Gak perlu repot-repot om biar saya yang urus semuanya, om dan tante hanya perlu hadir di acara pernikahan kami" jawab Rafael mengusap lengan dira lembut.


"Semoga lancar" seru abi menepuk-nepuk pundak Rafael.


"Terimakasih"


***


"APA?" Kaget Elvan.


"B-beneran? Lu gak bohong kan?" Tanya Elvan menggoyang-goyangkan bahu karin.


"Iissttt, apasih" Karin menghentakkan tangan Elvan yang berada dibahunya.


"Lagian siapa juga ya bohong sih" kesal karin.


"Masa Dira nikah sama tuh om om sih" tanyanya meyakinkan.


"Ya mau gimana lagi orang udah hamil" sahut Tasya keceplosan.


"A-APA?"


"G-gua gak salah dengerkan?"


"H-HAMIL? " Teriak Elvan lagi-lagi yang kaget dengan kenyataan.


"D-dira hamil?" Tanya Naufal meyakinkan.


"Iya" jawab aleta, percuma juga aleta menutup-nutupi cepat atau lambat pun pasti akan ketahuan juga jadi lebih baik dia jujur.


"Wah parah tuh om-om pedofil" kesal Elvan.


"Lu kalo ngomong sembarangan" kesal Karin.

__ADS_1


"Aleta udah nikah, dira mau nikah terus nanti fely main sama siapa dong" tanya fely dengan raut wajah sedih.


"Kan bisa main sama Naufal" sahut Naufal.


"Kan masih ada kita" ujar Tasya dan Karin.


"Kita nikah pun gak ngerubah apapun fel cuma statusnya aja yang berubah, buktinya sekarang bisa main barengkan" jelas aleta.


"Lagian kenapa pada cepet-cepet banget sih nikahnya, katanya lulus sma kita mau kuliah di Korea terus kalo udah pada nikah gak jadi dong" sedih fely.


"Kan masih banyak rencana yang belum kita wujudkan" lanjutnya.


"Takdir gak ada yang tau" jawab Aleta memeluk fely.


"Kita kan cuma bisa berencana gimana kedepannya gak akan ada yang tau"


"Nanti pada lupa sama fely"


"Gak akan"


"Bener?"


"Iya fely"


"Tapi tetep aja fely sedih"


"Kan bisa kumpul dirumah disini fel" sahut barra.


"Emang boleh? Nanti fely ganggu kalian"


"Enggak"


***


Tepat hari ini Dira melangsungkan acara pernikahannya dengan begitu sederhana wanita itu berdiri didepan cermin mentap pantulan dirinya.



"Cantik" puji mama dira begitu melihat anak gadisnya sudah tumbuh dewasa.


"Dira ngomong apasih? Dira itu anak pintar, dewasa, pengertian dira sudah cukup baik kok" jelas mamanya tersenyum kearah anaknya.


"Sudah mau menikah, sudah mau menjadi seorang ibu harus lebih baik lagi ya nak"


"Iya mah "


"Udah ah jangan nangis, sini peluk" keduanya pun berpelukan.


'Clek.


"Yaampun anak bunda cantik banget" ujar bunda kaila begitu melihat Dira dan mamanya sedang berpelukan.


"Sini peluk" ajak bunda merentang tangannya.


"Udah gede ya anak bunda, sudah mau menjadi seorang istri" ujar bunda memeluk tubuh Dira.


"Baik baik ya sama suami kamu, bunda gak nyangka belom lama aleta menikah eh sekarang malah kamu yang nikah, nanti gak ada lagi yang ngomelin fely kalo kakaknya sudah berkeluarga semua"


"Bunda jangan ngomong gitu, nikah bukan berarti lupa sama kalian kan masih bisa main"


"Pinter"


"Sini peluk" ujar mama intan.


"Sudah pada dewasa ya satu persatu menikah menempuh hidup baru, jangan lagi liat kebelakang ya sayang masa depan kamu didepan biarkan yang lalu buat pelajaran"


"Iya mah makasih bund"


Keempat remaja itu hanya berdiri menyaksikan Dira yang sibuk berpelukan.


"Sini peluk juga" ujar Dira merentang tangannya untuk teman-temannya, keempat gadis itu pun memeluk Dira.


"Masih gak nyangka" keluh Karin.


"Pokoknya baik-baik ya dir" ujar Tasya.


"Fely sedih tapi seneng" serunya mereka semua terkekeh dengan ucapan fely.

__ADS_1


"Jadi istri dan calon ibu yang baik ya" kata Aleta tersenyum.


"Iya" jawab dira.


"Udah ayo turun jangan melow-melow mulu ah" ajak bunda.


"Hari bahagia harus bahagia" ujar mama intan.


Para perempuan itu pun turun mengantarkan dira begitu sampai dibawah sudah ditunggu abi, Dira langsung memegang tangan Abi mereka pun berjalan menuju altar.


"Saya serahkan anak saya kepada kamu" ujar abi begitu sampai didepan Rafael.


"Saya akan jaga dira baik-baik" jawabnya lantang.


Setelah acara yang begitu panjang akhirnya pernikahan Dira selesai, tapi Elvan tetep dengan tampang datarnya tadinya laki-laki itu tidak mau datang tapi Naufal menyeret laki-laki itu dengan paksa.


"Selamat ya dir semoga samawah" ujar Naufal memberikan selamat ke dira.


"Iya makasih fal"


"Selamat" seru elvan datar.


"Thanks van" jawab dira tersenyum.


"Yaudah kita pulang dulu ya" pamit barra.


"Iya makasih ya semuanya" ujar Dira.


***


"ANJ*N*" teriak laki-laki itu menendang batu didepannya.


"Kenapa harus sama dia?"


"Gua sayang sama loh!"


"Lu gak tau apa!"


"Gua yang mati-matian nyariin lu!"


"Tapi kenapa malah dia yang dapetin lu dengan mudahnya sih?"


"Segitu gak pekanya sama perasaan gua?" Laki-laki itu terus memaki sambil terisak dengan kenyataan baru saja terjadi.


"Lu ngapain?" Tanya seorang perempuan.


"Gua gak ngapa-ngapain" jawabnya mengalihkan pandangan dan langsung menghapus jejak air mata di pipinya.


"Lu abis nangis?" Tanya begitu mendengar suara laki-laki didepan.


"Gak!"


"Bohong ya" ujarnya mengangkat wajah laki-laki itu agar menatapnya, tapi dengan reflek laki-laki itu malah langsung memeluk tubuhnya.


"Gua sayang sama dia Rin" isaknya dalam pelukan Karin, Karin nampak bingung dengan ucapan Elvan.


Ya laki-laki itu elvan yang sejak tadi berada didalam taman sendirian.


"Kenapa dia malah nikah sama laki-laki yang udah ngerengut kesuciannya?" Tanya Elvan dalam isakannya, ah Karin tau sekarang siapa yang sejak tadi Elvan tangisin.


"Maybe takdir"


"Gak mungkin sekonyol ini"


"Gak ada yang gak mungkin Van, kaya barra sama aleta, aleta dijodohin dan ternyata jodohnya itu barra kan jadi itu takdir sama halnya kaya Dira" Karin mengambil nafas menjeda ucapannya.


"Dira dijual sama bokapnya sendiri dan yang beli itu om rafael dan mungkin itu takdir mereka, pertemuan pertama mereka dengan itu semuanya"


"T-tapi Rin"


"Kita gak bisa nyalahin takdir Van"


"Manusia mungkin berencana tapi yang tau kedepannya bakal gimana tuh gak adakan?"


"Lagi juga kalian beda tuhan, kalaupun bakal serius siapa yang bakal ngalah?" Tanya Karin, elvan hanya diam dengan pertanyaan talak Karin.


Bersambung.........

__ADS_1


__ADS_2